Prolog

186 Words
Entah kapan dimulainya ini semua. Aku pun sudah lupa bagaimana dan seperti apa jalan takdir yang aku jalani. Bahkan sekarang pun aku tlah lupa tentang bagaimana caranya bahagia. Senyumku yang tulus, tak pernah ku tunjukkan lagi setelah 'mereka' semua pergi meninggalkanku sendirian. Di tengah keramaian pun aku merasa hanya seorang diri. Meskipun di sekitarku adalah keramaian, tetapi aku hanya merasa sendiri disana. Bagaikan diriku ada di dalam sebuah kubus besar yang diletakkan di tengah - tengah keramaian kota. Bahkan di depan kakakku pun aku hanya menunjukkan ekspresi palsu hanya untuk membuatnya tak khawatir denganku. Orang-orang banyak yang memujiku karna parasku dan kecerdasanku. Tapi aku tak butuh itu semua. Yang kubutuhkan saat ini hanyalah ketulusan dan kebahagiaan. Banyak yang ingin berteman denganku, tapi ku tahu kalau mereka semua hanya memanfaatiku untuk kepribadian mereka. Hidupku sekarang hanyalah hitam putih, Tak berwarna sama sekali. Hingga suatu saat, aku mendapatkan surat aneh yang menyuruhku untuk masuk ke sekolah itu agar aku dapat menemukan jati diriku yang sebenarnya. Apa maksudnya ini!? Siapa diriku yang sebenarnya sehingga aku harus masuk ke sana? Tidak cukupkah takdirku ini mempermainkanku? Sungguh aku lelah dengan semuanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD