4. Sunyi di Antara Kita

1305 Words
Sudah lebih dari dua puluh empat jam sejak Lucas meminta nomor ponselku, tapi tak ada satu pun pesan atau telepon darinya. Padahal hari itu hari Minggu—waktu yang seharusnya luang, bukan? Apa mungkin dia memang sibuk? Atau… jangan-jangan, dia sebenarnya tidak tertarik untuk mengenalku lebih jauh? Pikiran-pikiran itu terus berputar di kepalaku, tak henti-hentinya. Hari Minggu itu kuhabiskan bersama Jessica dan Ashley. Kami bertiga duduk santai di taman belakang rumah Jessica, mencoba berbincang seperti biasa. Tapi aku tak benar-benar hadir. Pandanganku lebih sering jatuh ke layar ponselku yang tak kunjung berbunyi. Ashley, yang tajam matanya, tentu langsung sadar. “Lo liatin apaan sih, Cell?” tanyanya sambil menyipit curiga. “Dari tadi lo nggak fokus sama sekali deh. Lo dengerin nggak sih obrolan kita?” “Iya nih,” timpal Jessica. “Jangan-jangan lo lagi naksir cowok baru ya?” Aku tergagap, berusaha tetap terlihat santai. Tapi Ashley langsung menatapku serius. “Gue pikir kita udah satu misi, Cell. Nggak sembarangan jatuh cinta lagi.” Jessica menambahkan dengan nada menggoda, “Ayo jujur, deh. Kalo emang lo lagi nggak mood ngobrol, ngapain ngajak ketemuan?” “Apaan sih kalian?” potongku cepat, mencoba tersenyum. “Gak ada gebetan apa-apa, kok. Gue cuma… nungguin kabar dari bokap gue aja. Udah tiga hari dia nggak pulang. Katanya lagi urus bisnis di luar negeri.” Aku berbohong. Dan aku benci harus berbohong. Tapi itu lebih mudah daripada mengaku sedang menunggu pesan dari cowok yang bahkan belum tentu peduli. Jessica dan Ashley hanya saling pandang, lalu mengangguk. “Oh, gitu,” jawab mereka hampir bersamaan. Sisa hari itu kuhabiskan dengan menekan rasa kecewa. Aku berusaha hadir sepenuhnya untuk teman-temanku, seolah tak ada apa-apa. Dan ketika malam tiba, sekitar jam tujuh, aku pamit pulang. Besok hari Senin, sekolah menunggu. ------- Di rumah, Mama menyambutku dengan senyuman lebar. “Ayo makan malam bareng, sayang. Mama masak spesial karena kakakmu pulang!” katanya. Aku tahu yang dimaksud adalah Gabriel, kakak lelakiku. Tapi saat aku melirik meja makan dan melihat Tristan duduk di sana, hatiku langsung menolak. “Aku udah kenyang, Ma. Makan aja sama mereka,” jawabku dingin sebelum cepat-cepat naik ke atas. Aku tak sanggup berpura-pura. Rasanya terlalu menjijikkan harus duduk satu meja dengan dua orang yang membuatku kehilangan kepercayaan. Tristan, pria yang berselingkuh dengan ibuku. Dan ibuku sendiri, yang berpura-pura seolah tak terjadi apa-apa. Setelah mandi dan menyiapkan perlengkapan sekolah, terdengar ketukan pelan di pintu kamarku. “Cell, ini kakak,” suara Gabriel. Aku membuka pintu sedikit. Wajah kakakku tampak khawatir. “Kamu kenapa? Tadi di bawah kayak mau banting kursi,” katanya setengah bercanda. Aku memaksakan senyum. “Gak apa-apa, Kak. Cuma capek. Sekarang kelas 12, tugas lagi numpuk.” Gabriel mengangguk, meski jelas ia tak sepenuhnya percaya. “Kalau kamu udah siap cerita, kakak siap dengerin,” ucapnya pelan. Ia menyerahkan sebuah tas kecil berisi oleh-oleh dan kado. "Ini buat kamu." Aku nyaris menangis. Aku masih punya seseorang yang peduli. Setidaknya, masih ada kakakku. "Ih… Kakak ingat? Makasih, Kak, udah ingat yang aku mau," ucapku sambil tersenyum kecil, memeluk tas itu dengan pelan. Gabriel tersenyum lembut. "Sama-sama, adikku yang bawel dan lucu. Jangan ngambek lagi ya, ingat kesehatan, loh." Aku mengangguk, hati sedikit hangat karenanya. Kami masih mengobrol sebentar—tentang sekolahku, pekerjaannya, dan oleh-oleh lucu dari luar kota yang ia ceritakan sambil tertawa kecil. Rasanya menyenangkan, seperti mengingat kembali rumah yang seharusnya terasa hangat. Setelah beberapa menit, Gabriel bangkit dari tempat duduk dan tersenyum. "Ya udah, Kakak istirahat dulu, ya. Besok kamu sekolah. Jangan tidur malam-malam." Aku mengangguk lagi, menatap punggungnya saat ia keluar dari kamarku. Begitu pintu menutup, aku segera duduk di meja belajar. Saatnya menyiapkan perlengkapan sekolah dan tugas-tugas untuk esok hari. Aku mencoba fokus pada tugas-tugas sekolah, tapi mataku terus melirik layar ponsel. Masih belum ada pesan. Tak ada jejak darinya. Aku bilang pada diriku sendiri untuk berhenti berharap. Tapi ada satu bagian kecil dalam diriku—keras kepala dan bodoh—yang masih ingin percaya kalau dia akan mengingatku, walau hanya sedikit. ------- Keesokan harinya di sekolah, aku memutuskan untuk mengabaikan Lucas. Aku pura-pura tidak kenal, tidak ingat obrolan malam pesta, dan tidak pernah menyerahkan nomor ponselku padanya. Aku ingin kelihatan cuek, karena ternyata… dia juga bisa lebih cuek. Tapi saat aku sampai di koridor sekolah, pemandangan tak biasa menarik perhatianku. Jessica menangis tersedu, duduk di bangku sambil ditenangkan oleh Ashley. “Ada apa?” tanyaku cepat. Ashley menghela napas. “Samuel mutusin Jess tadi malam.” Mataku membesar. “Hah? Serius?” Jessica mengangguk sambil menghapus air mata. “Gue nggak ngerti kenapa. Tiba-tiba dia bilang nggak cocok. Padahal semua baik-baik aja.” Tentu aku tahu gosipnya. Samuel, cowok basket itu, kabarnya sudah dekat dengan Carissa, ketua cheerleader. Tapi Jessica selalu yakin Carissa nggak selevel dia—baik wajah maupun popularitas. Gosip makin ramai saat foto mereka berdua tersebar di grup angkatan, sedang bergandengan tangan di mal. Kami akhirnya membawa Jessica ke toilet untuk menenangkan diri. Ia menangis hebat, dan kami hanya bisa memeluk serta memberi semangat. Saat akhirnya keluar dari toilet, Jessica yang masih mengusap matanya, tak sengaja menabrak seseorang. “Oh! Maaf banget…” katanya buru-buru. “It’s okay,” jawab Lucas sambil tersenyum, lalu berlalu begitu saja. Jessica berhenti. Senyumnya mulai kembali. “Guys… gue udah move on. Gue nemuin pengganti Samuel!” katanya tiba-tiba, lalu menunjuk Lucas yang baru saja lewat. Aku terkejut. Ashley juga. “Ya ampun, Jess… lo masih nangis lima menit lalu, sekarang udah ngincer cowok lagi?” geleng Ashley sambil tertawa lelah. Jessica tak peduli. Wajahnya kembali cerah. Dan aku? Aku hanya bisa diam. Aku suka Lucas, tapi aku tak bisa bersaing dengan sahabatku sendiri. ------- Sejak siang itu, Jessica mulai benar-benar serius dalam usaha pendekatannya kepada Lucas. Ia seperti kembali memakai "strategi lama" yang berhasil saat mendekati Samuel dulu. Bedanya, kali ini ia tampak lebih agresif. Seolah tidak ingin buang waktu. Setiap Lucas latihan futsal di lapangan belakang sekolah, Jessica pasti sudah ada di sana lebih dulu. Saat Lucas ikut pertandingan futsal juga, Jessica selalu hadir dan duduk di tribun dengan seragam lengkap dan rambut dikuncir rapi, ia akan bersorak kecil setiap Lucas berhasil mencetak gol. Saat sela-sela latihan di lapangan sekolah, Jessica menyodorkan minuman dingin dan handuk kecil berwarna abu-abu yang katanya “kebetulan bawa.” “Minum dulu, Lucas,” ucapnya lembut sambil menyodorkan botol. “Capek banget ya?” Lucas menerimanya, agak canggung, tapi tetap tersenyum. “Thanks.” Jessica tertawa kecil. “Kamu keren banget di lapangan. Pantesan banyak yang mulai ngomongin kamu.” Obrolan mereka tak panjang, tapi cukup untuk bikin jantungku mencelos tiap kali aku melihatnya dari jauh. Lucas tak pernah menolak perhatian Jessica. Tapi dia juga tak terlihat benar-benar membalas dengan antusiasme yang sama. Aku ingin percaya bahwa dia hanya sungkan menolak. Tapi mungkin, perasaanku selama ini cuma khayalan. ------- Hari berikutnya, Jessica mulai sering muncul di koridor yang biasa dilalui Lucas. Ia bahkan tahu jadwal kelas Lucas pindah ke ruang laboratorium komputer setiap Rabu siang. Tak heran, jika tiba-tiba dia menawarkan diri menjadi “pemandu sekolah” saat guru meminta bantuan murid humas untuk menemani Lucas keliling. Aku hanya bisa melihat dari kejauhan, mencoba bersikap biasa, walau dalam hati terasa aneh. Mungkin sedikit sakit. “Dia cepat juga ya, gerakannya,” komentar Ashley padaku suatu siang. Kami berdiri di dekat rak buku perpustakaan, memandang Jessica dan Lucas yang sedang berbicara di meja pojok. Aku tak menjawab. Hanya berpura-pura tertarik pada buku di tanganku. Sore itu, di koridor kelas, aku dan Lucas sempat berpapasan. Mataku tak sengaja bertemu dengan matanya. Kami saling berpandangan. Hanya sedetik. Tapi waktu terasa diam. Ada sesuatu di matanya—atau mungkin hanya pantulan dari luka di mataku. Ia segera memalingkan wajah, dan aku pun begitu. Tapi entah kenapa, hatiku seperti diremas. Aku memang menyukai Lucas. Tapi mungkin, perasaan itu hanya sepihak. Mungkin… aku memang tak cukup berharga untuk dia ingat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD