Sudah hampir dua minggu sejak aku resmi berpacaran dengan Lucas—tentu saja secara diam-diam. Kami seperti dua agen rahasia amatir yang sering kali hampir ketahuan oleh teman-teman kami sendiri. Tapi justru itulah bagian paling menyenangkan dari hubungan kami. Adrenalin yang terpacu setiap kali kami saling bertatapan sembunyi-sembunyi di sekolah, atau diam-diam saling menggenggam tangan di bawah meja kantin, rasanya membuat hari-hariku jadi lebih hidup.
Suatu sore, kami berdua pergi ke mal di pusat kota. Setelah menonton film terbaru di bioskop, Lucas mengajakku jalan-jalan sebentar sambil mencari camilan favoritku—churros yang selalu membuatku lupa diet. Jari-jari kami saling bertautan, rasanya hangat, nyaman, seperti dunia ini cuma milik kami berdua.
Tapi suasana romantis itu mendadak berubah ketika dari kejauhan aku melihat Jessica dan Ashley sedang berjalan ke arah kami. Sontak, aku melepas genggaman tangan Lucas.
“Lucas, itu Jessica sama Ashley!” bisikku panik. “Gimana nih? Aku kan bilang ke mereka nggak bisa hangout karena ada acara dinner keluarga.”
Lucas langsung melihat sekitar. Tanpa pikir panjang, ia menarikku masuk ke toko baju terdekat.
“Kita sembunyi dulu di sini,” katanya pelan sambil menarikku lebih jauh ke dalam toko.
Kami berjalan cepat menuju ruang ganti baju. Tapi baru beberapa langkah, suara Jessica terdengar jelas.
“Ash, kayaknya lucu deh baju yang di toko ini. Kita mampir dulu yuk!”
Aku semakin panik. Lucas dengan cepat menarikku masuk ke ruang ganti yang kosong dan langsung mengunci pintunya. Jantungku berdetak lebih kencang saat tubuh kami berdempetan di ruang sempit itu. Lucas menempelkan jarinya di bibirku, memberi isyarat agar aku tetap diam. Suara tawa Jessica dan Ashley terdengar mendekat.
Aku menahan napas, berusaha tidak bersuara sedikit pun. Lucas menatapku, matanya bersinar jahil. Aku bisa merasakan detak jantungnya, aroma parfumnya, bahkan embusan napasnya. Kami terlalu dekat, sangat dekat, hingga aku bisa melihat setiap detail wajahnya.
Tiba-tiba, suasana berubah. Tatapan Lucas melembut, bibirnya sedikit terbuka. Aku menatapnya balik. Kami saling mendekat perlahan, hampir saja bibir kami bersentuhan.
Namun, sebelum apa pun terjadi, suara penjaga toko memecahkan suasana. “Maaf, ruang gantinya nggak boleh dipakai berdua!”
Kami terkejut dan langsung membuka pintu ruang ganti. Jessica dan Ashley tampaknya sudah pergi. Tanpa berkata apa-apa, kami buru-buru keluar dari toko sambil menahan tawa. Begitu sudah jauh dari toko, kami akhirnya tertawa terbahak-bahak, melepaskan ketegangan yang tadi menahan kami.
“Gila, hampir banget kita ketahuan!” ucapku masih terengah.
Lucas tersenyum lebar, wajahnya sedikit memerah. “Kalau penjaganya telat lima detik aja, mungkin kita udah—”
“Udah apa?” tanyaku sambil menyikut pelan.
Dia tertawa geli. “Udah lari lewat pintu darurat.”
Aku mencubit lengannya. “Pokoknya masih rahasia dulu.”
Dia tertawa kecil. “Iya, iya, ngerti kok. Masih rahasia.”
Hari-hari berikutnya di sekolah menjadi lebih menantang. Setiap kali mata kami bertemu di kelas atau koridor, kami hanya bisa tersenyum tipis atau pura-pura sibuk dengan hal lain. Tapi bagiku, semua itu cukup. Cukup untuk tahu bahwa aku miliknya, dan dia milikku, walau dunia belum tahu.
Namun, ternyata semua ini tidak berjalan mulus. Dave mulai terlihat berbeda. Tatapannya lebih tajam, dan sering kali aku mendapati dirinya memperhatikan aku dan Lucas dengan tatapan yang sulit ditebak. Seperti ada sesuatu yang mengganjal pikirannya.
-------
Sabtu sore, aku bersiap menuju rumah Dave. Tanganku sempat berhenti di depan rak camilan yang biasa kubawa. Entah kenapa, malam itu hatiku terasa berat. Dave adalah sahabatku sejak dulu—dan apa yang akan kusampaikan malam ini, bisa saja mengubah segalanya.
Setiap dua minggu sekali, kami punya rutinitas menonton film bersama, dan kali ini giliran Dave memilih film. Abjadnya I, dan judul film yang dipilih Dave membuatku sedikit geli sekaligus gugup: I Love You, My BF (Best Friend) —film romcom tentang dua sahabat yang jatuh cinta.
Selama menonton, aku merasa suasana sedikit berbeda dari biasanya. Dave lebih banyak diam. Aku juga. Tapi sesekali, aku mencuri pandang padanya dan teringat betapa dulu, waktu kami kecil, Dave pernah diam-diam datang ke rumahku hanya untuk mengembalikan boneka yang tertinggal—karena dia tahu itu boneka keberuntunganku. Dulu, semuanya terasa sederhana. Tapi tidak malam ini.
Film selesai, dan credit mulai bergulir di layar. Kami berdua mengucapkan kalimat yang sama secara bersamaan:
“Dave, gue mau bilang sesuatu.”
“Cell, gue mau ngomong sesuatu.”
Kami tertawa canggung.
“Lo duluan deh,” kataku.
“Nggak, lo dulu aja,” balas Dave sambil menggaruk tengkuknya, jelas gugup.
Aku menarik napas. “Lo duluan, Dave. Gue dengerin kok.”
Dave menatapku lekat. Ekspresinya perlahan berubah serius. “Cell, kita kan udah temenan lama banget. Lo tahu kan gue selalu peduli sama lo?”
Aku mengangguk, tiba-tiba merasa gugup.
“Sebenernya gue suka sama lo. Udah lama banget, Cell. Gue pikir awalnya cuma perasaan biasa aja, tapi makin lama makin kuat.”
Dave menarik nafas dan melanjutkan lagi perkataanya. “Setiap lo ada di dekat gue, gue ngerasa bahagia banget. Perasaan gue udah lama banget gue pendam, rasanya sesak nafas dan d**a gue kayak pengen meledak nahan perasaan gue ini. Gue nggak tahu lagi apa yang bakalan terjadi kalau gue nggak ungkapin perasaan gue sekarang.”
Aku terkejut mendengar pernyataan Dave. Jantungku seperti berhenti sesaat. Aku menatapnya, mencari-cari kata yang tepat untuk merespons.
“Dave… gue…” Aku menggigit bibir, sulit mengatakannya. “Gue juga mau bilang sesuatu sebenernya. Tapi mungkin ini bakal bikin lo kecewa.”
Dave menatapku, ekpresi wajahnya mulai berubah khawatir. “Kenapa gue jadi kecewa? Lo udah punya pacar ya?” tanyanya pelan, tertawa kecil dan setengah bercanda.
Aku menarik nafas perlahan dan mengangguk pelan. “Iya, gue udah pacaran. Sama Lucas. Udah hampir dua minggu. Tapi ini backstreet, jadi tolong jangan bilang siapa-siapa dulu, ya? Bahkan Jessica sama Ashley juga belum tahu.”
Wajah Dave langsung berubah pucat. Dia diam sejenak, lalu tertawa pelan. “Oh, ternyata lo sama dia…” suaranya mengecil, terdengar sedikit getir.
Kemudian Dave menyambung kalimatnya lagi. “Pantesan akhir-akhir ini gue ngelihat kalian berdua saling ngelirik kayak lirikan flirting gitu, jadi ternyata itu alasannya.”
“Iya Dave, maafin gue ya.. Gue beneran nggak mau nyakitin lo. Gue…”
Sebelum aku menyelesaikan kata-kataku Dave langsung memotong perkataanku sambil tersenyum kecil yang terlihat jelas dipaksakan. “Santai, Cell. Gue ngerti kok. Rahasia lo aman sama gue.”
Meski dia bilang begitu, aku tahu dia terluka. Dan aku juga tahu, ini akan mengubah semuanya di antara kami.
Aku merespons perkataan Dave. “Thanks ya Dave. Gue berharap banget lo bisa ngertiin situasi gue.”
“Chill.. Gue kan paling jago simpan rahasia.” Matanya tidak terlihat karena merespons ku dengan senyuman lebar di wajahnya.
Mungkin setelah ini persahabatan kami akan berubah. Aku berharap kami akan tetap baik-baik saja. Aku tidak mau bermusuhan dengan Dave, aku tidak mau kehilangan sahabat terbaikku. Walaupun aku tahu sangat kecil kemungkinan kami akan baik-baik saja.
--------
Hari-hari setelahnya di sekolah, Dave mulai menjaga jarak. Setiap kali melihat aku dan Lucas yang tanpa sadar saling tersenyum, wajahnya berubah dingin. Dia mulai menjauh dari aku, Jessica, dan Ashley. Dia lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman sejuruasannya, bersama anak-anak IPS, seolah ingin menghapus jejak persahabatan kami selama ini.
Saat aku berjalan pulang sore itu, aku melewati lapangan basket. Dari jauh, kulihat Dave sedang tertawa bersama teman-teman barunya. Aku berteriak memanggilnya untuk sekedar menyapa.
“DAVE...”
“WOI DAVE!...”
Aku yakin suara ku cukup terdengar olehnya, tapi Dave membuang wajahnya dan tidak menyahutku sama sekali. Dia berpura-pura tidaj mendengar panggilanku. Aku tersenyum pahit. Hal yang ku takutkan pun terjadi. Aku akan kehilangan sahabatku itu.
Dalam hati, aku berbisik lirih, "Maaf, Dave... Maafi gue. Gue nggak tahu harus bagaimana. Please, gue nggak mau persahabatan kita berakhir begini."
Dave, sahabat terbaikku, kini menjadi sahabat yang tertinggal di pinggir. Dan semuanya karena aku memilih Lucas.
Apakah aku hanya mementingkan egoku saja?
Apakah aku tidak bisa mendapatkan cinta dan juga persahabatan yang indah?
Apakah cinta memang selalu punya harga yang harus dibayar semahal ini?