BAB III

5144 Words
Waktu terus berlalu. Dan tak terasa kalau pagi telah tiba. Terlihat di sebuah kamar asrama ada seorang gadis yang sudah siap pagi ini dengan seragam yang sudah melekat pas di tubuhnya itu sedang berkutat dengan alat alat dapur. Ya, gadis itu adalah Alexa. Sekarang ia sedang membuat sarapan pagi untuknya dan Vani. Menunya kali ini hanyalah nasi goreng saja karna ia sedang malas untuk memasak yang lain. Sementara Alexa sedang memasak, Vani masih tiduran di kasurnya itu. Tetapi ia tiba tiba terbangun saat ia mencium bau yang sangat sedap dari arah dapur. Ia pun segera bangkit dari tidurnya dan langsung berjalan keluar tanpa mencuci muka atau sikat gigi terlebih dahulu, layaknya anak kecil yang terbangun saat mencium masakan mamanya yang menggugah selera. Vani berjalan ke arah dapur dengan setengah sadar dan memanfaatkan indra penciumannya saja sebagai petunjuk arah, sehingga membuatnya beberapa kali menabrak tembok atau sesuati yang tak di lihatnya. Sampai akhirnya ia sampai di dapur dan langsung duduk dengan mata berbinar binar dan di kedua tangannya terdapat sendok dan garpu. Layaknya anak kecil yang siap untuk memakan makanan kesukaannnya. Saat Alexa ingin meletakkan 2 porsi piring nasi goreng dengan telur mata sapi dan tambahan toping mentimun dan tomat untuk mempercantik masakannya itu ke atas meja, ia terkejut dengan kehadiran sosok gadis dengan mata yang berbinar binar dan kedua tangan yang menggenggam sendok dan garpu. Terlihat juga kalau ia belum mencuci muka dan sikat gigi sehingga menampakkan muka bantalnya itu. Alexa pun hanya menghela nafas dan menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah laku sahabat barunya itu. Setelah meletakannya di atas meja, Vani langsung melahapnya. Tapi dengan gerakan yang sangat cepat, Lexa memukul tangan Vani menggunakan sendok yang di pegangnya, sehingga membuat Vani mengaduh kesakitan. "Aww.. Ada apa denganmu, Lex? Sakit tahu!" ucapnya sambil mengusap tangannya yang di pukul dan memasang muka merajuk pada Alexa. Alexa tidak ambil pusing dan langsung bicara pada Vani. "Cuci muka, sikat gigi, mandi dan bersiaplah. Sekarang sudah pukul 06.20. Kau tidak mau terlambat kan? Setelah selesai bersiap baru kau boleh makan. Tapi kalau kau tidak mau bersiap, aku akan memakan jatah sarapanmu itu dan tidak akan pernah membutkan sarapan untukmu lagi. Akan ku tunggu kau sampai selesai bersiap, kemudian kita sarapan bersama. Cepatlah" ucap Alexa panjang lebar layaknya ibu ibu yang sedang menasehati anaknya. Vani sampai melongo mendengar ucapan terpanjang Alexa serta gaya bicaranya itu yang seperti ibu ibu. Tapi ia tetap melaksanakan apa yang di perintahkan oleh Alexa dan segera berlari cepat ke arah kamarnya agar ia bisa dengan cepat merasakan masakan Alexa itu yang sangat menggugah selera. Setelah 20 menit menunggu, akhirinya Vani keluar dengan seragam yang sudah melekat pas di tubuhnya. Dan jangan lupakan tas ransel yang dijinjingnya, serta kaus kaki semata kaki agar ia tinggal memakai sepatu saja nanti. Dengan gerakan cepat, ia membuang tasnya ke salah satu kursi yang kosong dan duduk di depan Alexa yang sedang menatapnya datar sedari ia keluar kamar tadi. “Selamat makan!" Ucap Vani semangat yang hanya di angguki oleh Lexa. Kemudian mereka memulai sarapan paginya. "Asdfghjk" ucap Vani tak jelas karna mulut yang penuh dengan makanan. "Jangan berbicara saat sedang makan. Nanti kau tersedak. Saat selesai makan nanti baru boleh bicara" perintah Alexa kepada Vani yang di angguki semangat oleh Vani karna mulutnya masih penuh dengan makanan yang di sendoknya terus menerus. Setelah selesai makan dan meminum susu yang juga di buat oleh Lexa,Vani segera mengucapkan kembali kata yang di ucapnya dengan semangat. "Masakanmu enak Sekali, Lex! Rasanya seperti aku sedang memakan makanan di Hotel berbintang 5!" Ucap Vani antusias dengan mata yang berbinar. Alexa yang mendengarnya hanya tersenyum tipis. Kemudian ia berucap "Sudahlah, cepat pakai sepatumu baru kita jalan. Nanti kita akan terlambat!" ucap Lexa seraya memakai sepatunya dI Ikuti Vani juga. Setelah selesai, mereka segera keluar dari kamar asrama dan mengunci pintunya sebelum pergi ke kelas. *** Saat perjalanan menuju kelas, mereka kembali menjadi pusat perhatian oleh seluruh murid-murid yang sedang melintas koridor dan berpapasan dengan mereka sambil melihat mereka dengan tatapan kagum seolah merasa tak cukup bosan untuk memperhatikan wajah cantik mereka. Visual keduanya memang terlihat sangat memukau. Vani dengan rambut coklat panjang yang ia gerai, dan juga mata coklat besarnya itu membuatnya sangat menggemaskan. Meskipun hal itu sangat bertolak belakang dngan sikapnya yang terkesan galak dan ketus denan orang asing. Sedangkan Alexa dengan mata coklatnya dan juga rambut silver panjang gelombangny yang membuatnya terlihat lebih menonjol dari yang seluruh murid di academy ini. Apa lagi sikap dingin dan misteriusnya itu mnjadi poin tambahnya yang membuat seluruh warga academy merasa tertarik dan penasaran secara bersamaan kepadanya. Para warga academy sendiri pun tak dapat mendeskripsikan sendiri akan kecantikan yang dimiliki mereka mereka berdua. Hanya melihat dan mengagumi juga menilai dan menkritik merka dari belakang sajalah yang selalu mereka lakukan diam-diam. *** 15 menit telah mereka habiskan untuk berjaan dan akhirnya mereka pun telah sampai di kelas mereka. Dengan segera merekabsera mengambil tempat duduk pada salah dua bangku yang tersedia disana. Vani yang menyadari kalau dari tadi Alexa ada si sampingnya segera bertanya. "Kamu di kelas 1A juga ya Lex?" Tanya Vani kepada Alexa yang hanya di angguki oleh Lexa. "Oh.. begitu. Kalau begitu kamu duduk sama aku ya. Kebetulan aku duduk sendirian. Boleh kan!?" Tanya Vani kepada Alexa dan di angguki Alexa sambil berucap. "Tapi aku di bagian ujung." ucap Alexa yang di angguki oleh Vani kembali. Tak lama kemudian, bel masuk berbunyi, menandakan kalau pelajaran akan segera dimulai. Terlihat seorang guru masuk ke dalam kelas dan membuat kelas ini menjadi hening seketika. "Itu Mr. Delius, guru terkiler ke - 3 di acadmy ini" bisik Vani pelan saat Mr. Delius masuk ke dalam kelasnya. Killer katanya? Batin Alexa tak habis pikir sama ucapan Vani barusan. "Oke anak anak. Saya rasa ada murid baru disini, jadi silahkan maju ke depan dan perkenalkanlah dirimu." Ucap Mr. Delius datar. Alexa pun hanya berdecak kesal dan berdiri dari duduknya dan membatin. Ia tau kalau guru itu sedang mengaktifkan kekuatan membaca pikirannya. Terbukti saat ia membatin tadi saat mendengar informasi dari Vani, Mr. Delius langsung menatapnya tajam dan sinis. Tak mau kalah, Alexa pun membalas tatapan itu dengan tatapan yang tak kalah tajam sehingga membuat Mr. Delius mengalihkan pandangan ke arah murid lain dan memintaku untuk memperkenalkan diri ke depan. Dasar kakek tua, sudah tau namaku saja berlagak seolah-olah ia tak mengenalku begitu? Apa lagi tadi kata Vani jika ia adalah guru terkiller ke - 3 di academy ini? Killer darimananya? Batin Lexa sengaja untuk membuat Mr. Delius marah. Dan berhasil! Muka Mr. Delius memerah, menandakan kalau ia sedang marah. Kemudian ia membuang nafasnya kasar dan memijit pelipisnya saat tau kalau Alexa sedang memancingnya. Alexa yang melihatnya hanya menyeringai kecil dan berdiri di samping Mr. Leo dan menyuruhnya untuk memperkenalkan diri. Tetapi Alexa tak berucap apapun sehingga membuat satu kelas bingung. "Huft! Oke. Namanya adalah Alexa Angeline Witz. Kalian bisa memanggilnya Alexa. Dia pindahan dari Dimensi manusia." Bukannya Alexa yang seharusnya memperkenalkan dirinya sendri, melainkan Mr. Delius yang memperkenalkan dirinya. Itu berhasil membuat satu kelas melongo tak percaya. Pasalnya, ini pertama kali ada murid yang bisa membuat Mr. Delius seperti ini. Apa lagi kalau murid baru itu adalah seorang gadis. Para murid laki laki pun semakin berpikir 2x untuk mendekatinya. Sedangkan yang perempuan? Jangan di tanyakan lagi. Mereka sudah ketakutan saat melihat wajah Alexa. Apa lagi dengan tatapan matanya yang seolah olah ingin menguliti orang yang dilihatnnya itu hidup hidup? "Baik anak anak, sekarang kita akan belajar tentang teknik dasar mengendalikan sihir yang ada pada diri kalian. Bagi yang merasa belum mengetahui sihirnya silahkan maju ke depan" ucap Mr. Delius kepada murid muridnya. Alexa yang merasa belum mengetahui apa kemampuan sihirnya pun segera maju ke depan dan membuat dirinya kembali menjadi pusat perhatian. Karna hanya ia sendirilah murid yang belum mengetahui sihirnya. "Baiklah Alexa, letakkan tanganmu di sini, nanti hologram ini akan memberitahukan sihir apa sajakah yang kau miliki." Ucap Mr. Delius sambil memberikan semacam alat penditeksi sidik jari dan sebuah hologram besar di dipannya. Alexa pun hanya mengangguk dan mengikuti seperti apa yang di perintah oleh Mr. Delius tadi. Setelah meletakkan tangannya ke alat itu, hologram yang ada di depannya masih tidak menunjukan apa kekuatan yang ia miliki. Sampai akhirnya salah seorang murid mengejeknya. "Hei lihat! Si ratu es tidak mempunyai kekuatan seperti kita. Hahahaha" ucapnya mengejek yang membuat satu kelas tertawa. Kecuali Alexa, Vani, dan Mr. Delius tentunya. Sampai saat Alexa baru saja akan menarik tangannya dari sana, tiba-tiba hologram yang dikeluarkan dari alat itu bercahaya sangat terang sehingga membuat murid-murid yang sedang tertawa menghentikan tawa mereka dan melihat ke sumber cahaya itu. Mereka kembali di buat melongo tak percaya saat membaca tulisan-tulisan yang tertera pada hologram itu. Bahkan murid yang sebelumnya mengejek dn menghina dirinya tadi sudah ketakutan dan keringat dingin di tempatnya saat mengetahui kekuatan Alexa. Power utama : Mengendalikan darah, Mengendalikan cuaca, Menghancurkan Element : Larva, Es, dan Crystal Kekuatan tambahan : Memperbaiki, Mindreader, Invisible, Teleport, Healer, Membuat portal, membaca gerakan lawan, melihat dalam gelap, Melihat aura, dan Wings. Aura : Emas Ras : Campuran Begitulah kata yang tertera pada hologram tersebut. Bahkan Mr. Delius juga ikutan melongo tak percaya dengan apa yang ia lihat. Dan setahunya, semua Power Untama yang dimiliki oleh Alexa baru 3 orang yang memilikinya, termasuk kakaknya. Itupun masing masing hanya memiliki salah satu dari ketiga Power tersebut. Dan Alexa memiliki ke - 3 Power tersebut secara bersamaan!? Luar biasa. Dan Elementnya lagi, Larva dan Es adalah hal yang sangat bertolak belakang. Apa lagi Element Crystal hanya di miliki oleh 1 orang di dunia ini yang merupakan salah satu orang penting yang mendirikan dimensi ini sebelumnya. Dan Alexa adalah orang ke - 2 yang memilikinya!!. Wow! Itu sangat luar biasa. Ia harus segera melatih Alexa agar ia bisa mengendalikan seluruh kekuatannya itu. Lamunan semua orang yang ada di dalam ruangan itu buyar seketika karna mendengar deheman yang keras dari Alexa yang menatap mereka semua dengan tajam. Hal itu membuat mereka merinding sendiri melihatnya. Tett... teettt... "O..oke.. a.. anak anak. Ekhem! Kalian boleh istirahat. Dan saya minta agar kalian untu sementar ini jangan dulu membocorkan hal ini pada kelas-kelas lainnya. Hal ini dilakukan agar tidak menimbulkan masalah nantinya. Paham!?" ucap dan tanya Mr. Delius pada murid muridnya. "Paham Mr!!" Ucap mereka serempak. Kecuali Alexa tentunya. "Baiklah. Kalian boleh keluar. Dan untuk Alexa! Setiap sabtu pukul 4 sore, datanglah ke ruangan saya. Mengerti!?" Tanya Mr. Delius pada Alexa. Yang tentunya hanya di bahas anggukan olehnya. Kemudian ia keluar dari kelas bersama Vani menuju ke kantin. Sesampainya di kantin, mereka segera menuju kemeja makan Leo dkk. Setelah sampai di sana keadaan hening. Tak seperti biasanya Vani diam saja batin mereka penasaran. Setelah selesai makan, Farel berusaha mencoba memecahkan keheningan ini. "Ekhem, ada apa Van? Tidak seperti biasanya kau diam begini?" Tanya Farel yang di angguki oleh yang lain. Kecuali Alexa. "A.. aku.. h.. hanya.. k.. kaget" ucap Vani terbata bata karna ia masih sangat syok saat di kelas tadi. "Kaget kenapa?" Tanya Felix bingun kepada adiknya. Vani pun hanya melirik Alexa yang ada di sampingnya. Alexa hanya menghela nafasnya saja saat di tatap oleh semua orang yang ada di meja itu. "Hahh... taman belakang, sekarang" ucap Alexa sambil berdiri dan diikuti oleh yang lainnya. Sesampainya di taman, mereka duduk kembali di bawah pohon rindang yang menjadi tempat nongkrong mereka kemarin. "Ada apa dek? Kenapa Vani sampe syok begitu?" Tanya Leo pada Alexa, yang di angguki oleh ketiga sahabatnya yang lain. "Huft! Dia kaget saat melihat data kekuatanku saat di kelas tadi" jawab Alexa datar sembil bersandar pada bahu kakaknya den memejamkan matanya. "Emang kenapa sama kekuatanmu?" Tanya Kevin penasaran. "Kekutan Utamaku Mengendalikan darah, Menghancurkan, dan mengendalikan cuaca. Elementku adalah Larva, Es, dan Crystal. Kekuatan tambahan Memperbaiki, Healer, Mindreader, Teleport, Membuat portal, Membaca gerakan lawan, Melihat dalam gelap, Melihat aura, Invisible, dan Wings. Serta aura yang ku miliki adalah Emas." Jawab Alexa panjang lebar yang sontak membuat mereka semua yang ada di sana terkejut. Untungnya di taman belakang hanya mereka bertiga saja, karna murid lain tidak ingin pergi kesini karna tempatnya terpencil. Dan juga untungnya jam istirahat mereka adalah 1 jam. Dan masih ada 25 menit lagi untuk masuk kembali. "B.. ba.. bagai.. m..mana, b..bis..a?" Ucap Farel terbata bata. Bahkan Kevin sudah memucat karna terkejut, Felix membeku di tempatnya begitu juga dengan Leo. Sedangkan Vani masih dalam keadaan yang syok di tempatnya. *** Sudah 3 menit berlalu dan mereka masih terkejut mendengar pernyataan Alexa tadi. Sampai beberapa menit kemudian, Felix pun memecahkan suasana. "Wow! I.. itu keren Lex" puji Felix pada Alexa. Meskipun ia masih sedikit kaget. "Ya! itu sangat keren. Apa lagi kau orang pertama yang mempuanyai 3 kekuatan yang kuat sekaligus. Bahkan 2 kekuatan diantaranya termasuk kekuatan yang sangat langka! Hanya 3 orang saja yang baru mempunyai kekuatan tersebut. Itu pun salah satu dari mereka adalah kakakmu sendiri." Ucap Farel Kepada Lexa. Alexa yang mendengar itu hanya menoleh ke arah Leo dan menaikan sebelah alisnya. Leo yang mengerti kode tersebut pun hanya mengangguk dan menjelaskannya. "Yang di katakan Farel memang benar. Aku mempunyai salah satu Power yang sama sepertimu. Tapi aku hanya memiliki 2 Power. Itu pun sudah termasuk kuat diantara lainnya. Karna rata rata murid di sini hanya mempunyai 1 Power saja. Termasuk mereka. Dan Powerku adalah mengendalikan darah dan menjinakan hewan" jelas Leo. "Ajari" pinta Lexa kepada Leo. "Huft! Baiklah. Kalian minggirlah. Dan carikan kami 2 ekor kelinci." Pinta Leo kepada taman temannya. Dalam hitungan detik, Kevin dan Farel telah membawa seperti apa yang di pinta oleh Leo dan meletakkannya di depan mereka. "Fokuskanlah kekuatanmu, usahakan jangan mengaktifkan kekuatan penghancurmu. Agar itu terjadi. Kemudian kendalikan darahnya berdasarkan pikiranmu. Seperti ini" Perintah Leo kepada Alexa dan mempraktikannya. Awalnya Leo hanya melihat salah satu kelinci itu di sana dengan teliti. Kemudian ia memejamkan matanya agak lama dan membuka matanya kembali. Saat ia membuka matanya, terlihat matanya telah berubah warna menjadi warna merah, semerah darah. kemudian ia mengangkat tangannya ke arah kelinci tersebut dan menggerak gerakan tangannya, salah satu kelinci yang menjadi objeknya pun terlihat bergerak sesuai gerakan tangan dan jari dari Leo. Tiba-tiba Leo mengentikan pergerakan tangannya dan mengepalkan tangannya sendiri. Tampak kelinci itu sedang menahan kesakitan sambil mengeluarkan suara-suara yang tidak terlalu jelas. Tetapi tak lama kemudian, ia melepaskan kembali kepalan tangannya dan menurunkan kembali tangannya. Tampak ia memejamkan matanya lagi untuk beberapa saat dan membukanya kembali sehingga warna matanya telah kembali seperti semula. Alexa melihat semua pergerakan Leo sampai akhir. Kemudian ia tampak mencerna semuanya selama beberapa menit dan akhirnya mengerti. Leo pun segera meminta Alexa mempraktekannya kembali dan ia duduk di sebelah teman teman yang sedang menonton mereka sedari tadi. Alexa hanya mengangguk sebagai jawaban dan melihat kedua kelinci itu secara bergantian secara teliti. Kemudian ia mengedipkan matanya dan dengan 5x kedipan mata Alexa sudah berubah menjadi warna merah semerah darah. percaya sekaligus kagum dengan Alexa. Bagaimana tidak? Leo saja perlu membutuh kan waktu selama seminggu untuk merubah warna matanya menjadi merah agar bisa menggunakan kekuatannya. Itupun dengan berkali kali latihan. Bahkan sampai sekarang pun ia masih harus memejamkan matanya agak lama agar konsentrasinya berhasil. Sedankan Lexa hanya dengan melihatnya 5x, ia sudah bisa melakukannya hanya dengan 5x kedipan mata. Wow! Kemudian terlihat Alexa yang mulai mengangkat tangan kanannya ke arah salah satu kelinci disana dan menggerakan tangannya sesuai keinginannya. Kelinci itu pun bergerak mengikuti gerakan tangannya Alexa. Kemudian Alexa mengankat lagi tangan kirinya ke arah kelinci yang satunya dan melakukan hal serupa dengan kelinci yang satunya. Kelinci itu juga bergerak sesuai gerakan tangan Alexa. Alexa pun menggerakan kedua tangannya dengan gerakan acak. Kedua kelinci tersebut bergerak sesuai dengan gerakan tangan Alexa, Alexa menggerakkan tangannya dan membuat pergerakan kelinci tersebut seolah olah sedang melakukan drama. Tetapi di tengah tengah drama yang di lakukan kelinci tiba tiba kelinci itu kejang kejang kesakitan karna tiba tiba Alexa mengepalkan tangannya. Leo dkk semakin melongo tak percaya. Leo saja yang sudah berada di tingkat 3 masih belum bisa mengendalikan darah lawanmya lebih dari dari 1 dengan latihan yang berulang ulang kali. Sedangkan Alexa? Ia masih berada di tingkat pertama dan sudah bisa melakukannya dengan 2 lawan yang menjadi objeknya sekaligus hanya dengan 1x latihan. Setelah puas dengan 'main main'nya, Alexa segera menurunkan tangannya kembali. Ia pun mempunyai ide untuk mencoba menguji kekuatannya yang lain. Ia kembali memfokuskan dirinya ke salah satu pohon besar yang ada di sana, kemudian ia mengangkat tangannya dan mengepalkan tangannya secara mendadak sehingga membuat pohon tersebut menjadi hancur seketika dan membuat ledakan kecil disana. Kemudian ia memfokuskan kembali dirinya untuk memperbaiki kerusakan yang telah ia buat. Ia melambai kearah pohon itu dan membuat pohon yang tadinya hancur berkeping keping menjadi seperti semula hanya dengan kedipan mata. Kemudian ia memfokuskan kembali pikirannya. Ia memikirkan akan pergi ke sisi taman yang lain dan mengeluarkan Element Crystalnya. Ia pun melakukannya, dan.... berhasil! Ya! Alexa berhasil melakukannya. Kemudian ia memfokuskan lagi dirinya dan membayangkan kalau ada badai yang sedang menerjang. Dan terjadilah! Sebuah badai yang sangat dasyat menerjang tempat mereka sekarang, sehingga mengahruskan Leo dkk melindungi diri dari badai tersebut. Alexa yang melihat mereka kesulitan untuk melindungi diri dari badai pun mencoba membantu dengan membuat tameng es dan crystal untuk mereka. Setelah puas dengan badai, iakembali menghentikan badai itu dan mencoba untuk mengeluarkan larva dari dalam bumi. Teman temannya pun sudah tidak dalam keadaan di dalam tameng lagi karna Alexa telah menghilangkan tameng tersebut. Tiba tiba tanah betgetar hebat dan membuat mereka panik. Tak lama kemudian, keluarlah larva dari dalam taman layaknya air mancur. Alexa dengan santai tapi tetap fokus mengendalikan larva itu agar tak membahayakan orang orang yang ada di taman itu. Setelah beberapa saat mengendalikannya, ia mengembalikan larva itu ke perut bumi dan menatap mereka yang sedang menatap Alexa melongo tak percaya. Prok.. prok.. prok Terdengar tepuk tangan riuh dari arah belakang mereka. Mereka pun segera membalikkan badannya dan terkejut karna semua penghuni academy sedan berada di sana. Mulai dari murid kelas 1 - 4, dan juga para guru dan juga kepala sekolah. Mereka kagum sekaligus tak percaya dengan apa yang mereka liat sendiri tadi. "B.. ba.. bagaiman bisa kalian ada di sini?" Tanya Vani bingung. "Kami ke sini setelah mendengarkan ledakan kecil dari arah taman belakang. Kami pikir itu musuh, jadi kami langsung berlari ke sini" jawab sala satu siswa senior disana yang di angguki oleh seluruh siswa dan guru yang lain, termasuk kepala sekola itu sendiri. "Wow Alexa. Saya terkejut sekaligus kagum kepada dirimu. Hanya dengan 1x latihan kau sudah bisa mengendalikan kekuatanmu? Apa lagi saat pengendalian cuaca. Kau seperti sudah menguasainya dengan sangat baik. Saya bangga kepadamu nak." Ucap Mrs. Lili bangga kepada Alexa. apakah kau sudah bisa mengendalikannya?" Tanya Mr. Delius sontak membuat semua yang ada di sana terkejut. Kecuali teman sekelas Alexa sendiri dan juga Leo dkk. "Apa!? Bagaimana mungkin?" Kaget yang lain tetapi tidak dari Mr. Delius dan Alexa dkk. "Sudah Mr. Dia sudah bisa melakukannya" bukannya Alexa yang menjawab, Farel lah yang menjawab pertanyaan Mr. Delius tadi. "Kalu begitu tunjukanlah" pinta Mrs. Lili kepada Alexa dan hanya menganggukan kepalnya. Alexa hanya menaikan sebelah alisnya kepada mereka semua. Mereka pun tidak mengerti dengan maksudnya Alexa. Sampai saat Leo bilang sesuatu kepada mereka, mereka pun menganggukan kepalanya mengerti. "Maksud Alexa, siapa yang akan menjadi sukarelawannya" ucap Leo malas. Mereka yang mendengarnya pun hanya mengangguk. Kemudian Mrs. Lili memunculkan 2 ekor kelinci di depan Alexa. Alexa pun hanya melihat mereka berapa saat dan mengedipkan matanya yang otomatis mengubah warna matanya menjadi merah semerah darah dan melakukan hal serupa seperti yang tadi dilakukannya. Sontak yang melihat itu semua takjub melihat kehebatan Alexa yang hanya dengan beberapa kali kedipan mata ia berhasil merubah warna matanya dan mengendalikan 2 kelinci itu sekaligus. Mereka tahu kalau sang pengendali darah 1 adalah kakaknya sendiri yaitu Leo masih belum bisa terlalu mengusai kekuatannya. Sedangkan Alexa terlihat sudah bisa menguasainya dengan baik. Mereka kembali bertepuk tangan dengan meriah setelah melihat Alexa selesai melakukan aksinya. "Wow! Kau sangat hebat Alexa. Mulai sekarang kau berada sekelas dengan kakakmu. Tak apa kan Leo?" Ucap dan tanya Mrs. Lili kepada Leo. Leo yang di tanya begitu pun hanya menganggukan kepalanya dan berucap. "Boleh Mrs. Malahan saya akan sangat senang bisa sekelas dengan adik saya agar saya dapat lebih mudah menjaganya" ucap Leo sambil tersenyum tipis kepada Mrs. Lili. Hal itu sontak membuat para kaum hawa yang juga berada di sana terpekik tertahan karna senyuman Leo. Menurut mereka itu adalah kejadian yang langka karna Leo tipekal orang yang jarang tersenyum. Mrs. Lili juga awalanya tertegun dengan senyuman Leo, tetapi kemudian di sadar kembali saat mendengar deheman Alexa. "Ekhem" dehem Alexa sambil mengeluarkan auranya sedikit membuat semua orang yang ada di sana menjadi terdiam dan merasakan hawa yang mencekam dari sekitarnya. Mr. Delius yang sadar akan aura yang di keluarkan itu dari Alexa hanya melongo tak percaya tetapi kemudian ia sadar dan menyuruh semuanya kembali. "E.. eh.. b.. baik semua. Ekhem! Kembali ke asrama masing-masing. Termasuk kalian juga!" Perintah Mr. Delius kepada mereka semua yang ada di sana. Mereka pun bubar dari tempat itu dan kembali ke asrama masing masing. Termasuk para guru dan Leo dkk. *** Pagi hari telah tiba, membuat mereka kembali bersekolah di pagi hari ini. Begitu pula dengan Alexa dan Vani, terlihat mereka sedang sarapan pagi bersama di dapur asrama mereka. Setelah selesai makan, mereka segera memakai sepatu dan pergi keluar asrama menuju ke kelas masing masing. Saat sampai di gedung utama, mereka berpisah karna arah menuju kelas yang berbeda. Alexa tetap berjalan dengan wajah datar dan dinginnya di sepanjang jalan. Membuat mereka yang melihatnya mengurungkan niatnya untuk mendekati atau hanya sekedar menyapanya. Sesampainya di kelas, Alexa segera mengambil tempat duduk yang berada di pojok belakang. Setelag duduk, Alexa segera mengeluarkan headset dan memakainya. Kemudian ia menopang dagunya dengan tangan kanannya ke arah jendela sambil melihat pemandangan. Di tengah tengah kegiatan melamunnya, tiba tiba Alexa melihat sebuah bayangan hitam seperti sedang mengawasinya di antara pepohonan yang rindang. Ia pun mempertajam matanya dan berdiri tiba tiba dari bangkunya kemudian berlari dari sana dengan kecepatan penuh. Bahkan ia terlihat melesat dari bangkunya. Sontak apa yang di lakukan oleh Alexa pun menimbulkan tanda tanya dari mereka semua yang melihatnya. Termasuk Leo yang sudah duduk di sampingnya sedari tadi dan juga guru yang baru masuk ke kelas itu. Mereka kembali melihat ke arah jendela saat salah satu murid di sana memberi tahukan kalau Alexa sedang ada di lapangan bawah. "Hey lihat! Itu bukannya gadis yang berlari tadi kan?" Ucap salah satu murid disana mengalihkan pandangan mereka ke arah jendela. Sontak seluruh orang yang ada di sana mengalihkan perhatian mereka ke arah yang di maksud murid tadi. Terlihat Alexa yang sedang berhadapan dengan seseorang yang berpakaian serba hitam di sana. Sontak semua orang terkejut saat mengetahui kalau orang itu adalah salah satu dari pihak Darkness. Sementara itu, Alexa sedang berhadapan dengan orang tersebut di lapangan. "Siapa kau?" Tanya Alexa dingin kepada orang tersebut. "Heh! Pintar juga kau anak kecil. Padahal aku sudah menyamarkan Auraku tetapi kau bisa menemukanku?" Bukannya menjawab, ia malah bertanya balik kepada Alexa. Alexa yang mendengar hal tersebut hanya berdecak kesal dan menatap tajam ke arah orang tersebut. "Okok.. Perkenalkan, Aku adalah Michell Jordan. Aku adalah salah satu tangan kanan dari Raja Ronald dari Kerajaan Darkness. Jadi, siapa kah namamu nona manis?" Jawab dan tanya Michell pada Alexa. Bukannya mendapat jawaban dari pertanyaannya, melainkan ia mendapatkan serangan mendadak dari Alexa. Mau tak mau, ia harus melawan balik Alexa. Michell menyerang Alexa dengan ganas, tetapi Alexa menanggapinya dengan santai. Sampai saat ia menemukan titik buta dari Michell, ia langsung menyerangnya lebih serius dari sebelumnya sehingga membuat Michell kaget dan lengah. Hal itu di manfaatkan oleh Alexa dan langsung menyerangnya ke arah titik butanya, dan mengunci semua pergerakan Michell. "Teman atau Musuh?" Tanya Alexa datar kepada Michell. "Teman? Tentu saja aku adalah musuh kalian! Tidak sudi aku berteman dengan kaum rendahan seperti kalian! Cih!" Ucap Michell kepada Alexa dengan nada yang sarkastik. Tentu saja hal ini membuat Alexa murka dan mencoba untuk membunuh Michel dengan kekuatannya. Di mulai dari ia mengeluarkan elemen esnya dan menyerang Michell yang langsung di tankisnya dengan elemen tanah miliknya. "Oh.. jadi kau mempunyai elemen tanah ya? Mari kita liat seberapa jauh dan kuatnya kau melawanku." Ucap Alexa dengan seringaian kecil di bibirnya. "Aku tak akan kalah!" Tegas Michell yang terdengar seperti mencoba untuk meyakinkan dirinya sendiri. Michell pun berusaha menyerang Alexa dengan seluruh kemampuan yang ia miliki. Mulai dari mengeluarkan element tumbuhannya dan mencoba untuk menjerat tubuh Alexa dengan tumbuhan beracun yang ia buat. Alexa yang menyadari akan hal itu langsung saja melompat dan berteleportasi ke hadapan Michell dan langsung memukul mukanya dengan karas berkali-kali. Setelah itu ia mengangkat tangannya ke hadapan Michell dan mengunci seluruh aliran darahnya, sehingga Michell tak dapat bergerak sama sekali dan menjerit kesakitan. Langkah terakhir yang Alexa lakukan adalah menusuk dada kiri Michell menggunakan element crystallnya yang rincing dan tajam tepat pada jantungnya dan menghempaskan Michell ke tanah sehingga darahnya mengalir deras ke tanah. Melihat tubuh Michell yang sudah tergeletak tak berdaya seperti itu membuat Alexa datang mendekati tubuh Michell yang masih terbaring penuh dengan lumuran darahnya. "Sayang sekali kau harus pergi hari ini." Ucap Alexa dengan nada sedih yng dibuat-buatnya. "R..raja..ku a..kan mem..ba..las uhuk..uhuk mu! ARGHK!" Gumamnya tidak jelas sambil terbatuk-batuk mengeluarkan darah sebelum diakhiri dengan pekikan keras tanda kesakitan saat Alexa kembali menghujamkan tusukan dari tongkat Crystall runcingnya ke tubuh Michell sehingga menimbulkan luka menganga di berbagai daerah tubuhnya sebelum jiwanya meninggalkan raganya untuk selama-lamanya. "Lemah." Ejek Alex pada jasad Michel dan memutar-mutar tongkat runcingnya yang masih tertancap pada tubuh Michell sebelum ia menghilangkan tongkat itu dan mulai berdiri sambil menepuk-nepuk tangannya seolah-olah ia baru saja memegang suatu benda yang berdebu. Seluruh warga academy yang melihat kejadian itu sontak saa membuat murid murid academy yang melihatnya bergidik ngeri dan melongo tak percaya dengan apa yang di lakukan oleh Alexa. Alexa yang melihat badanya kotor penuh dengan cipratan darah pun membersihkannya menggunakan element es nya dan kemudian ia kembali ke kelasnya menggunakan kekuatan Teleportnya. Sesampainya di kelas, mereka kaget dengan kedatangan Alexa yang tiba tiba sudah berada di bangkunya dengan keadaan yang sudah bersih sedang melihat ke arah mereka semua. Mereka tertegun dengan kehebatan yang dimiliki oleh Alexa sampai akhirnya Alexa berdehem cukup keras dan menyadarkan mereka semua. "Wow! Kau hebat sekali Lexa! Kau bisa dengan mudah membunuh salah satu tangan kanan raja Ronald! Padahal semua tangan kanan Raja Ronald termasuk golongan orang yang kuat dan setara dengan para Master di sini. Dan kau? Ya tuhan! Kau sungguh hebat Lex!" Ucap guru itu bangga kepada Alexa dan di angguki semua murid yang ada di sana. "Kakak bangga punya adik seperti kamu Lex" ucap Leo kepada Alexa dan mengecup pipi Alexa. Sontak hal itu membuat para kaum hawa menjerit tertahan dengan perlakuan manis Leo terhadap Alexa sehingga membuat telinga Alexa menjadi sakit. "Diam!" Ucap Alexa dengan aura mengintimidasi semua orang yang berada di sana sehingga semua orang yang ada di sana diam merasa takut dengan aura yang di keluarkan oleh Alexa. "O.. oke anak anak, hari ini kita akan mempelajari pelajaran Fisika. Untuk Alexa, perkenalkan nama saya adalah Mr. Kenant Forgus, kau bisa memanggil saha Mr. Forgus, saya di sini sebagai guru di bidang Fisika. Silahkan perkenalkan dirimu di depan, pasti di sini masih banyak yang belum mengetahui namamu. Right!?" Ucap dan tanya Mr. Forgus yang di angguki oleh semua murid yang belum mengetahui nama Alexa. Alexa pun hanya mendengus kesal dan maju ke depan. "Alexa Angeline Witz, adik Leo" ucap Alexa singkat, padat, dan jelas kepada semua orang yang ada di sana dan kembali ke tempat duduknya tanpa di minta terlebih dahulu. "Ow, oke. Ekhem. Oke anak anak, hari ini kita akan mempelajari bla.. bla... bla...." ucap Mr. Forgus memulai pelajaran hari ini. *** "Mau pesan apa?" Tanya Leo kepada yang Alexa. Mereka ber - 6 sekarang berada di kantin sekolah. Karna 5 menit sebelumnya bel istirahat berbunyi menandakan waktu istirahat tlah tiba. "Samakan saja denganmu" ucap Alexa kepada Leo yang hanya di anggukinya sebagai jawabannya. Setelah menekan pesanannya di I-pad yang tersedia, keluarlah makanan yang di pesan oleh mereka. Mereka pun makan dengan tenang, sampai selesainya makan siang mereka, Farel pun mencoba untuk menghilangkan keheningan yang mereka ciptakan. "Emm.. dengar dengar, ujian kenaikan tingkat akan di percepat menjadi 3 bulan kedepan bukan?" Tanya Farel kepada yang lain. "Ya, katanya sih buat mengantisipasi saat Darkness menyerang Academy" jawab Kevin ikut memecahkan keheningan di antara mereka. "Huft! Kau benar. Apa lagi kemarin ia mengirim salah satu tangan kanannya untuk mengintai kita. Untung saja Alexa menyadarinya dan segera membunuhnya." Ucap Vani ikut nimbrung dalam pembicaraan mereka. Alexa yang mendengar hal tersebut hanya menaikan sebelah alisnya bingung. Leo yang menyadari hal tersebut pun menjelaskannya. "Jadi, di academy ini akan di adakan ujian kenaikan tingkat setiap 6 bulan sekali untuk menentukan tingkat berapa yang sesuai dengan masing masing murid di sini. Itu sebabnya sekarang kakak berada di tingkat 3 sekarang dan bukan berada di tingkat 2. Di sini yang berada di tingkat 3 adalah kita semua. Kecuali Vani tentunya." Jelas Leo panjang lebar. "Dan ujian kenaikan tingkat itu akan di adakan dalam 3 bulan kedepan untuk menjaga jaga adanya penyerangan lagi dari pihak Darkness. Kemarin adalah peringatan untuk pihak academy agar lebih berhati hati kepada sekitar. Dan untungnya kau dapat membunuhnya." Lanjut Farel ikut menjelaskan. "Ya. Seperti yang dikatakan mereka tadi. Jadi, bagaimana kalau kita latihan bersama mulai besok hari?" Ajak Kevin kepada yang lain. "Ayo ayo!! Aku tak sabar untuk mengikuti ujian kenaikan tingkat untuk yang pertama kalinya!! Aku tak sabar!" Ucap Stevanie antusias membuat yang lain terkekeh geli meliHt keantusiasannya. Kecuali Alexa yang hanya menanggapinya dengan senyuman kecil. "Baiklah, berarti mulai besok kita akan berlatih selama jam 4 sore di taman belakang. Right!?" Ucap Falix yang sedari tadi hanya menyimak saja. Alexa yang mendengar hal tersebut hanya menggeleng kepalanya membuat yang lain bingung karenanya. "Kenapa Lex? Kau gak bisa ya?" Tanya Vani bingung. "Besok sabtu." Jawab Alexa singkat membuat yang lain tambah bingung dengan maksudnya. Alexa yang melihat itu hanya menghembuskan nafas lelah dan menjelaskannya. "Setiap sabtu aku di suruh keruangan Mr. Delius" lanjut Alexa menjelaskan. Akhirnya mereka mengerti dan menganggukkan kepala meraka. "Oh iya! Kau benar. Kemarin Mr. Delius bilang itu kan kepada mu sebelum kita keluar kelas!?" Ucap Stevanie mengingat ngingat kejadian kemarin sebelum Alexa berada di tingkat 3. "Hm" dehem Alexa menanggapinya. "Oh ya. Ngomong ngomong selama ini aku tidak pernah melihat kalian sarapan di ruang makan. Emang kalian tidak pernah sarapan ya?" Tanya Kevin kepada Alexa dan Vani. "Kita sarapan kok! Setiap hari malah!" Jawab Vani dengan mata berbinar binar saat membayangkan setiap hari ia disuguhkan oleh makanan ala chef terkenal. "Makan di mana emangnya dek?" Tanya Felix mulai bingung dengan tingkah adiknya yang mulai semangat saat di tanyai tentang sarapan tadi. "Kita setiap hari itu, makannya di kamar asrama kak!" Jawab Vani antusias kepada kakaknya. "Hah? Bukannya kamu gak bisa masak ya Van?" Kali ini Farel yang menanyakannya. Pertanyaan Farel pun di angguki oleh Felix dan Kevin. Tetapi tidak dengan Leo, karna ia sudah tau siapa pelakunya. "Bukan aku yang masak kak... tetapi Alexa!" Jawab Vani mulai sebal saat mereka membicarakan tentang dirinya yang memang tidak bisa memasak. "Hah?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD