Sementara itu di tempat Bara, dia berhasil masuk dan menyamar menjadi sosok cleaning service yang tidak dikenali oleh mereka.
Salah satu rekannya, memerintahkan nya untuk masuk ke ruang meeting, untuk mendistribusikan makanan dan minuman pada Sam dan anak buahnya.
"Desta de Drago sudah di umumkan untuk di lelang, begitu kita bisa mendapatkannya, maka perusahaan alat musik terbesar itu akan serta Merta runtuh dan menjadi milik kita." kata Sam.
"Tanpa Desta de Drago, perusahaan itu tak lagi ada value nya, dia akan mengalami kemunduran hanya dalam beberapa bulan saja disaat itu kita datang sebagai malaikat." kata Sam.
"Haha iya Tuan, bukannya malaikat penyelamat melainkan malaikat maut " timpal salah seorang anak buahnya.
"Iya kita akan menjadi raksasa setelah ini.' Jawab Sam.
"Mana Brian, aku tidak lagi pernah melihatnya?" kata Sam.
"Ini yang akan saya laporkan pada anda Tuan Sam, sejak kemarin dia menghilang, barang-barang dilamarnya tetap hanya ponsel dan foto di nakasnya yang menghilang, apa mungkin dia..." kata Leo.
"Sialannn tuh anak, kalau dia sampai tau Bara itu abangnya, dan dia ngadu semuanya, bakalan nyerang kita balik tuh, mereka berdua anak-anak saya kenapa sih nggak ada yang mau nurut sama bapaknya." keluh Sam.
"Apa... jadi beneran Brian adik aku, dan Sam udah mengetahuinya juga. Dan dengan sadar pula dia menjadikan anak kandungnya sebagai tangan kanan dia buat nyelakain anak nya yang lain. Dasar manusia tak berdarah." kata Bara dalam hati.
"Kalau perkataan itu keluar dari mulut Sam, aku nggak perlu lagi buat mastiin identitas Brian." lanjut Bara.
"Udahlah lupain mereka berdua, terserah mau mati juga aku nggak peduli. Kembali fokus ke Desta de Drago, berapa harga pembukaan nya, cari tau dan juga informasikan tentang potensi saingan kita." titah Sam.
"Baik tuan..." Ucap Leo.
Bara keluar ruangan karena tugasnya di dalam sudah selesai, akan sangat mencolok kalau dia berpura-pura lama mengerjakan tugas.
"Segitu pentingnya Desta de Drago buat mereka." kata Bara.
"Heeiii kamu ... Mau kemana?" tanya salah seorang rekan Bara.
"Aku... Ehmmm mau ke toilet." jawab Bara.
"Aku heran kemarin kamu bilang mau cuti, karena bini kamu mau lahiran, kok udah masuk lagi sekarang?" tanya Dika.
"Iya soalnya istri ku butuh biaya buat oprasi, makanya kerja lagi dan dia dirumah sama orang tuanya." kata Bara menjawab pertanyaan dalam penyamarannya.
"Ohh gitu, yaudah kalau gitu, di belakang si Tony lagi ambil sampanye dari ruang bawah tanah, susul dan bantu dia." kata Dika.
Bara mengangguk. Dia merapatkan maskernya.
Sambil berjalan menuju arah yang di maksud Dika, sesekali bara mengedarkan pandang, lalu matanya menangkap sebuah pintu yang menjadi portal menuju ruangan lain.
Bara berjalan santai masuk keruangan itu kemudian menutupnya lagi.
Ternyata ada sebuah ruang dokumen, di sana banyak sekali rak tempat menyimpan dokumen-dokumen lama.
Dia menyusuri satu persatu rak yang ada disana. Kemudian berhenti di sebuah rak yang mana di dalamnya terdapat nama-nama anak buah Sam, dia mengambil satu nama bertuliskan Brian.
"Ini yang dikerjakan anak itu selama menjadi kacung bapaknya." kata Bara tertawa geli karena kebodohan adiknya.
Brian adalah anak kandung Sam dengan ibu Bara, sementara Bara adalah anak kandung ibu bara dengan pria Rusia. Sedikit mengingatkan siapa tau lupa.
Bara terperangah melihat selembar kertas dengan foto seseorang yang dia kenal.
"Ini ... Ini bukannya papa Niana, iya aku nggak lupa dengan pria baik hati itu." ucap Bara mengenang masa kecilnya saat pertama kali bertemu Niana dan mengantarnya pulang.
"Jadi papa Niana dibunuh oleh Brian, dia bertugas mensabotase kendaraan papa Niana." ucap Bara sambil membaca laporan kerja itu.
"Apa Brian tau kalau Niana itu adalah anak dari seseorang yang pernah dia celakai? Dan apa Niana tau kalau papanya meninggal karena Brian." kata Bara kemudian.
"Masih belia waktu Brian melakukan tugas ini... Ya Tuhan, kenapa bisa terjadi, adik aku membunuh papa dari gadis yang aku cintai." kesah Bara.
Namun dia buru-buru mengembalikan folder itu saat ia mendengar langkah kaki mendekat.
Dia bersembunyi di balik rak yang agak gelap terlindung dari sinar lampu. Kemudian terdengar handle pintu terbuka lalu Leo masuk kedalam.
"Kalau si Brian itu mati, maka posisinya akan tergantikan oleh ku, jadi aku bisa dapat banyak banget uang dari tugas-tugas ku di level diamond." kata Leo.
"Okkee sebaiknya aku cari dan habisi dia." kata Leo.
"Okke sekarang kita cari tau dimana kamu Brian." kata Leo.
Dia mengutak-atik ponselnya lalu tersenyum smirk.
"Ohhh jadi kamu dirumah Bara ya." kata Leo.
Seketika Bara terkesiap. Dia tidak mau Leo datang kerumah dan mencelakai Brian maupun Niana.
Leo keluar lagi dari ruangan tersebut setelah membawa folder milik Brian. Sementara Bara memutar otak bagaimana caranya menghubungi Brian atau Niana saat ini.
Namun itu sangat beresiko, apalagi dia sekarang berada di kandang macan, satu-satunya cara untuk menghentikan aksi Leo untuk menolong Brian dan Niana adalah dengan cara pulang.
Setelah memastikan di dalam dan diluar ruangan tidak ada siapapun Bara keluar tak lupa memakai masker nya.
"Looh mau kemana kamu? Udah selesai bantuin di basement?" tanya Dika.
"Udah, aku harus segera kerumah sakit, istriku hari di operasi sekarang, tolong ya." ucap Bara berusaha bersikap wajar.
"Oh iyaa ... Kalau gitu baiklah, pulang sana." kata Dika.
Bara kemudian pergi dari sana dengan tenang, namun belum jauh dia melangkah, dia mendengar telepon Dika berbunyi dan itu adalah dari temannya yang asli.
"Kamu dirumah sakit dari kemarin, terus yang ada disini dan ngaku-ngaku sebagai kamu itu siapa?" kata Dika, Bara langsung mempercepat langkahnya dan berbelok menghilang, sembunyi di balik tembok karena dia tau Dika pasti mengejarnya.
"Sialannn ada penyusup rupanya." ucap Dika.
"Sebelum dia beritau yang lain, aku harus cepet." batin Bara.
Dia berjalan menyusul Dika kemudian melumpuhkannya dengan satu kali pukulan. Setelah itu dia berlari menuju jalan rahasia kemarin, mengganti pakaiannya lalu keluar dari sana.
Sementara itu di rumah Bara, Niana tengah kesakitan di kamar, dia meringkuk sambil memegangi perutnya.
Dia duduk dilantai sambil meremas sprei tempat tidurnya. Sedangkan Brian usai membuat dua buah mangkuk mi instant, menyusul Niana ke kamarnya.
"Hi... Ladies, makanan udah siap, sorry aku cuman bisa bikin mi instant." ucap Brian sambil membuka pintu kamar Niana.
"Loooh Na... Kamu kenapa heii..." ucap Brian sambil menolong Niana.
"Iam okay, just in my period." jawab Niana sambil terus menahan rasa sakit.
"Oh... Terus kamu butuh sesuatu, kamu butuh obat, aku bisa bantu gimana Na, kamu kesakitan kaya gini." ucap Brian sambil mengangkat dan membaringkan Niana diatas tempat tidur.
"Tolong beliin aku obat Brian, perut aku sakit banget." pinta Niana, badannya yang kurus Ki i hanya bisa meringkuk di balik selimut, membuat Brian tidak tega melihatnya.
"Okke .. obat apa Na?" tanya Brian.
"Bilang aja obat untuk nyeri haid." jawab Niana dengan lemah.
"Iya iya... Aku berangkat sekarang ya." pamit Brian. Dia bergegas keluar dan mengunci kembali pintu rumah.
Brian memacu motornya dengan kencang, namun mendadak sebuah mobil menabraknya dengan kencang dari arah yang tidak ia duga. Brian jatuh tergelatak di aspal.
Sementara itu, Bara yang berhasil keluar dan kini tengah berada dalam mobilnya, mencoba menghubungi Brian berkali-kali.
"Nih anak kemana sih? Yakali jam segini udah tidur." kata Bara.
Setelah memastikan Brian tidak dapat dihubungi maka Bara mencoba menelpon nomor Niana, sama. Dari nomor Niana juga tidak ada jawaban.
"Nih mereka lagi ngapain sih, apa masih makan malam." kata Bara.
Daripada memikirkan hal yang tidak-tidak dia lebih mengkhawatirkan kalau Leo benar-benar datang kerumahnya.
Bara menambah kecepatan mobilnya, dan 15 menit kemudian dia sampai di rumah. Dia bergegas memarkir mobilnya lalu membuka pintu. Dia melihat dua buah mangkuk mi instant di ruang tengah dengan masih utuh isinya.
Pikirannya semakin kacau, dia panik memanggil nama Niana dan Brian bergantian. Lalu menerobos masuk ke kamar Niana, dia melihat Niana tengah tertidur.
Bara lega sekali mendapati Niana baik-baik saja, dia duduk di samping Niana melepaskan jaketnya kemudian mengusap perlahan rambut Niana.
"Brian kemana?" batin Bara.
Dia berdiri lagi dan berjalan keluar meninggalkan kamar Niana. Namun begitu Bara ingin melangkah ke depan, pintu terbuka, dan dia mendapati Brian tengah terluka dan berjalan dengan tertatih-tatih.
"Astaga... Lo kenapa?" tanya Bara.
"Kayanya ada yang sengaja mau nyelakain gue Bar." jawab Brian.
"Tapi Lo nggak papa?" tanya Bara, dia membantu Bara berjalan dan memapahnya ke tempat duduk.
"Gue nggak bakalan mati semudah itu kali." kata Brian.
"Songong bener lu jadi anak." kata Bara.
"Nih... Lo kasih ke Niana, tadi gue beli obat buat dia, dia lagi sakit, dan kesakitan banget tadi, gue tinggalin dia dirumah, dan ehh gue ditabrak." jelas Brian.
"Lo ditabrak di mana? Liat orangnya?" tanya Bara.
"Udahlah gue nggak papa, cuman lecet doang, nih kasih obatnya ke cewek Lo." kata Brian.
"Ehh iya iya." sahut bara sambil menerima bungkusan plastik itu.
"Tapi serius, Niana tadi sakit kenapa?" tanya Bara.
"Dia lagi dapet, nyeri haid gitu." jawab Brian.
"Ohh..." kata Bara.
"Ohh doang, Lo sih nggak liat gimana kesakitannya dia, Lo kalau nggak niat buat macarin dia, udahlah buat gue aja, ngalah sama adik." kata Brian.
"Enakkk aja, dah lah tidur sana, besok kalau masih sakit biar gue panggil Hanna." kata Bara.
"Hmmmm..." kata Brian.
"Yaudah gue ke kamar Niana." pamit Bara.
"Okke.." Jawab Brian.
Keesokan harinya Niana bangun dengan lebih segar, dia segera membersihkan diri dan mandi. Setelah itu dia kembali ke kamarnya, dia baru sadar kalau ternyata Bara semalam tidur di sofabed kamarnya.
Ada perasaan bahagia ketika melihat Bara sudah kembali pulang. Dia membangunkan Bara perlahan.
"Bara... Bangun!" ucap Niana pelan.
"Ah udahlah kasian dia juga kecapekan pasti." putus Niana beberapa detik kemudian.
Gadis itu membuka lemari pakaian untuk mengambil pakaian ganti kemudian keluar kamar, karena di kamarnya ada Bara tidak mungkin dia mengganti baju disana.
Usai mengganti pakaian, dia menuju dapur untuk mengambil segelas air putih yang telah menjadi rutinitasnya tiap bangun pagi selalu minum air putih.
Setelah itu dia masak, dan membersihkan mi yang tidak sempat mereka makan semalam.
"Oh iya... Tumben Brian belum bangun." kata Niana.
"Diih enak banget jadi cowok, ga ada tuntutan tanggung jawab untuk bangun pagi-pagi." kesah Niana.
Usai menyiapkan sayuran segar untuk dia potong-potong, Niana dikagetkan oleh kemunculan Brian yang terluka di beberapa bagian tubuhnya.
"Ya ampunn... Kamu ngapain Brian? Kamu kenapa? Bisa kaya gitu? Kecelakaan?" tanya Niana syok.
"Nggak papa..." jawab Brian.
"Sini biar aku obatin dengan benar." kata Niana.
"Nggak nggak... Aku nggak percaya sama kamu." kata Brian.
"Elahhh gitu amat lu." kata Niana.
"Udahhh sini, biar aku yang bersihin lukanya? Gimana sih bisa kaya gini?" tanya Niana.
"Hmmm semalam ada yang sengaja nabrak aku, pas aku beliin kamu obat itu." terang Brian
"Ya ampun teruuss gimana?" tanya Niana.
"Nggak papa, buktinya aku masih hidup kan." kata Brian.
"Sorry ya gara-gara aku, kamu jadi kaya gini." ucap Niana.
"Its okay..." jawab Brian.
"Cowok mah biasa berdarah-darah." tambah Brian.
"Ya tapi aku nyesel banget kalau kejadiannya bakalan kaya gini, udah pasti aku nggak bakalan izinin kamu keluar." kata Niana.
Niana berjalan mengambil kotak p3k kemudian mengobati luka-luka Brian.
"Aduuhhh sakit..." kata Brian.
"Ya ampun lebay banget sih, berantem gak takut sampe berdarah-darah giliran diobatin teriak-teriak. Dasar cowok." kata Niana.
"Ya kamu nyentuhnya kekencengan Na..." kata Brian.
"Hehehe iya sorry." ucap Niana.
Bara keluar dari kamar Niana, dia melihat Niana tengah mengobati Brian.
"Kalian sedang apa?" tanya Bara.
"Lagi debus." sahut Brian.
"Nggak liat nih, gue lagi disiksa?" tanya Brian.
Bara tersenyum sambil berlalu mengambil segelas air. Niana teringat akan niatnya untuk meminjam uang kepada Bara tempo hari.
Usai mengobati Brian, Niana mendekat kearah Bara, dia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nya.
"Kenapa tegang banget?" tanya Bara.
"Bara..." ucap Niana.
"Hmmm..."jawab Bara.
"Ehmmm boleh aku tau berapa jumlah uang kamu? Ehmm maksud aku nggak gitu, aku mau pinjem sih." kata Niana.
"Haahh..." Bara nyaris tersedak.
"Buat apa?" tanya Bara lagi.
"Ehmm..." ucap Niana dia merasa tidak nyaman karena ada Brian disana.
Brian sadar diri kemudian memberikan waktu untuk mereka berdua.
"Buat apa?" tanya Bara lagi.
"Jadi enggak boleh ya?" Niana balik bertanya.
"Duh susah ya ngomong sama cewek, di tanya balik nanya." ucap Bara.
"Pakai aja." kata Bara kemudian.
"Aku... Tapi Bar, aku butuh banyak banget." kata Niana.
"Kamu... Kalau mau jadiin tubuh aku sebagai jaminan pun aku bersedia." ucap Niana lirih di akhir kalimat.
Bara meletakkan gelasnya lalu fokus pada gadis cantik di sebelahnya.
"Ada apa sebenarnya? Kamu butuh uang untuk apa?" tanya Bara kini dengan lebih serius.
"Jawab aku Na!" kata Bara.
"Kamu tau nggak berita Desta de Drago sedang di lelang, itu adalah biola sejarah dalam keluarga aku, itu adalah milik papa. Wanita itu seenaknya sendiri mau menghancurkan semuanya." kata Niana.
"Kamu bisa ikut lelang itu, kalau kamu nggak mau aku keluar rumah, asalkan aku bisa mendapatkan Desta de Drago itu." kata Niana.
"Ohh jadi begitu rupanya." kata Bara.
"Aku akan bantu kamu, ambil apa yang menjadi hak kamu, pakai saja semua uang ku, aku juga tidak ingin Desta de Drago jatuh ke tangan Sam." kata Bara.
"Sam ayah kamu? Dia mengincar nya juga?" tanya Niana.
"Iya... Dengan niat yang tidak baik." jawab Bara.
"So..." kata Niana.
"Kamu akan hadir sebagai peserta lelang, di detik-detik terakhir penutupan, gunakan semua uangku, tak apa. Kamu akan datang sebagai seorang bangsawan." kata Bara.
"Aku sama Brian akan melindungi kamu selama disana." kata Bara.
"Kamu hanya harus yakin dan percaya diri." kata Bara.
"Makasiih... Makasiihh aku pasti akan mengembalikan uang itu." kata Niana.
"Udah jangan pikirin itu, aku bisa dapat uang banyak dengan mudah." kata Bara sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Please jangan gitu... Aku mental Yupi gampang meleyot." kata Niana menghindari tatapan Bara yang lebih intens.