3. Tatapan yang Menghipnotis

1175 Words
Keesokan harinya adalah akhir pekan. Aku sudah merencanakan pergi ke mal bersama Jessica dan Ashley—tujuannya membeli hadiah ulang tahun untuk Dave. Sore nanti, akan ada pesta ulang tahun di rumahnya, dan tentu saja aku harus datang. Dave adalah salah satu murid paling populer di sekolah. Selain tampan dan ramah, dia juga jenius dalam debat dan komputer. Berbeda dengan Ashley, yang unggul di bidang sains seperti matematika, fisika, dan kimia. Kadang aku berpikir, Ashley bisa jadi ilmuwan nuklir suatu hari nanti. Dia begitu pintar, sampai-sampai suka meremehkan anak IPS seperti Dave—seolah masa depan mereka sudah pasti suram. Setelah memilih hadiah yang cukup keren, kami langsung menuju rumah Jessica. Dia memang ahli dalam fashion dan make-up. Di tangannya, aku dan Ashley berubah jadi versi terbaik dari diri kami—lebih stylish dan siap tampil di pesta. Saat kami tiba di rumah Dave, pestanya sudah penuh sesak. Musik, lampu hias, dan tawa memenuhi udara. Aku menghampiri Dave, dan seperti biasa, obrolan kami langsung mengalir. “Selamat ulang tahun, bodyguard gue! Semoga semua keinginan lo terkabul,” kataku sambil menyeringai lebar. “Amin… Tapi lo bawa hadiah mahal, kan?” goda Dave. “Ugh, lo mau apa? Mobil? Rumah? Bersyukur aja gue masih inget ulang tahun lo.” “Hahaha! Bercanda. Tapi serius, makasih udah inget dan dateng—bawa pasukan sorak-sorak lo pula!” tambahnya sambil melirik Jessica dan Ashley. “Apaan sih? Kan gue udah bilang lo harus undang bestie-bestie gue juga.” “Emangnya gue bakal nyorakin lo? Nggak penting,” timpal Ashley dengan nada dingin. “Santai, Prof. Gue cuma becanda kok!” balas Dave sambil tertawa. Kami tertawa bersama dan langsung larut dalam suasana pesta. Beberapa wajah baru ikut ngobrol. Ketika suasana mulai resmi, Dave berdiri di tengah ruangan dengan mikrofon di tangan, siap memotong kue. “Tapi sebelum itu,” katanya, “potongan pertama ini buat sahabat gue, yang udah bareng gue dari TK. Orang yang selalu dukung gue waktu lomba debat dan nggak pernah lupa ulang tahun gue… Marcella.” Sorakan dan tepuk tangan terdengar di sekeliling. Aku hanya tersenyum. Mungkin bagi orang lain ini terdengar romantis, tapi buatku ini biasa aja. Aku dan Dave memang sudah berteman dekat sejak kecil—jadi wajar saja. Setelah itu, aku pergi ke toilet. Gaunku tadi ketumpahan soda dan aku harus segera membersihkannya. Saat kembali, aku mendengar Dave memanggilku. “Cell! Sini bentar!” Aku berjalan ke arahnya, agak bingung. Ternyata dia ingin mengenalkanku pada seseorang. “Ini temen gue waktu program pertukaran pelajar dulu. Lo pasti udah kenal dong—kalian sekelas, kan?” Lucas. Jadi Dave dan Lucas memang sudah kenal. Aku agak terkejut, tapi berusaha bersikap biasa. “Iya, gue kenal. Kita sekelas sekarang,” jawabku datar. “Hai Lucas, masih inget gue nggak? Gue Jessica! Dan yang pakai kacamata ini si Profesor Ashley,” seru Jessica ceria. “Eh, stop! Gue bukan profesor, gue creator!” kata Ashley sambil tertawa. Lucas tersenyum sopan. “Hai semuanya. Makasih banget sambutannya. Gue kira kalian nggak saling kenal, soalnya beda jurusan.” “Gue kenal Cell dari TK. Dua monyet ini gue kenal dari SMP—mereka bestie-nya Cell,” kata Dave sambil menunjuk Jessica dan Ashley. “Heh! Lo yang monyet!” sahut Ashley cepat. Kami tertawa dan ngobrol santai. Tak lama, salah satu lagu favorit aku dan Dave—lagu disko era 80-an—diputar. Seolah refleks, Dave menarik tanganku. “Ayo, Cell! Jangan malu—gaya andalan kita nih!” Kami menari dengan gaya khas kami. Tertawa lepas, aku bahkan tak peduli siapa yang melihat. Tapi setelah beberapa lagu, kakiku terasa pegal. “Dave, gue istirahat bentar ya. Kaki gue capek,” kataku sambil mengatur napas. “Oke, santai aja. Gue lanjut joget sama yang lain!” jawabnya semangat. Aku berjalan ke arah kursi di pinggir ruangan. Tapi baru beberapa langkah, kakiku terpeleset karena genangan air. Aku hampir jatuh—sampai sepasang tangan menangkapku. Lucas. Sejenak, waktu seperti berhenti. Kami saling menatap. Aku bisa mendengar detak jantungku sendiri. Ada sesuatu dalam tatapannya—dalam, seperti bisa membaca pikiranku. Beberapa detik kemudian, aku buru-buru menjauh. “Eh… makasih. Nyelametin gue dari malu total,” kataku gugup. “Gak masalah. Hati-hati, lantainya licin,” jawabnya pelan. Aku duduk, mencoba menenangkan detak jantungku. Beberapa menit kemudian, Lucas datang lagi, membawa dua gelas soda. “Ini buat lo. Gue lihat lo belum minum dan kelihatan capek,” katanya. Aku menatap gelas itu, lalu dia. Apa dia benar-benar memperhatikan aku sejak tadi? “Oh… makasih ya,” ucapku, menerima minuman itu. Dia melihat aku masih ragu meminumnya. “Kenapa belum diminum? Takut gue masukin sesuatu?” godanya ringan. “Ugh, bukan! Jangan sok tahu. Gue cuma belum haus,” jawabku cepat. “Kalau nggak mau, buang aja,” katanya, sambil berdiri. Tanpa pikir panjang, aku menarik lengannya. “Eh, tunggu. Jangan marah dong. Nih, gue minum. Tadi cuma belum haus.” Dia menatap tanganku yang masih menggenggam lengannya. Aku buru-buru melepaskannya. “Maaf… refleks,” bisikku malu. Dia duduk kembali, dan kami mulai mengobrol—tentang sekolah, teman-teman, bahkan makanan favorit. Rasanya seperti ngobrol dengan teman lama, padahal ini pertama kalinya kami benar-benar bicara. Tak lama kemudian, lagu mellow diputar. Lucas berdiri dan mengulurkan tangan. “Mau dansa?” Aku mengangguk pelan. Kami berdansa mengikuti irama pelan itu. Tapi momen itu tak bertahan lama. Musik berganti tiba-tiba, dan Dave muncul kembali. “Cell! Lagu kita nih! Ayo!” katanya, menarikku lagi ke lantai dansa. Aku sempat menoleh ke Lucas, lalu mengikuti Dave. Entah kenapa, aku merasa Dave berusaha mengalihkan perhatianku—seolah dia nggak mau aku terlalu lama bareng Lucas. Saat aku mengikuti langkah Dave, aku sempat melihat wajahnya. Dia tersenyum, tapi entah kenapa… senyum itu terasa agak dipaksakan. Seolah ada sesuatu yang dia tahan sendiri. Setelah pesta berakhir, Jessica baru sadar kalau sopirnya nggak bisa jemput. Begitu juga dengan Pak Tejo—dia harus antar Mama ke bandara. Lucas langsung menawarkan tumpangan. “Gue bisa anterin kalian,” katanya. Tapi Dave langsung menyela, “Gue aja yang anter!” Ashley dan Jessica langsung menolak. “Dave, istirahat aja. Ini malam lo—buka kado sana. Biar Lucas aja.” Akhirnya, kami pulang naik mobil Lucas. Aku duduk di depan. Jessica dan Ashley turun lebih dulu. Rumahku paling jauh, jadi aku yang terakhir. ------- Saat aku membuka pintu dan turun, Lucas ikut keluar. “Cell… boleh minta nomor lo?” Aku menatapnya heran, lalu tersenyum kecil. “Boleh. Tapi jangan kirim telepon penipuan ke gue ya,” candaku, menyerahkan ponsel. Dia tertawa kecil. “Nggak akan. Gue serius.” “Oke deh… hati-hati di jalan ya. Bye,” ucapku sambil melambaikan tangan. Begitu aku masuk rumah, senyumku tak bisa hilang. Ada sesuatu yang berdesir di dalam d**a. Apa aku… mulai suka dia? Aku mandi, membersihkan make-up, lalu menjatuhkan diri ke atas kasur. Menutup wajah dengan bantal sambil tersenyum. Aku sempat menatap layar ponsel. Kontak barunya muncul di sana: Lucas Vega. Tapi malam berlalu. Dan dia tidak menghubungiku. Aku terus menatap layar itu, menunggu sesuatu yang tak pernah datang. Perlahan… senyumku pun memudar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD