Sembari membersihkan meja bar dan meja pengunjung, Aleya melirik sekilas ke arah jam dinding yang ada di ruangan kelab tersebut. Sudah pukul satu malam, Anet pasti sudah tidur sekarang, pikirnya.
Tak terasa, air mata Aleya menetes tatkala ia teringat akan bayinya. Namun dengan cepat ia seka rintik air itu agar tidak ada yang melihatnya. Sebab saat ini ia sedang bekerja, dan sebisa mungkin untuk tetap bersikap professional.
Aleya mengarahkan pandangannya ke seluruh ruang. Terlihat para pengunjung sudah mulai lengang karena keluar dari dalam bar satu persatu. Dan jika bar sudah sepi, Aleya dan rekannya yang lain pun sudah diperbolehkan untuk pulang.
"Kamu mau bareng tidak, Ya?" tanya Revo. Teman satu shif Aleya malam ini.
"Apa tidak merepotkan, Vo?" Aleya sungkan. Meski Revo lajang, namun dirinya masih istri orang. Masih ingin menjaga marwahnya sebagai perempuan yang bersuami.
"Tidak kok, Ya. Lagian jam segini, kamu cari ojek pasti sudah susah," ucap Revo lagi. Revo tahu, selama ini, sebelum Aleya hamil, temannya itu selalu dijemput oleh Brama.
"Ya sudah, aku nebeng ya?" Aleya segera naik ke atas motor bebek Revo. Mereka langsung bergerak meninggalkan lokasi kelab malam dan menuju ke kontrakan Aleya.
Sayangnya, tanpa rasa curiga sedikitpun, baik Aleya atau pun Revo, tidak menyadari jika motor mereka sedang di ikuti dari belakang. Sebuah mobil sedan hitam yang ternyata milik orang suruhan Enda.
Ya, Enda sengaja menyuruh orang untuk menunggu Aleya keluar dari dalam kelab tepat ia bekerja, agar Enda tahu di mana Aleya dan bayinya tinggal saat ini. Licik sekali. Padahal Aleya sudah tidak lagi mengusik kehidupan putranya, namun wanita tua itu seakan belum puas jika belum membuat hidup Aleya dan putrinya semakin menderita.
"Thank ya, Vo." Aleya turun dan mengucapkan terima kasih kepada temannya itu.
"Kamu tinggal di sini?" tanya Revo. Ia sudah tahu jika Aleya dan Brama akan segera bercerai. Jadi sudah pasti jika Aleya tidak lagi tingga serumah dengan sang suaminya itu.
"Iya Vo. Dira yang carikan kos-kosan ini untukku," jelas Aleya seraya tersenyum simpul.
Revo membalas tersenyum Aleya dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia lalu memakai kembali helmnya. "Ya sudah, kalau begitu aku balik dulu ya? Bayimu di mana?" tanya Revo penasaran.
"Aku titip di care day. Tidak jauh dari sini. Itu ...." Aleya menunjuk lokasi care day Anetha.
Revo menoleh ke arah ya Aleya tunjuk. Setelah menyalakan stater motornya, Revo pun pamit dan langsung meninggalkan lokasi kos-kosan Aleya. Sementara Aleya, ia masih berdiri mematung seraya memandangi billboard care day Kasih Ibu yang diterangi oleh lampu dengan warna cahaya yang lembut.
Selamat malam Anetha, mimpi indah ....
Aleya segera membuka pintu kos-kosannya. Namun sebelum ia melangkah masuk ke dalam lokasi bangunan berlantai dua itu, ia sempat menoleh sekejap ke arah belakang. Melihat kepada mobil sedan hitam yang terparkir dengan lampu sen ya masih menyala. Tepat di depan kos-kosannya.
Tak berpikir buruk tentang mobil itu, Aleya lantas masuk dan mengunci kembali pintu. Ia segera membuka pintu kamar kosnya dan langsung di hadapkan dengan pemandangan dan suasana yang sepi.
"Hah ...." Aleya menghempaskan tubuhnya di atas kasur tempat tidurnya. Menatap pilu ke atas langit-langit ruangan berukuran empat kali lima itu.
Setitik air kembali jatuh di sudut mata sendu Aleya. Ia lalu memejamkan mata dan mencoba untuk tidur meski terasa berat, sebab tak ada suara lirih Anetha di sisinya malam ini.
Bersabarlah sayang, kita pasti bisa melalui ini semua ....
.
.
Pagi-pagi sekali Aleya sudah menjemput Anetha. Bayi perempuan itu tampak tersenyum bahagia begitu dia melihat ibunya. Dengan penuh cinta, Aleya langsung mengecup pipi lembut putrinya dan menatapnya dengan rasa sayang.
"Maafin Mama ya, sayang? Nanti kalau mama sudah dapat pekerjaan baru, kita akan tidur malam berdua lagi."
Aleya beralih melihat kepada perempuan yang ada di hadapannya. "Apa semalam dia ada menangis?" tanya Aleya.
"Tidak, dia tidur dengan sangat baik," jawab penjaga care day.
"Oh, syukurnya. Aku sempat khawatir kalau dia akan rewel sebab tak ada ibunya di samping." Aleya kembali menatap Anetha.
"Bayi Mbak sepertinya cukup mengerti kondisi ibunya," ucap sang penjaga lagi.
Aleya tersenyum dan mengangguk pelan. Setelah mengambil tas Anet, ia lalu pamit kembali ke kosan bersama sang buah hati. Tak lupa Aleya menggunakan payung agar Anetha tidak kepanasan.
Sepanjang jalan, semua tampak biasa saja. Aleya terus melangkahkan kakinya menuju kosan yang jaraknya hanya beberapa meter saja dari care day sang anak. Berharap pagi ini bisa menghabiskan waktu lebih lama bersama sang anak.
Namun, belum juga Aleya tiba di kos-kosannya, sebuah mobil sedan hitam tampak berhenti di tepi jalan dekat dengan trotoar yang tengah ia lalui. Aleya lantas berhenti sejenak dan melihat kepada mobil tersebut. Seorang wanita paruh baya yang sangat ia kenali wajahnya, keluar dari mobil tersebut dan langsung menatap nanar ke arahnya dan bayinya.
Mama Enda?
Benar, itu Enda. Calon mantan mertuanya yang sejak dulu tida menyukai hubungannya dengan Brama. Satu-satunya sosok yang hingga detik ini meragukan kebenaran akan darah daging putranya sendiri.
"Apa kabar Aleya?" Enda membuka kaca matanya dan melempar senyum sinis ke arah Aleya.
"Baik. Ada perlu apa pagi-pagi begini datang menemui saya?" tanya Aleya to the point
Enda melempar sembarang pandangannya sepintas. Lalu kembali melihat kepada Aleya dan juga melirik sekilas kepada Anetha. "Tidak ada apa-apa, Mama cuma ingin mengundang kamu dan anakmu untuk datang ke rumah."
Aleya terperanjat. Apa dia tidak salah dengar, pikirnya. Tumben sekali perempuan tua itu mengundangnya untuk main ke rumah. Biasanya, Aleya datang dengan suka rela tanpa diminta saja, Enda langsung memasang raut wajah masam. Ada apa gerangan?
"Untuk apa ya? Bukannya Mama sudah tahu dari Mas Brama, kalau Aleya dan dia akan segera bercerai. Kenapa sekarang meminta Aleya unik datang ke sana?" tanya Aleya penasaran.
Enda kembali tersenyum. Namun kali ini senyumannya terlihat lebih manis. "Aleya ... Mama tahu, kalau selama ini Mama sering sewot sama kamu. Tapi sejak anakmu lahir, Mama jadi sadar. Biar bagaimanapun, dia tetaplah cucu Mama."
Kini giliran Aleya yang menyunggingkan senyum miring. " Apa Aleya tidak salah dengar, Ma? Bukannya selama ini Mama benci sekali dengan anak Aleya? Mama bahkan mengatakan jika anak ini bukan darah daging Mas Brama." Aleya membuka luka lamanya kembali.
Enda menghela napas panjang dan kembali melihat kepada Anet. "Dia cantik sekali. Kasihan kalau kamu bawa di bawah matahari begini. Kita bicara di rumah saja ya?" Bujuk Enda.
Aleya terdiam sesaat. Menatap penuh selidik kepada perempuan tua yang ada di hadapannya itu. " Mama sedang tidak merencanakan sesuatu kan?" tanya Aleya curiga.
Enda terkekeh. "Aleya, Aleya, Mama ini tidak sejahat itu. Mama juga seorang ibu. Mama hanya ingin yang terbaik untuk anakmu ini," ucap mulut manis Enda.
Setelah berpikir sejenak, akhirnya Aleya menyetujui ajakan Enda. Ia dan Anetha langsung diboyong masuk ke dalam mobil. Akan tetapi, tanpa Aleya ketahui, sebuah rencana sudah dibuat untuk melenyapkan Anetha. Sayangnya, Aleya terlalu bodoh untuk membacanya.