17. Pintu Keluar Barcelona

1797 Words

Lima hari. Itulah berapa lama keheningan itu bertahan setelah aku membanting pintu apartemennya minggu lalu. Lima hari yang rasanya seperti lima abad. Aku menghabiskan waktu itu dengan menatap layar iPhone-ku sampai mataku buram, berharap melihat satu notifikasi—entah itu "I'm sorry", "I miss you", atau sekadar "Hey". Tapi layar itu tetap hitam, dingin, dan bisu. Aku menjalani rutinitas seperti robot yang kehabisan baterai. Aku menyetir mobil ke kampus, duduk di kelas mendengarkan dosen mengoceh soal Monetary Policy, tapi otakku kosong melompong. Teman-teman socialite-ku mengajak brunch di Senopati, aku tolak. Mama menyuruhku menemaninya fitting baju untuk arisan, aku beralasan sakit kepala. Bahkan aku gagal kuis Mikroekonomi karena aku tidak bisa membedakan kurva penawaran dengan retaka

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD