Bab 4

1050 Words
Satu bulan lebih sudah Aleya dan bayinya tinggal di kos-kosan. Mereka hidup apa adanya dengan sisa-sisa uang tabungan yang Aleya miliki. Kini sudah saatnya Aleya harus kembali bekerja demi bisa mencukupi semua kebutuhan dirinya dan sang anak. Sebab cuti melahirkannya sudah habis. Terpaksa Anet ia titip ke care day selama ia bekerja di kelab. Untuk ASI, Aleya lebih memilih untuk pumping ketimbang memberikan Anet s**u formula. Lagi pula jika ASI-nya berlimpah, akan lebih baik jika putrinya tetap mengkonsumsi ASI ketimbang s**u buatan pabrik. Sekaligus hitung-hitung menghemat pengeluaran. Mengingat harga s**u formula yang tidak murah, Aleya takut jika tidak mampu mencukupinya nanti. "Nanti di sana jangan rewel ya sayang?" Aleya mengangkat Anetha dan menggendongnya dengan kain gendongan. Tak lupa tas perlengkapan Anet yang harus ia bawa serta ke care day. Agar semua kebutuhan Anet dapat terpenuhi dengan baik selama ia tak berada di sisi sang buah hati. Kini Aleya sudah siap untuk memulai hari yang baru bersama Anet. Meski awalnya terasa berat, tapi Aleya tetap yakin jika ia dan Anetha mampu melalui ini semua. Langkah kaki itu terus mengayun pasti, menyusuri trotoar jalanan yang basah akibat sisa hujan tadi pagi hingga sore hari. Tak lama, mereka sudah tiba di depan sebuah bangunan ruko dengan pintu kaca yang bertuliskan TEMPAT PENITIPAN ANAK KASIH IBU. Melihat Aleya berdiri di depan pintu, seorang petugas care day langsung membukanya. "Silahkan masuk, Mbak ...," ucap petugas itu. "Oh, iya ... terima kasih." Aleya melangkah masuk ke dalam ruangan yang berdindingkan gambar-gambar animasi dengan warna pastel dan terlihat sangat lucu-lucu itu. "Saya mau menitip anak saya, Mbak," tutur Aleya langsung. Petugas itu segera melihat kepada Anetha dan tersenyum simpul. "Siapa namanya? Dan sudah berapa bulan usianya?" "Namanya Anetha. Dia baru berusia sekitar sebulanan lebih. Karena kami hanya tinggal berdua, dan saya harus kembali bekerja, jadi saya mau menitipkannya di sini. Sepulang dari berkerja, akan saya jemput kembali." "Baik, kita buka dari pagi sampai pukul sepuluh malam," jelas petugas care day. "Jam sepuluh?" tanya Aleya sedikit terkejut. "Iya Mbak. Jam sepuluh," ulang petugas. Aleya tertegun sejenak. Ia sedang memikirkan tentang jadwal kerjanya yang sering pulang hingga tengah malam. Bahkan terkadang ia pulang pagi jika kelab sedang ramai-ramainya. "E ... Mbak, saya kan berkerja setiap malam. Kalau saya menjemput Anetha pagi hari, apa boleh?" tanya Aleya sedikit ragu-ragu. Petugas itu melempar senyum ramah kepada Aleya. "Tentu saja boleh Mbak. Sebab di sini juga banyak ibu-ibu yang bekerja di malam hari. Bahkan maaf cakap, ada yang dari mereka berkerja sebagai wanita malam. Kami tetap menerima anaknya untuk kami jaga." "Oh, begitu. Tapi ... saya bukan wanita malam. Saya hanya bekerja di bar malam." Aleya ingin meluruskan maksud kalimatnya agar sang penjaga care day tidak salah paham. "Apapun pekerjaannya, semua ibu pasti mencintai anaknya dengan setulus hati, Mbak." Aleya tersenyum sembari mengangguk pelan. Ia sangat setuju dengan kalimat yang petugas care day itu ucapkan. Bahkan hewan saja, pasti akan melindungi anak-anaknya. Apalagi manusia yang memiliki nurani dan akal sehat. Setelah menitip Anet di sana, serta mencium bayinya itu untuk beberapa kali, Aleya lantas keluar dari care day dan langsung mencari angkot untuk pergi ke tempat kerjanya. Dan selama di dalam angkot, ia terus memikirkan Anetha. Berat, sudah pasti. Ibu mana yang sanggup berpisah dari anak yang baru saja ia lahirkan. Tak ada. Termasuk Aleya. Namun semua ini demi masa depan ia dan Anetha. Karena disetiap kesuksesan, pasti ada pengorbanan yang harus kita lakukan, bukan? Kuatlah, sayangku .... . . Sudah satu bulan pasca Aleya melahirkan. Namun tak sekalipun Brama datang mengunjungi anaknya yang ada bersama Aleya. Pintu hati pria dewasa itu agaknya benar-benar sudah terkunci dan mati rasa. Jikalau pun ia tidak tahu di mana Aleya dan anaknya tinggal, apa salahnya untuk menelepon atau menanyakan kabar. Sebegitu yakinnya Brama jika Anetha bukalah darah dagingnya. Sehingga tak ada sedikitpun pedulinya kepada nasib Aleya dan Anetha di luar sana. Yang ada, Brama terus menerus menjalani hubungan terlarangnya bersama Casandra. Demi target jabatan yang sedang ia incar, Brama rela menjatuhkan harga dirinya sebagai seorang suami di depan Aleya. Bukannya Aleya tidak tahu tentang perselingkuhan suaminya. Perempuan berambut sepundak itu tahu persis bagaimana pengkhianat yang suaminya lakukan selama ini. Bahkan di saat ia tengah berbadan dua saja, Aleya sempat memergoki Brama sedang bermesraan dengan seorang perempuan di sebuah kelab malam. Jadi, keputusan bercerai dengan Brama bukanlah keputusan yang di ambil hanya dengan satu alasan saja. Akan tetapi ada begini banyak alasan yang mendorong Aleya untuk bercerai dari suaminya itu. Dan itu harus! Kini perpisahan mereka sudah di depan mata. Sebentar lagi Aleya akan menggugat Brama dan menuntut hak asuh anak jatuh kepadanya. Meski Brama dan keluarganya mengatakan jika Anetha bukanlah darah daging keluarga mereka, tetap saja Aleya harus bersiap. Siapa tahu, gerombolan manusia-manusia laknat itu nanti, tiba-tiba saja berubah pikiran. Aleya tidak mau kalau sampai Anetha jatuh ke tangan mereka. "Sudah sebulan, dia tidak pernah menuntut apa-apa darimu, kan?" Suara Ibu Enda mengalihkan atensi Brama. Dia adalah ibunya Brama. Dalang di balik kehancuran rumah tangga Aleya dan Brama. "Siapa Bu?" tanya Brama. Dia masih berfokus dengan laptopnya. "Istrimu itu, siapa lagi." Suara Enda terdengar sinis dan begitu tidak bersahabat saat membahas tentang Aleya. "Oh, tidak Bu. Ibu tenang saja. Aleya sendiri sudah mengakui jika itu bukanlah anak Brama. Jadi mana mungkin dia berani menuntut ini itu." "Baguslah. Benar bukan apa yang ibu ragukan selama ini. Tapi, apa kamu tahu di mana dia tinggal sekarang?" cerca wanita paruh baya itu lagi. Brama menutup laptopnya yang sudah padam. Ia lalu berdiri dan melihat ke arah sang ibu. " Brama tidak tahu Bu. Sudahlah Bu, biarkan saja dia. Toh sebentar lagi aku dan dia juga akan bercerai." Brama ingin ibunya berhenti membahas soal Aleya. Enda pun terdiam. Ia hanya berdiri sembari terus memperhatikan putra semata wayangnya itu berlalu ke arah dapur. Namun, meski Brama sudah mengatakannya jika Aleya tidak akan menuntut apa-apa, hati Enda tetap gelisah alias tidak tenang. Ia mulai berpikir yang tidak-tidak. Mulai dari Aleya yang nanti akan menuntut harta gono gini dengan embel-embel anak dan nafkah anak. Bahkan jika sudah besar? bagaimana jika anak Aleya mencari Brama dan menuntut untuk di perlakukan adil seperti anak lainnya? Hal itulah yang mendorong Enda untuk mencari tahu di mana Aleya dan putrinya tinggal. Ia tidak ingin kehidupan putranya bermasalah di kemudian hari, jadi lebih baik menuntaskannya sekarang juga, pikir Enda. Aku harus melenyapkan bayi itu ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD