Bab 1. Rahasia yang terbuka
Alena melebarkan pandangannya keseluruh ruangan auditorium mencari sahabatnya di antara kerumunan orang banyak yang tengah berkumpul.
Hari ini adalah hari ulang tahun Owner perusahaan dimana Alena bekerja.
Seluruh karyawan sengaja menyelesaikan pekerjaannya lebih awal sore itu sehingga mereka semua bisa berkumpul dan merayakan ulang tahun pak Santoso yang ke 75 tahun.
Sore itu tim yang paling sibuk adalah tim Alena yang merupakan staf PR untuk perusahaan tersebut. Saat ini mereka yang bertugas untuk menyiapkan semua hal dari makanan sampai decor.
“Luna kemana sih, Al?” tanya Alena pada Ali salah satu teman kantornya yang juga satu tim dengan Alena dan Luna.
“Kayanya Luna lagi siap-siap brief MC untuk opening acara nanti,” jawab Ali sambil sibuk mengkoordinasikan semua orang agar bersiap karena 30 menit lagi acara akan segera dimulai.
“Dandan gih, makeup- an gitu. Biar gak pucet, dan ganti sepatu kamu, ketahuan bu Ester bisa tinggal nama!” ucap Irina salah satu rekan kerja mereka saat melihat Alena yang tampak pucat dengan rambut digulung keatas, dan masih mengenakan sandal.
Mengenakan sendal membuat langkah Alena bisa bergerak lebih cepat untuk kesana kemari, tapi itu bukan alasan buat bu Ester yang gila penampilan. Semua orang di tim nya harus tampan dan cantik. Karena untuk bu Ester tim PR adalah wajah dari perusahaan.
“Iya, aku siap-siap dulu,” jawab Alena cepat dengan wajah cemas, karena tak lama lagi acara harus segera dimulai sedangkan ia belum siap sama sekali.
Alena segera bergegas kembali menuju ruangannya. Saat menunggu lift, ia melihat seseorang yang berjalan menghampiri.
Dadanya berdegup kencang ketika melihat sosok pria bertubuh tinggi, atletis dan berwajah tampan dengan kulit yang bersih berdiri di dekatnya. Pria itu adalah Elang.
“Alena, kamu mau kenapa? Kenapa gak ikut ke auditorium?” tanya pria itu pada Alena dengan suaranya yang rendah dan berat.
“Saya mau dandan dulu mas sebentar, nanti menyusul,” jawab Alena singkat sambil tersenyum berusaha menahan rasa gugup dihatinya.
“Baiklah, kita ketemu di dalam ya,” ucap Elang sambil berjalan meninggalkan Alena.
Alena hanya bisa mengangguk dan berusaha menenangkan hatinya.
Sudah tiga tahun ia bekerja diperusahaan ini, dan sudah selama itu juga ia naksir Elang. Perasaan itu tidak pernah berubah, debar itu tetap sama. Ia sempat patah hati saat mengetahui bahwa Elang sudah memiliki kekasih, tapi ia tetap jatuh cinta pada pria itu dan mencintainya dalam diam.
Pria itu adalah penyemangat hidupnya saat ini. Ia selalu bersemangat untuk berangkat bekerja hanya agar bisa melihat Elang dari kejauhan atau mencari cara agar bisa menyapanya dan menggodanya sesaat. Tak ada yang tahu.
Alena segera bergegas mengganti sepatunya, membersihkan wajahnya dan mendandani kembali wajahnya. Sambil mengoleskan lipstik ia mengirimkan pesan pada Luna.
“Mas Elang hari ini ganteng banget! Gak kuat! Gak kuat! Aku bisa gila lama-lama!” tulis Alena dalam pesannya pada Luna.
Tapi tak ada jawaban dari Luna. Alena tampak tak peduli, toh hanya Luna yang tahu tentang isi hatinya. Gadis itu baru satu tahun masuk ke perusahaan ini tapi sikapnya begitu luwes dan seperti intel, bisa mendapatkan info apa saja. Termasuk tentang Elang. Padahal perusahaan ini cukup besar dengan jumlah karyawan yang ratusan.
“Mas Elang itu udah gak punya pacar, dia udah single dari 6 bulan yang lalu. Kamu mau aku jodohin?” tanya Luna.
“Gila nih anak baru, cepet amat dapat infonya. Aku aja yang sudah hampir tiga tahun disini gak tahu informasi itu!” ucap Alena takjub saat mendengar informasi dari Luna tentang Elang.
Untuk Alena, Luna adalah penolongnya. Hanya perempuan itu yang tahu tentang isi hatinya dan beberapa bulan ini juga Luna membantu Alena untuk bisa lebih dekat dengan Elang. Sejak mengenal Luna, mereka bertiga jadi sering pulang bersama.
Alena menatap wajahnya di cermin dengan puas, ia merasa cantik sore itu. Dengan cepat ia segera berjalan bergegas untuk kembali ke auditorium agar tidak ketinggalan acara yang akan segera berlangsung.
Alena segera mencari Luna dan melihat gadis itu tengah berjalan tergesa-gesa kebelakang stage, dimana ada ruangan tempat semua mixer dan controler berada.
Langkah Alena terhenti ketika ia melihat Elang tampak tergesa-gesa menyusul Luna. Wajah keduanya tampak muram membuat Alena ingin menyusul menuju ruangan dimana Luna dan Elang berada.
Baru saja Alena ingin menyusul tapi bu Ester memanggilnya untuk membantunya memindahkan troli yang berisi kue ulang tahun ke sudut ruangan terlebih dahulu.
Terdengar suara Luna yang merdu memberitahukan agar seluruh karyawan PT. Sentosa Selalu Jaya berkumpul di auditorium karena sebentar lagi acara akan segera dimulai.
Tiba-tiba saja ada suara percakapan dari belakang backstage terdengar begitu jelas ke seluruh auditorium.
“Luna, aku ingin bicara denganmu!” terdengar suara Elang yang berat dan tegas.
“Mas, aku sedang bekerja. Bicaranya nanti saja ya,” jawab Luna tampak menghindar.
“Kapan? Sudah satu minggu ini kamu selalu menghindariku terus menerus.”
“Mas–”
“Aku tak bisa digantung seperti ini Luna,”
“Mas, tolong mengertilah. Aku tak bisa menerima perasaanmu! Dan kamu tahu alasannya!”
“Kenapa? Karena kamu merasa tidak enak pada Alena?! Aku tidak pernah tahu Alena menyukaiku! Walau dia baik, tapi perasaanku jatuhnya kepadamu, bukan dia!”
“Mas!”
“Terus aku harus apa, Luna?! Kamu ingin aku memilih Alena karena ia menyukaiku lebih dahulu begitu?!”
“Mas, tapi dia temanku! Bagaimana bisa aku mengkhianatinya?!”
“Tapi yang aku suka itu kamu, Luna! Bukan Alena!”
“Luna! Matikan microphonemu! Semua orang di auditorium mendengar percakapan kalian!”
Teguran seseorang membuat Luna dan Elang terdiam. Lalu tak terdengar pembicaraan mereka lagi.
Ruangan auditorium itu terasa hening dan mulai berbisik-bisik sambil pandangan orang-orang yang tadi ramai berbincang kini seolah mencari sosok seseorang. Alena.
Disudut ruangan, Alena berdiri dengan tubuh sedikit gemetar. Dadanya terasa sangat sesak, karena ia seolah lupa untuk bernapas.
Percakapan Luna dan Elang terdengar begitu jelas ditelinga Alena membuat wajahnya terasa panas dan kakinya lemas tetapi ia berusaha sekuat tenaga berdiri tegak.
Perlahan Alena membalikan tubuhnya dan melihat wajah-wajah yang menatapnya dengan pandangan kasihan dan juga ingin tahu.
Entah apa yang membuatnya tiba-tiba senyum cengengesan dan seolah bicara sendiri kearah bu Ester.
“Saya ambilkan pisau kue dulu ya bu, sebentar,” ucap Alena kikuk lalu berjalan cepat meninggalkan ruangan.
Dengan langkah berat, gadis berjalan sempoyongan dan mencoba tersenyum sendiri walau matanya panas dan berusaha keras agar air matanya tidak tumpah. Tapi Alena tak bisa melakukannya. Ia terlalu malu sehingga air mata itu akhirnya deras mengalir dipipinya.
Bersambung.