Tiga minggu di Surabaya, dan aku sudah berubah menjadi mesin. Hidupku menyusut menjadi siklus yang mudah ditebak dan berirama. Bangun jam 6 pagi. Minum kopi instan yang rasanya seperti gula gosong. Naik Gojek menembus panasnya Jalan Kertajaya yang menyengat dan penuh debu. Menghabiskan delapan sampai sepuluh jam menatap lembar kerja Excel. Menganalisis tren pasar. Mengutak-atik pivot table. Gojek pulang. Makan mi instan sambil duduk di lantai. Tidur. Ulangi. Aku tidak membencinya. Malah, aku berpegang pada rutinitas itu seperti tali penyelamat. Kemonotonan itu adalah tameng. Terlalu sibuk untuk memikirkan sepatu sneakers putih merek Stride di dekat pintu. Terlalu sibuk menghitung ROI untuk mengingat bahwa sepatu itu adalah pengingat akan pria yang tidak bisa kumiliki. Terlalu sibuk berde

