1 hari telah berlalu semenjak kedatangan surat itu. Tapi tidak ada keanehan atau sesuatu yang aneh salama itu. Membuat Alex semakin berfikir kalau surat yang di temukannya kemarin merupakan surat palsu, tetapi itu tak membuatnya merasa kecewa sama sekala.
Sekarang, ia tengah duduk pada bangku sekolahnya sambil melihat kea rah lingkungan luar yang sedang turun hujan melalui jendela sampingnya itu. Tetapi lamunannya itu seketika buyar tiba-tiba saat guru mata pelajarannya selanjutnya yang di tunggui oleh semua murid disini dari tadi pun masuk kedalam sambil menatap satu satu muridnya, di ikuti oleh seorang lelaki dewasa kisaran 30an yang mengekorinya dari belakang, sehingga membuat kelas yang awalnya gaduh seperti berada pasar malam menjadi diam seketika sehingga membuat suasana menjadi jauh lebih tenang.
"Pagi anak anak. Di sini kita kedatang seorang tamu yang ternyata adalah paman dari teman kalian. Alexa, ayo berdiri dan maju kedepan.” Ucap Mr. Yolis, guru yang sebelumnya masuk dan membuat keadaan menjadi hening.
Alexa awalnya merasa bingung dengan keadaan segera ingin menyatakan kalau orang di depannya ini bukan pamannya. Tapi hal itu ia urungkan saat pria itu berbisik ke arah Alexa dan menyebut dirinya adalah salah satu orang dari pihak academy yang mengirimnya surat kemarin.
"Tenanglah. Aku tau kau kaget karena aku yang mengaku-ngaku jika aku ini adalah pamanmu. Nanti akan kujelaskan semua saat kita telah sampai dirumahmu." Bisiknya ke arah Alexa sambil tetap memandang dingin dan tanjam ke arah depan.
Alexa sebdiri hanya mengangguk mengiyakan tanpa suara sambil tetap mendengarkan apa yang sedang gurunya sampaikan ke arah murid sekelasnya itu.
"Baik anak anak. Teman kalian yang bernama Alexa ini akan pindah ke luar negeri bersama pamannya. Jadi mari kita ucapkan selamat tinggal kepadanya. Ayo anak anak!" Seru guru itu tanpa disadari kalau Lexa sudah kaget dan menatao ke aras guru dan pria tadi dengan tatapan membunuhnya.
"Sampai jumpa lagi Ice Queen" jawab teman sekelas serempak dan memanggil Alexa dengan sebutan gelarnya itu yang hanya di balas tatapan datar yang sangat khasn dari seorang Alexa.
"Baiklah kalau begitu, kami pamit pulang dulu ya pak. Karena pesawatnya akan segera lepas landas." Ucap pria itu kepada gurunya.
"Baiklah kalau begitu. Jaga dirimu baik baik ya nak, ingat kami semua yang ada di sini oke!? Jangan lupakan kami" ucap gurunya sambil mengusap kepala Alexa dan tersenyum lembut kepadanya. Yang hanya di balas anggukan kecil oleh Alexa.
Setelah itu mereka segera keluar setelah berpamitan sekali lagi kepada semua orang yang ada di kelas itu. Yang tentunya hanya di lakukan oleh Pria yang mengaku-ngaku sebagai pamannya sedari tadi.
***
Tak berselang lama, mereka pun tiba di rumahnya Alexa, dan sekarang mereka berada di ruang tamu Lexa untuk membicarakan perihal yang tadi dan apa yang sebenarnya sedang terjadi disini.
Alexa pun memberi isyarat mata untuk pria itu agar memulai cerita. Untungnya, pria itu mengerti dan menganggukan kepalanya tanda mengerti. Kemudian ia memulai ceritanya.
"Saya dari pihak academy. Saya di perintahkan oleh kepala sekolah Dimension Academy untuk menjemputmu ke sana. Kau pasti pernah mendengar nama academy itu kan? Ya, surat yang kau baca itu memang benar dari pihak academy untukmu. Dan ini bukan tipuan" ucap pria itu dengan bernada tegas dan raut muka yang serius.
"Atas dasar apa Saya di undang untuk memasuki sekolah itu?" Tanya Alexa dengan nada yang dingin kepada pria itu membuat itu bergidik ngeri sendiri mendengarnya. Tetapi kemudian dia menetralkan expresinya kembali dan mulai menjawab pertanyaannya.
"Karna kau adalah penyihir. Sama seperti kami. Jadi di dalam sana kami akan melatih sihirmu agar mudah di kendalikan dengan baik sehingga tidak membahayakan orang lain" ucap pria itu kembali.
"Apa maksudnya ini!?" Ucap Alexa dengan nada yang sangat dingin kepada pria di depannya.
"Inilah kenyataannya Lex, tolong terimalah." Ucap pria yang ada di depannya itu.
Alexa yang mendengar itu pun hanya memijit pelipisnya dan menghembuskan nafas kasar untuk meredahkan emosinya.
"Huft! Oke baiklah. Saya akan masuk kesana. Asalkan Anda membuktikan kalau sihir itu nyata. Dan juga perkenalkanlah dirimu." Ucap Alexa dengan datar dan dingin kepada pria di depannya.
"Ok baiklah. Maaf, aku lupa memperkenalkan diriku sebelumnya. Baiklah. Kita mulai. Nama saya adalah Anders Delius. Kau bisa memanggil saya dengan sebutan Mr. Delius. Saya adalah salah satu guru di Dimension Academy yang akan menjadi wali kelasmu nanti. Saya mengajar di bidang sihir. Dan Power saya adalah tanah dan air. Serta kekuatan tambahan saya adalah teleport dan mindreader." Ucap pria itu yang ternyata adalah Mr. Delius.
Kemudian ia mengangkat tangan kanannya dan tiba tiba muncul segumpalan air dari tangannya. kemudian ia mengangkat tangan kirinya lagi dan membuat rumah ini bergetar hanya dengan jentikan jari.
"Wow.. wow.. Oke. Cukup. Aku percaya." Ucap Lexa saat tanah bergetar.
Mr. Delius yang mendengarkannya pun merasa senang dan menghentikan aksinya.
"Kau sudah percaya kan? Kalau begitu persiapkanlah dirimu. Besok kita akan berangkat ke Dimension Academy. Aku akan menjemputmu pukul 8 pagi." Bawa barang barang yang penting saja. Karna sekolah itu adalah sekolah asrama. Serta keperluan seragam dan buku - buku pihak academy sudah menyiapkannya di sana. Jangan khawatir dengan uang sakumu. Karena di sana kau akan di berikan uang saku sampai kau lulus. Ok!? Kalau begitu, saya permisi dulu. Ingat! Bawa yang penting saja." Ucap Mr. Delius panjang lebar dan kemudian berdiri dan berjalan ke arah pintu setelah mendapat anggukan kecil dari Alexa.
Setelah Mr. Delius keluar, Alexa segera menutup pintu rumah, dan mengemas barang keperluannya untuk besok.
Saat selesai mengemas barang keperluannya, ia tiba tiba teringat sama kakaknya itu. Ia lupa untuk menanyakan tentang izin kakaknya ke Mr. Delius. Jadi dia memutuskan untuk menelvon kakaknya saja.
"Halo, kenapa dek? Tumben telvon." Tanya kakaknya diseberang sana saat mengangkat telvonnya.
"Aku di undang untuk bersekolah di Dimension academy, dan besok aku berangkat" jawab Alexa to the point.
"Oh.. begitu. Pergilah. Kita akan bertemu besok." Balas kakaknya dari seberang sana dengan nada yang agak senang(?) Dan langsung memutuskan sambungan telvonnya sepihak.
Alexa pun merasa bingung akan apa yang di katakan kakakknya. Tidak mungkin kan dia langsung terbang dari luar negeri ke sini hanya untuk mengantarnya sebentar. Lagian ia baru masuk pasti.
Tapi ia tak memperdulikan itu. Ia langsung meletakkan Handpone nya kembali di atas nakas dan segera tidur untuk hari esok.
Dimension Academy ya. Batin Alexa sebelum tidur. Kemudian ia menutup matanya dan tak terasa ia sudah terbang ke alam mimpinya.
***
"Sudah siap?" Tanya Mr. Delius saat Alexa keluar dari dalam rumahnya dan memberikan barang bawaannya ke pada supir untuk di masukkan ke dalam bagasi.
"Hm." Dehem Alexa membalas pertanyaan atau pernyataan(?) Mr. Delius dan masuk ke dalam mobil setelah sopir relah menyimpanya.
"Huft! Baiklah. Pak, ayo kita berangkat" ucap Mr. Delius setelah masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Alexa.
Setelah mobil jalan. Alexa segera memasang headset untuk menikmati perjalanan. Ia hanya melihat pemandangan luar sambil menyandarkan kepalanya pada kaca mobil.
Mobil pun masuk ke daerah hutan. Awalnya Alexa merasa bingung dengan jalan yang menjadi rutenya. Tapi kemudian ia mengerti karna Mr. Delius segera memberitahukannya.
"Kita akan memasuki portal menuju dimensi penyihir yang ada di dalam hutan. Jadi tidak usah bingung." Ucap Mr. Delius menjawab kebingungan Alexa saat dia tak sengaja mendengar isi pikirannya Alexa.
"Di dunia ini ada 4 dimensi. Awalnya di dunia ini hanya terdiri dari 3 dimensi saja. Yaitu demensi bawah tempatnya para iblis dan monster monster serta penyihir hitam berada. Kemudian dimensi tengah tempat kita berada saat ini. Dan yang terakhir dimensi atas, tempatnya para dewa dan dewi serta para malaikat berada. Cuma pada saat berabad abad yang lalu, dunia tengah mengalami kehancuran karna banyaknya penyihir jahat dan juga beberapa manusia yang tamak, yang memberontak dan bersekutu dengan ibils agar mendapatkan kekuatan yang besar untuk merebut dunia. Oleh karena itu, para dewa dan dewi, para malaikat, serta para petinggi para penyihir membuat dimensi baru untuk memindahkan para penyihir 'baik' ke sana, kita menyebutnya dengan dimensi imortal. Tempat dimana mahkluk imortal berada, sekaligus tempat Dimension Academy didirikan. Dan memindahkan para penyihir 'jahat' serta manusia yang bersektu dengan iblis ke dimensi bawah, tempat dimana para iblis berada. Serta para dewa dan dewi juga mengahapus ingatan seluruh manusia yang ada di dimensi tengah tentang penyihir dan kekacauan yang telah terjadi sebelumnya. Sehingga tak ada satu orang pun manusia yang mengingat kejadian ini." Lanjut Mr. Delius panjang lebar kepada Alexa.
Alexa yang mendengarnya hanya menganggukan kepalanya tanda mengerti.
"Bersiaplah, kita akan segera memasuki portal untuk ke dimensi imortal." Ucap sang supir.
Alexa hanya melihat ke arah portal yang ada di depannya tanpa minat. Sehingga membuat Mr. Delius dan supir mobil itu bingung. Karna biasanya para murid yang di undang dari dimensi tengah ini akan berteriak histeris dan meminta untuk berhenti karna takut ke dalam portal.
Saat sampai di sana pun Mr. Delius dan Sang supir masih bingung dengan Alexa yang biasa saja dengan setia memasang wajah datarnya saat mereka telah melewati portal.
Karena tak tahan lagi dengan reaksi yang di berikan Alexa. Sang supir menanyakan langsung kepadanya.
"Kau tidak takut melewati portal tadi nona?" Tanya sang supir kepada Alexa.
"Tidak menarik sama sekali" ucap Alexa dengan nada dinginnya dan muka yang datar.
Hal itu berhasil membuat sang supir dan Mr. Delius yang mendengarnya melongo tak percaya dengan jawaban yang di terima mereka.
Ti.. tidak m.. menarik katanya!? Batin mereka terkejut. Sampai sampai mereka tak sadar kalau Alexa sudah turun dari mobil dan berada di samping pintu kemudi.
Tok tok
Sang supir dan Mr. Delius pun terkejut dengan suara ketukan itu, kemudian mereka tambah terkejut lagi dengan keberadaan Alexa yang sudah berada di luar.
"Ba.. bagai.. mana b.. bisa?" Ucap san supir terbata bata. Sedangkan Mr. Delius masih setia dengan muka cengonya layaknya ayam sakit.
"Bagasi." ucap Alexa padat, singkat, dan jelas, dan masih setia dengan wajah datar dan dinginnya itu.
"A.. apa?" Tanya sang supir yang masih terkejut.
Alexa yang merasa jengkel pun berdecak kesal dan membuka pintu mobil itu, kemudian meneka tombol bagasi mobil agar terbuka, dan mengambil barang barangnya sendiri.
Sang supir dan Mr. Delius makin melongo tak percaya dengan apa yang di lakukan oleh Alexa. Karna tak ada seorang siswa atau siswi pun yang akan bertindak seperti Alexa. Dari tidak tertarik atau takut dengan portal dimensi dan mengambil sendiri barang bawaannya di bagasi tanpa bantuan siapapun.
"Ayo!" ucap Alexa singkat kepada Mr. Delius yang masih memasang wajah cengonya.
Alexa pun berdecak kesal dan melangkah memasuki academy sendiri tanpa bimbingan Mr. Delius.
Saat sampai di dalam, ia kembali menjadi sorotan para murid di sana. Jelas saja, Alexa yang parasnya bisa di bilang bagaikan dewa dewi atau malaikan yang turun dari langit yang menjelma sebagai manusia. Apa lagi tatapan matanya yang tajam dan dingin itu, mambuatnya makin terlihat menarik di mata murid murid yang sedang berlalu lalang. Di tambah gaya pakaiannya yang casual tetapi tetap keren di mata mereka, dan rambut silvernya yang ia uraikan.
Cantik sekali ya dia
Itu malaikat ya?
Silau sekali dia
Cantik, tapi dingin.
Berbagai ocehan dan komentar telah banyak didengarnya dari murid-murid yang berpapasan dengannya atau sekedar melihatnya saat sedang berlalu di koridor sekolah itu. Tetapi Alexa tetaplah Alexa. Ia sunguh tidak peduli dengan apa yang dibicarakan orang lain tentang dirinya.
Yang ia lakukan hanyalah memakai headset ditelinganya dan memutarkan music dalam volume keras agar ia tidak terlalu mendengar ovhen mereka yang menurutnya sangat tidak bermanfaat.
Saat dalam perjalanan, ia tak sengaja melihat salah satu guru wanita yang sedang berjalan sambil membawa buku pelajaran. Ia pun langsung berjalan mendekatinya dan menanyakan ruang kepala sekolah.
"Ruang kepala sekolah" ucap Lexa dengan dana yang masih datar dan dingin.
"Astaga... kaget saya. Saya pikir kamu ini setan tau gak!?" Balas guru itu galak dengan expresi terkejut karna ucapan dan kemunculan Alexa yang tiba-tiba itu.
Setelah menetralkan keterkejutannya, ia segera meliahat siapa yang mengagetkannya itu. Saat ia berbalik, ia melihat seorang gadis yang sangat cantik bagaikan malaikat itu dengan wajah dingin dan tatapan mata yang tajam sedang melihat ke arahnya.
Guru itu awalnya terpesona dengan paras dari Alexa. Sampai sampai ia terdiam menatap Alexa cukup lama, sehingga membuat Alexa merasa tak nyaman dan berdehem cukup keras untuk menyadarkan guru itu.
"E.. ehm.. ya? K.. kamu m.. murid baru ya?" Tanya guru itu gugup karna ketahuan menatapnya lama.
Alexa hanya menganggukan kepalanya, tertanda membenarkan pertanyaan itu.
"O.. oke. Baiklah. Kau sedang mencari ruang kepala sekolah ya?" Tanya guru itu lagi setelah menetralkan kegugupannnya. Dan lagi lagi Alexa menganggukan kepalanya sebagai jawaban.
"Kalau begitu, saya akan mengantarkanmu ke ruang kepala sekolah sekarang. Ayo" ucap guru itu ramah sambil tersenyum manis kepada Alexa yang hanya di balah tatapan datar dan anggukan kecil itu.
Mereka pun berjalan melewati kerumunan siswa yang ramai. Karna memang waktu ini sekarang adalah waktu istirahat. Dan ia kembali menjadi pusat perhatian. Apa lagi ia masuk di semester kedua dan lewat sehari.
Tak lama kemudian, mereka telah sampai di sebuah pintu yang bertuliskan 'Kepala Sekolah' di depannya.
"Saya cuma bisa mengantarmu sampai sini. Kalau begitu,saya permisi dulu ya." pamit guru itu dan kemudian pergi setelah mendapat anggukan kecil dari Alexa.
Tok tok tok
Di ketuknya 3x pintu itu. Kemudian ia masuk setelah mendengar suara dari dalam yang menyuruhnya masuk.
"Kau pasti Alexa. Baiklah,saya tau kamu tak suka basa basi. Ini kunci kamarmu, dan ini jadwal pelajaranmu, juga kau berada di kelas 1A. dan satu lagi, ini adalah peta denah sekola. Jadi, selamat datang di Dimension Academy" ucapmnya seraya memberikan sebuah kunci, kertas selembar, dan sebuah gulungan peta kepada Alexa.
"Dan kau bisa memanggilku dengan Mrs. Lili" ucapnya lagi seraya tersenyum kepada Alexa yang tentunya hanya di balas oleh anggukan kecilnya. Kemudian ia keluar dari ruang kepala sekolah itu dan mencari kamar asramanya melalui denah yang di kasih oleh kepala sekolah.
***
Setelah keluar dari ruang kepala sekolah, Alexa pun segera melihat peta denah sekolah. Selama beberapa menit, ia masih berada di depan ruangan kepala sekolah. Sampai pada menit berikutnya, ia segera menggulung kembali kertas itu dan memegangnya. Kemudian ia berjalan kearah jalan asrama perempuan yang tertera dalam denahnya itu. Salahkan ia yang memiliki daya ingat yang sangat tinggi serta IQ nya yang juga tinggi, sehingga ia bisa dengan mudah mengingat sesuatu yang baru dilihat atau di pelajarinya dengan baik.
Sesampainya di asrama perempuan, ia segera melihat kunci yang ia pegang untuk melihat nomor kamarnya. Ia harap kamar di sini hanya 1 orang perkamar.
Setelah melihat angka yang tertera di kunci itu, ia segera menaiki lift menuju lantai 3. Tempat kamarnya berada.
Di setiap lantai, terdapat masing masing 100 kamar per lantainya. Yang artinya dalam 1 asrama ada ada 1000 kamar pada asrama perempuan laki laki. Setiap asrama terdiri 5 lantai. Dan setiap kamar masing masing di isi 2 orang murid. Dan sayang sekali kalau keinginan Alexa tak terkabul. Sedangkan kamar Alexa berada di tengah tengah lantai 3. Nomor 250.
Setelah menemukan kamarnya, ia segera memasuki kamarnya menggunakan kunci yang ia pakai. Saat ia masuk pun ia hanya mendengus kesal karna ia baru tau kalau setiap asrama itu ada 2 kamar. Ia pun memasuki kamar yang ada tulisan namanya. Kamar paling pojok yang sangat ia suka. Beruntunglah kalau kamarnya ada di pojok. Kalau tidak, mungkin ia akan sangat marah.
Kamar asarama ini seperti hotel berbintang 5 yang 2 kamarnya di satukan. Karna di bagian depan terdapat ruang tamu yang sekaligus berfungsi sebagai ruang bersama. Terduri dari 1 sofa panjang, dan 2 sofa singgle. Dan juga meja lonjong di tengah yang membatasinya. Serta TV LID yang besar berada di depannya.
Dan terdapat 2 pintu kamar yang tertulis nama pemiliknya masing masing. Serta sebuah ruangan dapur yang berada pada pojok kiri ruangan itu. Jangan lupakan setiap masing masing kamar terdapat balkon. Dan juga di batasi oleh penghalang di setiap kamarnya.
Di dalam kamar pun tak kalah mewahnya dari yang di luar. Kamar dengan kasur berukuran King Size. Serta ada sebuah pintu kaca yang dapat di geser untuk menuju balkon. Serta terdapat 3 pintu pada masing masing kamar dan juga sebuah mwja belajar dan meja rias. Dan juga ada sebuah tempat untuk menyimpan mantel atau jaket yang terletak di samping meja rias. Pintu pertama adalah pintu kamar mandi. Pintu kedua adalah tempat untuk mengganti pakaian serta semua baju di letakkan di sana. Dalam kata lain pintu itu adalah sebuah lemari besar yang juga bisa di gunakan sebagai tempat ganti pakaian.
Dan di pintu terakhir adalah ruangan larihan berupa lapangan luas yang merupakan hasil dari ilusi permanen.
Setelah melihat lihat masing masing pintu di kamarnya, ia segera masuk kembali ke pintu kedua untuk menyimpan pakaian sehari harinya.
Kemudian ia melangkah ke meja belajarnya untuk meletakkan jadwal dan peta denah sekolahnya itu. Dan juga menyimpan novel novel yang ia bawa dari rumahnya.
Setelah selesai mengemas barang barangnya, ia segera membersihkan dirinya untuk makan siang pada pukul 12.00. Sedangkan sekarang sudah pukul 11.35. Yang artinya 25 menit lagi makan siang akan dimulai.
Setelah selesai bersiap, ia segera keluar menuju ruang makan yang sudah ia ketahui dari denah sekolah tadi. Sekarang ia memakai kaos kemeja hitam kotak kotak agak kebesaran yang bagian dipannya ia kasih masuk, sedangkan bagian belakangnya ia biarkan berada di luar, serta memakai celana putih sampai perut dan memakai sepatu kets berwarna putih.
Ia berjalan dengan santai ke arah ruang makan. Sampai di sana, ia kembali menjadi pusat perhatian. Sampai ada sebuah suara yang memanggilnya dari jauh saat ia sedang mencari meja makan.
"Alexaa!"
Ia pun segera mencari asal suara itu dan menemukan kakaknya yang sedang melambaikan tangannya tinggi tinggi sambil menyuruhnya untuk datang ke sana.
Alexa yang melihat kakaknya ada di sini pun megernyitkan dahinya bingung. Tapi kemudian ia kemabali berekspresi datar lagi, karna ia tau kalau kakaknya itu akan menjelaskan semuanya.
Lexa segera berjalan dengan santai mengahmpiri kakaknya. Di sana ia melihat ada 5 orang yang menduduki meja itu. 4 orang cowok, termasuk kakaknya dan satu orangnya lagi adalah seorang cewek. Di tambah dirinya lagi menjadi 6 orang.
Leo pun segera menyuruh Alexa duduk di sebelahnya, yang langsung di turuti oleh Lexa.
"Mau pesan apa? Biar kakak saja yang pesanin" tanya Leo ke Lexa.
"Samain" jawab Alexa datar yang membuat ke 4 orang yang lainnya bergidik ngeri mendengarnya.
Setelah Leo memesankan makanan untuk Lexa pada I-pad yang ada di meja, makanan yang ia pesan pun segera keluar dari dalam lubang yang berada di tengah meja tersebut.
Mereka pun makan dalam diam. Sampai akhirnya mereka selesai dan Lexa pun segera berbicara.
"Jelaskan" ucap Lexa kepada Leo. Leo yang mengerti pun langsung menjelaskan semuanya kepada Lexa.
"Jadi, kakak sebenarnya tidak berkuliah di luar negeri, tetapi di sini. Dan yah, kakak datang ke sini sama seperti kau datang kesini. Pasti kau marah karna kakak tidak menjelakannya dari awal, tapi kakak memiliki alasan untuk itu. Yaitu karna kau pasti tak akan percaya tentang sihir. Apa lagi dimensi dimensi ini yang pasti sudah di jelaskan oleh guru yang menjemputmu tadi. Selain itu juga kakak di larang dari pihak academy karna academy ini sangat rahasia dam di sembunyikan. Jadii... begitulah" ucap Leo panjang lebar yang hanya di balas anggukan oleh Alexa.
Kemudian Leo memperkenalkan Alexa kepada teman temannya yang sedang duduk di sana.
"Oke teman teman. Kenalin, ini adek gue, namanya Alexa Angeline Witz" ucap Leo memulai percakapan.
Kemudian di balas anggukan dari mereka berempat. Dan merekapun mulai memperkenalkan diri satu persatu. Di mulai dari yang perempuan.
"Hai Lex. Kau pasti anak baru yang dibicarakan itu ya? Memang benar ya yang di katakan mereka" ucapnya yang di angguki yang lain. Kecuali Lexa, Leo, dan gadis itu sendiri.
"Oke, perkenalkan. Namaku adalah Stevanie Arelia Belizza. Dan panggil saja aku Vani. Aku adalah adik darinya" ucapnya seraya menunjuk orang yang ada di sampingnya.
"Felix Stevano Beliz, Felix. Kakak Vani" ucap laki laki yang di tunjuk dengan nada yang datar. Kemudian di lanjutkan lagi dengan laki laki disebelahnya.
"Aku Farelio Septian Tomson. Salam kenal" ucap laki laki di sebelah Felix.
"Aku Kevin Arnold Waterson. Kau bisa memanggilku Kevin" ucap Kevin sambil tersenyum manis ke Alexa.
Alexa hanya membalas perkenalan mereka dengan anggukan kecil.
"Nomor kamarmu berapa Lex?" Tanya Vani kepada Alexa.
"250" ucap Alexa singkat, padat dan jelas.
"Berarti kita sekamar dong. Maaf ya, tadi aku gak sempat ke kamar, soalnya tadi pas habis bel aku langsung ke sini deh. Oh iya!? Maukah kau menjadi temanku? Aku tidak mempunyai teman sama sekali di sini." Ucapnya lesu.
"Ia tidak mempunyai teman karna ia sangat galak dan cuek sama sekitar. Jadi orang orang menganggapnya sombong" ucap Felix dengan nada datar.
Alexa hanya menatap mereka sebentar, kemudian ia menatap ke arah Leo. Leo yang melihat keraguan di mata adiknya itupun hanya tersenyum tipis dan mengelus kepalanya sambil berkata.
"Tidak semua orang yang kau temui sama. Bisa saja ia menjadi sahabat sejatimu. Dan juga, lupakanlah kenangan dulu. Itu hanyalah masa lalu." ucap Leo sambil tersenyum manis ke pada adiknya. Sehingga membuat sebagian siswi yang masih ada di sana menjerit tertahan melihat senyumannya. Karna Leo di sini terkenal dengan sebutan Ice King.
Alexa yang mendengarnya pun hanya menghela nafasnya. Dan kemudian menatap Vani yang sedang melihatnya dengan puppy eyes nya yang menurut Alexa sangat menjijikan. Kemudian ia mengangguk kecil kepalnya yang membuat Vani lompat kegirangan dan langsung memeluk Lexa saking senangnya.
"Terima kasih Lexa. Terima kasih" ucap Vani mengucapkan terima kasih berkali kali kepada Lexa yang hanya di balas deheman Alexa.
Setelah itu Vani pun melepaskan pelukannya dari Lexa dan mengajak Alexa untuk kembali ke kamarnya yang di angguki oleh Alexa.
"Kami ke kamar dulu ya semuanya" ucap Vani. Dan setelah itu segera menarik Alexa untuk segera berlari. Tapi di tahan oleh Alexa sehingga membuatnya bingung dan berhenti saat melihat Lexa melepaskan tangannya dan berbalik.
Vani, Felix, Farel, dan Kevin pun bingung karna melihat Lexa berjalan kembali ke arah meja mereka. Kemudian mereka tersentak kaget saat melihat Alexa yang mengecup pipi Leo yang juga di balas kecupan balik dan senyuman tipis dari Leo kemudian ia mengacak ngacak rambut Alexa sebelum Alexa kembali berdiri tegak dan tersenyum tipis saat tangan Leo yang mengacak ngacak rambutnya kembali. Kemudian ia berbalik ke arah Vani yang masih cengo melihat adegan tadi.
"Ayo" ajak Lexa pada Vani yang masih bengong itu dan membuatnya tersadar dari lamunannya. Kemudian mereka kembali berjalan kearah asrama perempuan untuk kembali ke dalam kamar mereka.
**
Sementara itu di ruang makan
"Kalian kenapa?" Tanya Leo bingung karna melihat wajah cengo mereka bertiga setelah Alexa pergi.
"A.. Alexa m..men..ciummu?" Tanya Kevin yang masih terkejut karna melihat adegan tadi yang juga di angguki oleh Farel dan Felix.
"Terus kenapa? Itu kebiasaannya kami dari kecil kalau akan pergi. Dimanapun itu kami akan tetap melakukannya. Bahkan kalau tak ada orang kami berciuman di bibir ap melakukannya. Bahkan kalau tak ada orang kami berciuman di bibir" jawab Leo santai yang membuat mereka bertiga tambah cengo.
"Hah!?" Ucap mereka bertiga kompak setelah mendengar ucapan Leo itu.
"Kenapa emangnya?" Tanya Leo.
"Wow! Leo kita yang seorang Ice King ternyata bisa berperilaku manis kepada adiknya!?" Ucap Farel kagum kepada Leo.
"Sudahlah. Ayo kembali ke kamar masing masing" ucap Leo dingin kepada mereka dan kembali pada sifatnya. Yaitu 'Dingin'
"Yah.. kembali lagi jadi es dia. Padahal tadi udah hangat lho" ucap Kevin sambil melihat punggung Leo yang menjauh.
"Cepatlah kembali sebelum Leo marah" ucap Felix seraya berdiri dan mengikuti Leo yang sudah jauh melangkah ke depan dan juga di ikuti oleh Farel dan Kevin dari belakang.
Sementara itu di asrama...
"Lex, kok tadi kamu cium kak Leo?" Tanya Vani penasaran saat mereka telah sampai dalam kamar mereka dan duduk di ruang tamu.
"Hm. Itu kebiasaannya kami dari kecil kalau akan pergi. Dimanapun itu kami akan tetap melakukannya. Bahkan kalau tak ada orang kami berciuman di bibir" ucap Alexa sama dengan yang di ucapkan Leo tadi. Tapi bedanya Alexa dengan nada datar dan Leo dengan nada santai.
"O.. oh.. Be.. begitu" jawab Vani gagap
"Emang kenapa?" Tanya Lexa dengan nada datarnya.
"Enggak sih, cuma kaget aja gitu. Apa lagi dulu di negaraku jarang banget adik kakak yang begitu. Bahkan kakakku hanya mencium keningku saja. Itupun kalau aku sedang ulang tahun, atau saat dia sedang menenangkanku. Emangnya kau tinggal di mana dulu?" Ucap dan tanya Vani oada Alexa.
"Eropa" jawab Lexa singkat sambil menonton acara yang sedang di siarkan TV yang ada di depannya. Vani pun hanya mengangguk memaklumi mendengar jawaban dari Alexa dan juga melihat ke TV yang sedang menyiarkan suatu acara.
Perhatian untuk semua murid Dimenson Academy. Segera kumpul di lapangan 15 menit lagi untuk melihat tes dari murid baru yang bernama Alexa Angeline Witz. Dan murid yang di sebut namanya tadi, diharapkan segera ke lapangan.
Tiba tiba sebuah suara terdengar dari speaker setiap kamar yang meminta agar semua murid segera peegi ke lapangan.
"Ayo Lex, aku akan mengantarkanmu ke lapangan" ajak Vani sambil berdiri dari duduknya. Di ikuti oleh Alexa yang mematikan TV didepannya dan berdiri juga dari duduknya. Kemudian mereka berjalan menuju lapangan.
***
Saat sampai di lapangan, murid murid sudah nampak memenuhi tribun penonton. Alexa pun segera berjalan ke arah ruamg tunggu peserta setelah diberitahukan oleh Vani.
Tak berselang lama, ada seorang MC yang menandakan kalau acara 'tes' akan segera dimulai sehingga membuat para murid yang berbicara terdiam.
"Baiklah teman teman, sekarang kita akan melihat aksi dari teman baru kita yaitu Alexa Angeline Witz. Kepada saudari Alexa kami persilahkan" ucap MC itu memulai dan memanggil Alexa dari ruang tunggu kusus peserta dan membuat riuh lapangang indoor itu.
"Wow. Ternyata gadis cantik tadi pagi yang menjadi buah bibir adalah teman baru kita ya. Oke, langsung saja. Kau pilih senjata yang mana?" Tanya MC itu kepada Alexa yang sedang melihat ke arah tumpukan senjata itu.
Alexa hanya mengambil pedang yang terlihat ringan dan tipis itu dan menunjukkannya kepada sang MC.
"Baiklah. Kita akan mulai 'tes' nya" ucap Sang MC mempersilahkan Alexa ke tengah lapangan.
Saat Alexa sampai ke tengah lapangan, tiba tiba muncul sesuatu seperti barier pelindung yang digunakan untuk melindungi penonton dari bahaya atau kecelakan yang apabila tak sengaja terlempar dari dalam arena.
Setelah itu ada sebuah sensor yang menyesor Alexa. Kemudian munculah data monster yang sesuai untuk menjadi lawannya.
Alexa Angeline Witz VS Monster S++
Kira kira begitulah yang tertulis pada layar monitor besar dekat penonton yang membuat penonton kaget tak percaya. Karna biasanya yang bisa melawan monster dengan level S++ hanyalah para senior tinggi dan para guru saja. Sehingga banyak para maurid dan guru menyimpulkan kalau Alexa tak akan lulus 'tes' ini. Begitupun dengan Felix, Farel, Kevin, dan Vani. Kacuali Leo tentunya.
"Aduh.. bagaimana ini!? Alexa sedang melawan monster berlevel S++! Bahkan kita saja yang melawan monster level B saja kesusahan." Ucap Vani khawatir.
"Ya benar" jawab Felix, Farel, dan Kevin serempak.
"Kau kenapa terliha santai begitu? Adikmu sedang dalam bahaya itu dan kau hanya bersantai santai disini!?" Tanya Kevin bingung yang juga di anggukan oleh ketiga temannya yang lain.
"Dia akan selesai dalam waktu 10 menit dari sekarang" ucap Leo santai sambil tetap menonton pertandingan adiknya yang baru saja di mulai.
"Itu tak mungkin!" Bantah Felix tak percaya dengan perkataan Leo.
"Kalau tak percaya, saksikanlah. Dan diam!" Ucap Leo dengan nada yang sangat tajam dan dingin sehingga membuat mereka tak berani membantah dan melihat pertandingan Alexa.
Sementara di dalam arena, Alexa hanya terdiam dan mengamati lawannya selama semenit. Kemudian memancingnya untuk membuatnya marah dan membunuhnya.
Ia pun segera berjalan mendekati monster itu.
Sini kau anak kecil! Akan ku bunuh kau! Hahaha
Alexa yang mendengarnya hanya mengangkat sebelah alisnya. kemudian ia menyeringai yang membuat para murid yang melihatnya bergidik ngeri. Termasuk Leo dkk dan juga monster tersebut.
"A.. apa maumu anak k.. kecil!" Tanya monster itu menekan ketakutnnya.
"Mem.bu.nuh.mu" ucap Alexa layaknya seorang psycopath yang melihat magsanya. Sehingga membuat semua yang ada di lapangan indoor itu gemetar ketakutan. Apa lagi mendengar nada bicaranya Alexa yang sangat menyeramkan.
"Pergilah kau!!" Teriak monster itu ketakutan dan melepaskan serangannya ke sembarang arah karna ia merasa panik.
Alexa yang melihat itupun semakin melebarkan seringaiannya. Hal itu pun membuat monster itu semakin panik dan mengeluarkan seluruh kekuatannya ke sembarang arah.
Alexa terus saja menghindar dan mengamati gerakan monster itu. Sampai akhirnya di menit ke 5 pertandingan. Ia segera berlari ke arah titik buta monseter itu yang berada di bagian dada sampai perutnya.
Ia pun segera melompat ke arah monster yang sangat tinggi itu dan menancapkan pedangnya ke bagian dada monster itu. sehingga membuat monster itu berteriak kesakitan taoi tak diperdulukan oleh Alexa. Sehingga ia tetap menusuk dan merobek dadanya sampai ke perutnya. Kemudian setelah itu, ia segera melompat ke bahu kanan monster itu dan memotong lengannya sampai terlepas.
Tak hanya itu, ia juga memotong lengan kiri monster itu sampai ikut terlepas. Dan kembali loncat kebawah sebelum monster itu jatuh karna kesakitan. Satelah mendarat di tanah. Lexa segera berlari ke arah pangkal paha monster itu dan memotong kedua kakinya yang membuat monster itu kembali berteriak kesakitan dan membuat penonton gemetaran nontonnya.
Dan sebagai penutupan, ia berjalan kearah kepalanya dan mengucapkan
"Bye bye" ucap Lexa dengan senyum menakutkannya dan lambaian kecil dari tangannya. Kemudian ia langsung menebas kepala menster itu sampai terpisah dengan tubuhnya. Dan membuat mukanya terkena cipratan darah dari monster itu.
"Menjijikkan" ucap Alexa seraya menancapkan pedangnya ke arah tubuh monster itu sehingga membuat para penonton terpekik menahan ngeri. Alexa pun mengeluarkan sapu tangannya untuk membersihkan mukanya.
Para murid dan guru pun hanya melongo mekihat aksinya. Termasuk Leo dkk. Sampai akhirnya suara tepuk tangan dari Leo menyadarkan semuanya dan ikut bertepuk tangan sambil berdiri dari bangku masing masing. Termasuk para guru dan kepala sekolah sendiri.
Sudah ku bilang. Ia itu sangat menyeramkan, kejam, dan sadis di saat yang bersamaan jika sudah bertemu lawannya. Batin Leo sambil bertepuk tangan dan melihat adiknya yang masih menatap datar ke arah tribun penonton.
"W..wow! I.. itu s..sangat keren" ucap MC itu yang masih agak takut saat mendekat ke arah Lexa. Takut kalau tiba tiba ia di mutilasi dengan Lexa.
Kepala sekolah pun segera turun ke lapangan dan merebut maight dari MC itu.
"Wow. Sebuah pertunjukan yang luar biasa kan anak anak. Seorang anak baru telah mengalahkan monster level S++ dengan waktu hanya 10 menit. Ini adalah sebuah rekor. Saya bangga sama kamu Alexa." Ucap Mrs. Lili sambil menepuk bahu Alexa dengan bangga.
"Baiklah kalau begitu. Saya ucapkan lagi selamat datang di Dimension Academy. Semoga kau betah belajar disini" ucap Mrs. Lili di susul dengan ucapan para murid academy.
"Selamat datang Alexa." Ucap mereka serntak yang hanya di balas anggukan dari Alexa.
"Baiklah anak anak, kalian boleh kembali ke kamar kalian masing masing. Dan untuk kamu Alexa. Kau boleh masuk ke kelas besok." Ucap Mrs. Lili menutup acara 'tes' tersebut
Setelah selesai membersihkan diri di ruang ganti tadi, Alexa segera pergi menemui Leo dkk yang sedang menunggunya di depan pintu keluar.
"Wow! Tadi kau sangat hebat Lex!" Puji Vani antusias yang di balas anggukan dari 3 orang lainnya.
"Ya! Kau sangat hebat! Kau bisa mengalahkan monster berlevel S++ hanya dengan 10 menit! Itu sangatlah mengagumkan!" Ucap farel antusias.
"Ya! Itu benar sekali untuk ukuran siswi juniar yang baru masuk sepeetimu" Tambah Felix.
"Bahkan Leo hanya bisa mengalahkan monster berlevel S+ dengan hitungan 30 menit saja. Itu pun setelah dia berada di kelas 3. Sedangkan Felix hanya bisa mengalahkan monster berlevel A. Itupun dalam waktu 1 jam. Kau sangat hebat Lex!" Tambah Kevin juga sambil mengacungkan kedua jempolnya. Saat ini mereka sedang berjalan ke taman belakang untuk menghabiskan waktu dengan mengobrol di sana.
"Itu biasa untuk seorang agen sepertinya. Bahkan ia pernah mengajakku 'bermain' bersamanya waktu dia kelas 2 SMA dulu" Jawab Leo sambil berjalan santai dan kemudian duduk di bawah salah satu pohon yang cukup rindang di sana.
"Bermain?" Beo mereka seremapak bingung saat telah duduk di samping Leo dwngan posisi Lexa-Leo-Kevin-Farel-Felix-Vani. Kecuali Leo dan Alexa tentunya.
"'Bermain' di sini bukan kata bermain seperti yang kalian pikirkan 'Bermain'. 'Bermain' yang ku maksud bermakna lain yang artinya seperti yang dilakukannya tadi di arena. Menurutnya membuat lawannya kesakitan adalah hal yang menarik baginya. Apa lagi kalau yang menjadi korbannya adalah yang sudah melakukan kesalahan dimatanya. Dan kalau kau sudah bertemu dengannya di arena, maka ia bukan Alexa yang sekarang. Karna Alexa yang di dalam arena berbeda dengan Alexa yang ada di luar arena. Sekalipun ia adalah temanmu sendiri" Jelas Leo panjang lebar dan membuat mereka melongo tak pecaya dengan apa yang dikatakannya.
Tanpa mereka sadari, Alexa susah tertidur di atas pangkuan kakaknya yang sedang mengelus kepalanya itu.
"W..wow" cuma kata itu yang dapat mereka keluarkan sekarang.
Setelah beberepa menit mereka kembali sadar dari lamunan mereka dan melihat Alexa yang telah tidur di pangkuan Leo yang sedang mengelus kepalanya dengan lembut.
"E.. eh.. dia sudah tidur?" Tanya Vani kaget.
"Ku rasa iya. Karna ia sudah tidak bergerak dari tadi dan nafasnya sudah teratur tanda ia sudah tertidur" Jawab Leo.
Kemudian mereka terdiam kembali dengan pikiran masing masing. Sampai sebuah suara mengagetkan mereka dan segera melihat Alexa yang sumber dari suara itu.
"Tidak ayah! Jangan! Jangan pukul Alexa! Alexa minta maaf ayah. Sakit ayah. Sakit. Ampun ayah" racau Lexa di tengah tidurnya yang membuat fokus mereka teralihkan pada Lexa.
"Tenang Alexa, ada kakak disini. Alexa tidak akan kenapa napa. Kakak akan selelu melindungi Lexa" ucap Leo menenangkan Alexa dengan nada lembut dan tangan yang masih setia mengelus kepalanya Lexa.
"Kakak.. hiks, Lexa takut. Ayah..hiks. pukul Alexa lagi.. hiks hiks" racau Lexa memeluk perut Leo dengan tubuh yang bergetar.
"Tenang Alexa. Itu hanya mimpi. Ada kakak disini. Kakak tidak akan pergi sampai Lexa tidur lagi." Ucap Leo lembut disertai senyum manisnya kepada Lexa.
Setelah melihat senyuman dari Leo, Lexa mulai tenang dan tertidur kembali dengan posisi masih memeluk perut Leo tanpa menyadari jatuhnya air mata dari Leo yang harus di hapusnya cepat agar Lexa tak melihatnya.
Tetapi ke - 4 temannya melihat akan hal itu dan juga ikut merasa kesedihannya.
"Tolong jangan beritahu kejadian tadi saat Lexa bangun." Ucap Leo dengan suara agak bergetar menahan tangisnya karna mengingat masa lalu Lexa yang suram.
"Baiklah. Tapi kalau boleh tau, ada apa dengan Lexa?" Tanya Felix penasaran yang di angguki oleh Farel, Kevin, dan Vani.
" Ya, orang tua kami memang selalu menyiksa Alexa hanya karena ia adalah seorang perempuan. Mereka bilang kalau ia itu hanyalah anak perempuan yang lemah pembawa sial dan menjadi aib di keluarga mereka. Meskipun begitu, Alexa itu tidak menyembunyikan identitas keluarganya sama sekali. Didepan publik ia diperlakukan seperti layaknya seorang putri, tapi dibelakang ia akan diperlakukan layaknya budak yang disiksa oleh majikannya.
“Awalnya ayah sudah menyuruh ibu untuk menggurkan kandungannya, hanya saja ibunya tetap bertahan dalam pendiriannya untuk membesarkan anak itu. Pada saat itu merekapun bertengkar sampai membentak satu sama lain. Sedangkan aku yang masih kecil saat itu mendengar pertengkaran mereka pun hanya bisa meringkuk dalam selimutdan menangis dalam diam memendam dengan ketakutan yang sangat besar, Aku masih mengingat betapa takutnya aku saat itu.” Ucap Leo di akhiri dengan kekehan miris saat ia mengingat masa-masa itu dulu..
“Sejak Alexa lahir sampai sekarang pun ia tak pernah mendapatkan kasih sayang sedikitpun dari ayahnya. Bukan kasih sayang yang akan ia dapatkan jika diminta. Tetapi sebuah pukalan atau cambukan manis dari ayah diberikan untuknya.” Lanjut Leo yang sontak saja membuat mereka semua terkejut dngan perkataannya.
“Pernah saat Alexa berumur 3 tahun dan aku itu berumur 4 setengah tahun, kita berdua bermain kejar-kejaran didalam rumah. Tak sengaja saat sedang berlari, Alexa menabrak dan menjatuhkan vas bunga kesayangan ayah secara tidak sengaja, Tetapi hal itu membuat ayah kami murka sehingga memukul dan membenturkan kepala Alexa ke dinding sampai kepala Alexa bocor dan mengeluarkan darah saat itu juga. Aku kecil yang melihat semua kejadian itu pun hanya bisa menangis dan bersembunyi dibalik tembok karena takut saat melihat Alexa memohon maaf ke ayah kami dalam keadaan yang sangat mengenaskan.
Tak lama kemudian, ibu datang dan terkejut dengan apa yang ia lihat. Ia pun segera menghentikan aksi suaminya itu dan membawa Alexa ke dalam kamar untuk di obati. Saat ia akan menelepon dokter keluarga untuk mengobati anaknya, handphone yang di genggamnya di lempar begitu saja oleh Ayah. Mereka pun kembali bertengkar saat itu juga sampai barang-barang disekitar mereka kena imbasnya dengan menjadi hancur berantakan.
Karena sudah emosi, ayah memukul dan menampar wajah ibu sambil mengeluarkan kata-kata kasar yang membuat hati ibu terluka kemudian meninggalkan ibu yang masih berdiri mematung disana begitu saja.” Jeda Leo sebentar sambil menarik nafasnya dan menghembuskannya kembali dengan pelan.
“Waktu itu, aku kembali mengintip ibu dan melihatnya sedang berjalan dengan perlahan memasuki kamar yang sebelumnya ia membawa Alexa kesana. Aku melihat saat ia sedang melihat Alexa yang sudah sadar dan menatapnya dengan senyuman lebarnya. Awalnya aku hanya leihatnya sedang duduk di tepi ranjang sambil mengelus rambut putrinya itu, tetapi lama kelamaan elusan lembut itu berubah menjadi jambakan dan di tambah dengan tamparan bertubi-tubi sehingga membuat kedua pipi putri kecilnya itu bengkak dengan sudut bibir yang mengeluarkan sedikit darah. Aku yang melihat itu pun kembali terkejut dan berusaha menahan teriakan dan isakkanku agar tidak ketahuan.”
“Setelah beberapa hal itu berlangsung, aku melihat ibu yang sedang tersenyum puas saat melihat keadaan Alexa yang terlihat lebih mengenaskan dari sebelumnya..Aku yakin, mungkin karena saat itu ibu sedang merasakan sangat frustasi sehingga ia melampiaskan emosinya kepada Alexa waktu itu, Setelah selesai dengan kegiatannya, Aku melihat ibu yang mulai meninggalkan Alexa sendirian disana dengan keadaan yang sangat mengenaskan tanpa ada niatan untuk mengobati sedikitpun.”
“Aku yang merasa saat keadaan sudah kembali aman saat itupun memutuskan untuk keluar dari persembunyianku dan mengobati Alexa sambil menemaninya hingga ia tertidur. Sungguh aku merasa seperti seorang kakak yang sangat tidak berguna waktu itu," ucap Leo mengakhiri kisahnya dengan tangisan pilunya sehingga membuat Alexa terbangun dari tidurnya.
"Kakak kenapa menangis?" Tanya Alexa kaget saat melihat kakaknya menangis sesugukkan.
"Tangan kakak sakit tadi jadi kaka nangis" bohong kakaknya memperlihatkan tanganya yang tidak terlihat terluka sedikitpun.
"Mana? Sini Alexa lihat. Biar Alexa tiup supaya sembuh." ucap Alexa sambil meniup ke arah yang di tunjukan olah kakaknya itu.
"Nah, sudah tidak sakit lagi kan kak!?" Tanya Lexa setelah meniup tangan kakaknya itu yang hanya di balas olah anggukan kakaknya.
Grep
Leo langsung memeluk adiknya dan menangis dalam pelukan adiknya itu. Yang lain yang juga melihat kejadian itu pun ikut menangis dalam diam. Apa lagi setelah mendengarkan kisah yang memilukan dari Leo membuat mereka tak tahan menahan air mata mereka.
Saat Leo sudah mulai tenang, ia pun mengajak yang lain untuk masuk ke dalam asrama karna waktu yang sudah menunjukkan malam akan segera tiba.
Jangan memberitahukan siapapun tentang ini. Termasuk Lexa. Telepati Leo ke mereka bertiga sebelum memasuki asrama
***
Dikamar asrama Alexa..
Setelah mendengar kisah dari kak Leo tadi, Vani masih diam terduduk di kasur kamarnya sambil merenungi kejadian tadi. Ia sendiri sungguh tidak menyangka jika room matenya itu mempunya masa lalu yang sangat menyedihkan seperti itu.
Aku juga bisa merasakan kesedihan dari nada yang terdengar pada saat kak Leo menceritakannya.
Aku sama sekali tak menyangka! Anak usia 3 tahun telah di aniaya oleh keluarganya sendiri?! Dan hebatnya lagi mereka menganiaya putri mereka sendiri hanya karena ia perempuan? Astaga.. aku tak habis pikir dengan mereka.
Tapi... apakah nenek dan kakek dari kak Leo dan Lexa tau juga tentang hal itu gak ya?
Setelah kepikiran tentang itu, aku segera mengambil ponsel di atas nakasku dan menanyakan perihal ini di grup kita berempat. Untung saja kak Leo belum mengundang Lexa.
GrupGaje
StevanieA.Balizza
P
P
P
FarelioS.Tomson
Why?
FelixBeliz
^2
KevinA.W
^3
StevanieA.Belizza
Ada yang aku mau tanyain tentang cerita tadi. Kak Leo mana sih!?
LeonardG.W
Hm?
StevanieA.Belizza
Emang nenek atau kakeknya kakak tidak menolongin adiknya kakak?
LeonardG.W
Nenek sama kakeknya kita entah dimana. Orang tua kita tidak pernah memberitahukan kami tentang keberadaan mereka. And i'm sure. Mereka gk tau kalau salah satu cucu mereka di siksa sama anak mereka.
KevinA.W
Oh..
StevanieA.Belizza
^2
FarelioS.Tomson
Tapi kau pernah coba nolongin Alexa pas dia sedang disiksa tidak?
FelixBeliz
^2
LeonardG.W
Sudah. Bahkan sudah berkali kali aku mencobanya. But ya... begitulah. Mereka selalu memisahkanku dengan Alexa saat dia sedang disiksa oleh mereka. And then, hasilnya tetap sama. Meskipun aku sudah melakukannya bsrkali-kali.
KevinA.W
Oh my! Kenapa mereka seperti itu?
StevanieA.Belizza
Hm!. Aku saja yang dengar cerita masalalunya Alexa tadi saja sampai menangis sepert tadi. Aku tidak akan bisa membayangkan jika aku ,e,eliki penderitaan yang sama dengan penderitaan yang selama ini dia rasakan :'(
FelixBeliz
Aku juga merasakan hal yang sama seperti yang Vani rasakan. Tidak akan pernah terbayangkan jika aku merasakan sakit yang sama dengan rasa sakit yang di terimanya.
FarelioS.Tomson
Apa lagi ia sudah dianiyaya sama oaring tuamu dari ia masih kecil. Umur 3 tahun itu terbilang masih bayi loh Le!
LeonardG.W
Maka dari itu, aku minta kalian jaga rahasia ini. Karena ia tidak mau mempunyai teman yang hanya mengasihani dia. Dia butuh sahabat untuk mengobati lukanya. Ia juga tak butuh di kasihani sama orang orang. Makanya ia menjadi dingin sama semua orang. Di tambah lagi dengan semua lukanya itu yang membuat ia bermotivasi untuk menjadi kuat agar ia tak terlihat rapuh di mata orang orang. Makanya ia melatih dirinya sampai menjadi yang sekarang.
Vani yang melihat isi pesan yang Di kirim oleh Leo pun sejenak. Ia bertekad jika ia akan berusaha untuk menjadi sahabat terbaik untuk Lexa! Meskipun awal mulanya persahabatan kita dimulai dari rasa iba mereka kepadanya. Tapi mereka akan berusaha untuk tetap tulus kepadanya dan akan membuatnya kembali tersenyum lagi seperti dulu.
***