Sudah 2 hari semenjak kejadian penyerangan academy dan juga penculikan Felix dan Vani berlalu.
Keadaan di academy masih berjalan seperti biasa. Akan tetapi pelajaran akademik dalam keseharian mereka harus dihentikan sebentar dan digantikan dengan pelajaran fisik.
Hal ini dilakukan untuk melatih kemampuan fisik seluruh warga academy. Bahkan para anggota yang selalu bertugas dalam dapur ataupun para penjaga academy semua dilatih untuk sekedar sebagai bekal perlindungan diri mereka.
Bukan berarti mereka tidak memikirkan dan mekhawatirkan tentang kabar dari keadaan Felix dan Vani yang diculik oleh William. Justru mereka semua sangat mengkhawatirkan mereka berdua. Hanya saja mereka tidak dapat berbuat apa-apa untuk menyelamatkan mereka. Yang mereka bisa lakukan hanyalah melatih kekuatan fisik mereka untuk menyiapkan bekalan mereka untuk perang nanti.
Sedangkan tentang keberadaan Alexa dan Felix sendiri pun masih dipertanyakan oleh mereka. Apakah mereka berdua juga diculik atau pergi meninggalkan dimensi itu. Tidak ada yang mengetahui jawabannya.
Sedangkan dilain tempat yang lumayan jauh dari academy, terdapat dua remaja yang dimaksud mereka tadi. Yang tak lain adalah Alexa dan Leo.
Mereka berdua masih menetap di kediaman para troll dan melatih kekuatan mereka. Baik itu dalam bidang fisik, mental, power, ataupun sihir. Mereka selalu berlatih sampai-sampai para troll yang lain merasakan rasa lelah yang mereka rasakan. Meskipun tanpa melakukan hal yang serupa dengan mereka.
"Em.. kak Lexa!" Panggil Illa pada Alexa.
Merasa dirinya dipaggil pun Alexa segera menghentikan latihan sihirnya dan menatap kearah sumber suara yang memanggilnya.
"Ya sayang. What's wrong?" Tanya Alexa pada Illa sambil duduk bersimpuh dan sedikut mencondongkan badannya kearah Illa.
"Kak Lexa gak capek?" Tanya Illa dengan tampang polosnya membuat Alexa tersenyum dan mengusap puncak kepala Illa yang keras.
"No. Kakak gak capek kok!" Ucap Alexa sambil tersenyum kearah Illa.
Tiba-tiba Tony datang sambil berlari dengan tergesa-gesa kearah mereka membuat Alexa mengernyitkan dahinya bingung.
"ILLA!!" Teriak Tony memanggil nama Illa masih dalam keadaan berlarinya.
"Hosh! Hosh! Hosh!" Terdangar suara nafas Tony yang ngos-ngosan sehabis berlari tadi.
"Kau kenapa?" Tanya Alexa bingung.
"Hosh! Aku.. tidak...hosh..hosh papa! Aku hanya.. hosh.. ingin.."
"Berhentilah! Atur nafasmu dulu sebelum bicara." Ucap Alexa memotong ucapan Tony yang masih terputus-putus.
Setelah menarik hembuskan nafasnya berulang kali, Tony merasa kalau nafasnya sudah kembali normal dan melanjutkan ucapannya yang tadi.
"Aku hanya ingin mengambil Illa. Maaf kalau ia sudah mengganggu latihanmu. Tadi dia kabur dan berlari kesini saat melihatmu berlatih sedari tadi." Ucap Tony dengan rasa bersalah.
Alexa yang mendengar itupun hanya tersenyum dan mengubah posisi duduknya menjadi duduk bersilah dan memangku Illa dalam pangkuannya. Tony pun juga ikut duduk bersilah didepan Alexa sambil menatapnya.
"Tak apa. Lagi pula kalau tak diingatkan aku tak akan berhenti." Ucap Alexa sambil tersenyum tipis.
"Hah.. syukurlah." Ucap Tony sambil menghela nafasnya lega.
"Ngomong-ngomong, apakah kalian tidak pergi dan berusaha menolong sahabat kalian yang diculik itu?" Lanjut Tony menanyakan tentang hal itu kepada Alexa.
"Oohhh... jadi kau mengusirku heh!?" Ucap Alexa berpura-pura tersinggung atas ucapan Tony.
"A..ah! Ti..tidak kok! Bukan begitu!!" Ucap Tony terbata-bata karna takut Alexa akan tersinggung dan memarahinya.
Melihat muka Tony yang mulai pucat dan salah tingkah, Alexa pun terkekeh dan membuat Tony menatapnya dengan bingung.
"Eto.. Lexa gak marah?" Tanya Tony dengan hati-hati.
"Hahaha... buat apa marah Ton? Lagian itu kan cuma sekedar pertanyaan kan!?" Jawab Alexa sambil terkekeh sedikit dan membuat Tony cengengesan.
"Jadi..?" Tanya Tony lagi kepada Alexa.
Mendengar itu, Alexa pun hanya menghela nafasnya sedikit dan menatap Illa yang sudah tertidur dalam pangkuannya entah sejak kapan.
"Aku dan Leo bukannya tidak mau menyelamatkan mereka. Hanya saja...." ucap Alexa dengan menggantung.
Tony pun masih tetap setia dengan memandang Alexa menunggu kelanjutan kalimatnya.
"Hanya saja kami memutuskan untuk memberikan mereka waktu sebagai pelajaran untuk mereka tentang apa itu pentingnya memiliki rasa kepercayaan yang kuat dalam sebuah hubungan persahabatan." Ucap Alexa sambil menatap kosong ke arah langit yang cerah petang ini.
***
"Teman." Lanjut sosok itu sambil menekan kata terakhirnya disertai seringaian jahatnya.
"Wi..wil..iam" Gumam keduanya secara bersamaan secara tidak sadar.
***
"Wi..wil..liam?"
"Kenapa Vani? Terkejut eh? Hahaha." Ucap William dengan nada mengejek dan diakhiri dengan tawa jahatnya.
Vani dan Felix sendiri pun masih tetap terdiam mematung ditempat mereka masing-masing dengan wajah kaget mereka tanpa melakukan apapun.
"Kenapa kalian kaget? Bukankah kita memang berteman bukan? Oh.. atau bisa dibilang sahabat sejati." Ucap William sambil menekan kata 'berteman' dan 'sahabat sejati' yang tersemat pada kalimatnya sambil berjalan mendekati sel keduanya.
"Ke..kenapa kamu..."
"Kenapa aku? Mungkin maksudmu itu ingin bertanya kenapa aku melakukan semua ini bukan? Padahal kita kan sahabat sejati!" Ucap William sambil menatap dengan seringaian jahatnya kearah Vani yang masih berada didalam sel.
"Oh... aku tau! Kau mau bilang juga bukan kalau kau ternyata menyukaiku hm? Hahaha... bodoh!" Ucap William dengan tawa jahatnya dan berjalan mendekati arah sel Vani.
Felix yang mendengar bila adiknya disebut bodoh pun menggeram kesal membuat William menghentikan langkahnya dan mengalihkan perrhatian kearah Felix.
"Oh..oh..oh.. lihatlah! Kakak dari gadis bodoh ini sedang marah ternyata. Cup cup cup." Ucap William dengan nada mengejeknya dan tampang sedih yang dibuat-buat.
"Kau..." geram Felix kepada William.
"Yes, dude." Ucap William dengan senyum sok manisnya.
"Cih! Sebenarnya siapa kau ini hah!?" Tanya Felix sambil berdecih kesal.
"Ahh... ternyata aku melupakan akan hal itu ya. Baiklah, akan ku perkenalkan diriku kembali." Ucap William sambil menepuk jidatnya dengan muka sok polosnya dan melangkah ke tempatnya tadi sebelum berjalan kearah sel Vani.
"Perkenalkan, aku adalah William Anseliro Dark'es. Putra mahkota kerajaan Darkness." Ucap William sambil mengeluarkan seringaian jahatnya dan menatap kedua remaja didalam sel yang berbeda dengan tampang yang lebih terkejut dengan pernyataannya yang baru saja ia katakan.
***
Sudah 2 hari Felix dan Vani terkurung disini. Sudah 2 hari juga mereka harus menelan bulat-bulat kenyataan pahit ini.
Jangan berpikir jika mereka hanya dikurung disana dan masih diberikan makanan untuk dimakan mereka tanpa disiksa atau diperlakukan sedikitpun.
Kenyataannya selama 2 hari itu Felix dan Vani disiksa habis-habisan setelah keluarnya William dari ruang penjara bawah tanah itu.
Setelah William keluar, tiba-tiba muncul sengatan listrik dengan muatan yang lumayan tinggi menyetrum mereka dari sudut-sudut dinding sel mereka. Tak hanya sampai situ saja, mereka setiap harinya pun ditanyakan tentang keberadaan sang terpilih atau setidaknya tentang dimana keberadaannya Alexa Angeline Witz berada.
Saat mereka mengatakan kalau mereka tak tau apa-apa, sebuah cambukan dan jambakan pun diterima oleh mereka berkali-kali membuat keadaan mereka bisa dibilang sangat mengenaskan. Apa lagi mereka hanya diberi makan dalam 1x sehari dengan waktu yang tak menentu.
Keadaan mereka sendiripun membuat mereka mulai tak dikenali seperti sebelumnya. Dengan bajuh yang mulai sobek-sobek dengan bercak darah dimana-mana, disertai luka cambuk yang tercetak manis pada tubuh mereka. Apa lagi dengan rambut acak-acakan dan muka yang mulai cemong dengan sedikit bercak darah dari mereka sendiri membuat mereka terlihat sangat menyedihkan.
Tak sampai disitu. Setiap malamnya pun mereka selalu dihantui dengan rasa menyesal karena tidak mempercayai tentang perkataan Alexa dan Leo yang sudah memperingati mereka akan hal ini. Bukannya mempercayai dan menghindar dari bahaya, mereka malah menolak untuk percaya dan memilih mendekat dengan bahaya dengan alasan yang sangat klasik seperti 'mereka tak memiliki bukti yang kuat'.
Akan tetapi, masih ada sedikit rasa tak percaya Vani terhadap Alexa dan Leo sendiri. Hal itu dikarenakan mereka yang tak kunjung menyelamatkan Felix dan Vani dalam 2 hari ini. Pikir Vani 'mungkin saja Alexa dan Leo berkerja sama dengan William akan hal ini.'
Tetapi berbeda lagi dengan Felix yang berpikir tentang mengapa ia tidak percaya dengan mereka dan malah menuduh mereka balik akan hal ini? Tetapi mau bagaimana lagi? Kejadian itupun sudah berlalu dan Felix sendiri pun tidak bisa mengulang waktu untuk memilih memercayai mereka waktu itu.
Tak bisa dipungkiri bagaimana dengan perasaan Alexa dan Leo yang ia perlakukan dengan sangat kurang ajar kemarin. Menurutnya itu sudah sangat keterlaluan. Akan tetapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa disaat emosi san ego telah menguasainya saat itu.
"Kak.. aku lapar." Ucap Vani tiba-tiba membuyarkan Felix dari lamunannya.
"Sabar ya dek, pasti mereka akan memberikan kita makan sedikit lagi. Bersabarlah sebentar." Ucap Felix pada adiknya yang berada diseberang sana.
Kadang-kadang, Felix sendiri merasa kasihan dengan keadaan dirinya dan Vani yang bisa dibilang sangat mirip dengan gelandangan pada dimensi tengah tempat mereka tinggal sebelum bersekolah disini dulu.
Tetapi ia sendiri pun tak dapat melawan dan mencoba kabur dari sini bersama adiknya karena sel yang dipasangkan mereka bisa dibilang sel yang sangat kuat dan juga anti terhadap sihir apapun. Apa lagi dengan keadaan mereka yang seperti ini.
"Kau tau Van, kadang kakak merasa menyesal karena tidak mempercayai perkataan Alexa dan Leo waktu itu, dan malah menuduh mereka balik dan melakukan mereka dengan sangat kurang ajar." Ucap Felix sambil bersandar di dinding selnya dan menatap kearah depan dengan pandangan kosong.
"Akupun juga seperti itu kak. Tetapi disisi lain, aku masih belum percaya dengan mereka karena masih belum menyelamatkan kita sampai saat ini dan berpikir kalau mereka juga berkerja sama dengan William ataupun Raja Ronald." Ucap Vani sambil tertunduk
Mendengar pernyataan Vani, Felix pun hanya melirik adiknya sebentar dan menghela nafasnya lelah, kemudian kembali menatap kedepan dengan pandangan yang menerawang.
"Aku tak tahu dengan jalan fikirmu Van. Kalau kau merasa begitu, terserahlah. Tetapi coba kamu fikirkan tentang perasaan mereka yang kecewa berat kepada kita? Atau cobalah kau merasakan betapa beratnya berada diposisi mereka dan membayangkan rasa sakit yang mereka terima secara batin dari kita?" Tanya Felix pada adiknya tanpa menengok sedikitpun kearah Vani.
Vani yang mendengar akan hal itupun semakin menundukkan kepalanya saat dirasanya sudah salah lagi dalam memikirkan atau menduga sesuatu. Ia berpikir ia memang sangat pantas dibilang 'bodoh' oleh William karena tak memikirkan akan hal itu dan mementingkan egonya sendiri tanpa memikirkan perasaan lain yang terluka karena kelakuannya yang bisa dibilang kurang ajar.
"Kalau kau yang berada diposisinya saat ini, pasti kau akan mengejek Alexa habis-habisan karena tak mau mempercayai perkataanmu sebelumnya, dan membiarkannya terkurung dan tersiksa didalam penjara menjijikan ini bukan!?" Tanya Felix dan melirik kearah Vani yang masih menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Aku tau pasti kalau jawabanmu itu adalah 'iya'." Ucap Felix dan mengalihkan tatapannya lagi dari Vani.
"Tetapi ia pernah mengatakan sesuatu kepadaku saat aku memperlakukannya dengan sangat tak baik, dan berarti itu adalah sehari sebelum ia pergi." Ucap Felix sambil mengingat wajah kecewa Alexa dan Leo yang mereka tunjukan sebelum pergi dan perkataan Alexa dengan senyum kecewanya padanya.
"Apa itu?" Tanya Vani dengan penasaran dan mengangkat kepalanya untuk menatap kearah kakaknya dengan ragu yang sedang memandang tembok sel penjaranya dengan tatapan kosong.
"Bagaimanapun kalakuanmu padaku, apapun pendapatmu tentang diriku, ataupun sebenci apapun kau terhadap diriku, aku tetaplah sahabatmu dan adikmu sampai akhir hayatku. Dan aku akan selalu melindungi kalian dimanapun aku berada. Tanpa memperdulikan cacian makian ataupun ucapan rendahan yang kalian lontarkan padaku. Karna kalian adalah orang-orang yang sudah sangat ku sayangi dan akan kujaga sampai kapanpun itu." Ucap Felix mengulang kalimat yang dilontarkan Alexa dengan setetes airmata yang jatuh dan langsung dihapusnya saat diingatnya sebelum sosok Alexa yang pergi terbang bersama Leo meninggalkannya yang mematung ditempatnya saat itu.
Vani yang mendengar ucapan Felix itupun mematung dengan rasa bersalah yang semakin besar menyelimutinya dan juga air mata yang mulai jatuh dari matanya tanpa disadarinya.
'Maaf.. maafkan aku, Lex.' Batin Vani dalam tangis diamnya dengan perasaan bersalah.
***
Pagi kembali tiba. Seluruh penghuni dimensi imortal kembali menjalankan aktivitas mereka masing-masing. Termasuk dengan para warga Dimension Academy sendiri.
Dari pukul 4 pagi, mereka memang sudah dibangunkan untuk sarapan dan pergi kelapangan untuk melatih kekuatan fisik mereka. Mereka sendiri pun dibagi menjadi beberapa golongan.
Ada yang bagian fight, ada yang bagian protection, dan ada juga bagian healer yang juga selalu dilatih kemampuan mereka. Tak hanya kemampuan healer mereka saja yang dilatih, kekuatan fisik mereka juga akan selalu dilatih sebagai alat pelindungan diri mereka. Meskipun itu sangat menguras tenaga mereka.
Seluruh warga dimensi imortal pun juga turut ikut berlatih setelah mendapatkan kabar akan terjadi perang besar lagi antara mereka dan juga bangsa Darkness saat bulan purnama nanti.
Tetapi tak sedikit juga dari mereka yang memilih kabur ke dimensi tengah untuk mencari tempat yang aman karna tak ingin pertumpahan darah kembali terjadi.
Sedangkan para pendiri dimensi tengah yang tak lain adalah para dewa dewi, malaikat, dan juga para petinggi yang mewakili pihak penyihir dan mahkluk imortal lainnya pun juga sudah mengetahui akan hal ini.
Mereka memutuskan untuk datang ke dimensi imortal pada saat 2 minggu sebelum peperangan itu terjadi dikarenakan kesibukan mereka masing-masing.
Kebanyakan dari para pendiri dimensi imortal sendiri pun tinggal di dimensi tengah dengan tempat yang terpisah-pisahkan oleh jarak karena urusan pribadi mereka.
Tetapi hal itu tidak membuat mereka ketinggalan berita dengan keaadan dimensi imortal dan menjaganya untuk tetap seimbang.
Sedangkan dilain tempat lagi, di dimensi imortal, terlihat 2 orng remaja yang sedang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.
Yang satu yang ternyata adalah seorang gadis, sedang berkutat dengan alat masaknya. Dan yang satunya lagi yang ternyata seorang lelaki pun sedang membantu gadis itu menyiapkan meja makan dan peralatan untuk makan mereka.
"Alexa? Leo? Pagi sekali kalian bangun." Ucap Windy yang baru saja datang dan melihat kedua remaja itu yang ternyata adalah Alexa dan Leo.
"Oh.. ini, kebetulan saja bangunnya kepagian." Jawab Alexa sambil tersenyum kecil kepada Windy.
Windy yang mendengar jawaban Alexa pun hanya ber'oh' ria dan berjalan mendekati keduanya.
"Em.. ada yang bisa aku bantu?" Tanya Windy pada keduanya.
"Hm.. kalau kau mau, kau bisa gak panggil yang lain untuk sarapan?" Tanya Leo yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Ya. Biar kami saja yang urus ini. Lagian ini sudah mau selesai kok!" Ucap Alexa menimpali ucapan Leo.
Windy pun hanya mengangguk dan segera melakukan tugasnya untuk memanggil para troll yang lainnya untuk sarapan bersama.
***
"Ekhem." Dehem Roll memecahakan keheningan diantara mereka yang tersisa dimeja makan itu--Roll, Tere, Windy, Tony, Alexa, dan Leo.
Mendengar deheman Roll, Alexa dan Leo hanya menatapnya dengan sebelah alis yang terangkat sebentar dan kembali melanjutkan kegiatannya masing-masing. Alexa yang mengumpulkan piring kotor bekas sarapan mereka yang baru saja selesai. Sedangkan Leo hanya duduk santai sambil menyeruput minumannya.
"Aku tahu pasti kalau kalian ingin memberitahukan kami sesuatu, bukan!?" Tanya Roll dengan tatapan introgasinya.
Mendengar hal itu, Alexa hanya meliriknya sekilas dan melanjutkan pekerjaannya lagi untuk membawa semua piring kotor ke pinggir sungai untuk dicuci dengan dibantu oleh Windy dan Tony. Sedangkan Leo hanya mengagguk sekilas tanpa menengok sedikitpun.
Setelah beberapa menit kemudian, Alexa pun selesai dengan pekerjaannya dan kembali kemeja makan yang masih tersisa Roll, Tere, dan Leo. Sedangkan Windy dan Tony sudah kembali ke kesibukan mereka masing-masing.
"Jadi..?" Tanya Tere memulai pembicaraan.
"Kita akan memulainya." Ucap Leo yang mulai memasang tampang seriusnya. Begitu juga dengan Alexa.
"Memulainya?" Tanya Roll yang masih bingung dengan ucapan Leo barusan.
"Yah. Memulai misi untuk menyelamatkan sahabat kami." Ucap Alexa disertai seringaiannya.
***
Ctass...
"Arghhkkk!!!"
"Katakan dimana sang terpilih itu bersembunyi!?" Ucap seorang pria berbadan sangar dengan cambuk dikepalan tangannya kepada sosok remaja lelaki yang sudah terkulai lemas dihadapannya.
"Aku... tidak.. tahu!" Ucap remaja lelaki itu dengan tetbata-bata karena sedang menahan sakit yang diterimanya.
Ctass...
"ARGHHKKK!!!"
"KAK FELIX!!" Teriak seseorang yang sedang memandang remaja lelaki itu yang ternyata adalah Felix dari sel seberang.
Mendengar namanya dipanggil, Felix pun hanya menatap seorang gadis yang memanggilnya yang ternyata adalah Vani, adiknya sendiri sambil tersenyum lemah kepadanya.
"Aku tidak papa." Ucap Felix tanpa suara yang dimengerti Vani tetapi tak dipercayainya karena ia sedang melihat sendiri bagaimana tersiksanya kakaknya itu. Ia pun hanya bisa menangis meraung-raung dengan kondisi yang sama mengenaskannua dengan Felix yang berada diseberang sana.
CTASS.. CTASS...
"ARGGHHHHKKKK!!!!" Teriak Felix kesakitan dengan suara yang sangat keras saat cambukan yang ditermanya menjadi lebih sakit dari yang sebelumnya.
"KAKAKK!!!" Teriak Vani yang tidak kuat menyaksikan kejadian mengenaskan yanG terjadi secara live didepannya.
"Kau mau menjawab pertanyaanku atau adikmu itu yang akan menanggung akibatnya heh!?" Tanya lelaki itu sambil menjambak keras rambut Felix untuk membuatnya menatap matanya.
"Ja..jangan!" Ucap Felix dengan sangat lirih.
"Apa!? Kau ingin membuat adikmu merasakan hal serupa denganmu juga eh!? Baiklah." Ucap lelaki itu dengan seringaian jahatnya dan keluar meninggalkan Felix yang setengah sadar didalam selnya.
"Ja..jangan!" Ucap Felix saat melihat lelaki itu mulai mencambuki Vani yang berada didalam selnya dengan ganas.
"Aku bilang... JANGAN!!" Ucap Felix sambil mencoba bangkit menahan rasa sakitnya.
"Hahaha... ini sangat menyenangkan!" Ucap lelaki itu saat mendengar suara teriakan kesakitan dari Vani yang diakibatkan cambukannya tanpa menghiraukan perkataan Felix.
"AKU BILANG JANGAN!!!" Teriak Felix sambil menatap dengan tajam kearah lelaki itu yang langsung menghentikan kegiatannya dan menatap Felix dengan tampang sok polosnya.
"Kenapa? Inikan sangat menyenangkan bukan!? Hahaha!!" Ucap lelaki itu diakhiri dengan tawa jahatnya.
"Jangan. Menyakiti. Adikku!" Ucap Felix dengan oenuh penekanan disetiap katanya.
"Oh ya? Kenapa?" Tanya lelaki itu seraya keluar dari sel Vani dan meninggalkannya yang sudah pingsan dengan luka cambukan dimana-mana. Tak lupa juga ia mengunci kembali pintu selnya agar Vani tak kabur nantinya.
"Mau jadi pahlawan kesiangan eh!?" Tanya lelaki itu disertai seringaian jahatnya dan berjalan mendekat kearah selnya Felix yang masih menatapnya dengan tatapan elangnya.
"Lemah!" Ucap lelaki itu sebelum Felix berteriak kesakitan dan pingsan akibat sengatan listrik yang tiba-tiba diterimanya.
***
"K..kak..hisk..hiks.. bangun kak. Vani takut.. hiks.." terdengar suara Vani yang samar-samar memasuki indra pendengaran Felix membuat ia berusaha dengan keras untuk membuka matanya dan menggerakan tubuhnya. Meskipun itu mengakibatkan rasa sakit yang sangat besar diterima olehnya.
"Kakak... hiks hiks. Bagun kak.." dengan sekuat tenaga, Felix pun membuka matanya dan mencoba bangkit dari posisi tidurnya. Ralat! Maksudnya dari posisi pingsannya tadi.
"V..van." Panggil Felix dengan lirih dan tetap dengan usahanya untuk mengubah posisinya yang berulang-ulang kali gagal karena tenaga dan juga keadaan fisiknya yang sedang sangat lemah.
"Kakak! Hiks..hiks. Aku..hiks.. takut." Ucap Vani sambil memegang sel-sel besi penjaranya.
"J..jangan takut. Akh!" Ucapan Felix seketika berhenti dan digantikan dengan suara rintihannya yang secara reflek keluar saat dirasa lukanya yang sangat banyak dan sakit memenuhi tubuhnya.
"Kakak!" Pekik Vani kaget sambil meringis menahan sakit dari luka yang diterimanya. Meskipun tidak separah Felix.
Tap.. tap.. tap..
Krieekkk..
Terdengar suara langkah kaki yang menggema, dan juga suara pintu masuk ruang penjara bawah tanah yang terbuka itu memenuhi ruangan yang sangat sepi itu dan membuat kedua orang penghuninya menatap kearah pintu dengan spontan.
"Uluh..uluh.. lihatlah pasangan kakak beradik ini." Ucap William yang datang bersama 2 prajuritnya sambil memandang Felix dan Vani dengan tampang kasihan yang dibuat-buatnya.
"Hahahaha... menjijikan!" Lanjut William dengan tawa jahatnya yang membuatnya terlihat aneh?
"Mau apa kau kemari!?" Tanya Felix dengan lirih saat ia sudah berhasil mengubah posisinya menjadi duduk bersandar pada dinding selnya.
"Aku? Ohoho... tentu saja karena aku kangen sama kalian berdua." Ucap William sambil memberikan smrik jahatnya dan melangkah ke arah tengah-tengah sel itu bersama 2 prajurit yang masih mengikutinya dengan setia.
"Kalian, masuk ke sel mereka berdua dan siksa mereka!" Ucap William yang masih belum melepaskan smrik jahatnya.
Kedua prajurit itupun segera melakukan tugasnya tanpa mengeluarkan sepatah kata sedikitpun.
CTASS.. CTASS..
"Katakan kepadaku, dimana keberadaan sang terpilih itu berada!!?" Tanya William yang sudah dalam mode seriusnya.
"Kami tidak, AKH!!" Ucapan Vani terputus akibat jambakan yang diterimanya. Meskipun jambakan yang ia rasakan kali ini terasa ia hanya memegang rambutnya saja. Tetapi itu tak membuat kepala Vani tidak merasakan sakit akibat jambakan itu.
"Oh..oh..oh.. masih mau bungkam rupanya." Ucap William dengan tampang sedihnya.
"Tapi tak apa! Setidaknya kalian bisa katakan dimana keberadaan Alexa dan Leo berada bukan!?" Ucap William yang kembali girang membuatnya terlihat seperti orang psyco.
"Kami... ti..tidak ta...u." Ucap Felix terputus-putus.
"Dasar bodoh! Cambuk mereka!!" Perintah William yang kesal dengan jawaban yang diterimanya.
Ctass.. ctas..
"ARGHHH!!!"
"Sudah kubilang. Jawab yang jujur!" Ucap William seraya mendekati sel Felix yang dimana Felix sudah terkulai lemah tak berdaya.
"Kami benar.. uhuk uhuk! Ti..dak tau!" Ucap Felix dengan lirih sambil menahan sakitnya.
"Kakak..." panggil Vani dengan muka yang sudah berlinang air matanya sendiri.
"Sst... diamlah little girl." Ucap William sambil mendekati sel Vani.
"Diamlah. Atau nanti kau akan merasa kesakitan kalau kau tetap terus memaksakan dirimu." Ucap William dengan berpura-pura sedih saat melihat Vani yang berusaha bangkit dari posisi baringnya untuk menatap William dengan tatapan bencinya.
"Beritahu aku, dimana Alexa berada!" Ucap William dengan tenang sambil menatap Vani yang masih memaksakan dirinya.
"Aku.. tidak.. tau!" Ucap Vani dengan mantap.
"Hah... kau ini. Masih saja melindungi mereka. Tak taukah kamu kalau mereka itu sudah tak menganggapmu dan kakakmu sebagai sahabat lagi!? Setidaknya bukalah matamu little girl. Jika ia memang sahabat kalian, seharusnya ia sudah menolong kalian dari kemarin!" Ucap William dengan dramatis mencoba untuk menghasut Vani.
"Ja..jangan dengarkan di..dia Van! Akh!" Ucap Felix sambil meringis menahan sakitnya.
Sedangkan Vani sendiripun hanya bungkam dan mulai berpikir akan hal itu.
Iya yah, kalau mereka memang sahabatku, pasti mereka sudah menolongku dari kemarin! Ah! Tidak-tidak!! Jangan negative thingking lagi Van! Batin Vani pada dirinya sendiri.
"Oh.. C'mon! Open at your eyes little girl! Mereka membuangmu! Mereka menghianatimu! Dan membuarkanmu merasakan penderitaan diatas mereka! Sadarlah Van! Sadar!!" Ucap William dengan dramatis. Ralat! Sangat dramatis.
"K..ku rasa bukan be..begitu." Ucap Vani dengan lirih. Tetapi masih dapat didengar oleh mereka semua. Termasuk dengan dua prajurit William dan juga Felix.
"What do you mind!?" Tanya William tak percaya dengan jawaban lirih yang keluar dari mulut Vani.
"Kurasa bukan mereka yang menghianatiku. Tapi aku dan kakakku, yang menghianati mereka." Ucap Vani sambil menatap William dengan tajam.
Bruk..
***
"Jadi, apakah kau juga akan pergi kesana?" Tanya seorang wanita paruh baya terhadap suaminya.
"Ya, saat ini aku sangat merindukan mereka." Ucap suami dari wanita itu sambil menatap 2 bingkai foto dengan sendu.
"Aku juga. Tapi kau tau bukan? Kita akan terus menyiksanya saat kita bertemu dengannya sampai kutukan ini berakhir!!" Ucap wanita itu dengan frustasi.
Ucapan dari wanita itu pun sama sekali tidak ditanggapi oleh lelaki yang sedang melihat 2 bingkai foto yang terpisah. Yang pertama adalah foto keluarga yang beranggotakan dia dan istrinya dan juga seorang anak laki-laki yang memasang wajah dinginnya berdiri ditengah mereka. Sedangkan yang satunya lagi adalah foto seorang gadis kecil yang sedang menatap kamera dengan mata menyipit karena senyum lebarnya yang memperlihatkan gigi ompongnya dan juga luka-luka memar yang memenuhi tubuhnya membuat lelaki itu menatapnya dengan tatapan miris.
'Maafkan ayah, Alexa.' Batin lelaki itu yang tak sadar sudah menitikan airmatanya yang langsung dihapusnya.
Tiba-tiba, dirasanya ada sebuah tangan yang memegang pundaknya dengan lembut membuatnya sedikit tersentak dengan lamunannya.
"Sudahlah Ar.." ucap wanita itu sambil tersenyum sendu terhadap suaminya.
"Aku... aku rindu mereka, Jes!" Ucap Lelaki itu sambil memeluk istrinya erat dan menangis terisak dalam pelukan istrinya yang juga ikut menangis karena merasakan hal yang sama dengan suaminya.
'Maaf kan bunda, sayang. Bunda sudah membuatmu menderita seperti ini. Maafkan bunda, Lex. Maaf.' Ucap batin Jesica sambil menangis dalam diam bersama suaminya.
Yah, mereka tak lain dan tak bukan adalah Jesica Arlenta Witz atau yang biasa dikenal orang dengan Jesica Alicia Ruby. Dan jangan lupakan juga suaminya yang bernama Arnold Ruitson Witz Skylar. Yang tak lain tak bukan, mereka adalah orang tua dari Alexa dan Leo sendiri.
***
"Kak Lexa! Jangan pergi.. nanti kalau Illa kangen bagaimana?" Ucap Illa kepada Alexa dengan nada memohonnya sambil memeluk Alexa dengan erat seolah-olah tak menginginkan ia pergi.
"Kalau Illa kangen, nanti kakak akan main lagi ke sini kok! Jangan nangis ya.." Ucap Alexa sambil melepaskan pelukannya dengan Illa dan menatapnya dengan senyum lembutnya.
"Sudahlah Illa. Kak Lexa dan Kak Leo hanya pergi sebentar saja kok!" Ucap Tony dengan lembut sambil memegang lengan Illa.
"Huuaaa... kakak!" Tangis Illa pecah sambil memeluk Tony yang hanya menepuk-nepuk punggungnya untuk menenangkannya.
"Berhentilah menangis Illa... cup cup cup." Ucap Tony berusaha menenanginya.
Sedangkan yang lainpun hanya memandang mereka dengan senyum sendu mereka.
"Ya sudah. Kami pamit dulu ya." Ucap Leo membuka suara untuk berpamitan kepada para troll disana.
Mendengar itu, mereka pun berpelukan bersama sampai beberapa saat. Ada yang menangis, ada yang mengucapkan kata semangat, dan ada juga yang tidak ingin membiarkan Alexa dan Leo pergi.
Setelah pelukan mereka terlepas, Alexa dan Leo kembali berdiri dari posisi duduk simpuh mereka tadi dan menatap semuanya dengan senyum sendu mereka.
"Kami pergi dulu ya." Pamit Alexa pada yang lain sambil melambaikan tangannya. Begitu juga dengan Leo.
"Jangan lupakan kami ya!" Ucap Windy sambil membuang ingusnya pada sapu tangannya.
"Kakak janji ya bakal datang lagi buat temanin Illa!" Ucap Illa dalam gendongan Tony.
Dan masih banyak lagi berbagai kata perpisahan yang diucapkan para troll untuk mereka.
Saat mereka ingin membalikan badannya, panggilan Roll membuat mereka mengurungkan niat mereka dan kembali menghadap para troll dan menatap Roll dengan bingung.
"Ada apa Roll?" Tanya Leo pada Roll.
"Aku hanya ingin beri kalian ini." Ucap Roll sambil memberikan mereka masing-masing 1 buah gelang yang berwarna senada. Yaitu biru.
"Untuk apa ini?" Tanya Alexa dengan bingung, tetapi itu tak menghentikannya untuk mengambil salah satu gelang yang diberikan oleh Roll itu. Begitu juga dengan Leo.
"Saat kalian memasuki teritory daerah kuasa Darkness, maka kalian juga akan mudah terpengaruh oleh sebuah bisikan-bisikan yang entah berasal dari mana. Dan bisikan itu meminta kalian untuk berbuat suatu kejahatan, apapun itu! Hanya para tamu yang diperkenankan, atau para tahanan mereka yang tidak terkena hasutan dari bisikan itu." Ucap Roll sambil menatap mereka berdua dengan serius.
Tanpa mereka sadari, saat ini hanya sisa tertinggal mereka bertiga di depan pintu goa para troll. Hal itu dikarenakan Tere yang meminta yang lain untuk membiarkan mereka waktu untuk membahas sesuatu yang sangat serius. Seolah-olah mengerti, yang lain pun hanya mengangguk dan pergi meninggalkan mereka bertiga disana. Meskipun masih dalam keadaan yang sedih.
"Bagaimana mungkin!?" Ucap Leo tak percaya saat baru mengetahui suatu fakta yang sangat-sangat-sangat tersembunyi itu.
"Ya, mungkin saja. Buktinya itulah kenyatannya. Tempat itu memang seolah-olah dikutuk oleh para budak iblis atau arwah iblis jahat yang berhasil menembus dinding dimensi ini untuk menghasut para penyihir yang berada 'disini' melakukan hl serupa dengan mereka yang berada 'disana'." Ucap Roll menjawab kekagetan mereka.
"Lalu, apa hubungannya dengan gelang ini?" Tanya Alexa bingung sambil menatap gelang yang sudah dipakainya dipergelangan yang sama dengan tempat ia memakai gelang pemberian Illa.
"Nah! Itu lah mengapa kalian memerlukan gelang ini." Ucap Roll dengan bangga sambil menunjuk gelang yang telah dipakai mereka.
Melihat raut wajah dari kedua remaja itu mengernyit bingung, Roll pun segera melanjutkan perkataannya kembali.
"Gelang ini di buat oleh para pendiri-pendiri dimensi ini terdahulu. Dan juga para petinggi dari seluruh klan imortal yang ada didunia ataupun diseluruh dimensi. Kecuali dari klan bawah." Ucap Roll kembali serius.
"Mereka memutuskan untuk membuat sesuatu untuk melindungi mereka dari bisikan-bisikan yang baru diketahui mereka saat sesudahnya mereka membentuk dimensi baru ini." Ucap Roll sambil memandang kearah langit dengan tatapan menerawangnya.
"Gelang itu sendiripun ada banyak pasang. Hanya saja yang tersisa dari semuanya tinggal kedua gelang yang kali ini kalian kenakan yang berada pada dimensi ini. Sedangkan keberadaan gelang yang lain pun masih tidak diketahui berada dimana sekarang." Ucap Roll sambil memandang keduanya kembali.
"Ok! Kurasa waktu kalian tak lama lagi untuk menyelamatkan kedua sahabat kalian itu. Aku yakin mereka berdua sudah mendapatkan pelajaran dari akibat perbuatan mereka itu." Ucap Roll sambil menatap keduanya dengan senyumannya.
"Sekarang pergilah. Mereka pasti sudah menunggu kalian." Ucapnya lagi kepada Alexa dan Leo.
"Baiklah kalau begitu, kami pergi dulu ya.. bye!" Ucap Leo sebelum mereka memasuki portal buatan Alexa. Sedangkan Alexa sendiri pun hanya tersenyum dan melambaikan tangannya sebelum masuk masuk tertelan kedalam portal buatannya.
"Tidak semua yang berada dalam kegelapan memiliki siasat yang jahat. Begitupun sebaliknya." Gumam Roll penuh makna sambil menatap tempat menghilangnya portal Alexa dengan sendu.
***
"Aku baru tau kalau teritory daerah Darkness akan seperti ini. You know what i mean." Ucap Leo sambil memandang sekitar mereka.
"Yeah. Kurasa, kita harus mengubah penampilan kita." Ucap Alexa memberi saran saat ditatapnya penampilan mereka berbeda dengan semua yang berada disana.
"Seperti apa?" Tanya Leo bingung dan menatap Alexa dengan dahi mengkerut.
"Like that." Ucap Alexa sambil menunjuk sesuatu dengan seringaiannya.
"Sepertinya menarik." Ujar Leo saat mengetahui apa yang dimaksud Alexa dan juga ikut mengeluarkan seringainnya.
"Ayo!" Ajak Leo dan mulai menghilang dengan kekuatan invisiblenya.
Alexa pun segera melakukan hal yang serupa dengan Leo untuk menjalankan misi mereka.
BUGH BUGH!
BRAK!
BRUK!
"Siapa disana!?" Tanya seorang prajurit yang datang bersama pasukannya kearah sumber suara saat didengarnya ada sebuah keributan yang terjadi disini.
"Apa yang kalian berdua lakukan disini?" Tanya yang lainnya saat dilihatnya 2 orang yang memakai baju yang sama dengan mereka berada disana.
"Hanya mengurus sebuah pengganggu kecil yang sudah dibereskan." Ucap salah satunya dengan santai.
"Sudahlah! Ayo kembali ke tempat masing-masing sebelum Raja dan Pangeran marah!" Ucap seorang prajurit yang bertanya tadi dan langsung bubar dari sana menuju ketempatnya semula. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Ready?" Tanya Alexa kepada Leo dengan seringaiannya.
"Sure." Jawab Leo sambil tersenyum senang kepada Alexa dan kemudian pergi dari tempat itu bersama Alexa.
***
Tap.. tap.. tap..
Terdengar suara langkah yang membuat seluruh prajurit berbaris tegak pada sebuah jalan yang berkarpet merah tanda tuan mereka akan segera datang.
Krieettt....
Saat suara pintu terbuka terdengar, seluruh prajurit yang ada disana pun segera membungkukan badannya tanda hormat kepada tuan mereka yang telah memasuki ruangan tersebut.
Tap.. tap.. tap..
Suara langkahan kaki kembali terdengar, sampai saat dimana kedua pasang kaki itu terhenti di tengah-tengah jalan itu dan berbalik arah menatap para prajurit yang masih menunduk hormat kepadanya.
"Kalian berdua, ikut saya!" Ucapnya yang ternyata adalah William sambil menunjuk kedua prajurit yang belum mengubah posisinya.
Merasakan dipilih orang tersebut untuk mengikutinya, mereka berduapun segera bangkit dan berjalan dibelakang William yang sudah melangkahkan kakinya menuju ke ruang penjara bawah tanah.
Sesampainya disana, terlihatlah 2 orang remaja lelaki dan perempuan yang berada dalam sel yang berhadapan dengan kondisi yang sangat mengenaskan, membuat hati siapa saja akan iba menatapnya. Termasuk kedua prajurit tersebut.
Kedua remaja itu sendiripun hanya bisa menatap William tanpa berbuar apa-apa selain menatapnya dan kedua prajurit yang diabawanya berjalan kearah antara kedua sel tersebut.
"Uluh..uluh.. lihatlah pasangan kakak beradik ini." Ucap William dengan nada mengejek.
"Hahahaha... menjijikan!" Lanjut William dengan tawa jahatnya yang membuatnya terlihat aneh?
"Mau apa kau kemari!?" Tanya remaja lelaki itu dengan lirih saat ia sudah berhasil mengubah posisinya menjadi duduk bersandar pada dinding selnya.
"Aku? Ohoho... tentu saja karena aku kangen sama kalian berdua." Ucap William sambil memberikan smrik jahatnya dan melangkah ke arah tengah-tengah sel itu bersama 2 prajurit yang masih mengikutinya dengan setia.
"Kalian, masuk ke sel mereka berdua dan siksa mereka!" Ucap William yang masih belum melepaskan smrik jahatnya.
Kedua prajurit itupun secara mau tak mau dengan segera melakukan tugasnya tanpa mengeluarkan sepatah kata sedikitpun.
CTASS.. CTASS..
Dicambuknya kedua remaja itu di tempat yang terpisah secara bersamaan dengan sangat keras membuat keduanya berteriak kesakitan akibatnya.
"Katakan kepadaku, dimana keberadaan sang terpilih itu berada!!?" Tanya William yang sudah dalam mode seriusnya.
"Kami tidak, AKH!!" Ucapan gadis itu terputus akibat jambakan yang diterimanya. Meskipun jambakan yang ia rasakan kali ini terasa ia hanya memegang rambutnya saja. Tetapi itu tak membuat kepala Vani tidak merasakan sakit akibat jambakan itu.
"Oh..oh..oh.. masih mau bungkam rupanya." Ucap William dengan tampang sedihnya.
"Tapi tak apa! Setidaknya kalian bisa katakan dimana keberadaan Alexa dan Leo berada bukan!?" Ucap William yang kembali girang membuatnya terlihat seperti orang psyco.
"Kami... ti..tidak ta...u." Ucap remaja lelaki itu terputus-putus.
Kedua prajurit itupun hanya menatap mereka dengan iba tanoa berbuat apapun untuk sekarang ini.
Tunggulah sebentar lagi. Hanya sebentar saja. Ucap salah dari keduanya dalam batinnya tanpa bisa didengar siapapun karna ia telah memblok pikirannya sendiri agar tak dapat terbaca.
"Dasar bodoh! Cambuk mereka!!" Perintah William yang kesal dengan jawaban yang diterimanya.
Ctass.. ctas..
"ARGHHH!!!"
"Sudah kubilang. Jawab yang jujur!" Ucap William seraya mendekati sel remaja lelaki itu yang dimana ia sudah terkulai lemah tak berdaya.
"Kami benar.. uhuk uhuk! Ti..dak tau!" Ucapnya dengan lirih sambil menahan sakitnya.
"Kakak..." panggil gadis itu kepada orang yang ternyara adalah kakaknya dengan muka yang sudah berlinang air matanya sendiri.
"Sst... diamlah little girl." Ucap William sambil mendekati sel Vani.
"Diamlah. Atau nanti kau akan merasa kesakitan kalau kau tetap terus memaksakan dirimu." Ucap William dengan berpura-pura sedih saat melihat gadis yang kini berusaha bangkit dari posisi baringnya untuk menatap William dengan tatapan bencinya.
"Beritahu aku, dimana Alexa berada!" Ucap William dengan tenang sambil menatap gadis itu yang masih memaksakan dirinya.
"Aku.. tidak.. tau!" Ucap Vani dengan mantap.
"Hah... kau ini. Masih saja melindungi mereka. Tak taukah kamu kalau mereka itu sudah tak menganggapmu dan kakakmu sebagai sahabat lagi!? Setidaknya bukalah matamu little girl. Jika ia memang sahabat kalian, seharusnya ia sudah menolong kalian dari kemarin!" Ucap William dengan dramatis mencoba untuk menghasut gadis itu.
"Ja..jangan dengarkan di..dia Van! Akh!" Ucap Felix sambil meringis menahan sakitnya.
Sedangkan gadis itu sendiripun hanya bungkam dan mulai memasang tampang berpikirnya setelah mendengar akan hal itu yang membuatnya sedikit goyah.
"Oh.. C'mon! Open at your eyes little girl! Mereka membuangmu! Mereka menghianatimu! Dan membuarkanmu merasakan penderitaan diatas mereka! Sadarlah Van! Sadar!!" Ucap William dengan dramatis. Ralat! Sangat dramatis.
"K..ku rasa bukan be..begitu." Ucap gadis itu dengan lirih. Tetapi masih dapat didengar oleh mereka semua. Termasuk dengan 2 prajurit William dan juga Felix.
Tanpa mereka sadari, diantara mereka ada yang agak terkejut setelah mendengar akan hal itu dan menatap mereka dengan tatapan yang sulit diartikan.
"What do you mind!?" Tanya William tak percaya dengan jawaban lirih yang keluar dari mulut Vani.
"Kurasa bukan mereka yang menghianatiku. Tapi aku dan kakakku, yang menghianati mereka." Ucap gadis itu yang tanpa disadarinya telah membuat hati seseorang terhari karenanya.
Sekarang. Batin seseorang disana dan...
Bruk
Bugh
Tring!
Tiba-tiba terdengar suara sesuatu yang terjatuh dengan sebuah pukulan dan pertemuan antara kedua pedang yang berbunyi cukup nyaring akibat salah seorang prajurit yang dibawa William menyerangnya secara mendadak.
"WHAT ARE YOU DOING!!?" Tanya William dengan marah saat menerima perlakuan mendadak ini dan tetap menahan pedangnya untuk melindungi dirinya dari tusukan pedang prajuritnya itu.
"I'm here..." ucapnya sambil melepaskan serangannya dan berdiri dihadapan William dengan seringaian yang terpampang jelas dalam topeng prajurit itu.
"Who are you!?" Tanya William dengan waspada kepada sosok didepannya.
"Me? I am your enemy, prince William." Ucapnya sambil membuka topengnya membuat William dan kedua remaja itu kaget karena meluhat wajahnya.
"A.. Alexa." Ucap gadis yang berada dalam sel itu dengan lirih saat mengetahui siapa orang tersebut yang sebenarnya.
***
"A.. Alexa." Ucap gadis itu dengan terbata-bata dan suara lirihnya menatap tak percaya pada seorang gadis yang ternyata adalah sosok dibalik jubah prajurit itu.
"Yes. Here i am. Stevani Arelia Balleza" Ucap Alexa sambil menatap Vani dengan senyumnya.
"Oh.. oh.. oh.. ada pahlawan kesiangan rupanya." Ucap William seraya bangkit dari posisi jatuhnya dan menatap Alexa dengan pandangan mengejek.
"Bukan kesiangan. Tapi kepagian." Ucap Alexa dengan senyum mengejeknya sambil berjalan mendekati William.
"Kau... berani juga kau ya!" Ucap Willim dengan muka marahnya saat Alexa berhasil membalas ejekan William itu.
"Sure." Ucap Alexa dengan seringaiannya dan menyerang William secara mendadak dangan pedang ditangannya.
"Serangan mendadak eh!? Cerdik." Ucap William saat mendapatkan serangan mendadak dari Alexa itu.
"Terima kasih atas pujianmu itu, Pangeran William." Ucap Alexa dengan penekanan penuh pada penyebutan nama William.
Meskipun awalnya sempat merasa terpojok akibat serangan mendadak dari Alexa, William berhasil menyeimbangkan serangan Alexa dan membuatnya terpojok balik.
"Apakah kau tau kalau kau ini sangat lemah heh!?" Tanya William saat berhasil melempar pedang Alexa ke sembarang arah dan memojokannya didinding.
"Oh ya?" Ucap Alexa dengan senyum mengejeknya sambil menatap William dengan tatapan menggeledek membuat William marah.
"Kau..."
BUGH! BRAK!
Belum sempat ia melanjutkan perkataannya, ia sudah menerima kembali serangan dadakan dari seseorang yang membuatnya jatuh terbanting kearah kiri dengan sangat manis.
Sedangkan Alexa yang melihat itu sendiripun hanya tersenyum mengejek menatap William sebelum pergi berlari keluar bersama orang tersebut.
"Dimana Vani dan Felix, kak!?" Tanya Alexa saat ia baru saja berlari dengan sosok tersebut.
"Disana." Ucap sosok tersebut sambil menunjuk kedua orang dengan kondisi yang sudah membaik tanpa luka sedikitpun memanggil mereka. Meskipun masih dengan baju yang berlubang dan banyak bercak darah yang menempel disana.
"Psstt!! Leo! Lexa! Come here!." Bisik Vani sambil memberi aba-aba kepada Alexa dan sosok yang ternyata adalah Leo, dengan berbisik.
Mendengar itu, mereka pun segera berlari kearah Vani dan Felix yang sedang bersembunyi dibaluk dinding yang sepi dan cukup tersembunyi disana.
Tak lama setelah mereka sampai, terdengar suara derap kaki yang sangat banyak datang kearah mereka, membuat mereka mengambil posisi waspada mereka masing-masing dan semakin merapat kearah dinding agar tidak ketahuan.
"Kemana mereka!?" Ucap seseorang yang mereka yakin adalah William saat mendengar suaranya yang khas itu.
"Sial!! Cepat cari mereka samai ketemu sekarang!!" Ucap William dengan geram dan pergi dari sana. Begitu juga dengan para prjurit lain yang langsung melaksanakan perintah William dan menyebar keberbagai arah.
Saat dirasanya keadaan sudah kembali aman, Leo pun segera menuntun mereka untuk keluar dari sana.
"Ayo!" Ucap Leo setelahnya dan melangkah pergi dari sana. Begitu pula dengan yang lainnya.
"Kita harus pergi dari sini!" Ucap Alexa yang tetap berjalan dengan posisi siaganya sambil mentap sekitaf dengan waspada.
"Tapi lewat mana!?" Tanya Felix tak mengerti.
"Pintu belakang." Jawab Alexa dan Leo serempak sambil menyeringai senang saat itu juga.
"Ayo cepetan sebelum mereka pada datang nanti!" Ucap Alexa lagi kepada mereka yang langsung dituruti oleh mereka.
Dalam perjalanan menuju pintu belakang pun terasa lama mereka lewati karena harus bersembunyi terus dari kejaran para prajurit istana itu. Sampai akhirnya mereka tiba di dapur, tempat para pelayan bekerja, mereka kembali menghelakan nafas lega mereka.
"Fyuhh... untung saja." Ucap Vani saat mereka sampai dengan selamat disana.
"Sudah-sudah! Kita sudah tidak punya banyak waktu lagi!" Ucap Leo yang kembali membuat mereka pani dan segera berjalan ke arah pintu belakan yang agak susah mereka gapai karna banyaknya para pelayan yang berlalu lalang disana.
Brak..
"TANGKAP MEREKA!!" Teriak seorang prajurit yang tiba-tiba mengebrak pintu disana.
Baru saja mereka berjalan 5 langkah dari sana, mereka sudah ketahuan dan membuat mereka harus kembali berlari dan menghindar dari pengejaran prajurit itu dan pelayan yang berkali-kali ditabrak mereka.
"Lari!" Ucap Alexa tiba-tiba menyuruh mereka berlari yang langsung dituruti oleh mereka.
"Sial! JANGAN BIARKAN MEREKA LOLOS!" Teriak umpatan prajurit itu pada yang lainnya saat Alexa kembali dan yang lainnya berlari ke arah pintu belakang.
"Ayo ayo!!" Ucap Alexa lagi memberi semangat kepada mereka.
"Menghindar!!" Pekik Leo tiba-tiba membuat mereka kaget taetapi langsung melakukan penghindaran secara refleks.
Dan...
Byurr..
Krek..
Buff..
Terdengar suara benda ringan yang terlempar dan mengrnai sesuatu membuat mereka kaget dan segera menengok kebelakang. Tapi saat mereka menengok kebelakang, mereka justru tertawa karena melihat hasil yang sangat indah dari tangan pelayan itu.
"Hahahaha... lihatah dia! Hahaha.. aku.. tak bisa.. hahaha.. menahan..ini.. hahaha." Ucap Vani disea-sela tawanya saat melihat 3 prajurit yang mengejar mereka tadi terkena lemparan air kotor, telur busuk,dan juga tepun yang tadinya akan dilemparkan para pelayan kepada gerombolan Alexa yang akan kabur tadi.
Tetapi karena mereka menghindar, akibatnya bara prajurit yang kejar mereka pun yang kena.
"Sst.. ayo! Kita harus segera pergi selagi mereka tidak menyadarinya!" Bisik Felix ditengah-tengah tawa mereka yang seketika langsung berhenti saat mendengarnya.
"Kau benar, ayo kak! Dan L bersaudara!" Ucap Vani yang juga mengajak yang lainnya untuk segera pergi.
"L bersaudara?" Tanya Alexa bingung.
"Lexa dan Leo." Ucap Vani dan Felix serempak dan langsung bertos ria akibat ulah mereka.
"Hey! Jangan kabur kalian!" Ucap prajurit yang lainnya saat menyadari jika mereka akan kembali kabur.
"KAMI TAK KABUR KOK PAK! CUMA LARI!" Teriak Alexa kepada orang itu yang langsung membuat teman-temannya tertawa. Sedangkan yang diejekpun kesal dan langsung mengejar mereka bersama teman-temannya.
"Ayo!" Ajak Alexa agar mereka berlari lebih cepat lagi.
"Menunduk!" Pekik Leo tiba-tiba dan langsung diikuti oleh mereka. Dan terulanglah kejadian yang tadi dan membuat yang lain tertawa karenanya.
"Ayo!" Ajak Vani saat yang lain masih sibuk tertawa.
Dan yah, kejadian itu mereka lakukan berulang-ulang kali sampai mereka tiba dipintu belakang. Selain para prajurit sendiri pun ada juga para pelayan yang terkena lemparan sesuatu dari para pelayan lain secara tidak sengaja.
"Sampai juga akhirnya!" Ucap Vani bernafas lega saat mereka telah membuka dan langsung menutup pintu belakang dan menghelakan nafas dengan lega saat dirasanya mereka sudah terhindar dari pengejaran para prajurit lain.
"Em.. Van.. sepertinya kau harus menahan nafas legamu untuk lain waktu." Ucap Felix memberi saran kepada Vani membuatnya kelihatan bingung.
"Why?" Tanya Vani bingung.
"Lihatlah kedepan." Ucap Leo tanpa mengalihkan tatapannya dari depan membuat Vani juga ikut melihat kedepan dan langsung membeku ditempatnya.
"Sial.." umpat Vani kesal saat melihat mereka telah dikepung oleh para prajurit William dan juga William sendiri yang memimpinnya.
"Mau mencoba kabur dariku kah? Teman.." ucap William dengan smrik jahatnya kepada Vani dan Felix yang langsung membuat mereka semua menggeram marah karenanya.
***
"Mau mencoba kabur dariku kah? Teman.." ucap William dengan smrik jahatnya kepada Vani dan Felix yang langsung membuat mereka semua menggeram marah karenanya.
"Kami. Bukan. Temanmu!" Ucap Felix dengan tajam.
"Ohh.. kenapa kalian begini? Kalian tau bukan kalau kalian itu telah menghianatiku!" Ucap William dengan muka sedih yang dibuat-buatnya.
"Menjijikan." Umpat Alexa yang sedari tadi hanya memasang sikap biasa dengan tangan yang dilipatkan didepan dadanya dan menatap William dengan tatapan jijiknya.
"Aw.. kau menyakitiku sweetheart." Ucap William lagi.
"Kau tau sesuatu William?" Tanya Alexa sambil mengubah posisinya menjadi bersandar pada dinding tembok dekat pintu belakang istana.
"What?" Tanya William penasaran.
"Kalau kau itu sangat-sangat menggelikan." Ucap Alexa sambil bergidik geli dan langsung menyerang William dengan sebuah mantra.
"Ck! Mendadak lagi!? Baiklah kalau begitu. SERANG DAN TANGKAP MEREKA!!" Ucap William kesal dan langsung menyuruh prajuritnya untuk menangkap mereka saat itu saja.
Sontak terjadi kembali perang kecil diantara mereka. Dengan sisa-sisa tenaga mereka melawan para prajurit itu sebisa mungkin. Tidak terpungkiri jika pikiran-pikiran negatif sudah menggerogoti mereka mengatakan kalau mereka akan segerah kalah dan tertangkap oleh William. Tetapi dengan sebisa mungkin mereka singkirkan pikiran itu dan berusaha untuk tetap optimis untuk melawan mereka.
Alexa sendiri pun tidak tinggal diam dan segera menyerang mereka dengan berbagai mantra yang dipelajarinya. Kenapa tidak menggunakan power saja? Karna ia memilih untuk menyisakan energinya untuk nanti dan melawan mereka menggunakan mantra.
Bugh
Prank
Ting
Arrgghhh
Ctass
Terdengar berbagai macam bunyi yang diciptakan dari peperangan kecil itu. Peperangan kecil itupun terus berlanjut sampai akhirnya Alexa, Leo, Vani, dan Felix sudah terpojok dan ditahan oleh prajurit William dan membawa mereka kehadapan William yang sedari tadi hanya menonton mereka dari dekat.
"Permisi pangeran. Kami sudah menangkap mereka." Ucap salah satu dari prajurit itu sambil membungkuk terhadap William.
"Bawa mereka kehadapanku sekarang." Ucap William dengan santai.
"Baik pangeran." Ucap Prajurit itu sebelum pergi dan kembali membawa Alexa, Leo, Felix, dan Vani kehadapannya dengan beberapa orang lainnya untuk menahan mereka yang sedang terikat rantai.
"Uluh..uluh.. lihatlah siapa yang tadi meledek dan menantangku tadi! Kasihan sekali kau, sweetheart." Ucap William sambil mencengkram pipi Alexa dan tersenyum menyeringai didepan wajahnya.
"Kau. Kalah. Hahaha." Ucap William penuh penekanan berakhir dengan tawa jahatnya dan langsung menghempaskan muka Alexa dan berdiri dengan angkuhnya didepannya.
"Kau yakin?" Tanya Alexa sambil menunduk dengan suara pelan tetapi masih tetap bisa didengar oleh semuanya.
"Owh! Lihatlah gadis kecil yang pemberani ini! Dalam keadaan kalah pun ia masih menantangku. Hahaha.. dasar jalang!" Ucap William sarkartis sambil menatap Alexa dengan tatapan merendahkan.
"Aku yakin kau akan menarik kata-katamu sebentar lagi." Ucap Alexa yang tiba-tiba mengangkat kepalanya sambil menatap William dengan seringaiannya.
"Heh? Sudah kalah saja tapi masih tidak terima!? Hahaha... menggelikan." Ucap William balik dengan nada mengejeknya.
"Kau salah." Ucap Alexa lagi tanpa menghilangkan seringaiannya.
"Maksudmu?" Tanya William yang mulai jengah dengan keras kepala Alexa.
"Karna yang didepanmu saat ini hanyalah....."
Bugh
Bugh
Plakk
Bugh
Ucap Alexa tiba-tiba terputus dan menghilang dari sana meninggalkan rantai yang jatuh akibat mengikat ruang kosong dan digantikan dengan suara pukulan yang bertubi-tubi.
"Bayanganku." Ucap Alexa lagi yang kini sedang berdiri diatas William sambil menindihnya yang jatuh akibat serangan yang tak terduga dari Alexa yang nyata tadi.
"s**t! Apa yang kalian lihat sekarang!? Cepat serang dia!!" Bentak William dengan kesal pada prajurit yang hanya melihat mereka sedari tadi.
Mendengar itu, Alexa pun kembali menghantam wajah William dengan pukulan bertubi-tubi dan juga serangan diuluh hatinya dan sebuah lemparan mantra yang langsung membuatnya tak sadarkan diri sebelum Alexa sendiri menyerang para prajurit yang mendatanginya dan melemparkannya dengan berbagai serangan.
'Ck! Lama sekali. Apakah kau sudah melakukannya!?' Tanya Alexa melalui telepati kepada seseorang.
'Sedikit lagi! Dan....... ok! Sekarang!' Jawab balik dari orang itu yang langsung memutuskan telepatinya.
Akhirnya! Batin Alexa lega dan segera berlari ke arah yang lebih luas agar para prajurit yang mengejarnya mengikutinya.
"Hey!! Jangan lari!!" Teriak salah satu diantara mereka yang sama sekali tak digubris oleh Alexa.
Saat dirasanya ia sudah berlari cukup jauh dari area sebelumnya. Alexa pun segera berhenti dan membalikan badannya yang langsung membuat para prajurit yang mengejarnya berhenti dan memawang posisi siap menyerang.
"Bye!" Ucap Alexa tiba-tiba saat mereka melancarkan aksinya dan menghilang membuat mereka secara tidak langsung menyerang sesama karena belum siap.
"Sial!!"
***
"Alexa!!" Pekik Vani senang kala Alexa muncul mendadak diadapannya menggunakan teleportasi.
"Maafakan aku, Lex. Maaf." Ucap Vani sambul menubruk Alexa dan memeluknya sambil mengucapkan kata maaf berulang-ulang.
"Sudahlah. Tak apa. Btw kita harus pergi sekarang. Kalau mau minta maafnya lagi, nanti saja. Hurry up! We don't have much time now!" Ucap Leo mengintrupsi saat dilihatnya Felix akan membuka mulutnya.
"C'mon! Go go go!!" Ucap Alexa menyuruh mereka mengikutinya berlari kearah selatan.
"Kita mau kemana?" Tanya Vani ditengah pelarian mereka.
"Hutan selatan." Jawab Alexa tanpa menghentikan langkahnya ataupun menolehkan kepalanya sedikit.
"WHAT!! Tapi itu kan ke arah hutan terlarang!!" Pekik Vani kaget tetapi ia juga tak menghentikan langkahnya.
"Ck! Ikuti saja dan diamlah!" Ucap Leo kesal dan langsung dituruti Vani.
Mereka teru berlari sampai akhirnya Alexa berhenti dan langsung menjatuhkan tubuhnya sambil bersender di salah satu pohon disana.
"Berhenti sebentar!" Ucap Alexa sambil berusaha mengatur nafasnya.
Mendengar itu pun Leo, Vani, dan Felix melakukan hal yang serupa dengan Alexa. Untuk beberapa saat mereka masih duduk untuk mengistirahatkan diri mereka. Sampai tiba-tiba Alexa dan Leo bangkif dari posisi duduknya dan menatap sekitar dengan waspada.
"Kenapa!?" Tanya Felix yang langsung berdiri, begitu juga Vani.
Tanpa menjawab, Alexa segera membuatkan sebuah portal dan langsung menyuruh mereka untuk masuk.
"Cepatlah!" Ucap Alexa kepada Felix dan Vani.
"Tapi kenapa!?" Tanya Vani kepada mereka.
"Ck! Cepat atau kalian akan berakhir sama dengan yang terakhir kalinya!" Ucap Leo dengan nada dinginnya bertanda ia sedang sangat serius.
Mendengar itu pun Vani dan Felix segera masuk kedalam portal tanpa membuka suara sedikitpun.
"Dimana portal ini terhubung?" Tanya Leo sebelum memasuki portalnya.
"Masuk saja! Aku sudah hampir tak kuat lagi!" Ucap Alexa dengan wajah pucatnya.
Melihat itupun, Leo segera menarik tangan Alexa sebelum Alexa kehabisan energi. Dan tepat saat Alexa dan Leo masuk, portal yang dibuat Alexa juga pun tertutup tepat dengan kedatangan para prajurit yang sebelumnya mengejar mereka.
***
Brukk..
"Alexa! Leo! Kalian tak apa!?" Tanya Mrs. Lili kepada kedua muridnya yang terlempar dari portal itu akibat energi Alexa yang mulai menipis.
Ternyata Alexa menghubungkan portal itu kedepan pintu gerbang academy. Dan saat Vani dan Felix keluar pun seluruh warga academy langsung berkumpul disana dan langsung menanyakan keadaan mereka.
"Dek.. bangun! Hey!" Tanpa menjawab pertanyaan Mrs. Lili, Leo berusaha membangunkan adiknya yang sudah pingsan itu.
"Dia pingsan." Ucap Mrs. Riana selaku dokter di academy itu.
"Aku akan bawa dia ke UKS." Ucap Leo dan kemudian menggendonh Alexa dan membawanya ke UKS yang diikuti yang lainnya.
Setelah sampai disana, Mrs. Riana kembali memeriksa keadaan Alexa untuk msngecak kondisi tubuhnya.
"Ia kehilangan banyak energi. Bagaimana bisa ia sampai ia seperti ini?" Tanya Mrs. Riana tak percaya saat diketahuinya energi Alexa tersisa sedikit.
"Ceritanya panjang." Ucap Leo sambil memandang adiknya dengan lesu.
"Maka ceritakanlah. Dan kalian berdua! Saya juga tau kalau kalian masih lemas. Berbaringlah." Ucal Mrs. Lili yang berada disana kepada Vani dan Felix yang langsung dituruti mereka.
"Huft! Baiklah." Ucap Leo dengan lesu.
"Kemana saja kalian selama ini? Dan kenapa saat kalian muncul dengan cara seperti ini?" Tanya Mr. Delius yang sedari tadi hanya menonton saja.
Di ruangan itu sendiripun hanya tersisa mereka ber-7 saja. Karena yang lainnya sudah diusir oleh Mrs. Lili dan Mr. Delius untuk memberikan mereka waktu.
"Selama seminggu ini kami menghilang kerumah nenek untuk berlatih karena kami sudah menduga hal ini akan terjadi." Ucap Leo yang tak sepenuhnya berbohong. Memang benar kan kalau mereka pergi kerumah nenek mereka sebelum kesana?!
"Terus?" Tanya Mrs. Lili sambil bersedekap dada didepannya
"Setelah mendengar kabar kalau Vani dan Felix diculik, kami pun segera merencanakan sesuatu dan melaksanakannya saat tepat dimana 3 hari setelah insiden penyulikan mereka. Kenapa kita tidak melakukannya langsung saja dihari pertama? Karena kita ingin membuat mereka menyadari apa pelajaran yang telah mereka dapat dari perbuatan mereka sebelumnya." Vani dan Felix yang mendengar hal itupun menundukan kepala mereka merasa sangat menyesal sambil menggumamkan kata 'maaf' kepada Leo.
"Tak apa. Sudah berlalu juga." Ucap Leo sambil tersenyum tipis menanggapinya.
"Terus kenapa Alexa bisa kekurangan energi sampai begini? Dan kenapa baju Vani dan Felix seperti itu dan juga keadaan mereka masih memar dan juga penuh dengan luka bekas goresan disana-sini? Ada juga luka yang sepertinya masih baru." Tanya Mrs. Riana secara beruntun.
"Sabarlah Mrs. Akan saya jelaskan sekarang." Ucap Leo sambil menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya secara kasar sebelum melanjutkan ceritanya.
"Alexa menggunakan energinya untuk membuat portal ke dareah Darkness. Melawan beberapa prajurit bersamaku. Memulihkan keadaan Vani, meskipun tidak sepenuhnya ia lakukan untuk menyimpan energinya yang lain. Berlari dari pengejaran, menghindari beberapa gangguan. Menghadapi peperangan kecil yang sangat menyebalkan. Membuat bayangannya sendiri dan melawan William sampai ia pingsan dan juga mengalihkan perhatian para prajurit. Teleportasi. Berlari bersama ke tengah hutan untuk menghindari pengejaran lagi. Dan membuatkan portal menuju kesini." Ucap Leo panjang lebar membuat mereka menatap tak percaya ke arah Alexa dan juga Leo secara bergantian.
"Astaga! Pantas saja." Gumam Mr. Delius sambil menggelengkan kepalanya tak percaya.
Vani dan Felix pun juga menatap Alexa dengan tatapan tak percaya mereka dan juga berbagai kata maaf yang dilontaran mereka untuknya dalam hati berkali-kali.
"Sudahlah! Tak usah dipikirkan! Mendingan kalian istirahat. Aku juga akan tidur sebentar. Ukh! Cukup banyak energi yang ku keluarkan hari ini!" Ucap Leo sambil berdiri dan menuju kasur disebelah Alexa untuk ditidurnya.
"Ckckck! Ada-ada saja kalian ini!" Ucap Mrs. Riana yang masih didengar Leo sebelum ia berlayar ke alam mimpinya.
***