10.melabrak

768 Words
Laurin mendengus kesal. Dia berjalan menuju gedung A, di salah satu ruang di sana, yaitu K-U1. Semua peristiwa yang terjadi hari ini adalah karena ulah Rega yang tiba-tiba datang dan mengaku-ngaku sebagai pacarnya. Langkah Laurin tercekat di ujung koridor saat melihat Atta tengah bermain ponsel sambil menyandarkan punggungnya di tembok dekat pintu. Nyali Laurin mendadak menciut untuk memasuki K-U1. la meneguk ludah, buru-buru menyembunyikan diri di balik dinding seraya mengamati Atta dari jauh. Cowok bermata sipit itu entah mengapa selalu berhasil mernbuat jantung Laurin berdegup gugup walau hanya mernandangnya dari kejauhan. "Mau ngelabrak Rega?" Laurin terperanjat kaget, membarikkan tubuhnya dan mendapati sosok cowok yang tempo hari ia temui di toilet. Wajahnya sangat familiar. Cowok itu sering dibicarakan Chika dan Vania. Terlebih lagi Laurin juga sering melihat snapgram teman-temannya yang juga sering meng-upload foto cowok itu. Tapi Laurin sedikit lupa namanya. Mungkin karena Laurin tidak tertarik padanya. "Iya. Gue mau ngelabrak Rega," sahut Lau rin sedikit kikuk. la memperhatikan cowok itu dari ujung kaki hingga ujung kepala. Mata Laurin mulai mernicingsilau, cukup kagum karena ketampanan cowok itu. "Kenapa cuma berdiri di sini? Masuk aja!" suruh cowok itu santai. Mata Laurin mulai menyisir di seluruh bagian jas almamater yang dikenakan cowok itu. Tidak ada name tag. Laurin tidak tahu harus riemanggil cowok itu dengan sebutan apa. "Melviano Kalandra. Panggil aja Alan," kata cowok itu yang dengan mudah bisa menebak apa yang ingin Laurin ketahui. "Oooh jadi nama lo itu Alan? Ya asal jangan depennya ditambah si aja." "Sialan dong." Alan terkekeh pelan. Laurin ikut terkekeh. "Anak K-U emang pintar ya." "Eh katanva mau ngelabrak." " Emmmm..." Laurin kernball mengintip Atta dari kejauhan. Dia enggan melabrak Rega jika Atta masih ada di sana. Alan melongok. Dia juga melihat Atta di depan kelasnya lantas mengangguk paham. Dia tahu bahwa Laurin enggan memasuki kelasnya karena ada Atta di sana, Alan seketika bisa rnenyimpulkan bahwa Laurin memiliki perasaan pada Atta. "Lo suka Atta?" tebak Alan Sengaja melontarkan sebuah pertanyaan sederhana untuk memastikan gestur tubuh Laurin saat menjawab. "E... enggak kok, sahut Laurin gugup.. ''Ngapain juga gue suka sama dia?" "Kalau gitu, masuk aja. " "I „, iya, Pasti gue bakal masuk kok." Laurin melangkah keluar dari persembunyiannya. Alan hanya menunggu apa yang akan Laurin lakukan. Sepertinya dia akan suka dengan drama yang bisa ia lihat secara langsung di masa SMA nya yang tadinya membosankan. Laurin melangkah enggan. bukanya Langsung memasuki kelas untuk melabrak, langkah kaki Laurin malah terhenti di depan Atta, "Reganya ada?'' tanya Laurin basa-basi. Sebenarnya melontarkan pertanyaan bodoh seperti itu hanya alasan agar bisa tampan Atta dari dekat, Seperti biasa, Atta tersenyum ramah. "Ada, Kak. Kakak masuk aja." Laurin mengangguk kaku.. "Makasih." "Sama-sama." Laurin menarik napasnya dalam-dalam lantas mengembuskannya, mencoba menstabilkan irama jantungnya yang tengah kencang berdendang. Di ujung koridor, Alan terkekeh melihat tingkah laurin ia anggap cukup unik. "Eh Rega! Sini lo mata Laurin melotot marah. berjalan cepat menuju bangku Rega. ''Ada apa, sayang?" goda Rega. "Sayang?Sayang nenek moyang lo?!" ''Mau apa sih, sayang?" "Eh gue peringatkan ya! Jangan pernah manggil gue dengan sebutan sayang. Tau nggak, lo bi kin gue jadi sial. Cewek-cewek Delton pada ngelabrak gue. Dikira gue pakek pelet ke elo." "Emang itu rencana gue. membalas dengan cara yang unik," batin Rega terkikik puas. "Biar lo paham kalau seorang Arkharega Argantha adalah bukan sembarang orang yang bisa lo siram sampah seenak jidat lo." ''Lo marah soal kemarin? lya?' tebak Laurin. "Gue kan udah minta maaf ke ela. Lagian gue juga udah bantuin elo ambilin seragam ganti." "Tidak semudah itu, Ferguso." "Eh nama gue laurin. Bukan Ferguso!" bentak Laurin geram. "suka-suka gue dong! Mulut, mulut siapa?" tantang Rega nyolot. Laurin menghentak-hentakkan kakinya kesal. "Lo itu ya bikin orang susah tau nggak!" "Terus? Masalah buat gue?" Rega menunjuk dirinya sendiri. "5ekarang, gue minta elo mengklarifikasi kesemua orang kalau kita nggak pacaran." ''Bomat. Bodo amat,' timpal Rega santai. "Eh lo kayaknya belum tau siapa gue ya? Gue udah dapetin ratusan medali berbagai ilmu bela diri. Kalau gue mau, gue bisa tendang elo dari lantai dua gedung ini!" "Bomat. Bodo amat." "Eh lo itu-" spontan tangan Laurin mencengkram kerah jasalmamater Rega, merribuat Rega berdiri dari tempat duduknya. "Berisik!" tegur Elvan yang terbangun dari tidurnya. Laurin menoleh kaku lalu tersenyurn malu saat mengedarkan pandangan. Dia melihat Elvan yang menatapnya sinis. Sedangkan di Laurin menoleh kaku lalu tersenyum malu saat mengedarkan pandangan. Dia melihat Elvan yang menatapnya sinis. Sedangkan di ambang pintu ada Alan dan Atta. Laurin berdehem, melepaskan kerah jas almamater Rega. "Eh denger ya Rega, pokoknya gue nggak mau tau. Lo harus bikin video klarifikasi. Titik!" Laurin mendengus kesal. la memejamkan matanya, terlalu malu karena takut jika Atta menganggapnya gadis aneh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD