Selasa pagi. Shana sampai di sekolah pukul 05.56. Kali ini bundanya memiliki waktu untuk mengantar putri tunggalnya itu ke sekolah. Setelah mencium tangan sang bunda dan mendapat kecupan hangat di dahi, Shana turun dari mobil dan langsung memasuki gerbang sekolah.
Suasana dingin dan sepi. Shana bersenandung pelan. Tak dimungkiri bahwa Shana juga merasa takut. Yang ia takutkan itu bukanlah sosok orang-orang jahat, namun lebih pada makhluk gaib macam setan, hantu, vampire,dan sejenisnya.
Shana menoleh pada satu tempat yang diberi pembatas garis polisi. Dua orang polisi muda nampak berjaga di sana. Shana kasihan pada mereka. Pasti mereka kedinginan karena berjaga sepagi ini. Beda cerita dengannya yang setelah masuk kelas hawa dingin akan berkurang.
Seperti sebelum-sebelumnya, setelah sampai di kelas Shana langsung mengeluarkan buku-buku yang ada di dalam tasnya dan meletakkannya di laci meja. Ia membuka buku kumpulan latihan soal UN. Ia mengerjakan beberapa soal dengan serius. Memang dia ahlinya dalam belajar, walau ini baru tahun kedua namun dia sudah belajar beberapa materi pelajaran yang baru akan ia peroleh di kelas tiga.
Seseorang masuk kelas setelah ada jeda sekitar lima belas menit dengan kehadiran Shana. Peringkat dua. Seorang laki-laki berkacamata dengan tubuh tinggi dan proporsional serta cukup berorot akibat rajin olahraga yang sama sekali tak bisa dianggap culun seperti kebanyakan orang berkacamata sebagai si kutu buku.
"Pagi Sha," sapa Kelvin, si peringkat dua.
"Pagi juga. Tumben udah berangkat? Biasanya agak siangan."
"Pengen aja berangkat pagi."
"Ohh."
Setelahnya mereka sama-sama diam. Shana fokus pada latihan soalnya dan Kelvin juga mulai menulis sesuatu di buku catatannya.
Dering handphone berbunyi. Kelvin langsung mengangkat telepon yang masuk ke handphonenya itu dengan terburu-buru. Shana sempat tercengang mendengar dering handphone Kelvin yang ternyata cukup mengejutkan. Shana sedikit tahu tentang dunia k-pop. Jadi ia juga tahu lagu apa yang dijadikan dering panggilan masuk oleh Kelvin. Itu adalah lagu Heart Shaker milik salah satu girl band korea Twice. Shana terkikik geli karena ternyata Kelvin adalah seorang fanboy.
Shana menghentikan aktivitas mengerjakan buku kumpulan soalnya saat ia melihat bayangan kaki seseorang berdiri di samping mejanya melalui sudut matanya. Ia mengangkat wajahnya dari buku dan mendapati kakak kelasnya berdiri di sana.
"Kak Nizar, kok pagi-pagi dah nyamperin aku?" tanya Shana.
"Selesaiin dulu aja ngerjain soalnya. Gue tunggu," ucap seseorang yang bernama Nizar itu.
"Eh, udah selesai kok. Kenapa kak?"
"Ikut gue ke ruang OSIS bentar. Ada yang perlu gue omongin."
Shana dan Nizar pergi ke ruang OSIS yang dimaksud. Shana kira mereka hanya akan bicara berdua. Namun setelah masuk ke dalam ruang OSIS, Shana dapat melihat satu orang kakak kelas perempuan dan dua orang laki-laki seangkatan dengannya. Masing-masing dari mereka nampak lelah dan sepertinya mereka tak tidur semalam.
"Kakak mau ngomongin apa?" tanya Shana pada Nizar sambil mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Ruang OSIS itu cukup luas dan berantakan. Shana selalu berpikir jika ruang OSIS adalah ruang berkelas yang diperuntukkan untuk anak-anak famous. Shana juga membayangkan ruang OSIS tak jauh beda dengan ruang guru yang selalu tertata rapi. Namun imajinasinya hancur setelah melihat ruang OSIS SMA nya.
"Kita pengurus OSIS, oh nggak maksudnya cuma kita berempat disini dapet clue tentang pembunuhan itu," kata kakak kelas cewek yang diketahui namanya adalah Karamel, lewat name tag di seragamnya.
"Maksud kak Kara apa? Clue?"
Dua anak laki-laki yang diketahui juga merupakan pengurus OSIS itu menyerahkan satu lembar kertas dengan tulisan sangat rapi. Mereka juga memperlihatkan potongan foto yang tidak utuh.
"Dari yang gue lihat kemungkinan ini akan jadi pembunuhan berantai," ujar Nizar. Tangannya mengetuk-ngetuk meja.
"Kita pikir clue itu hanya iseng belaka. Namun jika clue itu ada benarnya maka kita akan menyesal tidak menghiraukan," timpal Kara.
"Untuk saat ini kita nggak bisa lapor polisi. Di surat itu tertulis bahwa jika kita menyerahkan clue ke polisi maka pelaku akan mengambil tindakan random dan mungkin akan lebih membahayakan banyak orang," kata Verrel menambahkan dengan senyum tengilnya. Verrel adalah cowok tampan yang kadang agak error.
"Juga dia akan menghentikan memberikan clue kalau sampai clue yang satu itu jatuh ke tangan polisi. Si penulis surat ini pasti tahu jika ke depannya akan ada korban lagi," ucap Akbar sambil bergidik.
"Terus kenapa kalian ngasih tahu aku?" tanya Shana kebingungan.
"Nggak usah pakai aku kamu, ribet amat. Lo gue aja. Alasan utama ya karna lo anak pinter. Daya analisis lo itu mungkin bagus. Jadi cukup lah buat bantuin kita mecahin puisi-puisi atau apapun itu yang tertulis dalam surat berisi clue itu." Verrel menjawab sambil beringsut mengambil sesuatu dalam tasnya.
"Dah tuh surat coba dibaca. Kata-katanya susah. Semalaman kita nggak bisa nemuin maknanya. Well, mungkin lo bisa Sha," ujar Karamel.
~~~
Aku berdiri di sana. Dimana aku bisa memandangnya dengan tatapan paling dingin yang kumiliki. Itu lah yang berusaha kututup-tutupi. Walau aku senang melakukan ini. Ah, sesenang dia ketika berhasil melesatkan panah tepat sasaran. Namun aku mungkin bisa membalaskan untuknya. Geram yang mungkin hanya dipendamnya. Sesuatu yang tak akan dia lakukan padanya. Akan kulakukan dengan caraku yang luar biasa.
Jangan berikan surat ini pada polisi ya? Atau kalian tak akan terima surat dariku lagi. Aku akan bekerja sama dan memberi petunjuk untuk kalian. Kalau kalian melawanku, aku marah.
~~~
Shana melongo, ia juga tak paham jalan pikiran penulis surat. Ia bukan anak sastra. Ia akan lebih senang bila disuruh menyelesaikan persoalan ilmu pasti. Bukan ilmu mengarang seperti ini.
"Gimana maksud suratnya? Lo paham?" tanya Nizar.
"Enggak kak. Gue bukan anak sastra jadi ini sedikit berlebihan kalau kalian nyuruh gue mecahin maksud tersirat dalam surat ini," jawab Shana sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Ck, gue kira lo pinter. Ya udah deh sana lo balik kelas. Kita nggak jadi ajakin lo dalam hal ini," ucap Akbar dengan nada sarkas.
"Kalau misal nanti siang gue kesini lagi gimana? Kasih waktu sampai pikiran gue bisa memahami maksudnya," tawar Shana. Ia tidak mau diremehkan.
"Oke istirahat pertama. Kita kumpul lagi kayak gini. Sekarang mending kita ke kantin deh. Kita belum makan dari tadi malem," putus Nizar. Ia kemudian menoleh ke arah Shana dan berkata, "mau ikut sarapan?"
"Enggak kak, gue balik ke kelas aja," jawab Shana.
"Oke, thanks ya Sha. Moga lo nemuin maksudnya," ucap Nizar lagi sambil berjalan mengantar Shana ke pintu keluar ruang OSIS.
"Urwell kak," balas Shana sambil berjalan menjauh ruang osis dan kembali ke kelasnya. Shana juga membawa surat berisi clue tersebut.
Shana memasuki kelas dan duduk kembali di bangkunya. Agatha dengan setengah berlari masuk kelas dan langsung berniat menghampiri Shana. Suaranya heboh sampai seisi kelas menengok ke arah mereka.
"Shana, gue tadi ketemu cogan papan atas di depan ruang guru," teriak Agatha ketika ia berjalan mendekat ke arah Shana.
"Ck, pita suara lo jebol apa ya? Keras banget sih lo kalau ngomong." Shana melotot tajam pada Agatha.
"Lo juga pasti klepek-klepek deh kalau liat tuh cogan. Gue belum pernah liat dia di sini. Apa mungkin anak baru?" Agatha berkelakar ria.
"Oh, dia," gumam Shana.
"Lo udah kenal? Wah, lo bener-bener gercep ternyata, haha," tawa Agatha memenuhi seisi kelas. Lagi, semua teman sekelas mereka menengok tak suka.
"Enggak kok, tadi kebetulan gue juga udah liat dia," jawab Shana dengan suara rendah. Jika ia sampai membocorkan identitas Arthur sebagai anak buah ayahnya, itu bisa merugikan cowok itu.
Agatha berjalan ke kursinya. Ya, tepat di samping kanan kursi Shana. Agatha ingin mengganggu Shana lagi namun urung ia lakukan. Entah hanya perasaan Agatha saja atau bagaimana, ia melihat Shana tengah berpikir keras. Shana tidak sedang membaca buku pelajaran atau mengerjakan soal seperti biasanya. Shana hanya menatap lembar kertas kosong namun pikirannya seperti sedang menerka-nerka. Akhirnya Agatha mengambil pensil dan mulai menggambar di buku sketsa kesayangannya. Ia melebur dalam hobinya.
Bel masuk berbunyi. Wali kelas mereka, ibu Asiyah datang ke kelas lima menit setelah bel berbunyi bersama seorang laki-laki yang berpenampilan tidak terlalu rapi tapi masih wajar sehingga tak dimarahi guru.
"Selamat pagi anak-anak. Sebelum kita memulai pelajaran jam pertama pagi ini, ada hal penting yang ingin ibu sampaikan," ucap Bu Asiyah dengan nada rendah. Semua murid menunggu dengan cemas.
"Teman kalian," hening sejenak. Bu Asiyah hendak bicara lagi namun ia sedang mengatur napasnya. Wajahnya nampak sendu. Ia melanjutkan, "Adiwangsa Ananda Risky adalah mayat yang ditemukan tewas hari kemarin."
Sontak semua mata langsung tertuju pada satu bangku yang kosong. Mereka awalnya tak menyadari jika pagi ini memang ada satu orang yang tidak hadir. Adiwangsa adalah sosok pendiam namun bertanggung jawab di kelas. Ia sempat dicalonkan untuk menjadi ketua kelas, namun ia menolak. Ia mengajukan diri sebagai perwakilan kelas dalam urusan rapat dengan pengurus OSIS.
"Untuk itu anak-anakku, kita akan berdoa selama beberapa saat untuk mengenang teman sekaligus anggota keluarga kelas kita. Berdoa dimulai!" ucap bu Asiyah yang mampu mengembalikan perhatian siswanya.
Hening selama beberapa saat. Semua anak berdoa dalam diam.
"Cukup. Nah, selanjutnya ibu ingin memperkenalkan teman baru kalian. Dia adalah siswa pindahan dan mulai hari ini dia akan menjadi anggota kelas kita." Bu Asiyah nampak memaksakan senyum. Matanya masih sembab, suaranya juga bergetar.
"Perkenalkan nama saya Arthur Elias. Kalian bisa panggil saya Arthur." Perkenalan singkat ala Arthur itu ditanggapi dingin oleh hampir seluruh isi kelas.
"Hng, nggak ada yang mau ditambahkan nak Arthur?" tanya bu Asiyah.
"Tidak bu."
"Baiklah kamu bisa duduk di bangku yang masih kosong."
Lagi semua anak kelas memperhatikan Arthur berjalan hingga ia duduk di bangku milik Adiwangsa sebagai satu-satunya bangku yang masih kosong.
Bu Asiyah menutup pertemuan pagi ini dan meninggalkan kelas. Guru mata pelajaran untuk jam pertama yang jamnya cukup tersita banyak itu bergegas memulai pelajaran. Pak Handi mengambil alih seluruh perhatian siswa. Pelajaran kimia pun dimulai.
***