"So, Where did you guys go earlier?" Tanya Vani saat mereka makan malam di ruang makan.
"I said later. You guys will know later, not now!" Ucap Leo jengkel.
"But why not?" Tanya Vani bingung.
"Shut up please!" Ucap Felix tiba-tiba.
"Tapi kak.."
"Sudahlah Van, lagi pula Leo dan Alexa sudah bilang tadi kan? Bersabarlah." Ucap Felix santai sambil melanjudkan makannya.
Merekapun kembali melanjutkan makan mereka sampai akhirnya selesai. Saat sudah selesai, Alexa mulai membuka suaranya.
"Besok pengumuman kenaikan." Ucap Alexa dengan nada datar khasnya.
"We know." Ucap Leo, Felix, dan Vani dengan nada yang tak kalah datarnya.
Alexa yang mendengar itupun hanya mengangkat bahunya acuh sambil menyesap jusnya yang sisa sedikit.
"Aku tak percaya Kevin dan Farel akan berkhianat pada kita." Ucap Vani tiba-tiba dengan nada lesu.
"Sudah lah. Lupakan." Ucap Felix.
"Tapi Kevin..."
"You like him, right!?" Tanya Alexa mendadak membuat Felix yang sedang meminum minumannya tersedak, begitupun dengan Leo yang sedang memakan pudingnya dan langsung meminum airnya.
"N..no!!" Ucap Vani dengan muka yang memerah.
Alexa yang melihat itu pun hanya mengangkat sebelah alisnya dan menyingkirkan gelasny kemudian menopang kepalanya dengan satu tangannya di atas meja dan tangan yang lain di silangkan di atas meja.
"Am i wrong Miss Belizza?" Tanya Alexa sambil menyeringai saat melihat wajah Vani yang semakin memerah.
"Y..yes! Y..you w..wrong!" Ucap Vani terbata-bata.
"Kau bilang tidak tapi reaksimu mengatakan iya. Jujur saja kalau kau menyukai dia." Ucap Leo sambil membersihkan mulurnya dengan tisu.
"O..ok. aku mengaku kalau aku suka dia! Puas!?" Ucap Vani sambil memalingkan wajahnya ke lain arah.
"Of course any of you like the one who turned out to our enemies Vani!!" Ucap Felix nada yang sangat dingin bertanda ia sedang sangat marah.
"I know! But..." ucap Vani terbata-bata karna takut.
Brak..
"Aku pergi!" Ucap Felix sambil menggebrak meja dengan keras membuat meja mereka menjadi pusat perhatian sekarang.
"Kak! Wait! Listen to me please!" Ucap Vani sedikir berteriak sambil menangis dan berlari mengejar Felix.
"Ku rasa kau keterlaluan Lex." Ucap Leo sambil menatap adiknya.
"Nope. Pada dasarnya dia adalah orang yang mudah jatuh cinta dan mudah disakiti. Wajar saja jika ia begitu. Kau tau? Awalnya ia menyukaimu karena... you know what i mean. Tetapi setelah Kevin dan Farel datang, ia beralih menyukai Farel. Mungkin karna sifat yang sama dengan dirimu, apa lagi ia memakai kacamata yang membuatnya kelihatan manis dan juga ia merupakan salah satu murid yang pintar disini dan selalu serius dalam segala hal. Menurutnya." Ucap Alexa santai.
"Wow. Kau tau banyak rupanya. Tapi kalau begitu, kenapa sekarang ia malah menyukai Kevin?" Tanya Leo bingung.
"Why did you ask me that? You like her hm?" Tanya Alexa balik.
"No. Aku menganggapnya hanya sebagai adik karna sifatnya yang manja itu. Lagi pula aku tak tertarik dengan siapapun saat ini." Ucap Leo santai.
Alexa pun hanya mengaggukan kepalanya saja, ia tau kalau kakaknya berkata jujur karna ia sedang mengaktifkab kekuatan mindreadernya saat ini.
"Oh! Mungkin ada!" Ucap Leo tiba-tiba membuat Alexa bingung dan menatapnya.
"Who?" Tanya Alexa.
"You." Ucap Kevin sambil mengecup pipi Alexa.
"Brother complex huh?" Ucap Alexa sambil melanjutkan kegiatan minum jusnya.
"I think yes." Ucap Leo santai membuat Alexa menatapnya malas.
"Whatever." Ucap Alexa sambil memutar bola matanya malas yang hanya ditanggapi kekehan oleh Leo.
***
"Ayo Lex. Cepat! Hasil ujiannya sudah keluar sekarang!" Ucap Vani sambil menarik-narik tangan Alexa.
"Sabar dulu. Aku minum dulu." Ucap Alexa sambil menahan lengan yang ditarik Vani.
"Ayo cepetan!" Ucap Vani lagi.
"Iya iya!" Ucap Alexa dengan setengah jengkel.
Alexa pun keluar dari kamar asrama mereka dengan berlari, atau lebih tepatnya dengan diseret Vani yang menariknya seperti barang.
"Santai Van!" Ucap Alexa dengan sedikit berteriak.
Tetapi yang didapatkan Alexa hanya nihil. Bukannya berhenti atau memperlambat larinya, Vani malah mempercepat larinya membuat Alexa semakin kesal.
Karena Alexa yang sudah sangat kesal dan suasana koridor asrama putri sedang rame, Alexa pun dengan segera bertindak.
"VANI STOP!" Bentak Alexa sambil menghentakan tangannya agar terlepas dari Vani.
Sontak yang dilakukan oleh Alexa pun membuat Vani berhenti dan juga menjadikan mereka sebagai pusat perhatian.
"Kau tidak boleh begini Van! Nanti kalau kau tabrak murid ataupun guru lain didepan bagaimana!? Kau sendiri yang susah!" Ucap Alexa dengan nada sedikit marah.
"Ma..maaf." Ucap Vani terbata-bata.
"Huft! Aku tau kalau kau sedang ada masalah. But, Hey! Look ahead when you are walking or running like this. Kau bisa menabrak orang kalau kau tak liat-liat! Dan juga jang melamun saat kau sedang berjalan ataupun berlari seperti ini!" Ucap Alexa dengan nada dingin di kalimat terakhir.
Vani pun hanya menunduk saat mendengar ucapan Alexa. Dia pikir mau bagaimanapun dia mengelak tetapi Alexa pasti mengucapkan berbagai fakta yang membuat mulutnya bungkam saat itu juga.
"Haahhhh! Sudahlah. Gunakan kekuatan teleport mu kalau kau mau cepat sampai disana. Aku diluan." Ucap Alexa sebelum menghilang dengan teleport nya.
Vani pun segera memakai kekuatan teleport nya untuk pergi ke papan pengumuman yang berada di gedung utama lantai 1. Setelah sampai disana, Vani pun melihat Alexa yang sedang berdiri bersandar disalah satu dinding disana. Dengan Vani berjalan menghampiri Alexa yang sedang berdiri bersandar itu.
"Em.. Lex, ma..maaf soal yang tadi." Ucap Vani sambil menundukkan kepalanya.
"Huft! No problem. Sekarang, lihatlah sendiri hasil ujianmu." Ucap Alexa dengan tersenyum kecil.
Vani pun mengangguk dengan wajah sedikit bersinar dan segera pergi ke papan pengumuman untuk melihat hasil ujiannya.
Peringkat || Nilai
1. Alexa Angeline Witz 98
2. Leonard Georgio Witz 97,2
3. Felix Stevani Beliz 95
4. Antonio Rebuson 89
5. Chelsie Dorothi. 86
6. Jonathan Oxfrio 83
7. Teodhore Gibson 82,3
8. Stevanie Arelia Belizza 80
9. Quentin Lavort 78
10. Albert Serio Lavie 76
Dan seterusnya.
Vani yang melihat namanya masuk keperingkat 10 besar pun bersorak giranh dan melompat-lompat membuatnya terlihat aneh(?) Dengan segera Vani menghampiri Alexa dan memeluknya dengan erat sampai ia kesulitan bernafas.
"Le..lepas." ucap Alexa terbata-bata.
"E..eh? So..sory Lex." Ucap Vani kaget dan segera melepaskan pelukannya saat sadar apa yang terjadi.
"So?" Tanya Alexa sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Peringkat 8!!! OH MY GOD!" Ucap Vani girang.
Alexa yang mendengarnya pun hanya menganggukkan kepalanya dan mengcapkan "Selamat" untuk Vani.
"Harusnya aku yang bilang begitu untukmu Lex! Kau dapat peringkat pertama dengan nilai tertinggi disini! 98!! OMG!! Itu luar biasa Lex!!" Ucap Vani dramatis.
Alexa yang mendengar itupun hanya membentuk mukutnya 'O' dan mengangguk-anggukan kepalanya.
"Hanya begitu reaksimu Lex?!" Tanya Vani tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Yang ditanya pun hanya mengidikan bahunya acuh dan berjalan diluan.
"E..eh! Mau kemana?" Tanya Vani sambil mengejar Alexa.
"Leo." Ucap Alexa singkat.
Vani pun langsung mengerti dengan apa yang dikatakan Alexa dan memilih diam selama perjalanan.
Setelah beberapa lama berjalan, akhirnya mereka sampai di tempat Leo berada yaitu di taman depan academy bersama Felix yang duduk disebelahnya.
Melihat adiknya yang sedang berjalan kearahnya, Leo pun dengan segera melambaikan tangannya ke arah Alexa dan menyuruhnya mendekat dan duduk disampingnya yang langsung diturutinya.
"Dari mana?" Tanya Leo saat Alexa sudah duduk dan bersandar didadanya dengan tangannya yang mengelus lembut rambut adiknya.
"Mading." Jawab Alex singkat.
"Number one again baby?" Tanya Leo yang mungkin berupa peryataan.
"As you know honey." Balas Alexa dengan mencolek dagu Leo kemudian tertawa bersama Leo saat itu juga.
"Ada yang lucu Le?" Tanya Felix bingung saat melihat mereka tertawa.
Leo dan Alexa pun meredakan tawa mereka dan menjawab secara bersamaan.
"No."
"Terus kenapa kalian tertawa?" Tanya Vani.
"Sudah lama kita tak pernah seperti ini." Ucap Leo.
Felix dan Vani pun hanya ber'oh' ria mendengarnya.
Hening.
Setelah mengatakan itu, Alexa dan Leo pun diam dan menikmati suasana dengan tenang. Sedangkan dilain sisi Felix dan Vani masih dengan keadaan canggung akibat masalah semalam.
"Masih marahan eh?" Ucap Alexa tiba-tiba.
Felix dan Vani yang mendengar itu pun segera menengok ke arah Alexa dan melihatnya masih dengan posisi mengahadap kedepan sambil bersandar didada Leo tanpa melihat ataupun melirik mereka sedikitpun.
"Jangan seperti itu, berbaikanlah." Ucap Leo memberi saran.
Felix yang mendengar itupun hanya mengangkat bahunya acuh, sedangkan Vani hanya melirik kakaknya dan menunduk dalam merasa bersalah.
"Kau tau kan Van kalau jantung kita akan selalu berdebar-debar saat kita bertemu ataupun melihat orang yang kita sukai." Ucap Alexa tiba-tiba membuat Leo, Felix, dan Vani menatapnya bingung.
"Kau pasti juga tahu kalau rasa ke seseorang itu ada berbagai macam. Rasa suka hanya sekedar menyukai saat memandangnya, rasa kagum kepadanya atas apa yang di milikinya, rasa nyaman saat berada di dekatnya, rasa nyaman itu pun tergantung dengan rasa nyaman seperti bersama kakak atau adik, rasa nyaman dengan sahabatmu, dan rasa nyaman kepada orang yang dicintainya." Lanjut Alexa tanpa memandang mereka.
"Selanjutnya adalah rasa harus memiliki, mungkin itu seperti obsesi. Dan terakhir adalah rasa mencintainya sebagai lawan jenismu sendiri." Terus Alexa kemudian memandang Vani yang masih memandangnya penasaran.
"Kau tau apa yang kau rasakan saat kau berada didekatnya?" Tanya Alexa pada Vani.
"Aku mencintainya." Ucap Vani pelan dan menunduk saat semua mata memandangnya.
"Dari mana kau tau kalau kau mencintainya?" Tanya Alexa tetap dengan menatap Vani yang sedang menunduk.
"A..aku merasa nyaman saat bersamanya. Apalagi saat kita berkumpul ia yang selalu berbicara kepadaku. Dan juga sifat kami sama, apa lagi kalian berempat waktu itu bersama Farel memiliki sifat yang dingin dan irit dalam berbicara dan membuatku kesepian." Ucap Vani pelan.
"Hanya itu dan kau menganggap kalau kau mencintainya eh?" Tanya Alexa dengan mengeluarkan seringaiannya.
Vani yang ditanya seperti itupun hanya menganggukkan kepalanya.
"Tatap aku Van." Ucap Alexa dan mengubah posisi duduknya menjadi tegap dan menghadap Vani.
Vani dengan ragu menatapnya Alexa yang sudah menatapnya dengan serius.
"Jawab yang jujur. Apa bila kau sedang tersesat di sebuah labirin yang besar dan tidak ada orang disitu selain dirimu sendiri, apa yang kau lakukan?" Tanya Alexa.
"Mencari jalan keluarnya." Jawab Vani yakin.
"Jika ada seorang kakek-kakek yang kebetulan memasuki labirin tersebut dan menemukanmu yang sedang tersesat apa yang kau lakukan?" Tanya Alexa lagi.
"Meminta bantuannya." Jawab Vani.
"Kalau ia menolongmu dan membantumu keluar dan menginap dirumahnya sementara waktu untuk memulihkan keadaanmu dan juga memperlakukanmu dengan baik dan nyaman, kau akan merasakan apa padanya?" Tanya Vani lagi.
"Aku akan merasa nyaman kepadanya dan menganggapnya sebagai kakekku sendiri karena telah memperlakukanku seperti cucunya sendiri." Ucap Vani.
"Jika yang menolongmu anak kecil laki-laki, apa yang akan kau rasakan?" Tanya Alexa lagi.
"Aku akan menganggapnya seperti adikku sendiri." Ucap Vani.
"Kalau misalnya beberapa tahun kemudian kau bertemu dengan adikmu lagi dan ia sudah tumbuh menjadi lelaki remaja yang sangat tampan, apa yang kau rasakan?" Tanya Alexa.
"Yang aku rasakan pasti tetap masih rasa nyaman sebagai adik dan juga kagum dengan ketampanannya." Ucap Vani sambil membayangkannya.
"Jika yang menolongmu keluar dari labirin itu seorang remaja lelaki yang seumuran denganmu dengan gaya cupu tetapi baik. Apa yang kau rasakan?" Tanya Alexa.
"Aku akan menganggapnya sebagai kakakku." Ucap Vani yakin.
"Jika yang menolongmu adalah seorang remaja lelaki seumuranmu dan memiliki paras yang sangat tampan dan juga badan yang atletis dan kepintaran yang tinggi, apa yang kau rasakan? Mencintainya heh?" Tanya Alexa sambil menyeringai saat melihat tingkah Vani yang terlihat kebingungan mencari jawabannya.
Leo dan Felix pun mengerti dengan apa yang di tanyakan Alexa dan hanya menonton dan melihat kelakuan Vani.
"A..aku ti..tidak ta..u." Ucap Vani sambil menunduk.
"Kau hanya mencintai seseorang dari fisik dan apa yang dimilikinya Van. Kau tidak melihat apa yang hatinya miliki. Apakah kebaikan, ataupun keburukan." Ucap Alexa sambil melebarkan seringaiannya.
"TIDAK! A..aku tau a..apa pilihanku!" Bantah Vani.
"Liat ini." Ucap Alexa dan menyuruh Felix melakukan apa yang diperintahnya lewat telepati tadi.
Tiba-tiba munculah bayangan seorang pria seperti apa yang ditanyakan Alexa tadi yang tampak nyata.
"Hai manis." Ucap bayangan itu sambil tersenyum manis kepada Vani.
Yang disapapun merona karena melihat ketampanannya itu dan juga sapaan yang ditunjukan kepadanya.
"Berdirilah." Ucap bayangan itu.
Vani pun dengan segera berdiri dengan muka semerah tomat.
"Kemarilah sweatheart" ucap bayangan itu dan merentangkan tangannya.
Dengan segera Vani menghampiri bayangan itu dengan malu-malu. Saat sampai dihadapannya, bayangan itu dengan segera memeluk Vani yang juga dibalasnya.
"I love you honey." Ucap bayangan itu.
"I love you too." Balas Vani dan menenggelamkan wajahnya didada bayangan itu.
Tiba-tiba bayangan itu menghilang dan menyebabkan Vani yang memeluk udara kosong.
"See? Apa kataku." Ucap Alexa sambil melebarkan seringaiannya.
"Ta..tapi, kemana dia?" Tanya Vani sambil mencari-cari bayangan itu.
Alexa yang melihat itupun dengan segera memanggilnya kembali.
"Van..."
***
"Van.." Panggil Alexa.
"Ya Lex? Apa kau melihat dia tadi? Tadi dia sedang memelukku disini. Kau melihatnya kan tadi!? Kemana dia?" Tanya Vani beruntun.
"Van... Vani... Van.." Panggil Alexa berkali-kali tapi tak dihiraukan yang empunya nama.
"STEVANIE ARELIA BELIZZA! LOOK A ME NOW!!" Bentak Alexa dengan suara menggelegar membuat siapa saja ketakutan dan menjauhinya.
Sedangkan sang empunya nama pun dengan segera berbalik menatap Alexa.
"Y..ya Lex?" Tanya Vani terbata-bata.
"Sit down!" Ucap Alexa dengan nada dingin.
Dengan segera Vani pun duduk dan menatap Alexa dengan takut-takut. Sedangkan Leo dan Fekix pun tetap menonton mereka, meskipun mereka sempat bergidik ngeri saat dengar bentakan Alexa tadi.
"Kau tau apa perbedaannya rasa kagum, menyukai, nyaman, dan mencintai seseorang?" Tanya Alexa denga menekan kata 'mencintai' dikalimatnya.
Tidak ada jawaban sama sekali dari yang ditanya. Vani pun hanya menundukkan kepalanya dalam dan memilin jarinya sendiri.
"Tentu saja kau tidak tau. Kenapa? Karna kau menganggap semua rasa kagum, nyaman, dan menyukaimu itu adalah rasa CINTA mu kepada seseorang. Am I right Van!?" Ucap Alexa.
"Ti..tidak!! Kau salah! Aku.. aku tentu tau apa itu rasa me-"
"TENTU SAJA KAU TIDAK TAU KARNA KAU MENGANGGAP SEMUA RASA ITU SAMA YAITU MENCINTAI. APA LAGI KAU TIDAK MAU MENDENGARKAN ORANG DISEKITARMU! SADARLAH VAN! DENGAN SIKAPMU YANG SEPERTI INI KAU AKAN SEMAKIN TERSAKITI!" Bentak Alexa marah.
Mereka bertiga yang masih ada disana pun kaget. Terutama Vani yang hanya bisa menundukkan kepalanya sambil menahan air matanya.
"Mau menangis dan menganggap semua yang kau anggap dan lakukan benar heh? Maka lakukanlah. Kita lihat siapa yang akan merasa menyesal di akhir nanti. AKU atau KAU." Ucap Alexa kemdian berdiri dan meninggalkan mereka.
Sepeninggalannya Alexa, Vani dengan segera menumpahkan air matanya dan menangis sesugukan sitempatnya.
"Kau tau Van? Sebaiknya kau dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah, agar kau tidak akan terjerat dengan hal seperti ini lagi. Aku pergi." Ucap Leo sambil berdiri dan meninggalkan keduanya.
Felix pun hanya menatap adiknya datar dan berdiri dari duduknya.
"Kau juga ingin pergi dan menyalahkanku demi gadis yang kau sukai itu kak!? Iya!? Hahaha... bahkan aku yang adikmu sendiri tak kau anggap sekarang." Ucap Vani tiba-tiba saat Felix membalikkan badannya membelakanginya.
"Aku tetap menganggapmu sebagai adikku. Hanya saja aku akan memberikanmu sedikit waktu agar kau dapat mengetahui mana yang benar dan mana yang salah." Ucap Felix tanpa menatapnya dan pergi meninggalkan Vani.
"Bahkan disaat seperti ini pun mereka meninggalkanku." Ucap Vani sambil tersenyum miris dan menangis sekeras dan sepuasnya disana.
***
"Apa yang kau rencanakan Will?" Tanya Raja Ronald pada anaknya.
"Merebut dan merengkut salah satu dari mereka untuk menjadikannya sebagai kelemahan mereka." Ucap William sambil menatao foto Alexa, Leo, Felix, Vani, Farel, dan Kevin ditangannya kemudian terbakar dengan kekuatan apinya.
"Bagus. Jalankanlah rencanamu itu nak. Ayah mendukungmu disini." Ucap Raja Ronald banggap pada anaknya.
"Tentu saja, Dady." Ucap William sambil menyeringai lebar memandang api yang membakar foto itu menjadi abu.
Aku akan menghancurkan kalian. Liat saja nanti, sayang. Batin Wlliam.
***
"Apa kau tak terlalu berlebihan padanya Lex?" Tanya Leo pada adiknya.
"Kurasa tidak. Kalau ia terus dibiarkan begitu, ia tidak akan bisa sadar." Jawab Alexa datar.
"Ya sudah. Terserah kamu saja. Terus sekarang kamu mau kemana?" Tanya Leo tetao mengkuti langkah Alexa yang semakin masuk kedalam hutan.
"Illa?" Tanya Leo memastikan tujuan mereka.
"Hm." Balas Alexa dengan anggukan kecilnya.
Setelah itu mereka tetap melanjutkan perjalanan mereka sampai akhirnya tiba di sebuah air terjun yang sangat indah. Tempat biasanya yang mereka kunjungi.
Setelah itu mereka pergi ke belakang air terjun yang terdapat goa disana.
"Haloo." Ucapan Alexa menggema disetiap sudut ruangan.
Tiba-tiba tanah yang mereka pijak bergetar dan batu yang mulanya berada di berbagai tempat di goa itu menggelinding ke tengah dan berubah menjadi para troll.
"ALEXA, LEO!" Ucap mereka serempak dengan girang.
"Hai." Sapa Leo sambil melambaikan tangannya ke arah para troll.
"Kak Leo!" Pekik Illa senang dan melompat ke arah Leo, membuat Leo terhuyung kebelakang karena tidak siap.
"Hahaha.. kau semangat sekali ya, Illa." Ucap Leo sambil terkekeh.
"Iya dong! Kan ada kakak disini." Ucap Illa senang.
Alexa pun hanya tersenyum melihat keakraban mereka dan mengalihkan tatapannya kepadapara Troll lain.
"Hai semua." Sapa Alexa.
"Juga Lex." Sapa mereka serempak.
"Jadi? Apa yang membuat kalian datang kesini? Apakah waktu kalian sedang kosong lagi?" Tanya Tere pada mereka.
"Yes ma'am. Kami sedang kosong sekarang." Ucap Alexa sambil duduk bersila dihadapan mereka. Begitu juga dengan Leo dan para Troll lainnya.
"Atau lebih tepatnya Alexa yang sedang kesal." Koreksi Leo membuat Alexa menatapnya tajam.
"Ada masalah apa nak?" Tanya Roll pada Alexa.
"Biasa Roll. Pertemanan." Bukannya Alexa yang menjawab, justru Leo yang menjawab pertanyaan Roll membuatnya mendengus sebal.
"Aku butuh pelampiasan." Ucap Alexa lesu.
Mendengar hal itu, sontak para Troll menoleh ke arah Alexa dengan serempak dan raut wajah terkejut.
"Jangan hancurkan tempat ini Lex!" Ucap Tere dengan tegas.
Mendengar hal itu, Leo pun langsung tertawa terbahak-bahak. Sedangkan Alexa hanya mendengus sebal dan menatap tajam kakaknya itu.
"Apa?" Tanya Leo saat tawanya mereda.
"Kenapa kau tertawa?" Tanya Tony bingung.
"Maksudnya pelampiasan Alexa itu ada 2. Yang pertama menghancurkan lingkungan sekitarnya saat itu juga. Dan yang--" ucapan Leo terpotong dengan pekikan histeris dan kecewa dari semua para Troll.
Melihat hal itu, Leo pun kembali tertawa membuatnya menjadi pusat perhatian lagi.
"Apa yang kau tertawakan!?" Tanya Roll tegas.
"Aku belum menyelesaikan perkataanku. Jadi tolong tenanglah." Ucap Leo saat tawanya berhenti dan melihat ke arah para Troll.
Sedangkan Alexa? Ia sudah pergi sedari tadi tak tau kemana.
"Kalau ia menggunakan pilihan pertama. Maka ia akan menghancurkan sekitarnya tanpa meminta izin terlebih dahulu. Dan pilihan kedua tadi adalah ia melampiaskannya dengan cara memasak makanan yang banyak agar ia bisa melupakan masalahnya sejenak. Tidak peduli kalau makanan itu akan habis, basi, ataupun tersisa." Lanjut Leo membuat yang lainnya menghembuskan nafas lega.
"Berarti sekarang Alexa sesang berada di.." baru saja Tere menyelesaikan ucapannya, mereka semua sudah mencium bau harum dari sebuah masakan.
Secara otomatis, mereka pergi ke arah sumber aroma itu dan melihat Alexa sedang memasak makanan dengan prsi yang sangat-sangat banyak.
"Wow Lex, santailah." Ucap Leo sambil mendekati Alexa.
Ucapan Leo pun tak di balas sedikitpun dengan Alexa yang sedang sibuk memasukan bahan dan bumbu-bumbu masakan ke masakan yang dimasaknya.
"Sebaiknya kita menunggunya diluar." Ucap Leo memberi saran.
"Tapi Lexa.." ucap Vio gantung.
"Tenang saja. Justru kalau kau membantunya, ia akan marah-marah karena kau menghalanginya." Ucap Leo dan pergi dari sana, begitu juga dengan para Troll yang lain.
"Tak apa, Vi. Sebaiknya kita mengikuti mereka." Ucap Tere menenangkan.
"Huft! Baiklah." Ucap Vio pasrah dan mengikuti para Troll lainnya meninggalkan Alexa yang sedang memasak sendiri disana.
***
"Makanan sudah siap." Ucap Alexa sambil berjalan menuju tempat yang lainnya berada.
Sedangkan dibelakangnya terdapat berbagai menu makanan porsi jumbo yang sangat bawa yang dibawanya menggunakan kekuatan telekinesisnya.
"Wow!" Seru para troll senang dengan mata yang berbinar-binar melihat banyaknya makanan yang dibawa Alexa.
"Silahkan dimakan!" Ucap Alexa lagi seraya meletakan semua masakannya diatas meja makan.
Para troll pun langsung mengambil bagian-bagian mereka dengan mata berbinar. Sedangkan Leo hanya sesekali meringis melihat banyaknya porsi masakan yang dibuat Alexa.
"Em.. dek, yakin gak kebanyakan?" Tanya Leo.
"I think, no." Balas Alexa santai sambil duduk dibangkunya dan ikut mengambil bagiannya.
"Um... ini enak sekali kak Lex!" Puji Illa semangat dan memakan makanannya sampai belepotan.
"Illa, pelan-pelan. Nanti kau tersedak! Begitu juga yang lainnya!" Peringat Alexa yang harus dituruti yang lainnya.
Leo yang melihat merekapun hanya menggelengkan kepalanya saja sambil mengambil tempat disamping Alexa dan ikut mengambil bagiannya.
Setelah beberapa lama, akhirnya masakan yang dimasak Alexa habis dimakan mereka sampai piring-piringnya pun bersih.
"See!?" Ucap Alexa sambil tersenyum penuh kemenangan pada Leo yang hanya bisa melongo dibuatnya.
Sedangkan para troll yang lain pun hanya bersendawa sambil memegang perut mereka yang buncit tanda jika mereka kekenyangan.
"Ku rasa kita harus segera kembali. Liatlah, matahari sudah akan terbenam." Ucap Leo sambil menunjuk arah matahari.
"Ya sudah kalau begitu, kami pamit dulu ya. Bye!" Pamit mereka serempak dan meninggalkan para troll yang hanya bisa bersendawa dan mengacungkan jempol mereka karena sangat kekenyangan.
"Kau yakin akan balik sekarang?" Tanya Leo pada adiknya dengan hati-hati.
"Hm. Why not?" Tanya Alexa santai.
"Nothing." Balas Leo sambil memandang kembali kedepan.
Saat sudah sampai disana, mereka berdua bingung karna banyaknya anak-anak murid ataupun guru-guru di Dimension Academy membentuk kelompok-kelompok untuk bergosip.
Anak baru tadi itu ganteng banget ya!
Iya! Tapi menurut aku sih masih gantengan Kak Leo dan Felix.
Eh.eh! Itu kan kak Leo sama Alexa!
Kira-kira apa tanggapan mereka ya tentang anak baru itu?
Dan masih banyak lagi
"New student eh?" Tanya Alexa pelan yang hanya didengar olehnya dan Leo.
"I think he is a boy. Dari perkataan salah satu anak yang tadi, 'Tapi menurut aku sih masih gantengan Kak Leo dan Felix.'" Balas Leo sambil mengikuti perkataan salah satu murid yang didengar mereka.
"I think so. But i don't care." Balas Alexa santai.
"We'll see. Apakah ia juga salah satu dari mereka, atau..?" Tanya Leo sambil mengeluarkan seringaian kecilnya.
"Ku rasa.. Vani akan falling in love with him. You know that." Ucap Alexa sambil mengeluarkan seringaian kecilnya.
"Tapi apa yang kau katakan benar juga. Dia masuk disaat kita baru saja mendapatkan serangan dari 'mereka' you know what i mean brother." Ucap Alexa.
"Hm.. sepertinya ini akan menarik." Balas Leo sambil tersenyum misterius.
"Selalu aktifkan kekuatan mindreader kita. Jika ia membantengi pikirannya, terobos saja." Ucap Leo pelan.
"I know it brother." Balas Alexa sambil memutar bola matanya malas.
"Aku diluan. Take cere Le. Bye." Ucap Alexa sambil berjalan ke arah kiri menuju asrama perempuan berada.
"You too. Bye." Balas Leo sambil melambaikan tangannya dan berjalan ke arah kanan, tempat asrama lelaki berada.
***
Ceklek..
"I'm back." Ucap Alexa seraya memasuki asramanya dan melepaskan sepatunya.
"Still angry eh?" Gumam Alexa saat melihat keadaan asramanya sepi.
"Whatever." Gumamnya lagi sambil mengangkat bahunya acuh dan menyimpan sepatunya dirak sepatu.
"So.. what can i do now?" Tanyanya lagi pada dirinya sendiri.
Merasa bingung harus melakukan apa sekarang, Alexa pun memilih untuk memasuki kamarnya dan membersihkan dirinya kemudian mengistirahatkan tubuhnya sekarang.
"Sebaiknya aku tidur saja sekarang." Gumam Alexa setelah ia selesai membersihkan badannya dan menghempaskan tubuhnya diatas kasur membiarkan kantuk satang menyerangnya.
***
Kriinnngggg...
"Sudah pagi ya?" Gumam Alexa sambil mematikan alarm paginya yang menunjukan pukul 5 pagi.
Sambil mencoba mengumpulkan kesadarannya, ia pun segera beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi untuk melaksanakan ritual paginya.
Beberapa saat kemudian, iapun selesi dengan ritual paginya dengan seragam yang melekat pas dibadannya.
"New day, new class, new drama, and new enemy." Gumam Alexa seraya berjalan keluar menuju dapur untuk memasakan sarapannya dan Vani.
Setelah selesai memasak, ia memilih untuk memakan makanannya diluan dan memberikan waktu untuk Vani sendiri.
Selesainya sarapan dan yang lainnya, iapun segera keluar asramanya dan berjalan menuju gedung utama untuk memulai harinya.
'Let's play a new game now.' Batinnya saat ia sudah memasuki teritori gedung utama.
***
"Pergi sekarang?" Tanya Felix pada Leo.
"Hm." Dehem Leo sebagai jawaban.
"Kamu tidak ada niatan buat deketin Alexa gitu?" Tanya Leo saat mereka sudah berada di koridor asrama laki-laki.
"Ada sih. Cuma rasanya bukan sekarang. Kau tahu sendiri kan kondisi kita sekarang kayak gimana." Jawab Felix sambil memasukan tangannya kedalam sakunya.
Leo pun hanya merespon jawaban Felix dengan ber'oh' ria.
Setelah beberapa saat berjalan dalam keadaan hening, akhirnya merekapun sampai di gedung utama yang masih meliatan sepi.
"Kau mau kemana?" Tanya Leo pada Felix.
"Perpustakaan." Jawab Felix sambil berjalan kearah perpus meninggalkan Leo sendiri disana.
"Lebih baik aku ke rooftop saja lah." Gumamnya sambil berjalan kearah rooftop.
Sesampainya disana, ia melihat sosok Alexa yang sedang menikmati angin lagi dengan sayap dewinya yang terbuka lebar dipunggungnya.
"Kau tahu kalau kau bisa ketahuan kan jika seperti ini? Bagaimana kalau orang lain yang melihatmu seperti ini? Sedangkan yang mereka tahu keturunan dewa ataupun dewi sudah lama punah didimensi ini." Tegur Leo seraya berjalan pelan kearah Alexa.
"I know that. Aku juga selalu berhati-hati soal itu. And then... I know that you will come here. not other people. Makanya aku biarin saja kayak begini." Ucap Alexa santai sambil mengepakan sayapnya sedikit.
"Tidak mau mencona melepaskannya sebentar eh? Apa kau tak merasakan sesak dipunggungmu?" Tanya Alexa sambil terbang meliuk-liuk diudara.
"Justru itu tujuanku datang kemari." Jawab Leo seraya melepas bajunya agar tak sobek saat sayap malaikatnya keluar dan ikut terbang dengan rendah bersama Alexa.
"Kurasa aku harus mengganti sayapku." Gumam Alexa seraya turun dan memasukan sayap dewinya dan menggantikannya dengan sayap peri milik Frenssca dan kembali terbang bersama Leo diudara.
Setelah puas dengan kegiatan mereka, mereka pun segera turun dan memakai pakaian seragam mereka tadi yang sebelumnya Alexa memakai dalaman baju tanpa lengan dengan model punggung terbuka hingga memudahkan sayapnya keluar.
"Kurasa aku harus mempunyai baju dalam yang sama sepertimu agar mempermudahkanku saat mengeluarkan sayapku nanti." Celutuk Leo sambil merapikan jas seragamnya.
"You will look like a girl if you wear it." Desis Alexa tajam seraya bergidik geli membayangkannya.
"Kurasa sebaiknya kita kembali sebelum bel masuk berbunyi." Saran Felix yang tiba-tiba masuk dari pintu masuk rooftop.
"You're like a ghost when you suddenly appear like that, buddy." Ucap Alexa yang agak kaget dengan kemunculan Felix yang mendadak.
"I think so.." balas Felix santai sambil berjalan menuruni tangga dengan Leo dan Alexa dibelakangnya.
"What?" Tanya Leo kaget karna balasan Felix.
"I say. Kurasa aku memang seperti hantu. Hantu yang muncul mendadak dihati Alexa." Balas Felix sambil terkekeh dengan gombalan recehnya.
"Basi." Komentar Alexa datar, mesipun terdapat rona merah yang tipis diwajahnya.
"Basi seperti itu juga buat kamu blushing dek." Ucap Leo sambil terkekeh melihat muka cemberut adiknya itu.
***
Tap.. tap.. tap.. tap..
'Hei! Dia datang!'
'Astaga.. ternyata benar ya gosip itu. Ia sangaattt tampan!'
'Sst! Diamlah! Nanti ia akan dengar!'
'Ohh.. pangeranku telah tiba.'
'Ngimpi kamu!'
'Tapi menurutku masih gantengan kak Leo ma kak Felix deh.'
'Aku juga!'
Terdengar suara bisikan pujian ataupun perbandingan yang di dengarnya selama perjalanannya menuju ruang kelasnya.
'Dasat biang gosip!' Batin lelaki itu dalam hati tanpa menghentikan langkahnya sedikitpun.
'Siapa dia?'
'Kyaa! Akhirnya kita sekelas dengan anak baru itu!'
'Anak baru?'
'Pasti ia sangat hebat dan kuat, sampai-sampai saat baru masuk sudah berada ditingkat ini.'
'Ini tak adil!'
'Masih gantengan Leo ku kalless!'
'Sst! Diam kamu! Nanti ia dengar!'
Begitulah berbagai bisikan yang kembali diterimanya saat ia memasuki kelasnya.
'Hei-hei! Triple ice datang!'
'Wah wah! Sepertinya kelas kita tempat perkumpulan orang ganteng deh.'
'Diam kamu!'
Mendengar sebutan 'triple ice' itu, membuat lelaki itu merasa penasaran dan segera melihat kearah pintu dengan tampang datarnya
'Jadi mereka orangnya ya.' Batinnya sambil menyeringai kecil kearah mereka bertiga.
***
'Jadi mereka orangnya ya.'
'Siapa itu!?' Batin Alexa dan Leo serempak saat membaca salah satu pikiran dikelas itu.
Dengan tampan dingin dan datar khas mereka berdua, merekapun tetap berjalan kearah tempat duduk mereka dengan mencoba menditeksi keberadaan orang itu secara perlahan tanpa ketahuan.
'Menarik' Batin seseorang lagi membuat mereka memekakan seluru indra mereka.
Sampai akhirnya mereka sampai dibangku mereka yang berada dipojokan dekat jendela dan segera duduk disanapun merasakan suatu aura yang agak aneh dan mencekam dengan dipenuhi warna hitam tipis sedang memandang mereka berdua dari ujung kelas.
Mau tak mau merekapun mencoba melirik kearah aura itu dan melihat 'sosok lelaki' yang memakai seragam yang sama dengan mereka menatap mereka berdua dengana seringaian kecil diwajahnya.
'Jadi dia ya.' Batin Alexa seraya tersenyum kecil seperti orang yang sedang merencanakan sesuatu.
'New enemy, right!?' Batin Leo sambil memutar bola matanya malas dan menyumpal telinganya dengan headsetnya.
Sedangkan Alexa, ia hanya sibuk dengan novel yang dipegangnya tanpa memberi tanggapan sedikitpun dengan hal itu.
'Gadis itu ya? Hm.. menarik.' Batin lelaki itu lagi sambil melihat Alexa dengan seringaiannya.
Tak lama setelah itu, bel masuk pun berbunyi. Semua murid yang mendengar suara bel pun segera memasuki kelas mereka dan duduk ditempat mereka masing-masing menunggu guru mereka datang.
"Selamat pagi anak-anak. Dan selamat datang di kelas baru kalian. Pasti kalian sudah mengenal saya bukan? Kalau belum, saya akan memperkenalkan kembali diri saya. Saya Mrs. Selena, wali kelas kalian yang baru. Selamat datang ditahun ajaran baru, anak-anak." Ucap Mrs. Selena dengan ramah.
"Terima kasih, Mrs. Selena." Ucap para murid serempak. Selain triple ice dan juga murid baru tersebut.
"Hm.. sepertinya saya melihat wajah baru disini. Benarkah itu? Atau hanya Mrs saja yang merasa begitu?" Tanya Mrs. Selena pada yang lainnya.
"No Mrs!" Ucap para murid serempak.
"Kalau begitu yang merasa dirinya dibicarakan, silahkan maju." Ucap Mrs. Selena mempersilahkan.
Dengan langkah angkuh, lelaki itu pun melangkah maju dengan dagu yang diangkat dengan angkuh. Tetapi disetiap langkahnya, masih saja ia diberikan kata pujian ataupun perbandingan dengan dirinya dan Leo dan Felix.
"William Ethorios Oliver. Dari dimensi tengah." Ucap lelaki itu yang ternyata adalah William masih dengan gaya angkuhnya, juga dengan senyum manisnya yang sontak membuat para siswi memekik histeris, dan para siswa mendengus kesal.
"Baik William. Kau boleh kembali ketempat dudukmu." Ucap Mrs. Selena mempersilahkan.
Setelah duduknya William ditempatnya, Mrs. Selena pun memulai pelajarannya untuk hari ini.
***
Tett.. teettt...
"Baik anak-anak. Cukup sampai disini saja pelajaran kita. Sampai jumpa lain waktu." Ucap Mrs. Selena menutup pelajaran.
"Sampai jumpa Mrs!" Ucap para murid serempak.
Setelah keluarnya Mrs. Selena dari dalam kelas, para siswi pun langsung menghampiri bangku William dengan gerakan kilat mereka.
'Hai William, boleh kenalan?'
'Hei William. Namaku Wendy. Salam kenal ya.'
'William! Kenapa bisa ganteng sih?'
'William. Mau gak jadi pacar aku?'
'William...'
"Wow.. wow... santailah teman-teman." Ucap William sambil tersenyum ramah dan mengangkat kedua tangannya menyuruh yang lainnya untuk tenang.
'Ck! Aku benci melakukan ini!' Batin William kesal.
"Em.. sepertinya perkenalannya kita lanjutkan nanti dulu ya, gadis-gadis. Aku mau ke kantin dulu. Lapar." Ucap William sambil berusaha keluar dari tumpukan siswi-siswmi yang ada disekitar mejanya.
Saat berhasil keluar, iapun menghela nafasnya dengan lega, dan meninggalkan kelas itu sebelum para siswi memborongnya lagi.
"Gila sekali ya mereka!" Gumam William sambil menggelengkan kepalanya dan tetap berjalan menuju kantin.
Saat ia sudah akan sampai didepan pintu kantin, tak sengaja ia melihat Alexa yang sedang berjalan bersama Leo dan Felix disampingnya keluar kantin yang berlawanan dengannya.
"Ohh... keberuntungan ada di pihakku eh." Gumamnya seraya berjalan kearah Alexa dengan tergesa-gesa dan kepala tertunduk untuk menjalankan aksinya.
Brukk!
Terdengar suara tabrakan antara 2 orang yang tak lain adalah William dan Alexa.
Saat William akan terjatuh, ia dengan sengaja menarik lengan Alexa agar ikut terjatuh dengannya.
Dan...
Duk!
Benar saja. Saat ini posisi William dan Alexa bisa dibilang sangaattt intim. Membuat yang lain salah paham mellihatnya. Dengan posisi William di bawah Alexa yang menimpahnya dengan tangan William yang menggemgam tangan kanan Alexa dengan tangan yang satunya dililitkannya pada pinggang Alexa.
Para murid yang melihat posisi mereka pun sontak bersorak dan menggoda keduanya dengan berbagai godaan. Sedangkan Leo dan Felix berusaha menahan amarahnya karena diminta oleh Alexa lewat telepati.
William pun kembali melancarkan aksinya dengan bertingkah seperti orang yang tak tahu apa-apa dan menatap mata Alexa seolah ia terpesona dengannya. Sedangkan Alexa sudah memberikannya tatapan yang sangat dingin dan tajam bertanda ia sangat marah.
"Lepas." Ucap Alexa dengan tajam.
Melihat William yang masih tetap dalam posisinya membuat Alexa murka.
"I said, remove your f*cking hands in my body, f*cking assholle!" Ucap Alexa dengan nada yang sangat dingin membuat murid lain yang sedang menggodanya pun berhenti dan mulai pergi meninggalkan tempat itu.
William yang sudah merasakan aura disekitarnya tak bagus pun hanya menyeringai tipis dan segera melepaskan tangannya dari tubuh Alexa dan bangun dari posisi jatuh mereka.
"I.. i'm so sorry, girl." Ucap William dengan tampang bersalahnya pada Alexa.
Mendengar hal itupun Alexa hanya meliriknya sekilas dan menepuk-nepuk bajunya, seolah-olah ditubuhnya terdapat banyak debu disana.
Dia pikir aku kotoran apa!? Dasar bit--
"Ekhem!" Dehem Alexa seolah ssngaja memotong kata batin William.
"Sebaiknya kita pergi dari sini." Ucap Alexa pada Leo dan Felix yang diangguki keduanya.
Setelah mengatakan itu, Alexa, Leo, dan Felix pun segera pergi meninggalkan William yang masih terbengong-bengong disana.
'Dasar manusia es!!' Teriak batin William yang kesal melihat ketiganya.
***
'Sial! Sial! Sial! Bagaimana bisa ada manusia sedingin mereka disini!?' Batin William kesal sambil berjalan tanpa melihat-lihat. Dan...
Bruk..
's**t!' Umpat William kesal saat ia kembali menabrak orang. Kali ini diluar dari rencananya.
"Kamu gakpapa?" Tanya William dengan muka bersalahnya. I mean.. muka 'sok' bersalahnya. Padahal dalam hatinya ia sedang mengumpat siapapun orang yang menabraknya dengan berbagai kata makian.
"A..aku g..gak papa kok!" Ucap gadis tersebut dengan muka merona dan kepala yang dutundukan
"Vani!!" Tiba-tiba terdengar suara 3 orang yang memanggilnya sambil berlari kearaha mereka.
Mendengar hal itupun gadis itu segera bersembunyi dibelakang William dengan tangannya memegang pinggang William dan berucap dengan lirih. "Help me please."
"Vani! What are you doing!!?" Tanya Alexa tak percaya saat sampai didepan mereka.
'Jadi mereka yang manggil gadis ini tadi ya?' Batin William mengerti.
"Vani! Apa yang kau lakukan disana!? Astaga... jangan lagi! Please!" Ucap Felix frustasi melihat tingkah adiknya.
"Vani! Apa kau tidak malu dengan sikapmu yang seperti itu!?" Tanya Leo dengan tatapan tajamnya.
"U..untuk apa aku malu! Di..dia kan ti..tidak salah apa-apa!" Ucap Vani terbata-bata sambil mempererat pegangannya.
'Konflik antar saudara dan sahabat eh? Menarik. Batin William yang hanya diam sambil menonton.
"Vani hey! Can you let go of your hand from his waist? Dia orang asing Van!" Ucap Felix berusaha tenang.
"No! Di..dia bu..bukan orang asing!! Di..dia sahabat baruku! Kan!?" Ucap Vani sambil menatap William dengan penuh harap.
"s**t! Sebaiknya kau ikut kami daripada kau dihasut oleh mahkluk brengsek ini, Van!" Ucap Alexa dengan sinis.
"KAU YANG MAHKLUK BRENGSEK, LEX!!" Bentak Vani emosi sambil melepaskan pegangannya dan berjalan kesamping William.
Saat ini mereka sedang berada di koridor lantai 2. Dan sialnya lagi, dari awalnya perdebatan mereka sudah menjadi pusat perhatian dari awal. Bahkan hampir seluruh murid dan juga guru academy berkumpul disana tetapi tidak ada yang berani melerai ataupun menenangkan perdebata mereka.
'Good girl.' Batin William bangga dengan tindakan Vani yang menurutnya sangat berani.
"Kau yang brengsek, Lex! Kau tahu? Gara-gara kau! Kakakku yang semula sayang dan perhatian padaku berubah semenjak kedatanganmu!! Gara-gara kau, Kevin dan Farel pergi meninggalkan kita!! Dan gara-gara kau, KAKAKKU YANG AWALNYA SELALU MELINDUNGIKU DAN MENDUKUNGKU SETIAP SAAT PERGI MENINGGALKAN DIRIKU SENDIRI DISINI!!" Bentak Vani seperti orang kesetanan dan menangis histeris.
Alexa, Leo, dan Felix pun hanya diam mematung saat mendengar ucapan Vani.
"V..Van." Panggil Aleca dengan lirih.
"AKU BENCI KALIAN!!" Teriak Vani lagi dan berlari dari sana.
"H..hey Van! Wait!" Panggil William seraya mengikuti Vani yang sudah berlari entah kemana.
'Apa benar gara-gara aku semua ini terjadi?' Batin Alexa sambil melihat punggung Vani yang sudah ditelan oleh jarak.
***
"Sudahlah Van, tenanglah. Ada aku disini." Ucap William berusaha menenangi Vani yang masih saja menangis semenjak kejadian 30 menit yang lalu.
'Ck! Ini benar-benar menyebalkan!' Batin William kesal.
"Kalau begitu aku pergi dulu. Mungkin kamu butuh waktu untuk sendiri." Ucap William seraya berdiri dari duduknya.
"Tunggu." Panggil Vani dengan lirih sambil menahan tangan William yang akan pergi.
"Tetaplah disini." Pinta Vani memohon.
"Kalau kau mau aku tetap disini, maka berhentilah menangis." Ucap William sambil menatap Vani yang menundukan kepalanya.
"Baiklah. A..aku ber..henti." Ucap Vani gugup.
"Good." Ucap William sambil menepuk-nepuk kepala Vani dan duduk kembali disamping Vani.
"Jadi, apa yang membuatmu seperti ini? Masih kepikiran dengan kejadian yang tadi eh?" Tanya William sambil mengusap kepala Vani yang sontak membuat kedua pipinya bersemu merah.
"Hm... mungkin." Jawab Vani lirih.
"Lupakan saja kejadian ini. Ada aku disini, jadi kau tak akan merasa sendiri." Ucap William sambil tersenyum kepada Vani.
"T..thanks" ucap Vani sambil menundukan kepalanya lebih dalam lagi untuk menyembunyikan rona merah padam pada wajahnya.
***
Keesokan harinya Alexa, Leo, dan Felix pun mencoba untuk kembali berbicara dengan Vani. Tapi hasilnya selalu tak sesuai harapan mereka sama sekali.
"Van! Wait!" Panggil Alexa pada Vani yang kebetulan dilihatnya di depan koridor kelas 2.
Bukannya berhenti, Vani malah mempercepat langkahnya untuk menghindari Alexa.
"Van!" Panggil Alexa lagi sambil berlari dengan cepat sehingga ia sudah berada didepan Vani sekarang.
"Van! Listen to me, please! Give me just five minutes to talk you, please!" Pinta Alexa sambil mencoba menatap mata Vani yang sedang mengalihkan tatapannya.
"Minggir!" Ucap Vani datar.
"Van.."
"Aku bilang minggir!!" Ucap Vani lagi. Kali ini dengan suara yang agak dibesarkan dan juga senggolan dari bahu Vani yang disengajainya saat melewati Alexa.
"Van.." panggil Alexa dengan lirih sambil tetap menatap punggung Vani yang menjauh.
Kejadian itupun selalu terjadi setiap harinya. Dan yah, Vani selalu menghindari mereka dengan berbagai cara. Kadang ia melewati mereka dan menganggap mereka seolah-olah tak ada disana. Atau mngabaikan panggilan mereka. Dan juga berpura-pura dipanggil guru, atau pergi mendadak dengan William yang kebetulan ada didekatnya. Kejadian ini terus saja berlangsung hingga setengah bulan.
Selama inipun Vani selalu bersama William, sehingga mereka terlihat semakin lengket. Banyak dari para siswi Dimension Academy yang iri pada kedekatan Vani dan William. Banyak juga dari mereka yang mendukungnya. Ataupun ada juga yang selalu menghujat Vani karena lebih memilih orang yang baru saja dikenalnya, dibanding Alexa, Leo, dan Felix yang notebenya sahabat juga kakak kandungnya sendiri.
***
"Aku harus bagaimana sekarang?" Tanya Alexa frustasi.
"Kau harus sabar dek, pasti akan ada jalan keluarnya." Ucap Leo menenangkan.
"But he is a danger!" Teriak Alexa frustasi.
Untung saja teriakan Alexa tadi tidak didengar siapapun. Karna sekarang ini mereka semua berada di asrama Leo dan Felix. Tentu saja Alexa sudah meminta izin sebelumnya dengan penjaga asrama.
"Hey! Tenanglah Lex. Dia tidak berbahaya. Aku lihat dia orang yang cukup baik. Jadi kau tenang saja. Untuk sekarang kita akan berikan Vani waktu untuk berpikir dulu." Ucap Felix menenangkan.
"You don't know it! Adikmu sekarang dalam bahaya Fel! Dia ada ditangan orang yang salah!! Aku tak mau terjadi apa-apa pada Vani!" Ucap Alexa pada Felix.
"Kau tidak bisa menganggapnya jahat hanya karna dia menemani Vani disaat-saat begini Lex! Don't be egois girl now, Lex!!" Ucap Felix dengan nada dinginnya.
"Kau bilang aku tak tau apapun tentang dia!? JUSTRU KAMU YANG TIDAK TAU APAPUN TENTANG DIA, FEL!" Bentak Alexa marah.
"EMANGNYA KAU TAU APA HEH!?" Bentak Felix tak terima.
"Stop! Kalian tenanglah. Kita selesaikan ini dengan kepala dingin. Jangan seperti ini!" Ucap Leo menengahi mereka.
Mereka berdua pun hanya mendengus kesal dan duduk di sofa kembali.
"Tenanglah, Lex. Kalau kau seperti ini rencananya akan berhasil! Dia ingin kita terpisah-pisah hanya karena hal kecil seperti ini, Lex!" Ucap Leo dengan pelan.
"Apa maksud kalian dengan dia!?" Tanya Felix mengintrogasi.
"Sudah kubilang kalau William itu berbahaya! Dan yang kami bahas barusan adalah soal tentang William." Ucap Alexa yang mulai tenang.
"Kau bilang kalau dia berhaya? Oh my.. Lex! Jangan hanya karna ia ada disaat masa terpuruknya Vani seperti saat ini kau jadi iri padanya dan memprofokasikan aku supaya aku tidak ikutan main sama dia!" Ucap Felix sambil tertawa sinis.
"Tapi apa yang kita bicarakan itu benar, Fel! Trust me!" Ucap Leo.
"Untuk apa gue percaya sama kalian? Toh kalian juga tidak punya buktinya kan!?" Ucap Felix dengan nada sinisnya.
"Jangan lagi ya Tuhan!" Gumam Alexa frustasi dan mengacak-acak rambutnya dengan kasar.
"Tidak usah belagak frustasi kalo nyatanya lo cuma kesel karena telah gagal untuk menghasutku karena adekku tidak termakan oleh hasutanmu itu." Ucap Felix dengan nada tajamnya.
"Enough, Fel! Aku rasa kau sudah keterlaluan!" Ucap Leo dengan tajamnya dan menatap Felix dengan garang.
"Kenapa!? Mau membela adikmu lagi!? MIKIR DONG BRO!! AKU JUGA SEDANG MEMBELA ADIKKU DISINI!!" Bentak Felix emosi.
"Stop!!" Bentak Alexa untuk menengahi keduanya.
"Aku dan Leo memang gak punya bukti untuk membuatmu percaya. Tapi setidaknya percayalah sama kita!" Ucap Alexa dengan sendu.
"Tidak ada bukti kan!? Hahaha. Kalo kamu mau tuduh orang yang tidak-tidak lebih baik cari bukti terlebih dahulu!" Ucap Felix dengan nada mengeje0knya.
"But Fel..."
"Ikut aku sekarang!" Ucap Felix yang tiba-tiba memotong ucapan Leo dan menarik lengan keduanya dengan kasar.
"Aw! Remove your hands, please! This is so hurt!" Ucap Alexa sambil menringis ditengah terseretnya ia dan kakaknya karena ulah Felix.
"Ck! Berhenti Felix!" Ucap Leo yang sudah muak dengan tingkah Felix.
"I say stop, Fel!!" Ucap Leo dengan marah sambil menghempaskan lengannya Felix dan melepaskan lengan Alexa yang sudah memerah kebiruan dari genggaman Felix akibat ulah Felix sendiri.
"Are you okay?" Tanya Leo pada adiknya yang hanya dianggukinya sebagai jawaban.
"Ck! Tidak usah mendrama disini!" Decak Felix sinis pada keduanya.
"Kau kenapa jadi sinis begini sih sama kita? Kita kan hanya berusaha melindungimu dan adikmu dari mereka!" Ucap Leo sambil menatap Felix marah.
"Apa katamu? Melindungi? Dari mereka heh? Hahaha. Bulshit! Yang ada aku dan Vani yang harus melindungi diri sendiri dari perbuatan busuk kalian berdua!" Ucap Felix sambil menekan kata busuk pada kalimatnya.
"Oh my! What are you say about we it's wrong, Fel! Justru kita sedang melakukan yang terbaik buatmu dan adikmu itu!!" Ucap Leo tak habis fikir akanan jalan fikiran Felix.
Cukup sudah ia hanya berdiam diri menyaksikan kelakuan Felix pada Alexa tadi. Ia sudah muak hanya berdiam diri melihat adiknya di bentak dan disakiti seperti ini.
"Melakukan yang terbaik katamu? YANG KAU LAKUKAN HANYA MELINDUNGI ADIKMU DAN BUAT KITA MEJAUHI ORANG YANG TIDAK BERSALAH SEDIKITPUN BRO!" Bentak Felix tak terima.
"Justru dia dalang dibalik semua ini, Fel!" Ucap Leo pada Felix.
"Dia kata lo!? Justru adik b*tch mu ini yang dalang dari terpecahnya kita! Dan apa yang dikatakan Vani semua itu benar, Fel! Aku buta akibat ulah kalian yang membuatku menjauhi dari adikku sendiri. F*ck them!" Ucap Felix diselingi umpatan kasar pada kalimatnya.
"Shut up your f*cking mouth, assh*le!" Ucap Leo dengan penuh penekanan.
"Diam? Kau menyuruhku untuk diam sedangkan apa yang aku bilang itu benar kan!?" Ucap Felix sambil tersenyum miring.
"I say stop!" Ucap Leo lebih tajam dari yang biasanya.
"Mau melindungi adikmu lagi heh? Rendahan." Ucap Felix dengan nada sinisnya.
"Stop!" Ucap Alexa tiba-tiba sambil menundukan kepalanya.
Ia sudah lelah dengan semua ini, apa lagi Felix yang sudah mulai menghina kakaknya dengan kata rendahan seperti itu. Dan juga harga dirinya yang sudah ia injak-injak. Cukup sudah!
"Why?" Tanya Felix dengan nada mengejek.
"Takut sama gue sampai-sampai nundukkin kepala lo kek begitu heh!?" Tanya Felix dengn tawa sinisnya.
"Tutup mulutmu brengsek!!" Ucap Leo tak terima dan menunjuk Felix dengan penuh amarah dan wajah memerah menahan amarah.
"Lo yang breng--"
"I say, STOP!!" Bentak Alexa dengan emosi.
Setelah itu, tiba-tiba saja penampilannya berubah. Rambutnya yang berubah menjadi hitam pekat dengan kedua tanduk demon yang muncul dari kepalanya. Iris mata yang hitam pekat memenuhi retina matanya. Seragam sekolahnya yang berubah menjadi gaun malam panjang menyabu lantai berwarna hitam. Kukunya yang agak memanjang dengan warna hitam. Lipstik hitam yang entah mengapa dan kapan sudah tersemat dibibirnya. Dan juga sayap demon yang lebar terbentang di punggungnya. Jangan lupakan tongkat tengkoraknya yang ia pegang saat perubahan tadi. Kali ini ia sudah di kuasai sepenuhnya oleh Delora. Sosok kegelapan dalam dirinya yang adalah wujud dari ras demonnya.
Perubahan itupun sontak membuat kedunya kaget dan mematung ditempat mereka masing-masing. Dan untung saja saat ini mereka berada di tempat yang agak luas yaitu di halaman depan asrama laki-laki sehingga sayap demon Alexa tidak membuat bangunan academy hancur sebagian karna besar dan lebarnya sayap yang ia miliki. Dan untung saja tidak ada yang berani melihat ataupun menonton perdebatan mereka karna takut dengan suasana yabg mencekam dan juga aura mengerikan yang dikeluarkan mereka bertiga. Apa lagi aura yang dimiliki oleh mereka bertiga bisa dibilang sangat kuat dan mengerikan, terlebih jika dalam kondisi seperti ini.
Maka dari itu para warga academy memilih melanjutkan kegiatan mereka masing-masing tanpa melewati area tempat mereka berada ataupun hanya sekedar mengintip mereka dari jendela.
"W...who are you!?" Tanya Leo terbata-bata karna masih terkejut.
"Aku? Kau tidak perlu tahu, big brother." Ucap Delora sambil tersenyum manis yang malahan membuatnya terlihat makin mengerikan.
"Ha...ha li...lihatlah sendiri! Adikmu yang kau bangga-banggakan sendiri ternyata mempunyai sisi demon yang notabenya adalah mahkluk kegelapan! Dan dengan ini kau ingin membuatku mempercayai kalian? Big no!!" Ucap Felix setelah mengumpulkan keberaniannya.
Sedangkan Leo sendiri pun tak menjawab ataupun membalas ucapan Felix karna ia sendir pun masih terkejut akan hal ini.
"Ckckck! Jujur Fel, Alexa dan Leo sudah kecewa berat sama kamu dan adikmu yang bodoh itu. Atau lebih tepatnya, kita semua kesal dengan sifat kalian yang seperti ini." Ucap Delora sambil mendekati Felix.
"Tidak usah berlagak baik!! Kau sendiri berasal dari ras rendahan seperti itu saja bangga!" Ucap Felix tak terima dengan hinaan yang diterimanya dan adiknya secara tidak langsung.
"Rendahan eh? Hahaha.." Ucap Delora sambil ketawa-ketawa sendiri dengan ucapannya.
"Jangan hina sesuatu hanya karna dilihat dari cover nya saja, Fel! Kalau kau sudah tau seberapa besar perjuangan yang Alexa dan Leo lakukan buatmu dan adikmu itu, barulah kau akan mulai mengemis maaf pada mereka." Ucap Delora sambil tersenyum sinis pada Felix yang masih teguh dengan pendiriannya.
"C'mon big brother! Lebih baik kita tinggalkan mahkluk tak tau diri ini disini. Beruntung Alexa masih menahanku untuk tidak membunuhmu di tempat ini sekarang juga. Biar bagaimanapun aku masih memiliki hati nurani." Ucap Delora dan berbalik arah dan berjalan meninggalkan Felix dengan Leo yang hanya diam menyusulnya.
Karna Leo sendiri pun tau kalau yang saat ini dihadapannya adalah wujud lain dari adiknya.
"Mau saja kau di perbudak oleh wanita b*tch seperti dia, Le!" Ucap Felix dengam tawa sinisnya saat Leo mengikuti Delora.
Mendengar itu, Delora dan Leo berbalik menatap Felix yang sedang menatap mereka dengan tatapan merendahkan.
Baru saja Leo akan menyemprotnya dengan berbagai kata dan kalimat yang menusuk juga, tetapi Delora sudah mengucapkan sebuah kata yang menusuk untuk Felix.
"Kita liat siapa yang akan di perbudak dengan siapa nanti." Ucap Delora sambil tersenyum sinis dan berbalik melanjutkan jalannya lagi. Begitu juga dengan Leo.
Tapi baru beberapa langkah saja, Delora sudah berhenti dan tubuh Alexa kembali bersinar menandakan ia sedang berganti sift dengan wujud lainnya membuat Leo yang ada didekatnya dan juga Felix yang baru akan berbalik menutup mata mereka silau.
Saat cahaya itu sudah menghilang, muncullah wujud dewi dari Alexa. Dengan rambut perak bersurai emas, tiara yang terlihat terbuat dari berlian berwarna keemasan tersemat di kepalanya, gaun lengan panjang yang menyapu lantai berwarna putih keemasan yang terlihat elegan, sayap putih keemasan yang lebih besar dari sayap demonnya yang tadi, dan jangan lupakan lipstik hitam yang sebelumnya tersemat pada bibirnya hilang digantikan dengan warna bibirnya yang pink alami.
Kemudian ia berbalik den menatap Felix dan Leo yang tertegun melihat perubahan Alexa yang sangat tidak bisa dipercayakan.
"Bagaimanapun kalakuanmu padaku, apapun pendapatmu tentang diriku, ataupun sebenci apapun kau terhadap diriku, aku tetaplah sahabatmu dan adikmu sampai akhir hayatku. Dan aku akan selalu melindungi kalian di manapun aku berada. Tanpa memperdulikan cacian makian ataupun ucapan rendahan yang kalian lontarkan untukku. Karena kalian adalah orang-orang yang sudah sangat ku sayangi dan akan kujaga sampai kapanpun itu." Ucap Alexa yang memakai wujud Forencia sambil tersenyum tulus pada Felix.
"Dan maaf atas tingkahku padamu tadi, juga maaf karna aku akan membuatmu tidak bisa menceritakan hal ini ataupun memberitahu hal ini kepada siapapun sampai waktunya tiba." Ucap Alexa dengan nada sendu dan mengayunkan lengannya sehingga keluar serbuk emas yang mengelilingi Felix sebentar.
"A..apa yang kau lakukan padaku!?" Tanya Felix yang was-was.
"Aku hanya membuatmu tidak menceritakan apapun tentang ini sampai waktu yang ditentukan telah tiba." Ucap Alexa lagi dengan tersenyum lembut pada Felix.
"Ayo." Ajak Alexa pada Leo dan dianggukinya kemudian mengeluarkan sayap malaikatnya dan terbang bersama Alexa ke suatu tempat. Entah kemanapun itu.
Sedangkan Felix masih diam mematung ditempatnya dengan perkataan Alexa yang masih terngiang-ngiang dalam pikirannya.
'Apakah aku sudah membuat kesalahan yang besar?' Batin Felix sambil menatap langit yang sudah tak menampakan wujud Alexa ataupun Leo disana.