Udara malam di kamar sempit itu terasa dingin, namun hati Rahmi jauh lebih beku. Bayangan wajah Mas Tegar yang tanpa ekspresi saat mengucapkan talak itu masih terngiang-ngiang dalam benaknya. Bukan di pengadilan agama, bukan di hadapan keluarga, tapi di sebuah tempat karaoke yang remang-remang, di tengah bisingnya musik dangdut koplo.
“Ini salahmu! Semua karena kamu yang udah nggak bisa ngertiin aku! Aku capek sama kamu! Mulai sekarang ... kita selesai! Aku ... talak kamu! Ini talak ketiga dan nggak ada jalan kembali!”
Kalimat itu, semua perkataan Mas Tegar yang begitu menyakitkan tidak bisa Rahmi lupakan. Belum sampai di situ, Mas Tegar seolah tidak ada habisnya menghina istrinya itu.
“Aku nggak mau punya istri yang kerjanya Cuma nangis, ngeluh dan bisanya Cuma main HP dan HP terus!” ucap Mas Tegar saat itu, suaranya datar.
Ucapan itu seperti pisau tajam yang menghunjam jantungnya. Rahmi tidak habis pikir, bagaimana bisa Mas Tegar mengucapkan kata sakral itu tanpa sedikit pun keraguan. Tanpa memikirkan anaknya yang baru saja dilahirkan. Tanpa memikirkan dirinya yang sudah berkorban mati-matian.
Pikiran Rahmi melayang jauh ke masa lalu. Ia mengingat bagaimana dulu Mas Tegarlah yang berusaha keras mengejar cintanya. Hampir setiap hari Mas Tegar datang ke rumahnya, membawakan bunga dan cokelat, mengucapkan janji-janji manis untuk menjadikan hidup Rahmi bahagia.
Mas Tegar adalah pria yang ia kenal sebagai sosok yang sabar dan gigih. Ia rela menunggu Rahmi selama dua tahun, hingga akhirnya Rahmi luluh dan menerima cintanya.
“Aku janji, kamu nggak akan pernah menyesal memilihku,” ucap Mas Tegar saat itu. Ia tampak begitu serius dan bersungguh-sungguh.
Namun, semua janji itu kini terasa seperti bualan. Pria yang pernah mengejarnya dengan penuh cinta, kini adalah pria yang sama yang dengan entengnya mencampakkannya. Rahmi tidak habis pikir, bagaimana bisa seseorang berubah secepat dan setega itu?
“Nak, sini, biar Ibu pijit kakinya,” ucap Ibu Rahmi, Bu Dewi lembut, sambil mengusap kepala putrinya. Rahmi hanya bisa menunduk, air matanya tak henti-hentinya mengalir.
“Udah, Nak! Jangan nangis terus! Nanti kamu sakit,” lanjut Bu Dewi, suaranya bergetar menahan tangis.
“Kenapa, Bu? Kenapa Mas Tegar tega sama aku? Aku salah apa? Aku kan sudah berusaha jadi istri yang baik. Tapi, dia malah main perempuan ... main judi ...,” ucap Rahmi lirih, isaknya pecah.
“Kamu nggak salah, Nak. Justru Tegarlah yang nggak bisa jadi suami yang baik,” balas Bu Dewi, memeluk Rahmi erat.
“Dia talak aku di tempat yang nggak pantas. Di tempat karaoke, Bu. Orang-orang pasti bakal ngomongin aku. Pasti mereka pikir aku istri yang nggak bener,” isak Rahmi.
“Nggak, Nak. Mereka nggak akan ngomongin kamu. Sebaliknya, mereka akan ngomongin Tegar. Tegar itu yang salah. Dia yang nggak tahu diri,” tegas Bu Dewi, mencoba menenangkan.
Ayah Rahmi masuk ke kamar, membawa segelas air hangat. “Minum dulu, Nak!” ucapnya, sambil mengelus kepala Rahmi. “Jangan dipikirin omongan orang! Yang penting, kamu sama anakmu baik-baik aja.”
Rahmi menerima gelas itu, air matanya menetes ke dalam air hangat yang ia minum. Ia merasa sangat bersyukur memiliki kedua orang tuanya yang begitu menyayanginya.
***
Malam itu, saat anaknya sudah terlelap di sampingnya, pikiran Rahmi kembali melayang. Ia teringat kembali pada dua kali talak yang sudah ia terima sebelumnya.
Talak pertama terjadi saat ia sedang hamil besar. Saat itu, ia memergoki Mas Tegar sedang bermain judi online di ponselnya. Ia menegur suaminya, memintanya untuk berhenti karena uang itu lebih baik digunakan untuk kebutuhan anak mereka.
“Mas, kamu ngapain main judi? Uang itu kan buat beli perlengkapan bayi,” ucap Rahmi, dengan suara pelan.
“Diam kamu! Jangan ikut campur urusanku!” balas Mas Tegar, suaranya meninggi. “Aku talak kamu kalau kamu nggak diam!”
Rahmi ketakutan. Ia langsung terdiam, tidak berani melawan. Ia tahu, Mas Tegar adalah orang yang tidak bisa dikendalikan. Ia hanya bisa pasrah, berharap suaminya tidak mengulangi perbuatannya.
Namun, ia salah. Mas Tegar mengulangi lagi perbuatannya. Talak kedua terjadi saat anaknya baru lahir. Saat itu, Mas Tegar kembali meminta uang kepada Rahmi. Uang itu seharusnya digunakan untuk membeli popok dan s**u, namun Mas Tegar ingin menggunakannya untuk berjudi lagi.
“Kasih aku uang, Rahmi!” ucap Mas Tegar, suaranya terdengar kasar.
“Tapi, Mas … uang ini kan buat beli popok sama s**u,” jawab Rahmi, mencoba membela diri.
“Nggak usah banyak omong! Pokoknya kasih uangnya!” balas Mas Tegar terus memaksa.
“Aku nggak mau, Mas. Nanti anak kita mau pakai apa? Mau minum apa?”
“Dasar istri nggak tahu diri! Aku talak kamu!”
Rahmi kembali ketakutan. Ia langsung memberikan uang itu kepada Mas Tegar, berharap suaminya tidak jadi menalaknya. Ia memohon, ia bersujud, ia bahkan sampai menangis histeris.
“Jangan, Mas! Jangan talak aku! Aku mohon, Mas,” isaknya. “Anak ini ... anak ini butuh Ayahnya.”
Tanpa kata, Mas Tegar pun pergi meninggalkan Rahmi begitu saja. Meninggalkan luka di hati Rahmi yang sudah terlanjur menganga. Ia tahu, ia sudah tidak dihargai lagi sebagai seorang istri.
Mengenang semua perlakuan itu, air mata Rahmi kembali mengalir. Ia juga teringat perlakuan ibu mertuanya dan Ipah selama ini. Mereka tidak pernah benar-benar menerimanya.
“Dulu, waktu aku hamil, Ibu nggak pernah mau ngerjain kerjaan rumah. Malah harus selalu aku yang nyapu, ngepel, nyuci. Aku lagi nggak enak badan juga harus tetep beberes rumah,” bisik Rahmi pada dirinya sendiri. “Waktu aku melahirkan, Ibu juga nggak pernah gendong anakku. Bilangnya takut ketularan penyakit. Penyakit apa coba maksudnya?!”
Rahmi lalu terdiam. Ia ingat, saat ia masih di rumah mertuanya, ia selalu dihina karena tidak bisa memberikan apa-apa secara materi.
“Lihat tuh, Rahmi! Kerjanya Cuma main HP. Mana bisa bantu Tegar?” sindir Ibu mertua Rahmi.
“Iya, Ma. Makanya Mas Tegar juga nggak betah di rumah,” balas Ipah, dengan nada sombong.
Rahmi menahan sakit di hatinya. Ia tahu, ia memang tidak bisa memberikan apa-apa secara materi. Ia hanya bisa mengurus rumah dan anaknya. Akan tetapi, ia sudah berusaha menjadi istri yang baik.
Pikiran Rahmi kini beralih pada anaknya. Ia memandang wajah anaknya yang terlelap. Wajah polos itu membuatnya merasa bersalah. Ia harus bisa menghidupi anaknya. Ia tidak bisa hanya berdiam diri, meratapi nasibnya.
“Ibu harus kuat, kan? Demi kamu,” bisik Rahmi, sambil mengusap kepala anaknya.
Namun, semangat itu hanya bertahan sesaat karena seketika, ia seolah ditampar oleh kenyataan dan keadaan. Ketakutan kembali melingkupinya. Tangisnya kembali pecah saat ia menyadari anaknya butuh s**u dan popok. Sementara ia tidak tahu bagaimana ia akan mendapatkan uang untuk membelinya.