Bandara Hang Nadim, Batam, menyambutku dengan tamparan hawa panas yang menempel lengket di kulit. Bukan panas Jakarta yang berdebu dengan polusi knalpot. Ini panas yang basah—uap air laut campur aspal mendidih, di mana matahari terasa menggantung sejengkal di atas kepala, siap membakar siapa saja yang berani berjalan tanpa perlindungan. Aku berdiri di area drop-off keberangkatan yang sepi dengan satu koper besar berisi sisa hidupku. Gabriel sudah pergi. Pesawatnya langsung kembali ke Jakarta begitu memastikan aku masuk ke terminal keberangkatan tadi pagi. Dia meninggalkanku dengan ponsel Nokia pisang berwarna kuning norak, kartu debit jatah bulanan yang limitnya menyedihkan, dan sebuah nomor telepon yang tertulis di kertas bon. Raphael. Hanya satu nama. Tanpa nama belakang. Tanpa jaba

