Bab 6

1190 Words
Mobil yang membawa Aleya dan Enda sudah berhenti di depan sebuah rumah berlantai dua dengan desain minimalis. Mereka pun segera turun dan langsung di sambut oleh dua orang saudara Brama. Mereka adalah Giana dan suaminya Raul yang juga tinggal di rumah orang tua Brama. "Eh, ada Aleya ...." Giana langsung menghampiri Aleya dan Anetha. Tanpa ekspresi, Aleya hanya memasang wajah datar. Ia tahu jika manusia-manusia yang ada dihadapannya saat ini adalah orang-orang yang pintar sekali bersandiwara. Sebab tidak mungkin juga mereka tiba-tiba saja berubah menjadi baik jika sedang tidak ada maunya. "Siapa namanya?" tanya Giana lagi. "Anetha ...," jawab Aleya. "Cantik sekali." Giana mengusap pelan pipi Anetha. Enda sudah berdiri di dekat mereka. Ia langsung menyuruh Aleya untuk masuk. Seumur-umur, baru kali ini Aleya diperlakukan se-welcome itu di rumah mertuanya. Selama ini, jangankan menyambut dirinya dengan manis, melihat ia saja keluarga suaminya itu seperti orang jijik. Hari ini, sangat jauh berbeda dari biasanya. Aleya melangkah masuk ke rumah sang mertua dengan langkah yang lebih santai, tapi tetap was-was. Waspada jika Enda dan anak-anaknya tiba-tiba saja berbuat sesuatu yang tidak terduga. Jika ditanya kenapa Aleya mau mengikuti Enda ke rumahnya, karena ia ingin rencana perceraiannya dan Brama segera diketahui oleh keluarga suaminya itu. Sebab Aleya ingin hubungannya dan keluarga tak berhati itu lekas berakhir. Karena kalau boleh jujur, Aleya sudah sangat muak dengan manusia-manusia yang ada di hadapannya saat ini. "Kamu kenapa keluar dari rumah Brama?" tanya Enda membuka percakapan. Aleya tersenyum miring. Sembari memangku Anet, ia arahkan pandangannya kepada perempuan paruh baya itu. "Aleya dan Mas Brama akan segera bercerai, Ma." Enda, Giana dan Raul tampak gelagapan. Mimik wajah mereka sangat aneh sekali. Seperti orang yang sedang menahan sesuatu. Namun tak lama, Giana kembali bersuara. "Kenapa, Ya? Memangnya Brama salah apa sama kamu? Kok cerai sih?" tutur mulut manis Giana. Aleya tertawa pelan. Ia merasa lucu sekali. Bisa-bisanya sang ipar berkata demikian. Apa ia salah minum obat, pikir Aleya. Selama ini, begitu gencar dalam menjatuhkan harkat dan martabat Aleya. "Loh, bukannya kemarin-kemarin, Mbak ya ... yang sangat ingin aku dan Mas Brama berpisah. Kenapa sekarang justru berbalik." Aleya sinis. Giana terdiam. Dengan raut wajah menahan kesal, ia pun mencoba untuk melepaskan senyum keterpaksaan sembari mencari pembenaran. "Itu kan dulu, Ya. Sekarang Mbak sudah sadar. Apa lagi sejak kamu punya baby." "Iya Ya, sekarang kami sudah sadar. Kemarin-kemarin mata kami masih tertutup kebencian. Maafkan kami semua ya, Aleya?" Begitu pandai Enda bertutur kata. Aleya diam. Dia tidak langsung merespon permintaan maaf Aleya. Hingga suara mobil Brama terdengar di luar rumah. Enda langsung bangkit dan melihat ke arah pintu. "Itu Brama datang," ucap Enda. "Loh, untuk apa Mas Brama ke sini? Bukannya dia harus ke kantor?" tanya Aleya. Masih pukul delapan, Aleya merasa heran Brama mendatangi rumah Enda. "Oh, itu ... Mama sengaja menyuruh dia ke sini, sebab ada kamu di sini. Dua bola mata Aleya mengarah kepada Brama yang sudah berdiri di depan pintu. Pandang mereka sempat bertemu untuk beberapa saat, tapi segera Aleya putus dengan melihat kepada Anet. Tidak mau melihat kepada sosok yang sampai saat ini masih berstatus sebagai suaminya itu. "Ada apa, Ma?" tanya Brama seraya melangkah masuk ke dalam rumah. "Kau ini bagaimana sih? Istri dan anak kamu di sini, masa kamu bertanya seperti itu?" Brama terdiam mendengar penuturan Enda. Dia sendiri mungkin bingung apa yang terjadi dengan ibunya saat ini. Sebab selama ini yang ia tahu, Enda sangat tidak menyukai Aleya. Bahkan mereka menikah saja tanpa persetujuan dari Enda. Hanya saja karena pada saat itu Brama sudah sangat tergila-gila kepada Aleya, pernikahan itu pun akhirnya terjadi. Dan sekarang sikap Enda kepada Aleya bak menantu yang sangat diidam-idamkan. Sehingga membuat Brama curiga jika sang ibu tengah merencanakan sesuatu kepada Aleya. Yang pasti, buka rencana yang baik. "Bu, aku sudah bilang sama ibu. Aku dan Aleya sebentar lagi akan bercerai. Jadi sebaiknya ibu suruh dia pulang. Aku juga harus ke kantor sekarang." Brama melihat sekilas kepada Aleya. "Ih, kamu ini. Sudah jangan bahas itu lagi. Pokoknya ibu mau hari ini dia di sini bersama ibu." Enda bersikeras. Brama menarik napas dalam dan membuangnya kasar. " Terserah Mama saja." Pria dengan setelan jas biru muda itu berlalu keluar rumah. Setelah Brama pergi, Enda pun mengalihkan pandanganya kepada Aleya dan Anet. "Jangan di dengar ya? Pokoknya Mama mau, kamu dan Anet menginap semalam di sini ya?" ucap Enda. Aleya tersenyum miring. "Tidak usah Ma. Aleya dan Anet pulang saja." "Yah, padahal Mama sangat kepingin kamu dan Anet tidur semalam di sini." Aleya sudah berdiri. Dia lalu melihat kepada semua penghuni rumah tersebut. "Terima kasih, Ma. Tapi aku dan Anet harus pulang." Baru saja Aleya akan melangkah keluar dari dalam rumah, tiba-tiba saja suara Giana menghentikan langkahnya. "Ya sudah kalau kamu tidak mau menginap di sini, kamu sarapan di sini saja ya? Setelah itu kamu boleh pulang," ucap perempuan berambut bergelombang itu dengan ekspresi memelas. Aleya terdiam sejenak. Sebagai perempuan yang sangat menjunjung tinggi dalam Menghargai orang lain, dia pun kemudian mengangguk pelan tanda setuju. Sedang Giana, ia tersenyum melihat respon Aleya. Namun dalam hatinya ia tertawa terbahak sebab sedang melihat kebodohan iparnya itu. Kini Aleya sudah berjalan ke ruang makan dan bersiap untuk sarapan. Sehingga momen itu pun dimanfaatkan oleh Giana, Enda dan juga Raul untuk mengambil alih Anetha. "Beri sini anakmu pada Mama, kamu sarapan saja terus." tawar Enda. Aleya menatap lama kepada Enda. Sorot matanya seperti orang yang sedang menyelidiki sesuatu. Akan tetapi, karena ia sedang berusaha untuk mempercayai manusia yang ada di depannya saat ini, Aleya pun menyerahkan Anet tanpa berkata sepatah katapun. Enda menyambut Anet dengan senyum kepalsuan. Sementara Aleya sudah duduk dan siap menyantap makanannya. Wanita tua itu berlalu begini saja dan membawa Anet masuk ke dalam kamar. Tanpa rasa curiga sedikitpun, Aleya tidak tahu jika sebuah rencana untuk melenyapkan anaknya tengah dilakukan. Di dalam kamar itu, tiga orang yang tadinya memberinya senyum yang begitu manis, sedang menjalani aksi mereka. Menutup wajah Anet, putri Aleya dengan bantal hingga mengalami gagal napas dan mengejang. Curiga sang mertua tidak keluar-keluar, Aleya lalu bangkit dan berjalan ke kamar tersebut. Ia ingin memastikan jika Anet baik-baik saja. Meski tidak curiga jika mertuanya aka membunuh anaknya. Namun, belum sempat Aleya mengetuk pintu kamar tesebut, handle pintu kamar Sudan lebih dulu bergerak dan pintu pun terbuka. "Aleya, anakmu tiba-tiba saja kejang." ucap Enda. Tentu saja dengan raut wajah cemas hasil berlakon panik. "Ya Tuhan, Anet! Apa yang terjadi, Ma? Kenapa Anet napasnya tersengal-sengal?" " Mana Mama tahu, Ya!" Aleya mengambil cepat Anet dari tangan sang ibu mertua dan segera berlari keluar rumah. Berharap di depan rumah ada mobil yang tadi membawanya ke rumah Enda. Namun nyatanya, mobil itu sudah tak ada di depan rumah. "Mana mobil tadi, Ma?" tanya Aleya pada Enda yang juga mengikutinya. "Mobilnya sudah pergi, Ya. Gimana dong?" ucap Giana. "Astaga." Aleya segera berlari ke tepi jalan. Dengan perasaan yang panik luar biasa, dia melihat ke sana ke mari demi mencari taksi. Tak lama, sebuah taksi tampak lewat. Aleya pun segera berteriak keras kepada kendaraan roda empat tersebut. Taksi itu pun segera berhenti. "Pak, rumah sakit terdekat. Cepat!" "Ba-baik, Bu," jawab sang supir gugup melihat kepanikan Aleya. Sabar ya sayang, Mama akan membawa kamu ke rumah sakit secepatnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD