Rencana Ibu Mertua

1070 Words
Sementara itu, di rumah orang tua Tegar, suasana terasa begitu cerah, seolah tak pernah ada badai yang melanda. Tegar duduk santai di teras, menyesap kopi hitam, sambil mengisap rokoknya. Ponselnya berdering, menampilkan nama teman-temannya. Tawa riang pecah dari bibirnya saat ia menceritakan kejadian semalam. “Gue talak juga dia akhirnya, Bos!” seru Tegar, suaranya penuh kemenangan. “Lagian capek gue, di rumah dengerin dia ngeluh sama nangis mulu. Berisik, bikin pusing!” “Seriusan, Bro? Wah, gila lo! Cewek secakep Rahmi lo lepas gitu aja?” tanya teman Tegar dari seberang telepon. “Cakep dari mana? Dia itu udah berubah sekarang. Nggak bisa rawat diri. Dia gendut, lusuh, nggak bisa dandan. Udah kayak ibu-ibu mau ke pasar. Pas gue balik ke rumah, beuh! Apa coba?! Badannya bau bawang! Rambutnya acak-acakan, dasternya kotor. Mana bisa gue ajak nongkrong sama lo pada,” jawab Tegar, suaranya meremehkan. “Lagian, dia tuh bisanya Cuma minta duit doang, nggak pernah bisa ngasilin. Capek gue, jadi kepala rumah tangga kok kayak kepala rumah sakit, semua-semua diurusin,” lanjut Mas Tegar. Tegar tertawa lepas. Ia merasa seperti burung yang baru saja dilepaskan dari sangkarnya. Ia merasa bebas, tanpa beban, tanpa istri yang selalu mengomel. Ia merasa, hidupnya baru saja dimulai. Tak lama kemudian, Bu Sari, Ibu Tegar, keluar dari rumah, membawa sepiring gorengan. Raut wajahnya tak menunjukkan sedikit pun kesedihan. Ia malah tersenyum puas. “Nih, Gar. Makan dulu! Ibu udah bikinin gorengan kesukaan kamu,” ucap Bu Sari sambil meletakkan piring itu di meja. “Wah, makasih, Bu,” balas Mas Tegar, sambil mengambil satu buah gorengan. “Gimana semalem? Dia nangis-nangis nggak?” tanya Bu Sari, suaranya terdengar antusias. “Ya nangislah, Bu. Masa senyum-senyum,” jawab Tegar, sambil tertawa. “Bagus, deh! Berarti dia sadar diri. Memang sudah seharusnya dia pergi. Dia Cuma beban di rumah ini. Kamu tuh terlalu baik, Gar. Makanya dia ngelunjak,” balas Bu Sari sambil mendudukkan diri di samping Tegar. “Iya, Bu.” Tegar mengangguk-anggukkan kepalanya. “Lagian, dia tuh bisanya Cuma main HP, nggak pernah bantu kamu,” sindir Bu Sari. “Iya, Bu. Aku juga kesel. Dulu waktu hamil, dia ngeluh mulu. Nggak bisa ini, nggak bisa itu. Padahal Ibu kan dulu hamil juga, nggak gitu-gitu amat,” sambung Tegar, suaranya terdengar jengkel. Ipah, adik Tegar, ikut keluar dari rumah. Ia membawa secangkir kopi, lalu mendudukkan diri di samping Tegar. “Palingan juga dia lagi curhat ke Ibunya sekarang, ya, Ma? Ngadu-ngadu biar dikasihani,” sindir Ipah. “Biarin aja! Mau dia ngadu ke presiden juga, udah nggak ada urusan sama kita,” balas Tegar, sambil tertawa. “Mbak Rahmi itu ya, kerjaannya Cuma main HP di rumah. Mas Tegar yang kerja keras, dia yang enak-enakan. Udah gitu, Mas Tegar juga capek sama dia, yang Ipah denger Cuma masalah uang aja yang dia bahas. Emang dia pikir Mas Tegar itu bank, ya?” sindir Ipah, dengan nada sinis. “Bener banget, Pah. Dia tuh bisanya Cuma minta doang,” sambung Tegar. “Padahal dia sarjana, lho, Ma! Sayang banget otaknya nggak dipake,” sindir Ipah, sambil tertawa. Tawa Tegar dan Ipah pecah. Mereka seolah sedang merayakan kemenangan. Bagi mereka, kepergian Rahmi adalah sebuah keberuntungan. Mereka tidak perlu lagi menanggung beban hidup Rahmi dan anaknya. Setelah puas membicarakan Rahmi, Bu Sari mulai serius. Ia menatap Tegar dengan tatapan penuh harap. “Gar, Ibu ada kenalan. Anaknya cantik, pinter, lulusan luar negeri. Mau Ibu kenalin?” Tegar terkejut. “Nggak, ah, Bu. Nanti aja. Aku mau istirahat dulu.” “Jangan gitu, Gar! Kamu kan masih muda. Masa mau sendiri terus. Lagian, Ibu nggak mau lihat kamu kayak gini terus,” balas Bu Sari. “Kayak gini gimana, Bu? Aku kan nggak kenapa-napa,” jawab Tegar. “Kayak gini, sendirian maksud Ibu. Kamu tuh butuh pendamping, Gar. Yang bisa bantu kamu, yang bisa bikin kamu bahagia,” ucap Bu Sari. “Nggak, Bu. Aku belum mau nikah lagi. Aku mau istirahat dulu,” balas Tegar, suaranya terdengar lelah. “Pokoknya kamu harus mau! Ibu nggak mau tahu,” tegas Bu Sari, lalu ia beranjak masuk ke dalam rumah. Tegar menghela napas panjang. Ia tahu, ibunya akan terus mengomel sampai ia mau. Ia tidak bisa melawan. Bu Sari adalah orang yang sangat keras kepala. Di dalam rumah, Bu Sari sibuk menelepon teman-temannya. Ia berbicara dengan suara yang lantang dan penuh semangat. “Iya, Mbak. Anak saya udah cerai. Tapi tenang aja, anaknya Tegar kan dibawa sama mantan istrinya. Jadi, nggak ada beban. Ini saya lagi cariin calon baru nih buat Tegar. Ada kenalan yang lebih baik dari Rahmi nggak?” Ipah yang mendengar percakapan itu, hanya bisa tersenyum sinis. Ia tahu, ibunya tidak akan pernah berhenti sampai Tegar mendapatkan istri yang ia inginkan. Istri yang lebih kaya, lebih cantik, dan lebih sempurna dari Rahmi. “Mbak Rahmi, lihat aja! Mas Tegar bakal dapat yang lebih baik dari kamu,” bisik Ipah, sambil tersenyum penuh kemenangan. *** Malam harinya, Tegar duduk di teras. Ia menatap langit malam yang gelap. Pikirannya kosong. Ia merasa bebas dan tidak ada beban. Keputusannya untuk menceraikan Rahmi terasa sangat tepat. Ia tidak perlu lagi memikirkan orang lain, selain dirinya sendiri. Tegar mengeluarkan ponselnya, lalu membuka aplikasi marketplace. Ia melihat-lihat berbagai macam barang di sana. Hingga ia pun memutuskan ingin membeli tas mahal untuk Ipah, sebagai hadiah karena sudah mendukungnya. “Ipah, sini!” panggil Mas Tegar, suaranya terdengar antusias. “Ada apa, Mas?” tanya Ipah, sambil menghampiri Mas Tegar. “Nih, aku mau beliin kamu tas mahal,” ucap Mas Tegar, sambil menunjukkan ponselnya. “Wah, serius, Mas?!” tanya Ipah, matanya berbinar. “Iya, serius. Kamu kan udah dukung Mas,” balas Mas Tegar. “Makasih banyak, Mas,” ucap Ipah, sambil memeluk kakaknya itu. Ipah merasa sangat senang. Ia merasa, keputusannya untuk mendukung Tegar sudah benar. Ia akan mendapatkan tas mahal, dan pikirnya ia akan mendapatkan ipar baru yang lebih kaya dan lebih segalanya dari Rahmi. Bu Sari keluar dari rumah, wajahnya berseri-seri. “Gar, Ibu udah dapat calon baru buat kamu. Dia anak pengusaha. Cantik, pinter, kaya. Pokoknya lebih dari Rahmi,” ucap Bu Sari, suaranya terdengar bangga. Mas Tegar terkejut. Ia tidak menyangka, ibunya akan secepat ini mencari calon baru. Ia merasa, hidupnya akan kembali rumit. Ia menghela napas panjang. Ia hanya ingin menikmati kebebasannya, namun ibunya sudah merencanakan masa depan lain untuknya. Mas Tegar menatap langit malam, ia tahu jika dirinya harus mengikuti semua kemauan sang ibu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD