Setelah kejadian menjijikan semalam di ruang musik, aku tidak punya semangat dan kehilangan gairah untuk melakukan apa pun, bahkan untuk mengangkat tubuhku dari tempat tidur terasa seperti tugas terberat dalam hidup. Rasanya seperti dunia runtuh di hadapanku. Kelopak mataku sembab, bengkak, dan terasa perih karena semalaman aku menangis diam-diam, tenggelam dalam pengkhianatan yang tak pernah kuduga akan kulihat dengan mataku sendiri.
Tapi rumah ini… lebih menjijikkan. Dua orang itu akan ada di sini sepanjang hari. Aku tidak sanggup menatap wajah mereka. Bahkan mendengar suara mereka saja membuatku ingin muntah.
Tapi aku tahu dua orang menjijikkan itu akan ada di rumah hari ini, pura-pura tidak terjadi apa-apa, seolah mereka tidak sedang menghancurkan satu-satunya pondasi kecil yang tersisa dari hidupku. Maka aku memilih bangkit. Jika harus melarikan diri, biarlah aku melarikan diri ke sekolah. Setidaknya, di sana aku bisa menyibukkan pikiranku—atau, setidaknya, mati rasa.
Aku menyembunyikan wajahku di balik kacamata hitam. Bukan gaya, hanya pelindung. Biasanya Mama akan memanggilku untuk sarapan, tapi pagi itu sunyi. Tak ada suara panci, tak ada aroma roti bakar. Rumah kosong. Aku bisa menebak—Ayah dan Om Anthony tidak pulang semalam.
Saat membuka pintu depan, Pak Tejo langsung menyambutku.
"Pak Tejo, antar aku ke sekolah sekarang ya," ucapku singkat, tanpa menoleh.
Di dalam mobil, supir keluarga kami menatapku dari spion tengah. "Non, kenapa pakai kacamata hitam? Sakit mata ya?"
Aku mengangguk ringan. “Iya, Pak. Katanya nular. Jadi... biar aman aja.”
Pak Tejo langsung mengangguk, walau tampak ragu. “Owalah… semoga cepat sembuh ya, Non.”
Tentu saja itu bohong. Tapi lebih mudah menyebut sakit mata daripada mengatakan aku baru saja melihat ibuku dengan laki-laki yang bukan suaminya—yang juga anak dari sahabat ayahku sendiri.
Sesampainya di sekolah, aku berkata tanpa banyak ekspresi, “Pak Tejo, nggak usah jemput. Nanti aku ke rumah Jessica.”
Padahal rencanaku bukan itu. Aku ingin ke makam Oma. Tempat satu-satunya yang terasa aman saat ini.
Saat masuk gerbang sekolah dengan langkahku yang berat dan lemas, aku bahkan tidak melihat sekitar. Pandanganku kosong. Seolah tubuhku menggiringku ke tempat ini tanpa persetujuan jiwaku. Di koridor, aku menabrak seseorang—keras. Kacamataku jatuh.
“Kalau jalan pakai mata dong!” bentakku kesal tanpa melihat siapa orang itu.
Suara lelaki buru-buru membalas, “Maaf… saya nggak sengaja. Lagi buru-buru mau ke ruang guru.”
Aku menunduk dan memungut kacamata kemudian pergi begitu saja, tanpa menatap wajahnya.
Di dalam kelas, Jessica langsung menyambut dengan teriakan khasnya, “Cella! Lo kenapa sih pakai kacamata hitam kayak artis kena skandal?”
Ashley ikut tertawa. “Lo konser di mana semalem, hah?”
Aku berusaha senyum tipis. “Gue lagi sakit mata. Mau gue tularin?”
Jessica langsung mundur dan menutupi wajahnya dengan buku sambil teriak, “Ih jijik! Jauh-jauh deh Cell, jangan liat mata gue!”
“Mana ada sakit mata nular cuma gara-gara diliatin. Mitos lo percaya, Jess,” potong Ashley dengan nada sok pintar sambil menggelengkan kepalanya.
Jessica mencebik. “Tetep aja, gue nggak mau kena. Cell, pokoknya lo jangan mandangin gue sampe sembuh!”
“Cape deh ngomong sama princess Snow White,” gumam Ashley. Dia lalu menatapku serius. “Lu udah minum obat belum?”
Aku mengangguk. “Udah kok. Dokter keluarga semalam udah periksa.”
Ashley masih tampak khawatir. “Abis sekolah lu kemana? Kalau belum ada rencana, gue bisa anter ke klinik.”
Aku buru-buru menggeleng. “Gak bisa. Ada acara di rumah… sama temen bokap gue itu.”
“Oh… yaudah. Yang penting lu banyak istirahat, oke?”
Bel masuk berbunyi. Semua kembali ke tempat duduk masing-masing. Aku sengaja duduk paling belakang—niatku cuma satu: tidur.
Tak lama, Bu Deandra masuk bersama seorang siswa baru.
“Anak-anak, hari ini kita kedatangan teman baru. Namanya Lucas Vega.”
Cowok tinggi berkulit bersih berdiri di sampingnya, tampak tenang dan dingin.
“Halo semua, nama saya Lucas Vega,” ucapnya pendek.
Sunyi. Semua menunggu lanjutan perkenalan, tapi yang terdengar hanya—
“Cukup itu saja dari saya. Terima kasih.”
Kelas langsung meledak tertawa. Bahkan Bu Deandra tersenyum geli.
“Wah, hemat kata sekali ya. Tapi tidak apa-apa. Anak-anak, tolong bantu Lucas kalau dia perlu sesuatu.”
“Iya, Bu!” serempak suara seisi kelas.
“Lucas, kamu duduk di kursi kosong yang paling belakang itu ya...”
Bangku kosong itu... di sebelahku.
Bu Deandra melangkah ke arah belakang, tapi ekspresinya berubah. “Marcella?” panggilnya.
Ashley dan Jessica mencoba membangunkanku. “Cell, bangun! Bangun!”
“Apaan sih kalian... gue capek. Mau tidur.” Aku melerai tangan mereka dan menutup wajahku lagi.
“Marcella,” suara Bu Deandra lantang, berdiri tepat di samping bangkuku. “Kamu sudah bangun?”
Aku separuh sadar, menjawab otomatis, “Sudah, Bu. Siap, Bu Deandra.”
Lalu aku buka mata sepenuhnya dan... ada sepasang mata asing duduk di sebelahku. Tapi aku belum benar-benar memperhatikan.
“Dengerin perkenalan Lucas tadi?” tanya Bu Deandra.
“Denger, Bu,” jawabku setengah menguap. “Lucas siapa ya, Bu?”
Tawa meledak di kelas. Bahkan Lucas sendiri tersenyum tipis. Bu Deandra geleng-geleng.
“Kalau kamu kurang sehat lebih baik kamu ke UKS saja, Marcella. Istirahat di sana. Nanti Ibu sampaikan ke staf.”
Aku berdiri lemas. “Iya, Bu… maaf.”
--------
Di UKS, aku tidur lagi. Setidaknya di sana sepi. Tidak ada suara Jessica yang cerewet, tidak ada suara gurauan anak-anak. Tidak ada Lucas Vega.
Setelah jam makan siang, aku kembali ke kelas. Ruangan kosong. Pelajaran olahraga sedang berlangsung dan aku sengaja absen dengan alasan tidak fit. Saat duduk, aku melihat seorang anak laki-laki asing di meja paling dekat jendela.
Mungkin itu Lucas, pikirku. Tapi aku tidak menyapanya. Aku hanya melanjutkan tidurku di atas meja.
Beberapa waktu kemudian, saat aku terbangun, ada sebungkus roti coklat di tanganku. Bungkusnya rapi. Rasa mocca—kesukaanku.
Aku tersenyum kecil. “Pasti kerjaan Jessica dan Ashley,” gumamku. Aku foto dan kirim ke grup chat.
“Makasih ya, cinta-cintaku. Manis banget bawain roti 😚”
Balasan langsung datang:
Jessica: Apaan? Bukan dari gue tuh.
Ashley: Gue juga enggak tau apa-apa, sumpah.
Aku terdiam. Perlahan, aku melirik ke meja Lucas. Di sudut mejanya, masih ada bungkus roti serupa, hanya tinggal separuh.
Aku bangkit, mendekat. Bungkusnya... sama persis.
“Jangan-jangan…”
Setelah pelajaran selesai dan hampir semua murid pergi, hanya aku dan dia yang tersisa di kelas.
Aku menoleh dan berkata pelan, “Makasih ya… buat rotinya. Dan… sorry, tadi pagi gue udah ngebentak lo.”
Lucas menoleh. Tatapannya datar, tapi suaranya lembut. “That’s okay.”
Aku ulurkan tangan ingin mengajaknya berkenalan. “By the way, gue Marcella…”
Tapi dia hanya bangkit berdiri dan berjalan pergi begitu saja.
Aku menatap punggungnya. “Aneh banget cowok itu…”
Tapi aku tak punya tenaga buat mikirin dia lebih jauh. Aku masih punya janji.
-------
Setelah pulang sekolah, aku tetap menjalankan rencanaku.
Aku pergi ke makam Oma. Duduk diam di depan nisan marmer abu-abu yang sudah mulai ditumbuhi lumut. Aku duduk di tepi pusara, membiarkan angin menyapu rambutku yang basah keringat dan sedikit air mata. Aku tak sanggup berkata apa pun selama beberapa menit. Lalu akhirnya, kata-kata itu keluar... pelan, tapi penuh luka.
“Oma… Cella benci semuanya, Cella nggak ngerti lagi harus percaya siapa. Benci banget… Mama... mama... dia”
Suara ku parau. Jemariku menggenggam tanah lembap.
“Kenapa semua berubah secepat ini? Kenapa harus Cella yang lihat?”
Air mata jatuh satu-satu, lalu deras. Aku menangis di pelukan bumi, berharap Oma masih bisa mendengarkan.
Aku tertidur di sana sampai rintik hujan turun, membasahi wajahku. Tapi rasanya… hangat.
Seperti pelukan Oma, menenangkan luka di dadaku.