"Pak ... ini aku, Aleya," lirih Aleya. Tubuhnya sudah panas dingin karena wajahnya dan wajah Zein yang begitu dekat. Zein terus menyosor wajah Aleya, seperti akan menciumnya. Sehingga membuat mata Aleya membesar dan dia terus mencoba untuk menghindar. " Farah .... " Zein masih merancau memanggil nama Farah-istrinya. Aleya berusaha untuk memindahkan tangan Zein, tapi terlalu berat. Pelukan duda tampan itu mengurung tubuh mungil Aleya sehingga sulit baginya untuk melepaskan diri. "Pak, Bapak mabuk. Aku ambil air hangat dulu ya?" Aleya bisa mencium aroma wine dari mulut Zein. Sebab Aleya pernah bekerja lama di kelab malam, jadi ia tahu aroma setiap jenis minuman keras, walau ia sendiri tidak pernah minum. "Di sini saja, temani aku." Zein semakin mengeratkan pelukannya, bahkan hingga Ale

