1. Kejadian yang Tak Terduga
Tawa dan obrolan teman-teman dari kafetaria menggema hingga ke lorong kelas. Suaranya samar, cukup terdengar meski dua ruang kelas memisahkan mereka dariku, jaraknya memang hanya dua ruang dari tempatku berada. Tapi hari itu aku memilih tetap di sini—di dalam kelas yang sepi, aku terlalu lelah untuk peduli. Kepalaku bersandar di atas meja dan kedua tangan menyilang sebagai alas. Aku lelah. Mataku berat, tubuhku penat. Aku hanya ingin tidur siang sebentar, tak ingin bergabung dalam keramaian yang biasa terjadi setiap jam istirahat.
Namun baru lima belas menit tertidur, suara keras memukul meja membangunkanku.
Tiba-tiba—BRAKK!
“Celly!”
Deg! Aku langsung terlonjak, membuka mata lebar-lebar.
“Apaan sih, lu!” omelku kesal. “Lu kagak lihat gue lagi tidur?!”
Dave, sahabat Marcella datang dari kelas sebelah, tertawa lebar. “Sorry, sorry. Gue cari-cari lu di kafetaria, nggak ada. Gue kangen ngelihat wajah lu, tahu.”
Aku ngucek mata, masih setengah sadar. “Kangen apaan... Preeet. Palingan juga lu kangen gangguin gue. Emang hobi lu, kan?”
“Hahaha! Tahu aja lu. Tapi serius, kenapa nggak keluar dan ngumpul bareng di kafetaria? Teman-teman nyariin lu tahu, mereka nyari ketua gang mereka yang badung dan centil”
“Heh! Enak aja ngatain gue badung, pake nambah centil lagi. Kan gue sudah cerita sama lu kalau gue ngantuk berat, Dave. Kemarin gue capek banget, bantuin Mama beberes. Ada tamu dari luar kota yang dakdakan datang, dan... sialnya, mereka datang Minggu malam. Harusnya waktu buat istirahat malah dipake repot-repotin dan ganggu ketenangan minggu gue lagi.”
Dave nyengir lebar. “Wah... feeling gue, lu mau dijodohin deh. Anak temen bokap lu, pasti. Secara lu udah kelas 12, bentar lagi lulus, langsung deh jadi ibu rumah tangga.”
Aku menyipitkan mata padanya. “Mimpi! Cita-cita gue tuh jadi wanita karier, masuk Forbes, bukan masuk dapur. Nothing is impossible for Marcella, okay?”
“Dih, pede amat. Tapi kalo sukses, jangan lupa gue ya, Cel,” ucapnya sambil menepuk-nepuk pipiku.
“Ih! Bau keringet! Lu abis main basket ya? Lengket banget. Mandi sana!”
Dave tertawa kemudian dia berkata. “By the way, weekend ini jangan lupa lu datang ke rumah gue ya.”
Aku menjawab dengan pura-pura bingung. “Eh, memangnya ada apa di rumah lu sampe gue harus datang segala?”
Dave menjawab dengan wajah sedikit kesal. “Ih.. Gue temen lu dari zaman dinosaurus, masa lu bisa lupa sih? Kebangetan deh lu!”
Melihat ekspresi Dave yang kesal aku pun tertawa, kemudian aku berkata lagi kepadanya. “Santai bro.. gue ingat kok kalau itu ulang tahun lu, tenang aja lu gue bakalan hadir di setiap moment besar di hidup lu.”
Dave hanya tertawa dan kemudian berkata. “Eaaa.. Baiklah Nona Celly, jangan lupa lu harus beliin gue kado ya, kalau bisa yang mahal sih. Hahaha.”
Aku pun meresponsnya, “Transferin dulu dong baru gue beliin yang mahal”
Dave tertawa lagi melenggang keluar kelas sambil berkata. “Bodoh amat, yang penting gue harus dapat kado dari lu, Cel.”
Aku menjawabnya sambil sedikit berteriak. “Kalau gue nggak mau, lu mau apa?”.
Tapi tidak ada respon karena dia sudah pergi menghilang menuju ke lorong, aku menghela nafas. Tidurku sudah buyar.
-------
Akhirnya, aku memutuskan ke kafetaria juga. Perutku mulai keroncongan. Saat berbelok di sudut lorong, langkahku terhenti karena menabrak seseorang. Buku-buku berjatuhan ke lantai.
“Aduh, maaf, Pak! Saya tidak sengaja” Aku langsung berjongkok, membantu mengumpulkan buku-bukunya.
Dia adalah Mr. Kevin Smith, guru Bahasa Inggris baru di sekolahku. Orangnya masih muda, wajahnya seperti aktor drama barat. Aku sedikit kikuk di hadapannya.
Guru Bahasa Inggris baru itu tersenyum ramah. “Tak apa, saya juga terburu-buru. Hati-hati lain kali, ya.”
Aku mengangguk, menunduk sopan, dan berjalan menuju tempat duduk teman-temanku.
“Saya permisi dulu, ya,” katanya sambil melihat jam tangannya. Lalu dia berjalan cepat menuju ruang guru.
SMA-ku bukan tempat yang buruk. Aku cukup populer—entah karena prestasiku, atau karena nama besar keluargaku. Ayahku pengusaha sukses, masuk daftar 500 orang terkaya dunia. Tapi meski punya segalanya, rumah kami tak selalu terasa seperti rumah.
Setelah membeli cemilan dan bergabung dengan teman-temanku, aku kembali larut dalam tawa dan obrolan. Hari ini cukup menyenangkan. Bersama Jessica dan Ashley, dua sahabatku sejak SMP, semuanya terasa ringan. Jessica yang populer dan cerewet selalu jadi pusat perhatian, terutama karena dia pacaran dengan kapten basket sekolah. Ashley? Gadis cerdas yang berkali-kali menang olimpiade internasional. Mereka berdua... adalah pelengkap hidupku.
Di sekolah, walau ribut dan bikin capek, setidaknya ada tawa. Rumah malah sepi banget. Dingin. Sunyi kayak sisa hujan yang nggak mau kering-kering.
-------
Sore itu, setelah jam pelajaran usai, aku pulang ke rumah. Jam menunjukkan pukul tiga sore saat aku tiba di rumah. Seperti biasa, hanya Bi Maryam dan Pak Tejo yang ada di rumah. Orangtuaku dan tamu mereka sepertinya pergi entah ke mana, tak ada kabar, dan tak menungguku pula.
Tak peduli. Aku lelah dan tanpa berganti pakaian, aku langsung rebahan. Lelah yang menumpuk membuatku tertidur nyenyak, tanpa sadar aku tertidur hingga malam.
Ketika aku bangun, jarum jam menunjukkan pukul sembilan malam. Aku mendesah—lupa mandi, lupa makan malam. Perutku keroncongan. Aku turun ke dapur, memanaskan masakan sisa siang, lalu makan sambil menggulir layar ponsel.
Ada pesan dari ayah. “Kami mungkin pulang larut malam. Ada urusan tambahan.”
Aku menghela napas dan melanjutkan makan. Seusai itu, aku kembali ke atas, bersiap belajar, tapi suara aneh dari ruang musik menghentikan langkahku.
Suara benda jatuh. Desahan kecil. Jeritan tertahan.
Aku mendekat. Ruang musik berada tepat di sebelah ruang santai. Pintu yang menghubungkan keduanya terbuka sedikit.
Aku menegang. Awalnya aku mengira itu pencuri. Tapi yang kulihat membuat jantungku seakan berhenti berdetak. Dan dunia berhenti.
Di dalam sana—dalam temaram cahaya lampu dari ruang sebelah—kulihat dua sosok yang tak seharusnya begitu dekat.
Ibuku. Dan... Tristan. Duduk berdua di kursi piano. Saling bersentuhan. Mereka saling merengkuh, mencumbu penuh gairah, seperti dua orang yang telah lama terperangkap dalam hasrat tersembunyi.
Aku tak mampu bersuara. Tak mampu bergerak. Hanya berdiri kaku di balik celah pintu, menyaksikan pemandangan yang seharusnya tak kulihat.
Ciuman mereka dalam, panas, seperti telah dilakukan berkali-kali sebelumnya. Tangan mereka saling mencari, menyusuri lekuk tubuh masing-masing tanpa malu. Sebuah patung kristal di atas piano jatuh—menjadi saksi bisu perzinahan yang tengah berlangsung.
Ibuku… perempuan yang selama ini kuteladani, kini duduk di atas pangkuan pria lain, membuka dirinya untuk seseorang yang bukan ayahku.
Dan dari cara mereka saling menyebut nama, dari bisikan yang mereka bagi, aku tahu… ini bukan pertama kali. Mulutku tercekat. Aku terpaku.
Aku menggenggam ponsel. Tangan bergetar. Kupikir akan kuabadikan ini—akan kuberikan pada ayahku, sebagai bukti. Tapi tubuhku membeku. Hanya mataku yang terus menatap, menyaksikan keintiman yang tak bisa dipadamkan.
Tangannya memeluk leher pria itu, bibirnya menempel panas di mulut Tristan. Foto-foto di atas piano berjatuhan. Tangan Tristan menjalar ke punggung Ibuku, membuka perlahan resleting gaunnya. Aku ingin menutup mata, tapi tubuhku membeku. Keterkejutan yang tak terlukiskan membuatku gemetar.
Suara desahan lembut Ibu terdengar seperti retakan halus di dalam dadaku. Mereka saling memeluk begitu erat. Tristan membisikkan sesuatu ke telinganya, lalu membelai tubuh Ibu seperti harta karun yang sangat ia rindukan.
Ciuman mereka semakin dalam, semakin menggebu. Jemari mereka saling mengait, seolah waktu tak lagi penting. Aura di ruangan itu begitu hangat, namun juga kelam.
Aku ingin berteriak. Tapi tak ada suara yang keluar.
Mereka larut dalam gairah, tubuh mereka menyatu dalam ritme yang seharusnya tidak pernah kulihat. Aku mundur perlahan, menahan tangis. Pintu tertutup pelan, dan aku berlari kembali ke kamar.
Air mataku jatuh membasahi pipi. Dadaku sesak.
Mereka… sudah sering melakukannya. Kata-kata terakhir Tristan menggema di telingaku:
“Kau masih sangat nikmat, Veronica.”
Ku pacu langkahku kembali ke kamar, lalu mengunci pintu.
Rasanya seperti sesuatu di dalam diriku runtuh malam itu. Di dalam kamar, aku duduk di sudut ranjang, memeluk lututku sendiri, aku menangis sendirian. Aku marah. Aku muak. Tapi yang paling menusuk adalah rasa kecewa.
Dunia yang ku pikir sempurna… ternyata penuh kebohongan. Ibu yang kukagumi, menghancurkan rumah kami diam-diam. Dan aku… terlalu hancur untuk bisa memaafkan.
Dan di balik air mata yang mengalir diam-diam, sebuah pikiran baru muncul…
Kalau bahkan ibuku bisa mengkhianati ayahku…
Malam itu, aku bukan lagi Marcella yang polos dan percaya keluarga akan selalu jadi tempat pulang.
Malam itu… hatiku mulai berubah.