Perasaan gusar

1012 Words
"Ya udah, sekarang silahkan masuk ke dalam, terus istirahat. Inget, besok adalah hari yang baru buat kita berua," ucap Bobby, seraya mengusap pelan kepala milik sang kekasih. Meskipun berat sekali untuk menjawab, tetapi mau bagaimanapun juga itu adalah keputusan yang sudah disepakati. "Kamu hati-hati di jalan ya," pesan Melly, seraya mengulas senyum. Percayalah, senyum yang ditunjukkan oleh perempuna itu adalah palsu. Karena itu hanyalah alternatif supaya dirinya tidak terlalu terlihat sekali jika sedang bersedih. Sama halnya dengan Bobby, laki-laki itu juga merasakan hal yang dirasakan oleh Melly. Karena bagaimanapun juga kedua orang tersebut sudah memiliki satu perasaan yang sama. "Ya udah, masuk ya! Aku langsung pulang sekarang," titah Bobby, yang langsung dijawab dengan anggukan lemah oleh Amel. Namun, laki-laki itu tetap berada di depan indekos Melly, ia tidak akan pernah pergi dari depan indekos Melly, sebelum kekasihnya itu sudha menutup pintu. Akhirnya, yang mengalah adalah Melly, permepuan itu segera masuk ke dalam indekos yang ia tempati dan menutup pintu dengan sangat rapat. Tak lama setelah itu, Bobby pun membalikkan tubuhnya dan berjalan mendekat ke arah mobil pribadinya. Suara mesin mobil yang perlahan menjauh dari indekos Melly, itu menandakan jika Bobby sudah meninggalkan halaman indekos tersebut. Yang dilakukan oleh Melly saat ini yaitu duduk tepat di depan pintu masuk. Rasanya sangat sakit sekali, ia seperti tidak rela dengan keputusan yang sebenarnya tadi sudah disepaakati. "Hey! Lo kenapa sih, kok malah duduk di depan pintu kek gitu? Mana mukanya keliatan kusut gitu?" tegur Fita, dengan raut wajah yang terlihat sangat heran sekali. Dan memang benar, jika seseorang tengah merasakan sakit yang luar biasa dan juga galau, bisa-bisa lupa akan semuanya. "Eh, gue bhakan lupa kalau ada lo di sini." Melly segera bediri dari posisinya yang tadi, lalu melangkahkan kaki menuju ke arah ujung kamar. Meletakkan sepatu yang ia kenakan di situ, berjejer dengan sepatu yang lainnya juga. Selesai melepas sepatau, kini Melly meletakkan tas yang ia bawa di tempat semula, lalu kini melangkahkan kakki menuju ke kamar mandi. Tentu saja hal itu untuk membersihkan semua tubuh, supaya tidak ada lagi kuman yang menempel. "Kenapa sih? Ada masalah apa sama is Bobby?" tanya Fita, yang langsung mengambil posisi duduk dan menghadap ke arah sahabatnya itu. Bukannya menjawab, Melly justru langsung masuk ke dalam pelukan Fita, lalu kembali menangis di dalam pelukan tersebut. Perempuan itu memang saat ini tengah membutuhkan seseorang yang mendengarkan ceita dan juga kisah sedih yang ia miliki. "Eh, lo kok malahan nangis sih? Coba lo cerita pelan--pelan aja, kaau nangis doang gue malahan nambah bingung sama apa yang terjadi," protes Fita, dengan dahi yang langsung berkerut. Perlahan, Melly menggerakkan tangan kanannya itu untuk mengusap air mata yang masih berjatuhan. Bahkan, kedua mata pperempuan itu langsung terlihat sembap. "Gu-gue mau cerita sama lo," ucap Melly, yang mulai berangsur tenang. Fita langsung menganggukkan kepalanya. "Gue bakalan dengerin cerita apa aja yang bakalan lo utarain kok." "Lo tau, kan? Kalau perusahaan yang nerima gue buat kerja di situ adalah impian gue banget?" Fita hanya menganggukkan kepalanya saja. "Di perusahaan itu, ada peraturan kalau sesama karyawan enggak boleh buat saling suka, apalagi menjalin hubungan," ungkap Melly dengan nada bicaraa yang kini melemah. Namun, hal ini justru masih tidak dapat dipahami sama sekali oleh Fita. "Lah, terus masalahnya apa? Lagian, lo sama si Bobby juga kan beda perusahaan!" Kedua tangan Melly langsung bergerak untuk menutup muka. "Itu dia masalahnya sahabat gue yang cantik! Ternyata, Bobby juga udah diterima di perusahaan itu," sahut Melly, dengan nada bicara yang gemas. "Hah? Masa sih, kok lo bisa tau dadakan kek gini!" "Seriusan, Fita! Makanya sekarang gue sama dia itu lagi pusing banget, mana itu adalah perusahaan yang jadi impian kita berdua. Keknya enggak mungkin banget kalau sampai di antara kita berdua yang keluar ngundurin diri," sahut Melly, dengan raut wajah yang menunjukkan jika irinya itu benar-benar frustrasi. Fita diam, ia juga sangat kasihan dengan nasib perasaan yang dimiliki oleh sahabatnya itu, tetapi kisah percintaan yang dialami itu justru membuat pikiran semakin bingung sekali. Lelah jika harus menunggu tanggapan yang mungkin akan dikeluarkan oleh Fita, kini Melly memilih untuk langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. "Kalau di antara kalian berdua enggak ada yang mau ngalah, jalan satu-satunya ya kalian harus backstreet," ucap Fita, dengan kedua mata yang langsung menatap penuh keseriusan ke arah sahabatnya. Apa yang diucapkan oleh Fita, membuat Melly merasa sangat putus asa sekali. Tangan kanannya langsung meraih bantal yang berada tak jauh dari posisinya saat ini. Dan bantal tersebut langsung digunakan oleh Melly untuk menutup muka. "Kalau usulan lo kek gitu, enggak usah diutarain lagi!" "Loh, kenapa emangnya?" tanya Fita, dengan dahi yang berkerut, lalu ikut tertidur tepat di samping Melly. "Karena gue sama Bobby udah sepakat buat ngelaksanain hal itu," jawab Melly, dengan suara yang teredam oleh bantal. "Ya udah bagus kalau emang udah sepakat buat ngelakuin hal yang kek gitu mah. Karena emang enggak ada jalan keluar lain lagi, yang terpenting di antara kalian harus nanamin rasa saling percaya," sahut Fita, lalu mengulas senyum. Dan sahabat dariaa Melly itu memilih untuk kembali melanjutkan kegiatannya tadi yang sempat tertunda. aitu, bermain ponsel. Sedangkan Melly, perempuan itu bingung dan juga gelisah dengan apa yang akan ia alami nantinya. Bahkan, jauh di dalam hati Melly tidak sanggup jika nanti mendapatkan kenyataan tentang hal yang negatif. "Jangan punya pemikiran yang jelek dulu, lo enggak tau gimana kehidupan selanjutnya kek gimana! Lebih baik, sekarang istirahat, karena lo juga bakalan berangkat pagi-pagi, kan?" tegur Fita, yang ternyata langsung dibenarkan oleh Melly. Perlahan, Melly pun memutuskan untuk memjamkan mata dan berusaha untuk segra tertidur. Bersiap menymabut hari esok, yang sudah dapat dipastikan akan memiliki banyaka drama. Fita hanya menggelengkan kepaa saja melihat sahabatnya yang seperti itu. "Namanya juga sebuah hubungan. Gue yakin enggak bakalan mulus-mulus aja kek jalan tol," gumam Fita, lu ia juga mulai bersiap untuk tertidur. Namun, terlebih dulu menarik selimut hingga sebatas daada, baru setelah itu perempuan yang bernama lengkap Fita Anggraini dapat terlelap dengan sangat pulas. Malam ini, semuanya senyap. Karena semua yang menempati indekos di situ pun memutuskan untuk tertidur lebih awal. Maklum saja, namanya juga hari senin. Pasti akan melalui semua hal yang sangat berat sekali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD