Bab 3

1333 Words
"Duh cantiknya ... kamu mirip sekali dengan mamamu sayang ...." Dira mengusap lembut kepala bayi Aleya. "Apa kamu sudah memberinya nama, Ya?" tanya Dira kepada Aleya. "Namanya Anetha, Ra." Aleya mengulum senyum. Dira memanggil-manggil bayi mungil itu dengan nama barunya. Namun sesaat kemudian, Dira kembali menoleh kepada Aleya. "Kamu sudah menghubungi Brama lagi?" tanya Dira dengan sangat hati-hati. Takut Aleya kepikiran suaminya lagi dan kembali stres. "Aku sudah mengirimnya pesan, Ra. Entah dia membacanya atau tidak, aku tak tahu. Tapi aku masih berusaha untuk tidak egois. Aku tetap mengabarinya tentang kelahiran Anetha." Dira meletakkan kembali Anetha di dalam box bayi di samping ranjang Aleya. Ia lalu duduk di tepi ranjang tidur temannya itu. Menatap sejenak dua bola mata sendu namun penuh ketegaran, yang juga tengah menatap dirinya. "Kamu ini terlalu baik jadi orang, Ya. Dan orang sebaik kamu ini, tidak pantas bersuamikan pria b***t seperti Brama itu. Kamu ini layak untuk dicintai dan disayangi sepenuh hati." Air mata Aleya jatuh berderai begitu saja saat mendengar kata-kata Dira. Namun dengan cepat ia seka dan coba untuk tersenyum meski hatinya tengah porak poranda. "Thanks ya Ra? Kamu memang teman yang baik. Aku beruntung punya sahabat seperti kamu." Aleya menepuk pelan punggung tangan Dira. "Sama-sama. Dan ingat, kalau kamu sudah sembuh, aku tidak mau lagi melihat kamu bersama Brama. Kamu masih ingatkan rencanamu sebelum Anetha lahir?" Dira mencoba mencari tahu isi hati Aleya saat ini. "Hmm ... selepas masa nipasku selesai, aku akan langsung mengurus perceraianku bersama Mas Brama," ucap Aleya tegas, tanpa keraguan sedikitpun. Dira tersenyum simpul mendengar rencana kedepan Aleya. Memang lebih baik jika Aleya bercerai dari Brama. Sebab yang selama ini Dira dengar dari cerita Aleya ditempat kerja, hubungan rumah tangganya dengan Brama sudah tidak sehat lagi. Ditambah dengan keluarga Brama yang selalu ikut campur urusan rumah tangga mereka. Aleya terus tertekan dan makan hati setiap saat. Kalau sudah begitu, bukankah lebih baik jika berpisah saja? Suara ketukan pintu mengalihkan atensi Dira dan Aleya. Mereka langsung menoleh ke arah pintu ruang rawat inap tersebut. Tak lama, pintu itu pun terbuka perlahan. "Mas ...." lirih Aleya. Melihat Brama datang, Dira lantas berdiri. "Aku balik dulu ya? Nanti kalau ada apa-apa, kamu telepon saja," pesan sang sahabat. "Sekali lagi terima kasih ya, Ra?" Aleya melepaskan tangan Dira dan mengantarnya pergi dengan senyuman. Dira melewati Brama namun sempat melemparkan lirikan maut sekilas. Pria jahat itu hanya melihatnya saja dan kemudian segera berlalu mendekati Aleya. Setelah pintu ditutup oleh Dira, barulah Brama melihat kepada Aleya. Namun perempuan bersurai sedada itu tidak mau melihat kepada suaminya. Pandangannya terus ia arahkan kepada box bayi Anetha. "Maaf, tadi aku sedang banyak pekerjaan, jadi tidak mengangkat panggilan teleponmu." Aleya diam saja, tidak merespon sedikit pun kata-kata Brama. Pandangannya yang tertuju kepada Anetha membuat Brama juga melihat kepada putri pertamanya itu. Namun, meski bayi lucu itu tampak tersenyum menyambut kedatangan ayahnya, Brama tetap tidak memberikan respon yang setimpal. Ia hanya tertegun dan terus melihat kepada anaknya itu. Seolah ingin mempertegas tuduhannya kepada Aleya, jika anak itu bukanlah darah dagingnya. Sehingga ia tidak mau untuk menyapa apa lagi menggendongnya. "Itu putrimu?" tanya Brama. "Iya ...." Aleya berusaha untuk bangun dan mengambil bayi mungil itu. Namun karena ia masih belum pulih betul, jadi sulit baginya untuk bangun dan mengangkat Anetha. Brama lalu mendekat kepada box bayi tersebut dan mengambil Anetha. Tak lama, ia langsung serahkan kepada Aleya. "Terima kasih ...," ucap perempuan berwajah cantik itu. Aleya memberikan Anetha ASI. Sebab bayi lucu itu tampak seperti mencari-cari p****g s**u ibunya. "Sayang, haus ya?" Aleya mengusap lembut pipi Anetha dengan jari jempolnya. Brama hanya melihatnya saja. Entah apa yang pria tukang selingkuh itu pikirkan saat ini tentang istri dan anaknya. Yang jelas, sepertinya hati dan juga nuraninya sudah tertutup rapat dan gelap. Sehingga ia tidak bisa merasakan bonding antara dirinya dan Anetha. Padahal Anetha adalah murni darah dagingnya sendiri. Bukan anak yang tidak jelas siapa bapaknya seperti yang keluarganya tuduhkan selama ini. "Aku akan mengurus perce—" "Tidak perlu, biar aku saja. Sebab aku yang tahu kapan masa nipasku habis, kan? Jadi Mas tunggu saja surat gugatan dariku sampai ke tangan Mas. Dan agar putusan cepat di kabulkan, Mas tidak perlu datang ke persidangan. Biar perceraian kita diputuskan secara verstek." Brama menggaruk belakang kupingnya. Dia lalu mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju. Namun kembali melempar pandang ke arah Anetha yang masih asik menikmati ASI ibunya. "Sebenarnya masih ada cara untuk membuktikan ji—" "Tes DNA?" Aleya menyunggingkan senyum. "Tidak perlu, Mas. Dia bukan anakmu." Aleya menyorot Brama dengan tatapan penuh ketegasan. "Ck, akhirnya kau mengakuinya juga. Berarti keputusanku untuk bercerai darimu adalah keputusan yang tepat. Dan dugaan keluargaku selama ini benar adanya." Brama begitu percaya diri. "Iya, mereka benar. Jadi ikuti saja saran mereka, untuk kita bercerai." Aleya menutup payudaranya karena Anetha sudah tertidur pulas. Bibirnya yang masih dalam posisi bergerak, membuat bayi cantik itu terlihat begitu menggemaskan. Aleya tersenyum bahagia melihat wajah imut putrinya itu. Sehingga membuat Brama kesal dan membuang napas kasar. "Ya sudah, aku pergi dulu. Kau kabari saja kapan surat perceraian kita keluar." Brama kemudian berlalu keluar dari ruang rawat Aleya. Aleya memegangi dadanya selepas kepergian suaminya itu. Sudah sejak tadi ia menahan air matanya agar tidak jatuh. Inilah saatnya ia meluapkan semua rasa sedihnya setelah tak ada lagi pria tak berhati itu. "Maafin Mama ya Nak? Mama sudah berbohong tentang kamu. Itu semua Mama lakukan karena Mama terlampau sakit hati dengan sikap Papamu dan keluarganya selama ini." Aleya menangis di depan putrinya. Tak ada yang tahu betapa beratnya ia menjalani ini semua, sebab sedari kecil Aleya memang sudah hidup sebatang kara. Ia tumbuh dan besar di panti asuhan. Lalu setelah dewasa, ia memutuskan untuk mencari pekerjaan dan hidup mandiri. Hingga takdir membawanya bertemu dengan Brama. Dulu Aleya pikir, Brama adalah pria yang baik dan bertanggung jawab. Ternyata tidak lebih dari seorang pecundang yang hidupnya hanya memikirkan perkara uang dan uang. Ya, Brama berselingkuh dari Aleya, karena ingin mendapat posisi jabatan yang bagus di kantornya. Dan perempuan yang ia jadikan tameng untuk melancarkan niatnya itu tidak lain dan tidak bukan adalah Casandra, anak CEO peruperusahaan tempat Brama bekerja. . . Setelah tiga hari di rawat, akhirnya Aleya dan putrinya sudah di perbolehkan untuk pulang. Namun sebelum mereka keluar dari rumah sakit, Aleya sudah lebih dulu meminta Dira untuk mencarikannya kontrakan. "Tidak terlalu besar sih, tapi lumayan untuk sementara ini," tutur Dira. "Tidak apa-apa, Ra. Kamu sudah mau bantu carikan saja ... aku sudah sangat berterima kasih." Aleya menyimpulkan senyum. "Pokoknya kalau ada apa-apa, kamu bilang saja ya?" "Thanks, Ra." Saat mereka berjalan menuju pintu keluar rumah sakit, tiba-tiba saja Aleya melihat seorang wanita hamil yang sedang berdiri sembari memegangi perutnya yang sudah tampak bulat sempurna. Raut wajah perempuan itu seperti sedang menahan sakit. Aleya dan Dira lantas menghampiri perempuan hamil tersebut. "Mbak ... Mbak baik-baik saja?" tanya Aleya. "Ini Mbak, kaki saya tiba-tiba saja kesemutan," jelasnya. Aleya melihat kepada kami yang bengkak itu. "Ya sudah, kami bantu carikan kursi roda ya?" Dira segera mencari petugas rumah sakit dan meminta kursi roda. Tak lama, ia sudah kembali lagi ke depan rumah sakit. "Sekarang Mbak duduk ya? Mbak sama siapa ke sini?" tanya Aleya lagi. "Itu ... suami saya ada di sana." Perempuan itu menunjuk ke arah parkiran mobil. "Oh, syukurlah." Aleya lega karena wanita itu tidak sendirian. Tiba-tiba saja, atensi perempuan hamil itu tertuju kepada Anetha. "Mbak baru melahirkan?" tanyanya. "Iya, tiga hari yang lalu." Aleya memperlihatkan bayinya kepada perempuan hamil itu. Tangannya sempat mengusap lembut pucuk kepala Anetha dan tersenyum. "Cantik sekali anak Mbak ...." Aleya membalas senyumnya. "Terima kasih Mbak. Saya doakan, semoga lahiran Mbak juga lancar. Mbak dan bayi Mbak sehat." Doa Aleya kepada perempuan tersebut. "Terima kasih Mbak. Semoga kita bisa bertemu lagi. Oh, kenalkan, saya Farah. Nama Mbak siapa?" tanyanya lagi seraya mengulurkan tangannya. "Saya Aleya. Ini teman saya, Dira." Mereka menyambut uluran tangan perempuan bernama Farah itu. "Kalau begitu, kami permisi dulu ya Mbak." Aleya pamit pergi. "Hati-hati Mbak, semoga anak Mbak sehat selalu." Aleya dan Dira pun berlalu meninggalkan rumah sakit dan juga ... Farah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD