keesok hari seperti biasa pagi ini risma yg baru keluar dari kamarnya melihat sang ibu lagi duduk di tengah rumah, ia membuat sebuah rencana untuk mengambil hati sang ibu agar di ijinkan kerja di kota tampaharus ke luar negru, desti bergegas ke dapur dan membuatkan segelas kopi hitam kesukaan sang ibu.
"bu ini kopinya aku taro dimana" ucap risma memberanika diri berkata kepada sang ibu setelah kejadian kemarin.
"taro aja di sini nak, duduk lah kamu ada yg ingin ibu bicarakan" ucap ibu minah sambil menepuk nepuk meja untuk risma menaro kopi yg di buatnya. sementara itu desti memperhatikan ibu dan kakaknya dari dalam kamar.
"apa yg mau ibu bilang" tanya risma sambil terduk di depan ibunya yg terhalang meja.
"ibu minta maaf atas ucapan ibu kemarin, ibu merasa tak mapu untuk membiayai kalou kamu harus lanjut sekolah" ucap buminah lirih sambil tanganya mengambil gelas yg berisi kopi sesekali dia meneguk kopi yg dibuat risma tadi.
"biar sekolah kamu ga sia sia walou hanya lulusan smp, ibu dan pak peru berencana untuk mengirim mu kerja keluar negri apalagi gajinya besar dibandingin di indo" lanjut buminah berkata mencoba menjelaskan kepada risma berharap risma bisa mengerti dan menuruti keinginanya.
"bu berangkat ke sana tuh perlu uang untuk ngurus ini itu, ibu pikir bisa geratisan gitu" ucap risma mencoba untuk menggoyahkan keinginan ibunya.
"ibu udah tanya ibu yunita isterinya pak peru katanya bisa gapakai uang sedikitpun perusahaan yg duluin biayanya semua" jelas buminah dengan penuh semangat.
"terus cara bayarnya gimana, emang mau ibu terus di tagih untuk bayar uang bekas aku pergi kesana, darimana ibu bisa dapat uang segitu banyak. ucap risma sedikit gugup rencananya hampir berantakan.
"bukan ibu yg bayar ris tapi kamu sendiri, ntar selama tiga bulan gajimu dipotong untuk gantinya" sekali lagi buminah menjelaskan tentang uang talangan keberangkatanya ke luar negri.
"bu sebenarnya aku belum siap untuk pergi keluar negri apalagi usia ku masih terlaalu muda, aku takut bu" rengek risma mencoba mengambil hati sang ibu.
"biarlah aku kerja disini aja untuk bantu ibu, kira kira satu atau dua tahun lagi" lanjut risma meyakinkan sang ibu dengan muka yg memera menahan rasa takut kalou sang ibu akan marah.
"terserah kamu kalou itu yg kamu inginkan, terus apa kerjaanmu di kampung ini, ibu gamau kalou kamu kerja seperti ibu gini, cukup ibu aja yg merasakan sulit seperti ini" tegas buminah membuat risma terdiam dia tak tega melihat sang ibu yg bagitu layu dan rapuh bagaikan ranting kayu yg sudah lapuk.
"bu kakak gak akan kerja dihutan untuk cari kayu bakar, tapi kakak akan kerja di kota" sentak desti yg sembari tadi hanya menguping di balik pintu kamarnya membuat sang ibu dan risma terkejut.
"kerja dikota, kerja apa yg bisa kakak mu masuki sedangkan lulusanya aja hanya smp" jelas sang ibu dengan hati bimbang.
"semalam kami ketemu dengan tante
erin yg punya banyak toko pakaian, jadi kak risma di tawarin kerja di toko miliknya, kalou ibu ngijinin tante erin akan jemput kak risma ke sini" ucap desti menjelaskan apa yg dia bicarakan sewaktu jumpa sama tante erin.
"kalou emang kakak mu mau ibu setuju aja yg penting dia ga ngikuti seperti ibu, cukup ibu aja yg menderita begini" ucap bu minah sambil menunduk malu terhadap sikap dirinya kepada kedua putrinya.
"makasih ibu udah bolehin aku kerja di kota, kalou aku kerja di kota kapan aja aku bisa pulang kesini melihat keadaan ibu" ucap risma bahagia sambil memeluk tubuh sang ibu.
**********************
manto lagi duduk termenung di gubuk derita yg berada di tempat kerja, dia bingung apa sebenarnya yg di rencanakan galif, apa tujuan dia menyuruh risma kerja di kota padahal dirinya sensiri kerja di kampung risma,
"apa galif nyuruh risma kerja di kota agar dia bisa leluasa ama adiknya desti, coba aja kalou dia berani begitu ama desti berarti udah cari masalah ama ku" gerutuk manto berbicara sendiri dia takrela wanita pujaanya di permainkan galif, walou cintanya bertepuk sebelah tangan, karna hanya dirinya yg mengetahui isi hatinya. ia belum berani menembak desti, manto masih takut kalou desti nanti menolak dirinya.
"way......broa" ucap galif singkat sambil menepuk pundak manto,
"ha....it......ciap.....siap........" ucap manto terkejut tak kepalang tangan dan kaki manto melayang layang membangun sebuah Kuda kuda untuk menyerang.
"aih......sabar bro ini gua galif, jangan main sikat aja" teriak galif sambil kedua tanganya ke atas tanda menyerag.
"ah elu lif, bikin jantung gua copot aja, untung bantingan prabu siliwangi ga ku keluarin" ucap manto sambil tanganya mengelus ngelus dadanya mencoba untuk tenang.
"bantingan prabu siliwangi peangmu, sok iah aja entar sekali di kentuti langsung keok" canda galif sambil cengengesan
"udahlah jangan barcanda melulu, ngomong ngomong apa rencanamu" tanya manto dengan muka yg serius
"rencana apa maksud mu to, aku ga paham" jawab galip sedikit kerutan di wajahnya bingung dengan perkataan manto.
"yah rencana kamu untuk bikin risma kerja di kota sedangkan kamu aja kerja disini, jangan kamu bilang kamu ingin bebas deketi desti" jelas manto membuat galif tersenyum senyum.
"tenang bro, aku tau kamu suka sama desti, makanya gua suruh risma kerja dikota untuk membuat hati ibunya luluh, kamu sendiri tau kan ibu risma tuh gak pala suka ama aku" ujar galif menjelaskan apa magsudnya menyuruh risma kerja dikota.
" oh iyah yah, mudah mudahan ja ibu minah bisa nerima kamu jadi calon mantu.
"amin....." ucap galif mengucap sukur kepada sang pencipta.
"bang....bang galif" teruak desti dari luar tembok tambak tempat kerja galif dan manto.
galif yg mendengar suara desti yg memanggil namanya lansung bergegas pergi menghampiri desti di ikuti manto dari belakang.
"ada apa des ko datang kesini" tanya galif keheranan melihat kehadiran desti.
"tolong hubungi tante erin secepatnya mungpung ibu mengijinkan kakak untuk kerja di kota" ucap desti dengan napas ter engah engah
"inya nanti aku hubungi tante erin untuk menjemput risma" jawab galip dengan senyum bahagia di bibirnya.
"jangan kelamaan bang, entar ibu keburu berubah pikiran" tegas desti memaksa galif untuk cepat menelevon tante erin.
"baiklah kalogitu tunggu sebentar aku ambil ponsrlku dulu" ucap galif sambil bergegas pergi kekamar mesnya untuk mengambil ponselnya.
"mudah mudahan kakak mu betah kerja di kota sana" ucap manto dengan lirih matanya terus memandang paras cantik desti