15|| Gara-Gara Ancaman

1243 Words

    Arthur duduk di sofa beludru berwarna hitam pekat. Di depannya duduk seorang laki-laki dengan rambut hampir memutih seluruhnya dan keriput menghiasi wajahnya.     Mereka berdua tampak canggung. Hanya suara hela napas keduanya yang mengisi udara. Tak ada yang berinisiatif untuk bicara. Memang sebenarnya tidak ada topik pembicaraan yang pas untuk mereka.     "Kakek, apa Papa di Indonesia?" tanya Arthur setelah lama menimbang-nimbang.     "Kenapa memangnya? Kau bukannya tak peduli pada apa yang ia kerjakan." Orang yang dipanggil Kakek oleh Arthur itu mangangkat sebelah alisnya.     "Ada masalah di sekolahku," kata Arthur ambigu.     "Hmm, kau dikeluarkan lagi rupanya?" tanya sang Kakek.     "Bukan. Ada pembunuhan di sekolahku," jawab Arthur dengan berat hati.     "Dan itu karena di

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD