Selesai makan, Aleya melirik jam pada ponselnya. Dia lalu meletakkan sendok pada piring nasi yang sudah kosong, tapi belum beranjak dari sana karena ada sesuatu yang tengah ia pikirkan. Tak ada yang lain, masih tentang perceraian antara dirinya dengan Brama. Di tengah ruang makan yang hanya di temani oleh cahaya lampu yang berada tepat di atas meja panjang itu, Aleya duduk mematung seperti patung yang tidak berjiwa. Hanya air matanya yang jatuh berderai dalam diamnya, tanpa suara dan isak. Matanya terus saja menatap layar ponsel itu. Anetha, putriku .... Walau semua ini telah usai, Nak, tapi cinta Mama kepadamu tidak pernah usai. Mama menyesali semua yang pernah terjadi, tapi tidak dengan kehadiran mu. Kau adalah anugrah terindah dari Tuhan, yang pernah Mama miliki .... Aleya mengusap

