Janji

1035 Words
Sampailah mereka berdua pada teman yang tak jauh dari indekos yang ditempati oleh Melly, dengan susana yang cukup ramai. Maklum saja, saat ini belum terlalu malam juga. "Ayo, Sayang, buka sabuk pengamannya dulu," titah Bobby, yang tentu saja langsung dilaksanakan oleh Melly. Namun, perempuan itu tak mau keluar dari dalam mobil. Sebelum sang kekasih yang paham untuk membukakan pintu mobilnya. Dan kali ini Melly mengunakan alibi berpura-pura untuk fokus dengan ponsel yang saat ini berada di genggaman tangan. Untung saja, Bobby adalah laki-laki yang sangat peka dengan sekitarnya. Apalagi bersangkutan dengan Melly, ia langsung cepat tanggap. Sebelum tangan kanannya itu bergerak untuk membuka pintu mobil, Bobby terlebih dulu menggelengkan kepalanya dan juga mengulas senyum. Dengan segera Bobby pun membuka pintu mobil sebelah kiri, yaitu tempat bidadari yang sangat ia sayangi itu berada. "Kok kamu peka bangat sih, Sayang?" tanya Melly, seraya mengeluarkan tawa kecilnya itu. Tangan kanan Bobby langsung mengusap pelan puncak kepala Melly, lalu mejawab, "Apa sih yang aku enggak paham tentang kamu?" "Apalagi untuk orang yang sangat aku sayang banget, pasti bakalan langsung paham," sambung Bobby, membuat tangan kanan Melly langsung semakin erat untuk memeluk tubuh Bobby. Bobby langsung mengusulkan untuk duduk di salah satu kursi yang berada tak jauh dari jalan, selain karena terang dan juga banyak orang, mereka berdua juga bisa memiliki pandangan untuk membeli makanan apa setelah pulang dari taman. "Gimana? Kita bilangnya sama-sama gitu?" tanya Melly, meminta pendapat terlebih dulu, dan tentu saja langsung dijawab dengan anggukan kepala Bobby. Dalam hitungan hingga tiga, keduanya pun sama-sama mengutarakan apa yang membuat Melly dan juga Bobby merasa sangat senang sekali hari ini. Namun, setelah keduanya mengutarakan hal seperti itu, tentu saja membuat rasa terkejut yang sangat. Bahkan, tidak ada yang bisa mengeluarkan perkataan sama sekali. Syok melanda keduanya. Bahkan, saat ini Melly hanya dapat menggelengkan kepalanya saja, berharap jika hal ini adalah rekayasa saja. "Kamu lagi boong, kan? Enggak mungkin kalau kamu juga kerja di tempat yang sama kek aku!" Bobby langsung menggelengkan kepalanya dan menjawab, "Aku beneran, Sayang. Masa iya aku boong sih, apalagi perusahaan itu emang salah satu tempat yang menjadi impian aku." Dan kali ini, benar-benar membuat Melly langsung pasah dan hanya bisa diam menundukkan pandangannya. "Apa aku aja yang harus keluar dan mengundurkan diri?" "Loh, jangan kek gitu dong! Aku yakin kalau perusahaan itu juga pasti impian kamu, kan?" sahut Bobby, dengan otak yang terus saja berusaha untuk mencari jalan keluar untuk hal ini. "Tapi kalau kita masuk ke situ secara sama-sama dan bekerja di satu perusahaan itu, pasti bakalan langsung dipecat," gumam Melly, dengan wajah yang langsung terlihat sangat kusut sekali. Namun, hal itu berbeda seki dengan Bobby, karena laki-laki tersebut saat ini sudah menemukan cara supaya mereka berdua tetap berada di dalam perusahaan yang sama, dan juga tanpa mengakhiri hubungan. "Aku ada ide untuk hal ini, meskipun enggak terlalu bener sih, tapi aku yakin kok ini adalah salah satu cara supaya kita masih tetap bisa ada di situ," ucap Bobby, membuat Melly dengan sangat antusias sekali langsung menatap ke arah sang kekasih. "Mau tau enggak apa idenya?" tanya Bobby lagi, karena sedari tadi itu tidak ada klarifikasi sama sekali dari Melly. "Haduh! Iya, aku mau tau ide apa yang kamu punya itu? Soalnya aku terlalu semangat, jadi kek enggak bisa ngasih jawaban apa pun lagi," sahut Melly. Bobby menganggukkan kepalanya terlebih dulu, lalu perlahan memejamkan kedua mata. "Kita harus berpura-pura menjadi dua orang yang enggak punya rasa sama sekali." Apa yang baru saja diucapkan oleh Bryan, membuat Melly justru semakin mmembeku dan tak dapat mengutarakan apa pun. Bahkan, hanya untuk menggeengkan kepala saja Melly tidak sanggup. Bukan hanya Melly yang merasakan hal itu, karena pada kenyataannya Bobby saja pun seakan tidak pernah rela untuk merahasiakan hubungan tersebut. "Sudahlah, biar aku aja yang ngalah buat mundur dari perusahaan itu," ucap Bobby mengalah. Ia juga tidak ingin melihat sang kekasih yang harus bersedih seperti itu. "Jangan! Kita lakuin apa yang tadi udah kamu utaraian," sela Melly, membuat Booby tak dapat mengedipkan mata sama sekali. "Kamu yakin buat ngelakuin hal yang kek gini? Tantangannya lebih berat dan juga banyak, loh!" Dan Melly benar-benar membulatkan tekadnya untik hal itu. Ia langsung menggelengkan kepala dan menjawab, "Enggak apa-apa, yang penting kita itu masih berada di satu tempat yang sama." Kedua tangan milik Bobby langsung bergerak untuk memeluk sang kekasih, ia sama sekali tidak menyangka jika ternyata kekasihnya itu memiliki pemikiran yang sangat dewasa sekali. "Asalkan kamu itu janji ke aku, jangan genit sama perempuna lain, dan selalu ingat sama aku kalau ada cewek centil yang deketin kamu," pesan Melly, setelah perempuan itu sudah membalas pelukan dari kekasihnya. "Iya, Sayang. Aku janji buat ngelakuin hal itu kok, aku enggak bakalan deket-deket sama cewek lain, kecuali hanya sebatas teman kerja, " jawab Bobby, dengan tangan kanan yang bergerak untuk mengusap pelan puncak kepala milik Melly. Tak ada yang saling mengeluarkan ucapan, keduanya saat ini tengah menikmati rasa pelukan yang memiliki arti angat dalam itu. Seakan untuk melakukan hal yang seperti ini hanya tinggal hari ini saja. "Kamu juga gitu ya, jangan genit sama cowok lain. Awas aja kalau kamu ketahuan kek gitu, kamu sama cowok itu langsung aku marahin habis-habisan, dan bila perlu kita enggak usah saling kenal lagi," ucap Bobby tiba-tiba. Tentu saja hal seperti itu langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh Melly, lalu selang beberapa detik kemudian pun berucap, "Bagi aku, kehadiran kamu di hidup aku itu udah lebih dari cukup banget kok." "Makasih banyak, udah ngutarain hal itu, dan aku juga sangat bersyukur sama kamu. Terima kasih banget karena kamu selalu ada sama kamu. Aku juga percaya kalau kamu bisa buat jaga hati," sahut Bobby, dengan tangan kanan yang kini bergerak untuk merapikan rambut milik Melly. "Sama-sama, aku juga bakalan selalu percaya kok sama kamu, kalau kamu itu enggak bakalan belok ke cewek lain. Apalagi, aku aja udah sempurna banget, kalau sampai kamu bisa belok, itu keterlaluan banget!" Ucapan Melly yang seperti itu, membuat Bobby langsung mengeluarkan tawanya. Sebenarnya, apa yang baru saja diucapkan oleh Amel itu ada benarnya juga, karena memang perempuan yang sejak dulu ada di sisinya tu sudah sangat sempurna sekali. Tanpa ada ucapan apa pun terlebih dulu, Bobby langsung mendekatkan wajahnya, lalu mencium kening Melly dengan sangat pelan dan juga lembut. "Aku sangat menyayangi kamu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD