Sesuai dengan apa yang diucapkan oleh Bobby waktu malam tadi, kini saat jam baru saja menunjukkan di angka enam. Laki-laki itu sudah melakukan perjalanan menuju ke indekos milik Melly.
"Sebentar ya, Sayang," ucap Melly, dengan kedua tangan yang semakin mempercepat untuk mengenaan sepatu pada kedua kaki.
Sedangkan yang dilakukan oleh Bobby saat itu hanya diam dan melihat apa yang tengah dilakukan oleh kekasihnya itu.
"Fita udah berangkat kerja juga?" tanya Bobby memecah keheningan di antara mereka berdua.
Melly langsung mengnaggukkan kepalanya dan menjawab, "Iya, Fita emang kalau berangkat selalu aja pagi-pagi, tetapi kalau pulang pasti siang, atau kalau enggak ya sore."
Tak ada sahutan apa pun lagi yang diutarakan oleh Bobby, karena perbincangan itu memang hanya sebatas pertanyaan semata.
Lagipula saat ini kekasihnya itu sudah selesai mengenakan sepatu. Maka, tanpa ada keinginan untuk membuang waktu, keduanya segera masuk ke dalam mobil dan melakukan perjalanan mennuju ke arah perusahan.
Tentu saja hal itu supaya mereka berdua tidak terlambat, apalagi ini adalah hari pertama mereka berangkat bekerja.
Jadi, sebis amungkin harus menampilkan sesuatu yang menarik dan juga baik. Jangan sampai, pada hari pertama kerja itu langsung bad attitude.
"Kita enggak bakalan telat kan ya, Sayang?" tanya Melly, dengan tangan kiri yang langsung ia angkat sedikit.
Tentu saja hal itu bertujuan supaya pertanyaan darinya barusan dapat terjawab. Meskipun laki-laki yang berda di samping Melly sudah terlebihi dulu berucap, "Tenang aja, enggak bakalan telat kok."
"Soalnya semua yang bakalan aku lakuin itu udah dirancang dengan sangat sempurna dulu, jadi enggak bakalan bisa telat," sambung Bobby, yang mampu membuat Melly langsung dapat menghembuskan napasnya sangat lega.
Benar saja apa yang diucapkan oleh Bobby, karena ternyata kedua orang yang berada di dalam satu mobil itu tiba di perusahaan tersebut dalam keadaan yang tidak terlalu ramai.
Dengan refleks sekali, tiba-tiba saja Melly menggerakkan tangan kanannya untuk menggandeng lengan milik Bobby.
Namun, untung saja saat itu Bobby tengah tersadar, sehingga dengan segera ia berucap, "Sayang, aku harap kamu ingat kalau kita sekarang itu lagi ada di mana."
Dan detik itu juga, Melly langsung melepas tangannyaa yang sedari tadi merangkup pelan lengaan laki-laki yang menjadi kekasih.
"Maaf, soalnya aku udah biasa banget buat gandeng kamu," ucap Melly, lalu menundukkan pandangannya.
Bobby hanya dapat menganggukkan kepalanya saja, karena ia juga sangat paham dengan perasaan yang saat ini hinggap di dalam hati Melly.
Namun, yang namanya ketentuan dan juga kesepakatan memang harus tetap dilaksanakan. Tidak peduli apa alasan yang akan diutarakan.
"Kita berpisah di sini ya, kalau memang nanti situasi mengharuskan untuk kenal. Maka kita harus melakukan perkenalan dulu layaknya dua orang yang baru saja bertemu," ucap Bobby, lalu langsung melangkahkan kaki meninggalkan Melly dengan perasaan yang campur aduk.
"Semiris ini ya kisah cinta kita?" gumam Melly, dengan raut wajah yang langsung terlihat sangat murung.
Menggelengkan kepala terlebih dulu, sampai akhirnya Melly memutuskan untuk segera melangkahkan kaki menuju ke dalam kantor tersebut.
Memang benar tebakan yang dilontarkan oleh Bobby tadi, karena pada saat semua karyawan dikumpulkan. Langsung diberi arahan bagaimana sistem dan juga cara kerja di perusahaan tersebut.
Dan Melly yang memang sudah mencari tahu dulu tentang hal itu, maka perempuan itu langsung paham dan juga dapat mengerjakan pekerjaan yang diberikan dengan waktu yang cukup singkat.
Hebatnya di perusahaan ini, jika ada karyawan dari bawah yang memiliki kinerja bagus, maka hal itu akan langsung diangkat dan juga dinaikkan jabatannya.
Semua karyawan yang tadinya baru saja diterima, akan dilakukan uji coba tes selama satu bulan, dan masa-masa itu adalah masa penentuan.
Akankah jabatannya tetap berada di posisi karyawan saja, atau justru sedikit lebih meningkat dari posisi tersebut. Dan ini yang membuat Melly semakin memiliki rasa semangat yang cukup tinggi.
Bahkan, setelah pemberitahuan di hari pertama, tentnag bagaimana lebih jelas lagi tentang perusahaan tersebut. Baik Bobby atau Melly memutuskan untuk tidak selalu satu kendaraan waktu berangkat kerja.
Sebagai ganti dan juga jaminannya adalah, Bobby yang memberikan salah satu mobil miliknya yang lain. Karena memang jarang sekali dipakai, secara cuma-cuma.
Kendraan tersebut tentu saja memiliki fungsi sebagai tunjangan untuk sang kekasih, lagipula sebelum Bobby membiarkan Melly untuk mengendarai mobil itu sendirian, ia sudah terlebih dulu memberi pelatihan.
Tentu saja hal itu memiliki tujuan supaya tak akan ada hal negatif yang menimpa Melly. Meskipun mereka berdua tidak selalu bersama menuju ke kantor, tetapi jika berurusan dengan hati maka mereka akan tetap setia.
Semuanya berjalan baik-baik saja, tidak ada yang saling lirik atau menggoda satu sama lain, karena selama satu bulan itu mereka sedang berlomba meraih jabatan.
Ada kemungkinan jika setelah satu bulan itu berlalu, maka mulailah ada benih-benih asmara yang hadir pada setiap karyawan. Dan di saat itulah kesetiaan dari Melly juga Bobby akan diuji.
Ternyata, di saat pembagian jabatan, Melly menempati posisi sebagai orang kepercayaan dari sekertaris pemimpin perusahaan.
Sedangkan Bobby, laki-laki itu justru menempati posisi sebagai kepala karyawan. Hal itu tentu saja membuat keduanya sama-sama merasa khawatir dan juga takut jika ada seseorang yang menggantikan posisi yang ada di dalam hati.
"Kamu bisa janji enggak sama aku?" tanya Melly, saat mereka berdua sedang berada di salah satu restoran, dengan keadaan sekeliling yang sangat ramai.
"Janji tentang apa memangnya?" tanya Bobby, dengan kening yang langsung menyatu.
Melly mengembuskan napas terlebih dulu, lalu ia menyenderkan punggung pada tubuh kursi. Apa yang dirasakan oleh perempuan itu memang sedang tidak tenang sama sekali.
"Kamu harus janji, kalau jangan sampai belok sama perempuan yang lain," tutur Melly, dengan tangan kanan yang langsung menunjukkan jari kelingking.
"Tentu, tapi kamu juga harus janji jangan sampai tergoda sama cowok-cowok yang punya jabatan lebih tinggi dari aku," sahut Bobby, lalu menyatukan jari kelingking miliknya dengan sang kekasih.
Hanya sesederhana itu saja permintaan dari Melly, bahkan sudah cukup membuat perempuan itu sangat merasa tenang sekali. Setelah itu, mereka berdua pun segera melahap makanan yang seertinya sudah dingin.
Bagaimana tidak dingin, jika sedari tadi makanan itu hanya didiamkan saja, apalagi yang memesan saja memilih untuk hanya diam, sibuk dengan pemikiran masing-masing.
Padahal, apa yang sebenarnya terjadi nanti ke depannya itu, seringkali selalu berbeda dengan persepsi seseorang yang sok tau. Namun, bagaimanapun juga yang namanya rasa khawatir dan juga takut kehilangan itu selalu ada di dalam benak seseorang