bc

Darah Kasta Kelima: Penakluk Area Terlarang

book_age16+
0
FOLLOW
1K
READ
adventure
spy/agent
dark
system
drama
no-couple
serious
loser
campus
medieval
superpower
dystopian
kingdom building
war
ancient
stubborn
like
intro-logo
Blurb

Semua orang lahir dengan kasta.Darah Lemah–Besi Tempur–Penyihir Kuno–Mahatinggi.Empat kasta. Empat takdir. Sudah begitu sejak dunia ini ada.Tapi ketika sistem membaca darah Arkala, layarnya tidak menampilkan nama kasta manapun.Hanya dua kata.TIDAK TERDETEKSI.Bukan kasta terendah. Bukan kasta manapun. Sistem tidak tahu harus menempatkannya di mana, dan justru itu yang membuat semua orang takut.Para penguasa kasta Mahatinggi segera mengambil keputusan: Arkala harus dihapus. Bukan hanya dibunuh. Dihapus, seperti ia tidak pernah ada.Tapi ada yang tidak mereka perhitungkan.Tidak Terdeteksi bukan kesalahan. Tidak Terdeteksi adalah kunci.Kunci untuk membaca celah tersembunyi di balik sistem. Kunci untuk mengakses jalur kekuatan semua kasta sekaligus, dengan harga yang sangat berat. Dan kunci untuk satu kebenaran yang sudah dikubur ratusan tahun:Dunia ini berbohong. Sistem kasta bukan warisan leluhur. Ada yang sengaja merancangnya. Ada yang sengaja menghapus kasta kelima dari sejarah.Dan orang itu sekarang sedang memperhatikan Arkala.Satu anomali. Satu kebenaran. Satu pilihan, hancurkan sistem, atau biarkan sistem menghancurkannya lebih dulu.

chap-preview
Free preview
1•Hari Penetapan
Barisan itu sangat panjang. Dua puluh tiga orang pemuda berdiri di bawah langit-langit Balai Penetapan yang tinggi. Berdinding batu hitam. Obor di setiap sudut. Tidak ada satupun jendela. Arkala berdiri di urutan yang paling belakang. Bukan karena dipilih. Melainkan karena tidak ada yang mau berdiri di sampingnya. Di depan, seorang pemuda melangkah ke atas altar. Petugas berbaju putih menyentuh punggung tangannya dengan kristal merah: Batu Baca. Dalam tiga detik. ⟪ KASTA TERDETEKSI: BESI TEMPUR | TINGKAT AWAL ⟫ Tepuk tangan. Pemuda itu tersenyum lebar, mundur ke barisan kanan. Arkala menatap lantainya. Dari batu. Retak di satu sudut. Ada semut yang berjalan memotong retakan itu, berhenti sebentar, lalu melanjutkan perjalanan seolah tidak ada hal luar biasa yang sedang terjadi di ruangan ini. Ia mengangkat matanya sebentar. Dua puluh dua orang di barisan kanan. Dua puluh dua wajah yang sudah tahu ke mana mereka akan pulang malam ini, sudah tahu nama kasta yang akan mereka bawa seumur hidup, sudah tahu tempat mereka di dunia ini. Beberapa berbisik satu sama lain. Beberapa hanya berdiri dengan senyum kecil yang tidak mereka sadari ada di wajah mereka. Tidak ada yang melihat ke arah Arkala. Bukan karena lupa. Karena memang tidak perlu. Satu per satu nama dipanggil. Satu per satu layar biru menyala. ⟪ KASTA TERDETEKSI: PENYIHIR KUNO | TINGKAT AWAL ⟫ Bisikan kagum dari barisan kanan. Petugas itu mengangguk pelan—hormat yang tidak ia sembunyikan. ⟪ KASTA TERDETEKSI: MAHATINGGI | TINGKAT MENENGAH ⟫ Keheningan sejenak. Lalu tepuk tangan yang lebih keras. Seorang pemuda laki-laki dengan rambut hitam rapi melangkah mundur ke barisan kanan tanpa melirik kiri atau kanan. Rahangnya lurus. Matanya datar. Seperti orang yang sudah tahu hasilnya jauh sebelum upacara dimulai. Arkala tidak tahu namanya. Tapi ia hafal wajah itu—karena selama tiga tahun terakhir, wajah itulah yang paling sering ada di depan ketika peringkat diumumkan. Selalu di depan. Tidak pernah di belakang. Tidak seperti Arkala. "Nomor dua puluh tiga." Arkala melangkah. Sepatunya berderit di lantai batu. Terlalu keras dan terlalu jelas. Semua kepala menoleh bersamaan ke arahnya—dan untuk pertama kalinya sejak upacara dimulai, ruangan ini benar-benar diam. Bukan diam menunggu. Diam yang berbeda. Diam yang datang ketika semua orang melihat sesuatu yang tidak seharusnya ada di sini tapi tidak tahu cara mengatakannya. Arkala tidak memperlambat langkahnya. Ia berdiri di depan altar. Kristal merah itu dingin ketika petugas menyentuhkannya ke punggung tangannya. Satu detik... Dua detik... Tiga detik... Petugas itu mengerutkan dahi. Angkat kristal, tiup permukaannya, sentuh lagi. Delapan detik... Sepuluh detik... Layar biru muncul—tapi tidak seperti biasanya. ⟪ MEMINDAI... ⟫ ⟪ MEMINDAI... ⟫ ⟪ MEMINDAI... ⟫ Tidak ada suara ting. "Coba lagi," kata petugas itu. Suaranya turun setengah nada. Kristal menyentuh kulitnya lagi. Dua puluh detik. Tiga puluh. Lalu— ⟪ ERROR: DATA TIDAK DITEMUKAN ⟫ ⟪ KLASIFIKASI: TIDAK TERDETEKSI ⟫ Balai itu sunyi. Bukan sunyi biasa. Melainkan sunyi yang datang ketika semua orang menahan napas pada saat yang sama dan tidak ada yang berani menjadi orang pertama yang mengembuskannya. Petugas itu mundur setengah langkah. Hanya setengah. Tapi Arkala melihatnya. "Apa artinya itu?" Suara dari barisan kanan. Pemuda berambut hitam rapi—rahangnya mengencang. "Tidak terdeteksi? Itu tidak mungkin ada." Tidak ada yang menjawab. Layar biru masih menggantung di udara. Kata-katanya berkedip pelan, seperti sistem itu sendiri tidak yakin apa yang harus dilakukan dengan informasi ini. Arkala menatapnya. Hanya dua kata. Tapi beratnya seperti mengisi seluruh ruangan, menekan ke bawah, menghimpit napas semua orang yang ada di sini. Di barisan kanan, seseorang berbisik. Arkala tidak menangkap kata-katanya—hanya nada. Nada yang ia kenal. Nada yang sama dengan cara orang berbicara tentang sesuatu yang tidak ingin mereka sentuh tapi tidak bisa berhenti mereka lihat. Petugas itu berbalik. Berjalan cepat ke pintu samping—pintu yang selama upacara tidak pernah dibuka. Ia ketuk tiga kali dengan keras. Pintu terbuka dari dalam. Dua orang keluar. Berjubah putih dengan garis emas di bahu. Bukan petugas biasa. Pemuda di sebelah Arkala menelan ludah dan mundur dua langkah tanpa sadar. Salah satunya mendekati altar. Ia tidak melihat ke kristal. Tidak melihat ke layar. Ia melihat langsung ke Arkala. "Namamu?" "Arkala." "Nama keluarga?" "Tidak ada." Orang itu menoleh ke rekannya. Sesuatu lewat di antara mereka—bukan kata-kata. Sesuatu yang lebih tipis dari kata-kata tapi lebih berat dari diam. "Ikut kami." Bukan permintaan. Arkala tidak langsung bergerak. Matanya melirik sebentar ke layar yang masih menggantung—masih berkedip, seperti menunggu seseorang memutuskan apa yang harus ditulis di sana. Ia mengikuti mereka. Lorong di balik pintu itu sempit. Terasa dingin. Obor di sini lebih jarang, jarak antar cahaya lebih panjang, dan di setiap jeda kegelapan Arkala bisa mendengar suaranya sendiri—napas yang terlalu teratur karena dipaksakan teratur. Dua orang berbaju putih itu berjalan di depan. Tidak berbicara. Langkah mereka tidak bersuara di atas lantai batu—seperti sudah terlalu sering berjalan di lorong ini. Arkala menghitung langkah. Empat puluh dua... Empat puluh tiga... Di ujung lorong ada pintu kedua. Lebih besar. Terbuat dari besi. Di tengahnya terukir lambang yang ia kenal—empat segitiga yang saling menunjuk ke pusat. Empat kasta. Salah satu dari dua orang itu meletakkan telapak tangan ke lambang tersebut. Pintu bergetar. Terbuka ke dalam. Dari dalam ruangan itu, cahaya merah mengalir keluar—bukan dari obor. Melainkan dari sesuatu yang lain. "Masuk," kata orang itu. Arkala melangkah ke ambang pintu. Matanya menyesuaikan dengan cahaya merah. Ruangan itu bundar. Di tengahnya berdiri sebuah kristal—lebih besar dari Batu Baca, setinggi d**a orang dewasa, dan di dalamnya sesuatu berputar pelan. Seperti kabut. Seperti asap. Tapi tidak satu pun di antaranya. Di sekeliling ruangan, empat orang duduk di kursi tinggi. Wajah mereka tidak kelihatan. Tidak ada obor di sini. Tidak ada jendela. Hanya cahaya merah dari kristal itu—dan empat sosok yang duduk seolah cahaya itu bukan untuk mereka, melainkan untuk sesuatu yang mereka tunggu. Sesuatu seperti ini. Salah satunya bicara. "Anak itu," suaranya seperti batu yang digesekkan ke batu lain, "harus diperiksa malam ini juga." Yang lain menjawab, lebih pelan, hampir berbisik. "Tidak perlu diperiksa." Lalu hening. "Cukup di—" DUNG...!!! Pintu besi menutup di belakang Arkala.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Putri Zhou, Permaisuri Ajaib.

read
8.9K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
195.7K
bc

JANUARI

read
51.9K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
22.2K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
48.5K
bc

Kali kedua

read
222.9K
bc

TERNODA

read
203.9K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook