Hubungan diam-diamku dengan Lucas semakin lama semakin dalam. Ada sesuatu yang menggetarkan setiap kali kami harus menyembunyikan apa yang kami rasa. Dari teman-teman, dari guru, dari Jessica. Terutama Jessica. Kadang, aku merasa jahat. Tapi di saat yang sama, aku seperti tidak bisa berhenti. Seperti sedang mencicipi manis dari buah terlarang, dan semakin aku tahu ini salah, semakin aku terjerat.
Kami terbiasa berkomunikasi lewat catatan kecil yang kuselipkan di balik buku, atau emoji sederhana di pesan singkat. Tapi ketika akhirnya kami bisa bertemu di luar sekolah, semuanya terasa lebih nyata. Lebih memabukkan.
Hari itu, kami janjian di mall. Alasannya ke Papa: belajar kelompok. Tapi di kepalaku, aku hanya ingin bertemu Lucas. Bertemu dan merasakan tangan itu menggenggamku lagi. Senyum itu lagi. Tatapan itu lagi.
Aku melihatnya dari kejauhan, berdiri dekat eskalator dengan dua gelas minuman dingin di tangan. Mataku langsung mencari satu hal—apakah dia pakai jam tangan yang kuberikan minggu lalu? Ada. Dan itu membuat hatiku mekar.
"Strawberry atau cokelat?" tanyanya.
Aku mengambil yang cokelat. "Kamu hafal aja."
Dia tersenyum. Senyum khas Lucas yang bikin d**a sesak sekaligus nyaman. "Pacar siapa, dulu?"
Yang tidak kami tahu, ternyata ada mata lain yang ikut melihat kami hari itu.
Ashley.
Dia baru saja mengantar adik sepupunya kursus bahasa dan tanpa sengaja melihatku bersama Lucas. Aku tidak tahu kalau dia memutuskan untuk mengikutiku diam-diam. Tidak tahu kalau dari balik tiang di lantai dua, dia melihat kami menggandeng tangan dan masuk ke bioskop. Tidak tahu kalau dia melihat Lucas mencium pelipisku sebelum pintu studio tertutup.
Di dalam bioskop, aku bersandar di bahu Lucas. Kami bergandengan tangan, dan kurasa aku tidak pernah merasa sedekat ini dengan siapa pun. Di tengah trailer film, aku membisikkan sesuatu.
"Kalau Jessica dan satu sekolahan tahu... gimana ya? Aku nggak siap musuhan sama sahabatku. Tapi aku juga nggak mau putus sama kamu."
Lucas mencium ubun-ubunku singkat. "Kamu tenang aja, aku bakalan ada bareng kamu untuk ngadepin semuanya."
Aku hanya mengangguk pelan, mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa itu cukup.
Setelah film selesai, kami berjalan santai menuju food court. Kami memilih meja di pojok, dekat kolom tiang besar. Aku tidak tahu kalau hanya dua meja di belakang, Ashley duduk diam dan mendengarkan pembicaraan kami.
Aku mengaduk pasta di depanku tanpa benar-benar lapar.
“Aku masih kepikiran deh, apakah bakalan aman kalau kita masih pacaran diem-diem?” tanyaku.
Lucas menoleh padaku dan tersenyum kecil. “Kalau aku sih nggak masalah orang tahu aku pacar kamu dan kamu pacar aku, balik dikamunya. Tapi kalau belum waktu yang pas, ya kita lebih hati-hati aja.”
“Gimana kalau Jessica dan Ashley tahu? Aku care dan sayang sama mereka.”
Lucas mendongak, menatapku. “Kalau kamu terus mikirin perasaan semua orang, kapan kamu mikirin perasaan sendiri?”
Aku terdiam. Entah kenapa, kalimat itu seperti tamparan.
Dari kejauhan, aku tidak sadar Ashley bangkit dari kursinya. Ia berjalan perlahan menjauh, meninggalkan kami tanpa kata. Sementara aku dan Lucas masih tenggelam dalam dunia kecil kami.
“Luc,” ujarku pelan, “kamu belum pernah cerita soal keluarga kamu.”
Dia menoleh sebentar. “Mama sibuk. Papa kerja di luar kota. Aku sering sendiri. Makanya mungkin aku... nyaman deket kamu.”
Aku tersenyum simpul. “Aku pengen kenal keluarga kamu.”
Lucas terdiam beberapa detik, lalu menjawab, “Nanti. Tunggu waktunya pas.”
Saat sore mulai berganti malam ketika dia mengantarku pulang. Mobilnya berhenti pelan di depan rumahku.
“Kamu mau masuk dulu gak? Ngobrol bareng keluargaku sebentar,” ajakku.
Dia geleng pelan. “Aku pengen banget, tapi aku harus jemput Mama di bandara.”
“Oh? Beneran? Kenapa nggak ajak aku juga?” tanyaku sambil berusaha santai, padahal dalam hati berharap.
“Aku pikir kamu udah capek seharian jalan bareng aku, dan kamu tahukan kalau belum saatnya kita kasih tahu orang-orang tentang hubungan kita?” katanya dengan nada lembut. “Kita masih rahasia, kan?”
Aku mengangguk. Perkataan Lucas memang ada benarnya. Tapi menurutku, tidak masalah jika keluarga dan orang tua kami tahu. Lagipula, mereka bukan tipe yang akan membocorkannya ke orang-orang di sekolah.
Setelah dia pergi, aku naik ke kamar. Kutulis di jurnalku:
“Rasanya seperti terbang dan jatuh dalam waktu bersamaan. Aku mencintainya, tapi aku takut. Takut kehilangan, takut menyakiti orang lain. Tapi... kenapa bahagia ini terasa salah?”
Beberapa jam kemudian, Papa mengetuk pintu. Aku baru selesai menyisir rambut.
“Sayang,” katanya dari luar. “Siap-siap ya, kita makan malam di luar.”
Aku membuka pintu. Papa sudah rapi.
“Dalam rangka apa?” tanyaku.
“Makan malam keluarga. Gabriel ikut. Mama juga. Om Ben... dan Tristan.”
Napas rasanya tertahan. “Tristan?”
“Iya,” jawab Papa tenang. “Ayo, jangan bikin mereka nunggu.”
Aku tidak langsung menjawab. Dalam kepalaku, segala kenangan berputar. Nama Tristan bukan nama biasa bagiku. Ia adalah luka yang belum mengering. Dan kini... aku harus duduk semeja dengannya?
“Iya, Pa,” kataku akhirnya, lalu menutup pintu perlahan.
Aku berdiri di depan cermin. Menatap bayanganku sendiri.
Hari ini belum selesai, tapi luka-lukanya mulai terasa.
Dan malam belum dimulai, tapi sudah mengancam seperti bayangan panjang yang menggantung di ambang pintu.
-------
Aku masih teringat detik-detik di bioskop tadi. Saat aku menyandarkan kepalaku di bahunya, dan lampu ruangan mulai meredup. Saat tangannya menggenggam jemariku dengan tenang, seolah semua aman-aman saja. Padahal di dalam dadaku, badai terus berputar. Aku mencoba fokus pada layar, tapi pikiranku melayang ke wajah Jessica, ke suara tawa Ashley, ke janji kami bertiga untuk saling jujur sejak SMP. Dan sekarang aku menyimpan sesuatu yang begitu besar dari mereka.
Apakah aku pengecut? Atau hanya sedang berusaha mempertahankan sesuatu yang membuatku merasa hidup?
Saat makan bersama Lucas, aku sempat memerhatikan matanya diam-diam. Di balik ketenangannya, aku bisa melihat sesuatu yang tak selesai juga. Seperti dia juga takut. Takut kehilangan aku. Tapi dia pandai menyembunyikannya.
Setelah dia pergi dan aku masuk kamar, aku sempat menatap kursi kerja Papa di sudut ruang tamu. Aku membayangkan seandainya Papa tahu aku sedang jatuh cinta. Apakah dia akan marah? Atau justru senang karena aku belajar mengenal dunia? Tapi entahlah, sepertinya semua perasaan itu terlalu rumit untuk disampaikan.
Aku membuka jurnalku lagi. Menambahkan kalimat:
“Aku tahu mencintai Lucas bukan kejahatan. Tapi kenapa rasanya seperti aku mencuri sesuatu dari dunia ini? Aku ingin bahagia, tapi aku takut aku harus membayar mahal untuk itu nanti.”
Kusandarkan kepalaku di bantal. Mataku menatap langit-langit, mencari tenang yang entah di mana.
Kadang aku bertanya-tanya, kenapa ya cinta bisa semenyakitkan ini padahal belum berakhir? Apa karena aku menyimpannya terlalu dalam? Atau karena aku tahu, hubungan ini... bisa jadi tak bertahan lama begitu dunia mengetahuinya?
Dan sekarang, Papa bilang Tristan akan ikut makan malam. Aku tak tahu bagaimana caranya bertahan nanti. Bertemu pria yang diam-diam kucurigai menjadi alasan ibuku berubah. Pria yang dulu kulihat berdiri terlalu dekat di dapur saat Mama sedang memotong buah. Pria yang membuatku ingin berteriak tapi tak tahu pada siapa.
Dengan lemas dan tidak bersemangat aku berjalan ke lemari. Mengambil gaun gelap yang biasanya kupakai untuk acara keluarga. Tapi malam ini, aku tidak merasa seperti akan makan malam. Lebih tepatnya... seperti sedang menuju ruang eksekusi.
-------
Ya Tuhan, aku benci perasaan ini. Seolah-olah aku sedang menyelinap sambil membawa bom yang terikat di dadaku, tetap tersenyum seakan semuanya baik-baik saja.
Mungkin aku terlalu banyak mikir. Mungkin memang aku selalu begitu. Tapi ada sesuatu yang bilang padaku—semuanya sebentar lagi akan meledak, dan aku gak tahu harus lari ke mana saat itu terjadi.
Aku berharap bisa membekukan waktu di bioskop itu. Di kursi itu. Dengan tangan Lucas di genggamanku dan kepalaku di pundaknya. Di mana gak ada yang menghakimi. Di mana Jessica gak ada. Di mana Ashley gak melihat. Di mana aku bukan sahabat yang jahat.
Tapi dunia terus berjalan, dan aku tetap aku—setengah remaja yang jatuh cinta, setengah lagi dibalut rasa bersalah.
Dan makan malam sudah menunggu di bawah... bersama nama-nama yang sebisa mungkin ingin kulupakan.