BAB I

6185 Words
Matahari tlah menampakkan dirinya sekarang. Pertanda kalau pagi hari telah tiba. sinar matahar ipun telah mengintip malu - malu di celah - celah gorden pada salah satu ruangan. Membangunkan sosok gadis kecil dari tidurnya yang lelap. "Engghhh..." erang gadis itu sambil mengerjabkan matanya dan menyesuaikan dengan cahaya yang akan masuk ke matanya. Ceklek "Dek, ayo bangun. Sudah pagi." Ucap seorang pemuda yang hanya beda 1 tahun dengannya sambil menggoyang - goyangkan tubuh adiknya itu agar segera terbangun dari tidurnya. "Iya kak." Ucap sang adik sambil bangun dari tidurnya dan melangkah menuju kamar mandi yang menyatu dengan kamarnya itu. Sang kakak pun segera turun ke bawah. Menunggu adiknya itu untuk bersiap. Selesai bersiap, sang adik langsung turun ke bawah untuk menemui kakaknya. "Pagi kak." Ucapnya sambil mengecup pipi sang kakak. "Pagi juga dek." Ucap sang kakak sambil tersenyum kepada adiknya. Mereka pun sarapan dengan tenang. Sampai kemudian, sang adik bertanya kepada kakaknya. "Kak, mama dan papa masih kerja ya?" Tanya sang adik kepada kakaknya. "Iya dek. Justru baguslah mereka tidak ada dirumah, jadi kamu tidak akan disiksa lagi sama mereka." Ucap sang kakak yang terlihat santai dan senang kalau kedua orang tuanya itu sedang tak ada di rumah. "Kakak! Gak boleh ngomong gitu ah! Dosa nanti!" Tegur sang adik kepada kakaknya. "Dosa apanya? Mereka itu yang dosa. Hanya karena kamu itu anak perempuan, mereka sampài memperlakukanmu seperti ini?! Kakak tidak terima kalau adik kakak disiksa terus sama mereka! Apa lagi mereka itu orang tua kakak juga! Sedangkan kakak yang juga anak mereka tapi tak pernah disiksa seperti kamu, hanya karena kakak adalah laki-laki! Lihatlah badanmu itu! Penuh luka dan memar karna mereka!" Ucap kakaknya panjang lebar sambil menitikan air matanya sedikit melihat keadaan sang adik tercintanya. "Ini tak apa kak. Tak terasa sakit. Lagian ini bisa di tutup pake baju dan jaket. Lagian sejahat-jahatnya mereka. Mereka tetaplah orang tua kita. Setidaknya aku masih punya kalian yang tulus menyayangi aku." Ucap sang adik sambil tersenyum manis kepada kakaknya. "Ya sudah. Ayo kita berangkat. Kita hampir terlambat!" Ucap sang kakak mengalihkan pembicaraan. Setelah itu, mereka pergi ke sekolah menggunakan sopir pribadi mereka. Ya, orang tua mereka memang selalu menyiksa adiknya hanya karena ia adalah seorang perempuan. Mereka bilang kalau ia itu hanyalah anak perempuan yang lemah pembawa sial dan menjadi aib di keluarga mereka. Meskipun begitu, adiknya itu tidak menyembunyikan identitas keluarganya sama sekali. Didepan publik ia diperlakukan seperti layaknya seorang putri, tapi dibelakang ia akan diperlakukan layaknya budak yang disiksa oleh majikannya. Awalnya ayahnya sudah menyuruh ibunya untuk menggurkan kandungannya, hanya saja ibunya tetap bertahan dalam pendiriannya untuk membesarkan anak itu. Pada saat itu merekapun bertengkar sampai membentak satu sama lain. Sedangkan anak lelaki mereka yang masih sangat kecil yang mendengar pertengkaran mereka pun hanya bisa meringkuk dalam selimutnya dan menangis dalam diam memendam rasa takutnya. Sejak adiknya lahir sampai sekarang pun ia tak pernah mendapatkan kasih sayang sedikitpun dari ayahnya. Bukan kasih sayang yang akan ia dapatkan jika diminta. Tetapi sebuah pukalan atau cambukan manis darinya. Pernah saat adiknya berumur 3 tahun dan kakaknya itu berumur 4 setengah tahun, mereka bermain kejar-kejaran didalam rumah. Tak sengaja saat sedang berlari, sang adik menjatuhkan vas bunga kesayangan ayahnya sehingga membuat ayah mereka marah besar sehingga memukul dan membenturkan kepalanya ke dinding sampai mengeluarkan darah. Sang kakak yang melihat kejadian itu pun hanya bisa menangis dan bersembunyi dibalik tembok karena takut saat melihat adiknya memohon maaf ke ayah mereka dalam keadaan yang sangat mengenaskan. Tak lama kemudian, ibu mereka datang dan terkejut dengan apa yang ia lihat. Ia pun segera menghentikan aksi suaminya itu dan membawa anak perempuannya ke dalam kamar untuk di obati. Saat ia akan menelepon dokter keluarga untuk mengobati anaknya, handphone yang di genggamnya di lempar begitu saja oleh suaminya. Mereka pun kembali bertengkar saat itu juga sampai barang-barang disekitar mereka kena imbasnya menjadi hancur berantakan. Karena sudah emosi, ayah mereka memukul dan menampar istrinya sambil mengeluarkan kata-kata kasar yang membuat hati istrinya terluka kemudian meninggalkannya begitu saja yang mematung di tempat. Dengan perlahan, sang istri memasuki kamar putrinya dan melihat putrinya sudah sadar dan menatapnya dengan senyuman lebarnya. Awalnya ia hanya duduk di tepi ranjang sambil mengelus rambut putrinya itu, tetapi lama kelamaan elusan lembut itu berubah menjadi jambakan dan di tambah dengan tamparan bertubi-tubi sehingga membuat kedua pipi putri kecilnya itu bengkak dengan sudut bibir yang mengeluarkan sedikit darah. Ia merasa kalau putrinya itu yang menyebabkan keluarganya menjadi hancur. Karena frustasi, ia terus menyiksa putrinya sampai puas. Setelah dirasanya puas, ia dengan segera meninggalkan putrinya sendirian disana dengan keadaan yang sangat mengenaskan tanpa ada niatan untuk mengobati sedikitpun. Dan tanpa ia sadari, putra yang selama ini di bangga-banggakannya melihat semua kejadian itu dan membuatnya menjadi sangat benci kepada kedua orang tuanya. *** Sesampainya mereka di sekolah, mereka pun berpisah di tengah koridor karena arah menuju kelas yang berbeda. Sang adik ke kiri, sedangkan sang kakak ke kanan. Di tengah perjalanan, ia melihat kekasihnya dan sahabatnya datang menghampirinya secara bersamaan. Dengan posisi ia di pojok, kekasihnya di tengah, dan sahabatnya di pinggir. Ia dan kekasihnya itu pun bergandengan tangan sepanjang jalan. Tanpa ia sadari, sedari tadi sang kekasih sedang merangkul mesra sahabatnya itu. Sesampainya di kelas, sang kekasih itupun segera melepaskan rangkulan dan gandengan dari keduanya. Kemudian mereka duduk di bangku masing - masing dan menunggu jam pelajaran dimulai. "Musuh yang terbesar dalam hidupmu sendiri bukanlah mereka yang slalu menjelek - jelekan mu dibelakang. Melainkan sahabatmu sendiri" ~Unknown~ Teettt... teeetttttt.... Tak terasa bel istirahat telah berbunyi. Para murid pun segera berhamburan keluar untuk mengisi perut mereka yang telah memberontak meminta makan. Mereka bertiga juga segera menuju ke kantin untuk mengisi perut mereka yang sedang konser di dalam sana. Sesampainya di kantin membeli makanan yang mereka inginkan, mereka segera mengambil bagian di bangku kosong yang tersisa di sana. Banyak bisik - bisik dari siswa lain yang membicarakan mereka bertiga. Terutama sang pemeran utama disini. Mereka merasa kasihan dengannya karna menurut mereka orang yang telah di anggapnya kekasih itu juga sedang menjalani hubungan gelap dengan sahabatnya sendiri. Akan tetapi dia tetap tidak memperdulikan itu semua. Dan tetap melanjutkan makannya sampai selesai. *** Alexa Angeline Witz. Biasanya dipanggil Alexa atau Alex saja. Itulah nama dari gadis itu. Memiliki paras yang cantik dan juga kecerdasan yang dititipkannya dari Tuhan, tidak membuat ia menjadi orng yang sombong. Jangan tanya apakah ia baha gia dalam menjalani kehidupannya? Jawabannya adalah tidak. Tidak sama sekali. Tetapi dia bukanlah anak gadis yang dengan mudahnya mengeluh hanya karena hal kecil. Melainkan ia sendiri adalah gadis kecil yang berpegang teguh pada pendiriannya. Saat ini ia masih berada di kantin sekolahnya. Duduk sambil memikirkan tentang suatu hal yang membuat hatinya gelisah sedari tadi. Yang tak lain adalah tentang gossip yang menceritakan jika kedua orang yang ia sayangi ini menghianatinya dari belakang. Bukannya ia percaya atau malah tidak memusingkan tentang gossip itu. Ia hanya terjebak diantara keduanya. Ia bingung memilih untuk percaya, atau tidak percaya kepada kabar burung tersebut. Bisa saja kan jika kabar itu tidak benar? “Lex. Kamu kenapa?” Tanya Bela. Sahabat perempuannya itu, yang bernama lengkap, Isabella Augustin Anderson. “Nothing. Hanya memikirkan tugas Fisika yang tadi diberikan Mrs. Yuli saja. Kenapa memangnya?” Jawab Alexa santai. “Kamu yakin by? Aku khawatir kamu kenapa-kenapa.” Ucap pacarnya dengan raut wajah tak yakin. “Aku tak apa, Stev.” Ucap Alexa lagi kepada Stevan. Stevano Arseno Smith. “Yakin?” Tanya Stevan lagi. “Yakin Stev. Lebih baik kita kembali ke kelas saja. Bel masuk akan segera bunyi sekitar dua menit lagi bukan? Sebaiknya kita bergegas.” Ucap Alexa panjang lebar sambil beranjak diluan dari duduknya dan mulai berjalan memasuki kelasnya. *** Bel pulang pun berbunyi, membuat sebagian murid di dalam kelas memekik kegirangan karna akhirnya terbebas dari pelajaran sejarah yang sangat membosankan. Mereka segera membereskan barang - barang mereka dan keluar setelah guru mata pelajaran itu keluar. Alex juga akhirnya memutuskan pergi sendiri ke parkiran karena Stevan dan Bella sedang ada jadwal piket hari ini. Sesampainya ia di parkiran, ia tak menemukan kakaknya dimana - mana. Akhirnya ia menunggu di depan gerbang sambil melanjutkan membaca novelnya yang tertunda. Ia pun segera membuka ranselnya dan mencari novelnya itu. Setelah beberapa saat ia mencari, ia tak menemukannya di dalam tasnya itu “Dimana ya?” Ia pun teringat kalau ternyata novelnya tertinggal di laci bawah meja kelasnya. Ia segera pergi menuju kembali ke kelasnya untuk mengambil novelnya itu sebelum kakaknya datang dan mencarinya. Sesampainya di depan kelas, pintu kelasnya agak terbuka. Ia pun segera berpikir, mungkin Bella dan Stevan lupa menutupnya saat keluar tadi. Tak mau ambil pusing, ia segera mengankat tangannya untuk membuka pintu kelasnya itu. Tetapi saat ingin membukanya, ia segara mengurungkan niatnya saat mendengar suara orang yang sedang mengobrol di dalam. Dari suaranya, ia bisa menebak jika kedua orang tersebut adalah Bella dan Stevan yang sedang membicarakan sesuatu di dalam yang membawa namanya. "Sampai kapan sih kita harus begini Stev?" Terdengar suara seorang cewek yang ia yakini sebagai Bella sedang merajuk kepada seseorang. "Sabar saja sayang, lagi pula kita juga ada untungnya kan berpura - pura baik di depannya. Liat aku, aku sudah menjadi kekasihnya, dan aku akan membuatnya untuk menuruti semua permintaan kita, by. Pelan-pelan." ucap seorang lelaki yang suaranya mirip seperti Stevan. "Kau benar juga Stev, kita jadi tidak perlu repot-repot kuras otak untuk mengerjakan tugas rumah kita dan juga tidak perlu mengeluarkan uang untuk berbelanja. Pasti dia yang akan membayarkan nantinya. Dan jika di kasih alasan ini itu saja untuk meminjam uangnya, ia pasti akan langsung memberikannya tanpa pikir panjang. Memang mudah sekali ya untuk di manfaatin" Setelah itu, terdengar suara tawa dari dalam sana. Mereka tidak sadar, kalau orang yang mereka sedang bicarakan ada di depan mereka sekarang. Ya, Alex sudah muak dengan semua ini dan segera masuk tanpa kesadaran mereka dan langsung menampar Stevan dan Bella bergantian. Plakk Plakk Mereka yang di tampar secara tiba-tiba kaget dan tidak bisa menghindar karena kejadiannya begitu cepat tanpa mereka sadari. "A.. Alex." ucap Stevan dan Bella terbata - bata karna takut percakapan mereka terdengar oleh Lexa. "Iya, kenapa? Kaget? Takut kalian kalau aku dengar percakapan kalian tadi? Iya?! Aku sudah dengar semuanya!!! Puas kalian manfatin aku hm?! PUASS!!!?" Bentak Lexa dengan wajah memerah menahan amarah. "I.. ini tak seperti yang kamu pikirin sayang" ucap Stevan berusaha membujuk Alex. "Sayang? Kamu bilang sayang? Apakah ada orang yang memanfaatin orang yang ia sayang? Tidak kan!? Mulai hari ini kita PUTUS!!" Bentak Lexa lagi sambil menunjuk Stevan kemudian pergi dari sana. Tapi tiba - tiba ia berhenti di ambang pintu. Dan mengatakan sesuatu yang membuat mereka benar-benar terdiam. Menurut mereka, ATM berjalan mereka telah hilang akibat kecerobohan mereka sendiri tadi. Benar-benar tidak tau malu. "Mulai sekarang, hubungan persahabatan dan pertemanan kita putus. Kalian cukup beruntung karna aku tidak meminta barang dan uang yang telah aku kasih ke kalian kembail. Jadi, semoga kalian mendapatkan karma dari apa yang telah kalian lakukan selama ini, Aku pergi." lanjutnya dengan nada yang sangat dingin tanpa membalikan badannya. Melupakana apa yang menjadi tujuan ia dating ke kelas sebelumnya. Saat ia sudah kembali ke gerbang depan sekolahnya, ia melihat kakaknya telah menunggunya di sana sambil melipat kedua tangannya di depan dada dan bersandar di tembok gerbang sekolah. "Kak Leo" panggil Lexa ke kakaknya yang bernama Leonard Georgio Witz. "Jangan lari - lari dek, nanti kamu jatuh!" Peringat kakaknya kepada adiknya itu yang sama sekali tidak memperindahkan perkataannya. Sesampainya adiknya didepannya, ia pun segera menanyakan sesuatu ke adik kesayangannya itu. "Dari mana saja sih dek?" Tanya Leo kepada Lexa. "Dari kelas, habis piket tadi" ucap Lexa sambil menyengir lebar seolah terjadi apa - apa. Leo pun hanya ber'oh' ria saja mendengar tuturan adiknya itu. Dan segera mengajaknya untuk pulang karna supir mereka telah sampai dari tadi. *** Setelah kejadian itu terjadi, Alex yang ramah tapi pendiam itu mulai berubah menjadi Alex yang dingin dan menyeramkan menurut siswa siswi di sekolahnya karena tatapan tajamnya yang seolah - olah dapat membunuh orang yang sedang di lihatnya saat itu. Sang kakak yang menyadari perubahan sikap dari adiknya itupun segera menanyakannya, atau lebih tepatnya memaksa adiknya untuk menceritakan apa yang telah terjadi sebelumnya. Mau tak mau, Alex segera menjelaskan semua kejadian 'itu' dengan sangat detail sehingga membuat kakaknya mengerti dan marah disaat yang bersamaan akibat ulah mereka yang membuat luka di hati adiknya semakin bertambah. Akan tetapi pada sisi lain, ia juga senang karna akhirnya adiknya bisa menjadi lebih tegas karna ulah mereka karena selama ini Leo sebenarnya cukup gemas dengan tingkah adiknya yang terlalu kelewatan baik itu. Dua tahun kemudian. Kejadian itu sudah lama berlalu. Tapi sifat Lexa berubah menjadi semakin dingin dan tertutup kepada orang - orang yang menganggunya. Gadis yang ceria dan pemalu kini telah hilang. Di gantikan oleh sosok monster berhati dingin yang kejam dan sadis. Leo yang melihat perubahan adiknya pun hanya bisa pasrah dengan keadaan. Karena ia juga tidak bisa mengembalikan sifat adiknya seperti dulu. Sudah ia mencobanya berkali - kali. Tapi hasil yang ia dapatkan nihil. Alex memang masih selalu tersenyum dan berbagi cerita dengan kakaknya. Tetapi ia sekarang lebih tertutup dari sebelumnya dan hanya menampilkan senyum yang tipis yang menandakan jika semuanya baik - baik saja. Leo tau kalau senyum yang di tunjukan adiknya hanyalah senyum palsu yang di tunjukkannya untuk membuatnya tak khawatir dengan keadaan Alex. Akan tetapi ia juga hanya akan mendapatkan balasan yang sama terus menerus. Meskipun ia sudah memaksa adiknya itu. Sekarang umur Leo sudah 18 tahun. Dan Lexa sudah berumur 17 tahun. Lexa tak mengetahui kalau Leo sebenarnya bukan sekolah di luar negeri. Tetapi di sebuah Academy yang hanya di khusukan untuk orang - orang yang memiliki keistimewaan tersendiri berupa magic atau sihir yang biasanya hanya di anggap mitos dan dongeng oleh mereka yang sudah hidup di jaman yang modern ini. *** Disinilah Leo berada sekarang. Taman samping rumah mereka berdua memang tempat favorit Leo sejak mereka berdua pindah kesini. Ia sedang duduk termenung sambil memikirkan semua kejadian yang menimpahnya dan adiknya selama ini. Sungguh ia tak tau lagi bagaimana cara untuk membuat dia kembali ke sifatnya yang dulu. Sambil menghela nafas lelah, ia menyandarkan dirinya pada bangku taman yang sedang ia duduki itu. Sungguh ia sangat rindu dengan semua celotehannya dulu. Akan tetapi nasi telah menjadi bubur. Sifatnya seperti sudah mendarah daging ke dirinya semenjak kejadian itu. Jika kalian bertanya dimana Leo melanjutkan studynya sekarang, maka ia akan menjawab jika sekarang bersekolah di Dimension Academy. Nama yang terdenngar aneh bukan? Tapi itulah namanya. Tempat dimana semua makhluk imortal yang akan di didik untuk melatih sihir yang ada di dalam tubuh mereka. Tetapi, sungguh Leo tak pernah memberitahukannya kepada Alex ataupun berniat untuk memberitahukannya. Karena ia tahu, ia tak akan percaya kepada ku. Di sisi lain ia juga, aku di larang memberitahukan siapapun tentang sekolahku itu. Katanya untuk melindungi diri dari hal yang tak di inginkan. Ngomong - ngomong soal orang tua, mereka sudah tak tinggal lagi bersama mereka sejak aku berusia 15 tahun. Karena saat kejadian itu, aku memutuskan untuk tinggal sendiri di rumah yang telah kita beli dari hasil tabungan bersama. Dan untuk memenuhi biaya keseharian mereka, mereka dapatkan dari pekerjaan seharian mereka. Menyeramkan, kejam, san sadis. Hanya tiga kata yang mendefinisikanya saat melakukan pekerjaannya. Leo pernah melihatnya membunuh salah satu monster yang meresahkan warga di sana. Dan yang lebih seramnya lagi. Dia hanya menunjukan wajah dingin dan tatapan tajamnya saat melawan monster itu. Apa lagi dengan gayanya yang seperti orang psyco. Benar benar sadis Batin Leo saat itu. Tapi itulah dirinya yang sekarang. Selain karna faktor pribadi yang mendorongnya untuk membenuk sifat seperti itu. Perkerjaannya sebagai seorang agent pun membuatnya mau tak mau harus bersikap seperti itu. Dan karna itu juga, dirinya mendapatkan julukan tersendiri. Yaitu The Monster Ice karna sifatnya yang sedingin es dan kesadisannya dalam melawan musuh. "Kak, kenapa melamun?" Tiba - tiba sebuah suara menyentak Leo dari lamunannya. "Kakak gak melamun kok. Cuma tadi lagi kepikiran saja." Alex hanya ber'oh' ria saja mendengarkannya tanpa ingin menanyakan lebih jauh lagi. "Aku mau pergi kerja nih kak. Kakak mau ikut?" Ajak Alex sambil memasang sarung tangan hitamnya. "Emang boleh?" Tanya Leo merasa tertarik. "Boleh - boleh saja sih. Asalkan kau membantu. Dapat bayaran juga loh." Jawabnya sambil mengikat tali sepatunya. "Hmm... oke deh. Hitung - hitung buat isi waktu kosong. Bosan juga sih sendiri nanti" jawabku sambil berdiri dari sofa. "Yaudah. Siap - siap sana. Ingat! Jangan pake baju yang ribet dan mencolok." Ingatnya yang hanya digangguki oleh Leo mendengarkannya tanpa menoleh sedikitpun. Tak butuh waktu lama bagi Leo untuk berganti pakaian seperti Alexa. Setelah berganti, ia segera keluar dari kamarnya dan menghampiri Alexa yang sedang duduk sambil memainkan handponenya di sofa ruang tengah. “Let’s go, Lex.” Ajak Leo saat sudah sampai didepan Alexa yang langsung disetujui olehnya. "Kak, balapan yuk" Ajak Alexa mendadak saat mereka baru akan menaiki kendaraan mereka masing-masing. "Ayuk, siapa takut" ucap Leo setuju sambil memasang helm. Sebelum mereka mengambil posisi masing-masing. 3 2 1 Balapan pun di mulai. Motor keduanya melaju sangat kencang membelah jalan yang penuh dengan kendaraan yang berlalu lalang di depan mereka. Dengan gesitnya mereka saling menyalip kendaraan kendaraan lain tanpa memerdulikan sumpah serapah yan di lontarkan dari si pengendara yang di salip mereka. Awalnya Leo yang memimpin. Tak lama kemudian, Alex yang memimpin. Sampai saat hampir sampai di tempat tujuan, Leo yang memimpin. Dan saat hampir sedikit lagi Leo memenangkan balapan, Alex lebih dulu melaju dan menyalip Leo sehingga ia yang jadi pemenangnya. "Yey menang! Berarti sebentar traktir ya kak!" Ucap Lexa sambil tersenyum kepada Leo. "Iya iya. Kering dah dompet gue" balas Leo yang memelankan suaranya di akhir kalimat terakhirnya. Alex yang pendengarannya sangat tajam itupun hanya tersenyum mengabaikan perkataan kakaknya itu. Ia sendiri sedang memikirkan makanan apa yang akan ia makan sendiri sebentar untuk memeras isi dompet kakaknya itu. Setelah itu mereka masuk ke dalam sebuah gedung tinggi yang menjulang dan di sambut sapaan dari orang - orang yang melihat mereka yang hanya debalas dengan tatapan datar mereka. Mereka di sini memang terkenal dengan julukan The couple ice yang sangat dingin kepada semua orang. Terutama Alex yang hampir tak pernah berbicara sedikitpun di sana. Selain berdehem atau menggeleng untuk menjawab suatu pertanyaan. Ia juga hanya mengeluarkan kata yang tak lebih dari 5 kata. Itupun jika dalam keadaan penting. Misalnya dalam keadaan mereka sedang menjalankan misi atau sedang mananyakan alamat keada orang sekitar. Meskipun suaranya terkesan dingin dan tajam. Tetapi itu tak membuat orang-orang *** Setelah berjalan beberapa menit, akhirnya mereka telah sampai di sebuah ruangan yang besar dan luas. Mereka pun mengetuk pintu dengan ritme yang pelan dan segera masuk saat sebuah suara menginstrupsikan mereka dari dalam. Setelah mereka masuk, terlihatlah seorang pria dewasa dengan usia sekitar 40an akhir sedang duduk di kursi besarnya. Terlihat sebuah plat nama besi yang terletak di atas mejanya bertuliskan Mr. Sean. Taklama, aoaok pria dewasa dengan nama Mr. Sean itu berbalik menghadap mereka sambil membolak balikkan sebuah dikumen ditangannya sebelam mengankat sedikit kepalanya dan melihat siapa yang telah datang memasuki ruangannya itu yang hanya berlangsung selama 3 detik sebelum ia kembali memfokuskan pandangannya kepada sebuah dokumen yang dipegangnya untuk diteliti. "Oh. Hai Ice Queen. Tumben kau mengajak kakakmu untuk mengikuti misi(?)" Ucap Mr. Sean bingung tanpa mengalihkan tatapannya sedikitpun dar fokusnya. Alex yang ditanya seperti itu hanya memutar bola matanya malas dan langsung duduk di sofa yang ada tanpa di persilahkan terlebih dahulu dan di ikuti oleh Leo yang duduk di sampingnya. Seolah mengerti apa yang di inginkan adiknya, Leo pun segera berbicara. "To the poin" ucapnya dengan nada datar dan dingin serta tatapan tajamnya itu pada pria yang sedang duduk di kursi kebesarannya. "Santailah sedikit, boy." ucap Mr. Sean sambil terkekeh sebentar dan menaruh dokumen yang dipegangnya tadi diatas meja sebelum menghilangkan kekehannya dan mengubah raut wajahnya menjadi lebih serius. “Misi kalian saat ini adalah menangkap sekelompok teroris yang belakangan ini sangat meresahkan warga. Kalian pasti sanggup bukan? Untuk letak koordinatnya mereka berada, terakhir kali kami mengetahui markas kelompok teroris tersebut disini sebelum radar keberadaan menghilang entah kemana." Ucap Mr. Sean sambil menunjuk suatu daerah yang berada di dalam peta. Alex yang melihatnya hanya mengangguk kecil saja. Sedangkan Leo hanya berdehem untuk menanggapinya. "Oke. Apakah kalian butuh sukarelawan untuk membantu kalian?" Tanya Mr. Sean. Kadang kadang juga ia suka kesal sendiri kalau sedang berbicara dengan mereka. Ia merasa seperti sedang berbicara dengan tembok. Tapi ia selalu menyimpan kekesalannya itu. Karna ia tau, percuma baginya untuk memprotes mereka ataupu menasehati mereka untuk bersikap lebih ramah sedikit karena tanggapan yang akan ia dapatkan hanya tatapan datar atau gumaman dari mereka saja sebelum mereka peri dari hadapannya. Alex pun segera menggeleng kecil saat ia di tanyakan begitu. Begitu pula Leo. Kemudian mereka segera bangkit dari duduknya dan menunduk sedikit kemudian langsung melenggang pergi tanpa di instruksikan terlebih dahulu. *** Jika kita putar untuk beberapa tahub yang lalu, pati kita akan mendapati sosok Alexa yang lembut, sabar dan penyayang dengan sekitarnya. Sungguh sangat berbanding terbalik dengan sifatnya yang sekarang. Hal itu juga tidak dibungkiri sendiri oleh Alexa saat kita membahas tentang sifatnya itu. Tetapi bukan dirinya juga yang ingin mengubah siatnya menjadi seperti ini. Tapi keaadaanlah yang mengubahnya menjadi seperti ini. Meskipun iatelah mencoba berkali-kali untuk menyangkal jika sesuatu didalam dirinya telah berubah, tetapi hal itu tetap tak bisa ia lakuakan. Karena seperti inilah dia yang sekarang. Jika kita memutar balikan waktu untuk beberapa saat. Kita juga dapat mengetahui hal apa saja yang telah berubah darinya dan juga alasannya masuk ke dalam sebuah agensi intelejen Negara seperti ini. Cukup simple baginya untuk menjelaskan. Itu semua dimulai saat dirinya sampai dirumah setelah kejadian itu. Ia masih sangat iangat sekali jika waktu ia dan kakaknya sampai dirumah, ia langsung berlari ke kamarnya dan langsung mengunci pintu kamarnya dan melempar tasnya ke sembarang arah sebelum melampiaskan kekesaannya dengan memukul dinding tembok kamarnya berkali-kali sampai retak sehingga mengakibatkan tangannya yang terlukah parah setelahnya. Keesokan harinya, saat mereka baru akan sarapan pagi, Leo melihat tangan adiknya yang di perban dari pertengahan jarinya sampai pergelangan tangan adiknya dengan bingung dan menanyakan apa yang terjadi dengan tangannya yang dijawab oleh Alex jika ia melakukannya agar ia terlihat keren yang dibalas dengan gelengan kepala oleh Leo. Entah mengapa setelah ia melakukan hal itu, ia merasakan kepuasan sendiri baginya dan membuatnya ingin melakukannya lagi dan lagi. Sampai akhirnya setelah ia pikirkan semalaman, ia memutuskan untuk kembali melampiaskan emosinya dengan cara mengikuti sebuah latihan bela diri. Ia lakukan hal itu setelah berpikir daripada ia mendapat luka di telapak tanganna akibat memukul embok kamarnya terus menerus, lebih baik ia mengikuti sebuah club latihan bela diri disekolahnaya. Setidaknya ia dapat mengtahui cara melindungi diri jika sedang dalam sebuah musalah. Semakin lama ia menjadi semakin banyak mengikuti berbagai macam i=club bela diri disekolahnya, sampai-sampai ia telah menguasai 9 ilmu bela diri dalam waktu yang cukup singkat. Awalnya semua berjalan dengan lancer. Sampai suatu hari ia tak sengaja mendengar percakapan kedua orang tuanya yang berniat untuk membunuhnya. Saat ia mendengar hal itu, saat itu juga ia merasa jika seluruh dunianya hancur berantakan berkeping-keping. Baru saja ia akan berbalik dan berlari disana, salah satu tangannya sudah dicengkeram terlebih dahulu oleh ibunya yang ternyata telah menyadaei kehadirannya sedari tadi. “Maau pergi kemana kamu?” Tanyanya kepada Alexa yang masih diam menangis sambil menggelengkan kepalanya cepat. Tanpa Alexa duga sendiri, ibunya langsung menyeretnya menuju lantai bawah disusul oleh ayahnya yang mengikutinya dari belakang. Bukk Bukk Suara benturan antara benda tumpul pun terdengar memekikan telanga. Disana, diruang tengah keluarganya, ia telah dipukul oleh orang tuanya dengan gagang sapu yang panjang disana. Yang ia bisa lakukan saat itu hanyalah menangis dan memohon ampun kepada mereka yang seoah-olah sudah menulikan telinga mereka sedari tadi. Sampai saat kesadaran Alexa yang sudah menipis, ia melihat kakaknya datang dan langsung membawanya keluar dari rumah itu tanpa memperdulikan makian-makian yang sengaja dilontarkan kedua orang tua mereka dengan suara cukup keras. Tak cukup sampai situ. Keesokan harinya ia mendapati jika seluruh anak dalam sekolahmya membicarakannya secara terang-terangan dan mengatakan jika dirinya adalah anak haram. Alexa yang mendengar itu hanya tertunduk dalam sambil mempercepat langkahnya menuju ke kelasnya. Sesampainya ia dikelas, ia sudah melihat jika teman-temannya telah berkumpul di meja belakang seperti biasanya. Alexa pun mulai berjalan mendekat dan menyapa mereka, tetapi hal yang ia dapatkan justru sebuah kaliamat mencela dan hinaan yang pahit dari mereka semua. Berlari, berlari, dan berlari. Itulah yang dilakukannya saat itu. Sampa akhirnya ia sampai di sebuah taman dekat sekolahnya yang cukup sepi karena jarang dikunjungi oleh orang-orang. Disana, ia melampiasakan kekesalannya dengan mengeluarkan seluruh ilmu beladiri yang ia kuasai dan melampiaskannya pada sebuah pohon disana, sampai-sampai pohon yang ia jadikan samsak itu hamper rubuh akibat pukulan dan tendangan yang ia berikan cukup kuat. Setelah puas dengan yang ia lakukan barusan, ia mendengar suara tepukan tangan dan juga langkah kaki dari belakangnya yang ternyata adalah ulah seorang pria berkisaran 40an yang sedang berjalan kearahnya sambil melontarkan senyum lebarnya. Saat pria itu sampai didepannya, ia memperkenalkan dirinya kepada Alexa yang masih menatapnya datar sedari tadi. Ia mengatakan jika dirinya bernama Sean dan dia adalah sebuah kepala dari salsah satu organisasi intelejen Negara. Mr. Sean pun saat itu langsung menawarkan Alexa untuk menjadi salah satu Agen disana yang langsung diiyakan oleh Alexa tanpa pikir panjang lagi dan menerima kartu nama Mr. Sean saat itu sebelum ia pergi meninggalkannya sendirian di taman. *** “Lex?” Panggil Leo pada tiba=tiba membuyarkan lamunan adiknya. “Eh? Ya?” Tanya Alexa gelagapan karena ketahuan jika dirinya sedang melamun tadi. “Kita sudah sampai.” Ucap Leo sambil menunjuk bangunan tua didepan mereka yang hanya diangguki oleh Alexa sebelum ia turun dari motornya, begitu juga dengan Alexa. “Berpencar?” Tanya Alexa kepada Leo yang langsung dianggukinya. Alexa memutuskan untuk pergi kea rah barat, sedangkan Leo memilih untuk pergi kea rah timur. Dalam waktu beberapa menit, mereka krmbali ke tempat semula untuk melaporkan keadaan sekitar. “Aku tak menemukan apapun disana.” Ucap Alexa sambil melihat jam tangan canggihnya yang juga berfungdi sebagai alat pelacak. “Aku juga. Apa sebaiknya ita pergi saja?” Tanya Leo bingung. “Tidak. Mendingan kita periksa di bagian belakang. Aku tadi sepertinya mendengar sebuah suara disana.” Ucap Alexa yang disetujui oleh Leo. “Kau menemukan sesuatu, Kak?” Tanya Alexa Sambil melihat ke sekitarnya dengan teliti. “Sebentar.” Ucap Leo sebelum mendekati salah satu pohon disana. “Tidakah ini terlihat aneh?” Tanya Leo bingung sambil menunjuk pohon yang berada di depannya. “Maksudmu?” Tanya Alexa tak mengerti. “Coba kau perhatikan ini. Bentuknya bisa terbilang terlalu rapih untuk sebuah pohon biasa. Batangnya terlhat seperti sudah di bentuk memang oleh seseorang sehingga menghasilkan sebuah batang pohon yang sangat tegap tanpa ada sedikitpun akar ataupun cabang yang meliuk-likuk di sekitarnya. Juga coba kau perhatikan ini.” Ucap Leo sambil menunjukkan salah satu cabang pohon yang menjadi satu-satunya cabangnya disana. “Bukankah sangat ganjil jika pohon ini hanya memiliki sati cabang dengan bentuk yang sangat rapi?” Tanya Leo melanjutkab. Alexa yang mendengarkan semua penjelasan kakaknya pun mulai mengerti apa maksud dari perkataan kakaknya itu. “Jadi maksudmu pohon ini bisa jadi sebuah tombol rahasia begitu?” Simpulnya langsung. “Entahlah. Makri kita buktikan.” Ucap Leo santai sambil mengankat kedua bahunya acuh dan menarik cabang pohon itu dengan keras. Krieekkk.. Tek.. Tek.. Tek.. “What the..!?” Ucap Alexa terputus saat melihat tanah didepannya terbelah dan membentuk banyak anak tangga yang menuju suatu tempat yang entah menuju kemana. Yang pasti yang mereka berdua yakin jika iniadalah.. “Sebuah jalan rahasia!?” Ucap mereka secara kompak sambil berpandangan dengan bingung. “Masuk?” Tanya Leo kepada Alexa. “Kurasa tak ada pilihan yang lain.” Jawab Alexa acuh kemudian berjalan masuk ke dalam jalan rahasia itu yang disusul oleh Leo. Tek.. Suara benturan antar benta tumpul itu membuat mereka terdiam sejenak dan menoleh kea rah belakang, pintu tempat mereka masuk yang sudah tertutup secara otomatis. Menarik. *** Cukup lama mereka berjalan dalam lorong panjang yang gelap itu. Sampai akhirnya mereka memutuskan untuk menghentikan langkah mereka sebentar saat mendengar suara percakapan dan langkah kaki dua orang yang sedang mendekat. “Kau yakin kita tak akan ketahuan?” Tanya orang pertama dengan ragu “Kurasa tidak. Kau tahu sendiri bukan jika kita berada pada tempat yang cukup aman.” Jawab kawannya dengan yakin. “Tapi aku mempunya perasaan yang tidak enak.” Kata orang pertama itu lagi dengan ragu. “Kau ini seperti cewek saja yang punya perasaan sesitif seperti itu!” Jawab kawannya menejek sambil merangkul kepala orang itu di sela-sla ketiaknya. Alexa dan Leo semakin merepatkan tubuh mereka pada dinding agar tak ketahuan saat melihat kedua orang yang berjalan melewati mereka. “Hei! Jangan mengatakanku seperti itu! Aku ini lelaki tahu!” Terdengar suara protes kesal dari orang itu dengan suara yang teredam akibat jaear mereka dengan Alexa dan Leo yang sudah mulai jauh. “Yayaya. Terserah kau saja, boy. Lebih baik kita segera berkumpul. Kurasa sebentar lagi Bos akan datang.” Mendengar perkataan terakhir yang terlontar dari mulut salah satu diantara mereka membuat Alexa dan Leo saling bertatapan dengan serius. “Kita pergi.” Putus Alexa tiba-tiba. “Tunggu!” Tahan Leo tiba-tiba. “What?” Tanya Alexa tak sabar. “Lebih baik kita hubungi yang lainnya terlebih dahulu.” Saran Leo sambil mengancungkan Handponenya di depan Alexa. “Kau benar.” Setuju Alexa. *** Waktu semakin berjalan dengan cepat. Misi yang didapatkan oleh Alexa dan Leo belum kunjung selesai. Mereka masih menunggu waktu yang tew[at untuk menyelesaikan aksinya ini. Yang pasti yang telah mereka lakukan pada bagian awal adalah menghubungi pihak keamanan yang lain untuk memberitahukan letak markas yang sebenarnya kepada pihak keamanan. “Sekarang?” Tanya Leo yang dijawab dengan isyarat tangan untuk menunggu sebentar oleh Alexa. “Kalian ada dimana?” Tanya Alexa lewat alat komunikasi yang terpasang pada telinga kanannya. “Kami sudah berada di depan pohon yang Anda bilang tadi, Nona.” Jawab seorang lelaki dari ujung sana. “Tunggu aba-aba selanjutnya dari kami.” Ucap Leo dan langsung memutuskan sambungan komunikasi merek secara sepihak. “Sekarang!” Ucap Alexa tiba-tiba dan langsung keluar dari tepat persembunyiannya. Begitu juga dengan Leo. “ANGKAT TANGAN KALIAN SEMUA!!” Teriak Alexa memerintah dan langsung direspon secara spontan oleh mereka semua. “Wow! Liatlah siapa yang datang kesini? Couple Ice heh? Sungguh tamu tak diundang yang sangat menarik.” Ucap sseorang lelaki paruh baya berkepala pelontos dengan seringai remehnya yang selalu melekat pada wajah jeleknya itu. “Cih! Simpan saja omong kosongmu itu nanti, bodoh!” Deack Leo jengkel. “Kalian bisa masuk sekarang.” Diam-diam, Alexa sudah memberikan aba-aba kepada yang lainnya agar segra masuk untuk menangkap mereka semua. “Hajar mereka.” Perintah pria kepala peontos itu secara tiba-tiba membuat Alexa dan Leo berdecak kesal seketika sebelum melawan eluruh anak buah pria itu dengan gesit. DOR.. DORR.. “ANGKAT TANGAN KALIAN SEMUA! KALIAN TELAH KAMI KEPUNG!” ‘Tepat waktu.’ Batin Alexa senang sebelum ia menembak kedua kaki si pria pelontos itu tiba-tiba. “ARGHH!” “Ayo kak.” Ajak Alexa pulang *** Hari ini adalah hari pertama Alexa untuk kembali bersekolah pada semester baru. Alexa pun segera bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Meskipun ini masih pukul 05.45 tapi ia ingin mengantar Leo sampai teras rumah saat mobil jemputannya yang sebentar lagi akan untuk menantarkannya ke bandara. Setelah bersiap, ia segera turun ke lantai dasar dari arah kamarnya yang berada dilantai 2. Setelah sampai, Alexa segera melangkahkan kakinya menuju dapur dan menemukan Leo yang sedang menyiapkan sarapan disana. "Mau ku bantu?" Tanya Alexa tiba-tiba sambil berjalan mendekatinya. "Kurasa tidak" jawab Leo yang agak kaget akibat kedatangannya yang tiba-tiba. Alexa yang mendengar itu hanya mengangguk sebagai balasannya, dan segera mengambil tempat duduk di depannya untuk sarapan pagi ini. "Kapan jemputan kakak datang?" Tanya Alexa penasaran saat mereka telah menyelesai sarapan mereka. "Hm.. sebebentar lagi mungkin(?)" Jawab Leo yang, entahlah, itu terdengar seperti sebuah pertanyaan atau pernyataan. Karena setelah ia menyelesaikan kalimatnya itu, terdengar suara klakson mobil yang berasal dari arah depan rumah dengan suara cukup keras. Titt. Tiittt.. Setelah mendengar bunyi klakson tersebut, mereka pun segera beranjak dari duduk mereka dan segera keluar. Ebelum keluar, Leo menyempatkan dirinya untuk mengambil kopernya yang memang sudah ia simpan ada sebelah pintu masuk pintu masuk sebelum kemudian ia memberikannya kepada sang sopir tersebut. "Kakak pergi dulu ya. Belajar yang rajin. Nanti pasti kita akan ketemu sebentar lagi." ucap Leo sambil mengusap kepala Alexa dengan lembut serta memberikan senyuman yang terkesan aneh dan misterius bagi Alexa. "Maksudmu apa kak?" Tanyaku bingung. "Nanti juga kamu pasti tahu itu." Jawab Leo dengan santai. Sedangkan disisi lain, Alexa sendiri tidak mau mempermasalahkan akan hal itu yang menurutnya hanya sekedar candaan dari kakaknya mungkin, sehingga ia hanya memilih mengangguk saja sebagai jawabannya. "Yaudah. Kakak pergi dulu ya. Kalau ada apa apa, telvon kakak saja. Ok?" ucap kakakku sambil memasuki mobil dan menurunkan kaca mobilnya sambil membentuk jari 'Oke'. Alwka hanya kembali mengangguk sambil tersenyum tipis membalasnya. Setelah itu, mobil pun berlalu, meninggalkan pekarangan rumah Alexa yang luas itu. Sembelum mobil itu benar-benar menhilang akibat tertelan oleh jarak yang panjang, alexa bisa melihat siluet bayangan Leo yang sedang melambaikan tangannya kepadanya dari dalam. Ia juga ikut membalasnya dengan lambaian kecil dengan terus menatap mobil itu menjauh sampai tak terlihat lagi sebelum ia membalikkan badannya dan berjalan kea rah garasi dann menaiki motornya menuju ke sekolah. Alexa sungguh yakin pada dirinya sendiri, pasti di jam segini sekolah sudah sangat ramai. Dan itu sangat menyebalkan menurutnya. *** Setelah sampai di sekolah. Alexa segera memakirkan motornya pada tempat parkiran yang biasa ia tempati saat menggunakan kendaraan roda 2 seperti sekarang ini. Setelah selesai dengan urusannya bersama motornya, Alexa segera membuka helemnya dan menuruni motornya santai sebelum ia kembali melangkahkan kakinya menuju kelas barunya sambil memasangkan headset di telinga. Agar aku tak mendengar ocehan mereka yang tak bermutu itu, Batinnya. Hei. Lihat lihat! Ice Queen lewat. Gila. Ia lebih terlihat seperti bidadari. Dia memang cantik cantik. Tetapi sayang, sifatnya sangat dingin seperti es pada kutub utara. Andaikan aku bisa menjadi temannya. Jelek begitu saja dibilang cantik?. Ihh... Lebih cantik aku dari pada dia. Ocehan-pcehan itu masih saja terdengar sedikit olehnya. Mungkin ini yang dibilang santapan paginya setiap ia datang dan menginjakkan kakinya disekolah.. *** Bel istirahat berbunyi. Menandakan sekarang adalah waktunya para murid untuk mengistirahatkan otak mereka sejenak dari pelajaran yang sedang mereka pelajari. Sialnya, pada pagi tadi ia lupa untuk memasukan botol minumnya ke dalam tas, sehingga ia harus pergi menuju kantin untuk membeli minuman jika ia ingin tidak mati konyol kaena kehausan disini. Setelah sampai di kantin dan membeli air mineral dingin di lemari pendingin. Ia segera menuju ibu kantin dan membayar minumannya itu sebelum ia pergi dari kantin yang sangat ramai itu mtnuju ke kelasnya sendiri smbi; meminum beberapa teguk air yang telah di belinya itu. Di tengah perjalanannya menuju kelas, ia di hadang oleh 3 orang siswi berseragam yang sangat ketat melekat di tubuh merek masing-masing sehingga dapat memperlihatkan lekuk tubuhnya itu. Alexa kemudian memperhatikan mereka dari atas sampai bawah satu persatu. Sempai sebuah suara membuatnya kembali menatap wajah 3 siswi di depannya yang sering mengganggunya itu. "Kenapa!? Iri liat bentuk badan aku yang indah sampai-sampai liatnya seperti itu" ucap salah satu dari mereka dengan gaya sombongnya sambil mengankat wajahnya dengan angkuh menatap ke arah tempat Alexa berdiri dengan tajam sebelum terdengar suara tawa yang tiba-tiba keluar dari mulut dari mereka bertiga. Alexa yang mendengar mereka teratawa seperti itu merasa jika mereka hanya membuang-buang waktunya saja, ia segera pergi melewati mereka bertiga dengan langka yang santai setia dengan wajah datar andalannya. Saat ia sudah berjalan agak jauh dari mereka. Terdengar suara teriakan yang sangat memekikkan telinga yang terdengar dari arah tempatnya yang dihadang oleh ketiga siswi itu seblumnya. "Awas kamu Ratu Es!!!" Ucap mereka bersamaan. *** Setelah belajar di sekolah selama waktu yang terasa cukup lama, bel pulang pun berbunyi, menandakan bahwa waktu sudah habis dan murid murid segera kembali ke rumah masing masing. Alexa kembali berjalan dengan santai ke arah parkiran setelah ia rasa sekolah sudah mulai sepi agar ia tak perlu repot-repot untuk berdesak-desakkan dengan para siswa lainnya yang aingin segera keluar dan pulang menuju rumah masing-masing. *** Setelah Alex sampai di rumahnya dan langsung memutuskan untuk beristirahat sebentar di kamarnya setelah membersihkan dirinya sebentar. Ia sudah kembali bangun akibat mendengar suara alarm yang berderingan suara yang cukup keras. Ia segera mematikan alaram tersebut dan melihat kalau sekarang sudah pukul 17.10 menandakan kalau ia tertidur cukup lama. Lama juga ya. Batinnya sambil meihat jam. Kemudian ia segera bangun dan mencuci mukanya. Selesai mencuci muka, ia segera berjalan kearah meja belajar untuk mengerjakan tugas tugasnya. Tetapi perhatiannya teralihkan pada sebuah kertas yang kelihtan seperti surat dengan amplop berwarna emas yang menggambarkan ukiran-ukiran yang sangat aneh menurutnya. Tanpa pikir panjang, ia segera membuka dan membaca surat tersebut. Kepada Yth. Alexa Angeline Witz. Kami mengundangmu untuk masuk kedalam Dimension Academy. Di sana kau akan mendapatkan jati dirimu yang sebenarnya. Bersiap siaplah segera. Karna kami akan menjemputmu lusa. Untuk surat pindah dan sebagainya telah di urus oleh pihak academy. Jika kau menolak, maka kami akan membawamu secara paksa. Terima kasih. Tertanda Mrs. Lili Kemberly Hutson Kepala sekola Dimension Acdemy. Pikirnya saat setelah membaca surat ini adalah mungkin dari orang orang iseng. Sebelum ia kembli melanjutkan kegiatan yang sebelumnya ingin ia lakukan sedari tadi. Mengerjakan tugas rumah yang diberikan oleh gurunya di sekolah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD