5. Cinta Pertama yang Membutakan

1450 Words
Sudah hampir seminggu sejak pesta ulang tahun Dave—dan sejak Lucas memintaku untuk memberinya nomor ponsel. Tapi aku tetap tidak menerima kabar apapun darinya. Tidak ada pesan, tidak ada notifikasi. Hanya layar kosong yang kutatap berkali-kali dalam sehari. Sikapnya di sekolah pun… berbeda. Atau mungkin aku yang mulai terlalu peka. Dia tak pernah benar-benar menyapaku, hanya sekilas tatapan saat berpapasan di koridor, lalu berpaling seolah tak pernah ada apapun di antara kami. Namun yang membuat segalanya lebih rumit adalah Jessica. Sejak patah hati dari Samuel, dia seperti punya misi baru: mendapatkan perhatian Lucas. Dan anehnya, Lucas tidak menjauh. Dia memang tidak terlihat antusias, tapi juga tidak menolak. Mungkin memang begitulah caranya—tenang, tidak banyak bicara, dan tidak suka konfrontasi. Aku mencoba tidak peduli. Tapi tentu saja aku peduli. Beberapa kali aku melihat Lucas ingin berbicara padaku—atau mungkin itu cuma khayalanku. Tapi setiap kali dia mendekat, selalu saja ada yang menghalangi. Teman-teman cowoknya yang berisik, Dave yang datang tiba-tiba, atau Jessica yang muncul dengan senyum paling manis dan suara paling ceria. Sampai akhirnya, pada hari pentas seni, Jessica tampil menyanyi dengan penuh percaya diri. Setelah penampilannya yang memukau, dia langsung menghampiri Lucas dengan membawa setangkai mawar di depan semua orang dan berkata lantang: "Lucas... gue pengen nyatain perasaan gue ke lo. Gue suka sama lo. Boleh gue jadi pacar lo?" Semua orang mendadak diam. Aku yang melihat dari kejauhan langsung tercekat. Tapi Lucas dengan suara tenang menjawab, "Maaf, Jess... Gue nggak bisa jadi pacar lo karena gue udah punya pacar." Kalimat itu masih terngiang di kepalaku hingga kini. Pacar? Siapa? Sejak kapan? Kenapa dia tidak bilang apa-apa padaku? Aku tahu aku tidak punya hak untuk cemburu. Tapi rasanya seperti ada jarum halus yang menancap di dadaku. ------- Malam itu, aku tidak bisa tidur. Aku menggeliat di ranjang, membalik bantal, memeluk guling, menutup kepala dengan selimut—apa pun untuk menenangkan diri. Tapi tidak ada yang berhasil. Pikiranku terus berputar, kembali ke kata-kata Lucas. Siapa pacarnya? Apakah aku hanya salah paham? Atau memang dia tidak pernah menganggapku lebih dari sekadar teman? Aku ingin percaya bahwa dia hanya sungkan menolak. Tapi mungkin, perasaanku selama ini cuma khayalan. Aku hanya bisa memeluk guling dan menatap langit-langit. Pikiranku kacau. Aku mencoba mengalihkan pikiran dengan membuka buku pelajaran yang tersisa di meja. Tapi baru satu paragraf k****a, mataku sudah melirik lagi ke layar ponsel. Masih kosong. Tidak ada pesan. Tidak ada jejaknya. Aku bilang pada diriku sendiri untuk berhenti berharap. Tapi ada bagian kecil di dalam diriku—keras kepala dan bodoh—yang masih berharap dia akan mengingatku, meski hanya sedikit. Aku menutup kembali bukuku dan mematikan lampu belajar. Aku mencoba untuk tidur, namun bayangan Jessica dan Lucas terus terputar di kepala. Bahkan ketika aku memejamkan mata, suara Jessica menggema—"gue suka sama lo..." dan kalimat Lucas membalas dengan tenang. Aku memutar tubuh ke kiri dan ke kanan, membuka ponsel, menyalakannya lalu mematikannya lagi. Tapi tetap tak ada pesan. Tiba-tiba, ponselku berdering. Aku menatap layar, dan sedikit terkejut—Lucas. Kenapa dia tiba-tiba menghubungiku setelah semua ini? Kemudian aku membaca chat darinya. Tangan kiriku sedikit gemetar saat membuka layar. Rasanya aneh—antara lega dan gugup. Aku bahkan sempat menarik napas panjang sebelum membacanya. Jantungku berdetak lebih cepat, seolah menebak isi pesannya. Dalam sekejap, seluruh rasa kantukku menguap. Rasa ingin tahu, harapan, dan kekhawatiran bercampur jadi satu. Ini bukan cuma soal balasan pesan. Ini soal apakah aku masih berarti baginya. Apakah dia masih memikirkan malam pesta itu, atau semua itu hanya satu bab yang tak penting baginya. L: Bisa ketemuan besok sore? Aku pengen ngobrol. Pesan itu datang dua belas jam setelah aku membacanya. Aku sengaja tidak langsung membalas. Hatiku terlalu penuh oleh keraguan dan pertanyaan. Tapi akhirnya aku membalas juga. C: Bisa. Tapi jangan di tempat rame. Aku nggak mau ada anak sekolah yang lihat. L: Okay. See you tomorrow Cell.. Aku membaca pesan terakhir yang dikirimkan oleh Lucas, tetapi tidak ku balas. Penasaran menghantuiku sepanjang malam, aku membuka mata sambil berbaring memikirkan apa yang akan aku lakukan besok saat bersama dengan Lucas? Apa yang mau dia katakana kepadaku? Pastinya aku harus memikirkan juga bagaimana respon yang akan ku berikan besok saat bertemu dengan Lucas. ------- Kami janjian untuk bertemu di taman ria kecil di pinggiran kota. Kebetulan hari itu akhir pekan, jadi suasananya cukup lengang saat kami datang lebih awal. Aku datang lebih dulu. Dengan hoodie, jaket, dan topi. Nyaris seperti sedang menyamar. Aku duduk di bangku dekat pintu masuk, pura-pura bermain ponsel. Lucas datang lima belas menit kemudian. Tatapannya langsung menatapku penuh tanda tanya. "Lo... nyamar ya?" katanya sambil menahan senyum. Aku menatapnya datar. "Gue nggak mau dikenalin orang sekolah. Kalau ketahuan kita berduaan, Jessica bisa hancur." Lucas terdiam sebentar. "Gue ngerti. Tapi... gue pengen ngomong, Cell. Dari kemarin-kemarin, gue nggak pernah sempat." Aku tak menjawab. Hanya berdiri dan berjalan menuju pintu masuk wahana. "Ayo masuk. Mau naik apa dulu?" Dia mengikutiku, masih diam. Mungkin bingung dengan sikapku yang mendadak dingin. Tapi aku juga bingung dengan perasaanku sendiri. Saat kami berjalan menuju wahana pertama, sekumpulan anak kecil berlarian dan hampir menabrakku. Aku kehilangan keseimbangan dan nyaris jatuh—tapi tangan Lucas sigap menangkapku. Tubuhku berhenti hanya beberapa sentimeter dari dadanya. Dan untuk sesaat, aku bisa merasakan napasnya. Hangat. Dekat. Tatapan matanya menembus mataku, seolah mencari sesuatu. Aku langsung berdiri tegak dan menjauh. "Wahana rumah hantu, yuk," kataku cepat. Lucas mengerutkan kening, lalu tertawa kecil. "Serius? Bukannya lo takut yang serem-serem?" Aku memalingkan wajah. "Dari mana lo tahu?" Dia tersenyum kecil. "Jessica cerita." Aku terdiam. Merasa seperti dicekik dari dalam. "Gue enggak takut kok," kataku cepat. Lalu menariknya masuk. Di dalam rumah hantu, aku langsung menggenggam lengannya. Erat. Sesekali bahkan menyentuh dadanya ketika hal-hal menyeramkan muncul dari kegelapan. Lucas tertawa kecil. "Ternyata berani juga." "Enggak. Gue takut setengah mati." "Terus kenapa ngajak ke sini?" "Biar nggak sempat ngomong." Lucas menatapku lama. Tapi tidak berkata apa-apa. Kami terus berjalan, dan saat keluar dari wahana, aku langsung menarik napas lega. Lucas ingin mengajak duduk. Tapi aku buru-buru mengajak ke wahana ekstrem—semacam roller coaster mini. Dia menurut, meski tatapannya penuh tanya. Setelah itu, kami berhenti di dekat mesin foto booth. Lucas tersenyum kecil, lalu menarikku masuk. "Ngapain sih?" "Ngobrol. Tempat ini lumayan kedap suara." Dia memasukkan beberapa koin, cukup untuk beberapa kali jepretan. Begitu tirai ditutup, dia menatapku lekat-lekat. "Marcella... Gue suka sama lo. Dari pertama kita ngobrol di kelas itu, terus waktu ngasih roti, waktu kita joget, dan di pesta itu. Gue suka semua tentang lo." Aku terdiam. Kamera menjepret. Satu foto. "Gue pengen lo jadi pacar gue. Tapi... gue nggak akan maksa. Lo boleh mikir dulu." Aku masih diam. Menatap matanya yang tak bergeming Dua... tiga... empat jepretan. Sampai akhirnya jepretan terakhir. Tepat sebelum bunyi klik kelima, Lucas bergerak cepat. Dia mengecup pipiku. Klik. Kami sama-sama terdiam. Lalu terdengar suara dari luar. "Udah kelar ya? Bisa keluar sekarang? Antriannya panjang nih!” Lucas menggenggam tanganku dan menarikku keluar. "Satu wahana lagi," katanya. "Biar gue tahu jawabannya." Dia mengajakku ke perahu angsa. Kami duduk berdampingan, menyusuri kolam kecil yang dipenuhi cahaya lampu warna-warni. "Gimana?" tanyanya pelan. Aku menatap air. "Gue nggak tahu harus jawab apa. Gue piker lo udah punya pacar kayak statement lo ke Jessica" "Ya, pacar yang gue maksud itu lo, Cell. Gue suka sama lo." "Tapi Jessica suka sama lo dan di aitu sahabat gue. Dan gue takut satu sekolah bakalan ngejudge gue karena hal itu." Lucas terdiam. "Gue nggak peduli apa kata orang." "Tapi gue peduli." Sebuah cipratan air dari anak-anak di perahu lain mengenai arah kami. Lucas langsung menutupi tubuhku dengan tubuhnya. Air itu membasahi bajunya. Aku terkejut. "Lo basah semua." "Gak apa-apa. Selama lo nggak kena." Kami saling diam sampai akhirnya perahu sampai di tepi. Saat kami turun, aku berhenti di jalan keluar. Menatapnya dengan jantung yang berdetak keras. "Gue juga suka lo. Gue mau jadi pacar lo... tapi saat ini gue pengen jangan ada yang tahu. Kita backstreet, ya." “Gue pengen kasih tahu semua orang kalau pacar gue itu lo. Bisa nggak kita jangan peduliin apa yang lainnya pikirin?” “Please, untuk sekarang ini kita jangan kasih tau siapapun ya. Kalau memang waktunya udah tepat, gue janji bakalan teriak di depan banyak orang kalau gue pacar lo.” Lucas tersenyum dan tertawa kecil. Tangannya menggenggam tanganku pelan, erat tapi lembut. "Okay deh kalau itu mau lo. Deal, ya." Dan malam itu, aku pulang dengan jantung yang masih berdebar. Cinta pertama. Rasanya seperti mimpi. Tapi juga mengancam. Karena untuk pertama kalinya... dunia ini terasa seolah milikku, tapi aku tahu, tidak semuanya bisa kumiliki tanpa harga yang harus kubayar. Dan jauh di lubuk hati, aku mulai sadar: aku telah memulai sesuatu yang manis... namun bisa jadi akan sangat pahit di akhirnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD