4|| Tuduhan Tak Beralasan Untuk Arthur

2099 Words
    Suasana kelas nampak sunyi. Semua siswa mengerjakan tugas yang diberikan oleh Pak Handi sedangkan guru kimia itu telah meninggalkan kelas. Ia bilang harus mengawasi beberapa anak yang sedang dipersiapkan untuk maju dalam ajang olimpiade kimia.     Shana mencuri pandang pada Arthur. Shana kagum pada laki-laki itu karena Arthur mampu tampil berbeda seratus delapan puluh derajat dengan Arthur yang tarakhir ia temui tadi malam. Dari mulai cara berpakaiannya, sorot tajam matanya yang terlihat mengintimidasi, raut wajah datar sampai dinginnya, juga Arthur terlihat seperti berandalan. Ya, Shana menemukan banyak sekali perbedaan pada diri Arthur.     Shana sudah menyelesaikan tugasnya sejak beberapa menit yang lalu. Berbeda dengan Agatha yang justru tengah sibuk menyalin jawaban milik Shana.     Shana meletakkan kepalanya di meja dan menatap lekat pada sosok Arthur. Arthur sangat cocok dijadikan figur bad boy atau cool boy yang biasa menjadi tokoh dalam novel yang dibaca Shana.      "Puas lo ngliatin gue?" Arthur angkat bicara. Ia tidak menoleh pada Shana yang berada di samping kanannya namun tentu saja Shana tau bahwa dirinya lah yang tengah disindir Arthur.     Shana membalas dengan menggelengkan kepala. Wajahnya cukup panas karena malu tertangkap basah oleh Arthur sedang mengamati laki-laki itu. Ia menundukkan kepala agar tidak ada yang tahu perubahan wajahnya yang mungkin sudah berhias warna semu merah di pipi.     Bel berbunyi tak lama kemudian. Seluruh siswa kelas XI IPA 2 yang sudah selesai mengerjakan tugas segera bergegas meninggalkan kelas. Beberapa lainnya nampak membuka bekal makanan masing-masing dan duduk berkelompok.     Agatha mengajak Shana ke kantin namun ditolak oleh Shana. Ia beralasan setelah ini harus segera mengumpulkan tugas ke meja pak Handi. Di dalam hati Shana juga menambahkan bahwa ia harus menemui kak Nizar.     Shana mengambil pekerjaan temannya di setiap meja. Ia juga mengurutkannya sesuai nomor absen. Ia tiba di meja Arthur. Wajahnya berubah bingung karena tak ada lembar jawab tugas di atas meja laki-laki itu. Bagian atas mejanya juga kosong, tak ada buku atau apapun.     Shana keluar kelas hendak mencari sosok Arthur dan menanyakan di mana lembar pekerjaannya. Sesampainya di depan pintu kelas ia melihat koridor antara kelasnya dengan kelas XI IPA 3 ramai akibat adanya kerumunan. Terdengar dua orang tengah berdebat.     "Gue tau, lo nggak perlu ngelak. Lo kan yang buat sepupu gue mati. Lo jadi siswa baru pas banget sama meninggalnya sepupu gue. Lo pasti dah ngerencanain kan," kata seorang gadis menggebu marah. Shana menghampiri kerumunan itu dan melihat siapa saja tokoh yang sedang berkonflik di sana. Gadis yang baru saja berteriak marah itu bernama Elisa.     "Dasar lo apa ngomong kayak gitu? Cih, palingan lo cuma cari sensasi, kan. Oh ya, by the way, nama depan lo mirip sama nama belakang gue. Elisa dan Elias. Salam kenal ya. Jangan-jangan kita jodoh. Jadi jaga sikap lo ke gue." Seorang laki-laki yang menjadi lawannya nampak membalas dengan santai. Setelah menyelesaikan kalimatnya, laki-laki itu mengacak rambut gadis di depannya hingga gadis berparas cantik bernama Elisa itu terdiam tak bisa bertingkah. Ya laki-laki itu adalah Arthur dan ia menggunakan pesona ketampanannya untuk membuat gadis bungkam.     Kerumunan bubar tak lama setelah Arthur beranjak pergi. Di sana masih tersisa Elisa bersama dua temannya yang berusaha mengembalikan kesadaran Elisa dari sesuatu yang disebut terbang karena digoda sedemikian rupa oleh anak baru bernama Arthur.     Shana juga ikut meninggalkan keramaian yang perlahan hilang itu. Ia kini berjalan ke arah Arthur pergi. Ia perlu tahu di mana anak baru itu menaruh pekerjaannya.     Sampailah Shana di kantin. Ia melihat Agatha sedang makan sesuatu yang uap panasnya mengepul ke udara dan bisa dipastikan itu bakso, makanan kesukaan Agatha. Ia tak menghampiri sahabatnya itu namun malah mendekat ke meja di mana anak laki-laki berkumpul.      Shana berjalan mendekat sambil mencari wajah yang membuatnya cukup sebal itu. Bagaimana tidak, Shana berjanji pada Nizar akan datang ke ruang OSIS pada jam istirahat ini dan sekarang ia telah membuang banyak waktunya hanya untuk menemukan lembar pekerjaan Arthur, si anak baru.     Shana memaku pandangannya pada laki-laki yang tengah sibuk bergurau dengan teman-teman barunya. Ia berjalan ke arah laki-laki itu duduk dan sekarang ia telah berdiri di hadapannya.     "Ngapain lo?" Arthur mengangkat kepalanya menatap Shana.     "Shana ting-ting. Tumben gabung kesini? Biasanya di sebelah sana sama cewek-cewek cakep lainnya." Kalimat nyeleneh itu dilontarkan oleh Aldo.     "Bang Al ih, jangan ditambah-tambahin panggilannya. Ini juga ada perlu sama Arthur," jawab Shana. Ia cukup mengenal dengan baik Bang Aldo ini. Walau kesan pertama darinya adalah sangar dan berandal, tapi ia adalah pribadi yang humoris. Dan satu lagi, saat Shana masih anak baru di SMA Argosaka atau lebih tepatnya awal ia menjadi murid di kelas sepuluh, Bang Aldo ini pernah menyatakan perasaan suka pada Shana. Namun jelas ditolak oleh Shana karena prioritas Shana adalah pendidikan.     "Perlu apa?" tanya Arthur.     "Lembar pekerjaan lo di mana? Mau gue kumpul sekarang ke meja Pak Handi."     "Ada di tas. Ambil aja."     "Masa gue harus buka-buka tas cowok. Apa kata orang coba."     "Susah banget sih, tinggal cari di tas gue. Dah sana lo cabut."     Bukannya pergi, Shana malah duduk di sebelah Arthur sambil berkata, "Kalau gitu gue tunggu sampai aktivitas lo kelar, terus lo ambil lembar pekerjaan lo itu di tas lo."     Arthur langsung bangkit berdiri. Ia juga mengatakan beberapa patah kata sebelum meninggalkan sekumpulan anak laki-laki sangar di pojokan kantin. Tak lupa ia manarik tangan Shana dan membawanya dengan langkah lebar-lebar keluar dari kantin dan munuju ke kelas mereka. Shana sampai berlari kecil untuk mengimbangi gaya berjalan Arthur.     "Pelan ih. Jalan kayak dikejar setan aja lo," kata Shana sambil memperlambat jalannya.     "Kayak lo pernah aja," balas Arthur.     "Pernah apa?" tanya Shana.     "Dikejar setan," jawab Arthur. Shana langsung cegukan. Dua hal yang membuatnya gugup. Satu, karena Arthur memperdalam pembahasan tentang setan. Dua, karena sekarang Arthur berdiri berhadapan dengannya hanya beberapa senti di depannya. Laki-laki itu rupanya menghentikan langkah dan berbalik ke arah Shana. Sedangkan Shana terus berjalan hingga hampir menabrak d**a bidang Arthur.     "Grogi? Jadi ini alasan si Aldo manggil lo ting-ting. Lucu juga," kelakar Arthur sambil memutar tubuhnya berjalan meninggalkan Shana. Ia juga menambahkan kekehan di akhir cuap-cuapnya.      Shana mendengkus kesal. Ia kemudian berlari menyusul Arthur yang masih cengengesan. Beberapa menit berjalan, mereka akhirnya sampai di kelas. Arthur mengambil lembar pekerjaannya dari dalam tas dan meyerahkan pada Shana. Tanpa disangka Arthur membisikkan sesuatu tepat di telinga Shana dengan sangat lirih. Shana bahkan hampir tak bisa mengenali kata yang dibisikkan Arthur. Namun ia mencoba menerka bisikan tadi. Kalau tidak salah, Arthur berbisik "Kalau nggak tau harusnya tanya. Apalagi sesuatu yang penting." Shana ingin bertanya apa maksudnya pada cowok berandal itu, namun ternyata Arthur telah pergi entah ke mana.     Shana tak ambil pusing dan segera berlari menuju ke ruang guru untuk menyerahkan lembar pekerjaan anak kelasnya. Di lain tempat Arthur nampak bersembunyi dan mengamati kepergian Shana. Sepertinya Shana tidak menyadari maksud dari bisikannya tadi, ini akan rumit.     Shana masuk ke ruang OSIS dengan napas yang terengah. Dia melihat ada Nizar dan Kara di dalam sana. Nizar duduk dengan tenang di salah satu kursi kayu dan Kara duduk di lantai sambil menyendok ice cream cup nya.     "Gimana? Udah tau maksudnya?" tanya Nizar.     "Hng, kenapa gue mikirnya ini berkaitan sama ekstrakurikuler panahan ya kak. Masalahnya satu-satunya kata yang maknanya lugas di situ hanya bagian 'sesenang dia ketika berhasil melesatkan panah tepat sasaran'. Ini bisa jadi memang berkaitan dengan ekskul panahan yang gue tahu Adiwangsa juga aktivis dalam ekskul itu."     "Adiwangsa? Jadi mayat itu adalah Adiwangsa," ucap kak Kara nampak kaget. "Dia adek kelas gue waktu SMP."     "Kok lo dah tahu sih? Sekolah belum memberikan pengumuman resmi," selidik Nizar.     "Dia sekelas sama gue, kak. Tadi pagi wali kelas XI IPA 2 ambil jam pertama buat menjelaskan semuanya, juga berdoa untuk Adiwangsa. Bu Asiyah juga memperkenalkan anak baru, pindahan," terang Shana. Ia merasa aneh dicurigai oleh Nizar.     Nizar dan Kara manggut-manggut mendengar penjelasan Shana. Setelah tak ada lagi yang dapat mereka lakukan, mereka kembali ke kelas masing-masing. ***     Bel pergantian jam pelajaran berbunyi. Ini adalah jam olahraga untuk kelas XI IPA 2. Semua anak berlari keluar kelas untuk berganti pakaian, termasuk Shana. Ia juga ikut berebut bilik ruang ganti agar tak terlambat sampai lapangan.     Arthur tak beranjak dari kursinya ketika teman-temannya mulai berlarian. Ia bahkan nampak santai dan tak ingin berganti pakaian seperti teman-temannya. Ia mengambil handphonenya dan membuka file rekaman suara kiriman salah satu rekannya. Ia mengambil suatu benda kecil berwarna sama dengan kulitnya dari dalam tas dan menyelipkannya ke dalam telinga. Setelahnya ia sudah tenggelam dalam kesibukannya yaitu mendengarkan file-file rekaman itu. ***     Guru olahraga bernama Pak Bagas itu mulai mengabsen satu per satu muridnya. Saat sampai di nama Arthur Elias, guru itu nampak bingung.     "Ada anak baru? Mana yang namanya Arthur?" tanya Pak Bagas penasaran.     Namun nama yang dicari tidak ada. Pak Bagas hanya mengernyitkan dahi dan mencoret kehadiran Arthur pada jam ini.     Agatha mencolek pinggul Shana dan spontan membuat Shana menjerit kegelian. Ia menjadi tontonan sesaat.     "Kamu kenapa?" Pak Bagas mendekat ke arah Shana.     "Enggak pak, tadi cuma kaget. Saya kira ranting yang barusan jatuh ke kepala saya itu ulet," bohong Shana. Jelas saja mana mungkin ia akan mengatakan bahwa Agatha menjahilinya. Agatha terkekeh di samping Shana.     Mereka kemudian mengawali jam pelajaran olahraga tersebut dengan berdoa dan pemanasan. Setelahnya mereka dibubarkan untuk memulai penilaian senam lantai. Anak laki-laki membawa tumpukan matras dari gudang sekolah dan menyusunnya memanjang. Beberapa anak perempuan nampak mengeluh karena merasa mereka tak mampu dan sebagian lagi sibuk membicarakan tentang Elisa dan Arthur.     Shana mendengarkan gosip-gosip hangat terkini itu dalam diam. Berbeda dengan Agatha yang ikut memberikan bumbu sehingga gosip itu menjadi lebih beraneka rasa. Shana lebih memfokuskan diri untuk persiapan penilaian.     Penilaian olahraga pun dimulai. Secara berurutan sesuai nomor absen siswa-siswi XI IPA 2 maju untuk pengambilan nilai. Pengecualian untuk Shana, ia maju pertama untuk memberikan contoh pada teman-temannya. Setiap siswa sebisa mungkin melakukan gerakan rangkaian senam lantai yang telah ditentukan oleh Pak Bagas dengan macam gerak berurutan yaitu roll depan, roll belakang, sikap lilin, pesawat terbang, kayang, dan meroda. Namun jika memang tidak bisa melakukan beberapa gerakan tersebut, Pak Bagas membolehkan siswanya untuk tidak mengambil penilaian dengan memberi pengurangan nilai.     Shana mendapat nilai sempurna yaitu sembilan puluh delapan karena ia memang atlet senam lantai. Shana bahkan bisa melakukan gerakan senam lantai lainnya yang lebih sulit.     Lain hal dengan Agatha yang hanya mampu melakukan tiga macam gerakan yaitu roll depan, sikap lilin, dan pesawat terbang. Nilainya terpaut jauh dari Shana yaitu tujuh puluh enam. Biarlah Agatha memang tak mau ambil risiko.     Mereka semua dibubarkan setelah penilaian selesai. Shana berjalan bersama Agatha dan satu temannya lagi yaitu Sena menuju kantin akibat rasa haus yang melanda mereka. Jam olahraga di siang hari yang terik memang menguras banyak tenaga.     Shana membeli satu botol minuman dingin dan semangkuk batagor. Agatha lebih antusias untuk membeli ice cream. Sedangkan Sena membeli minuman coklat dingin dengan toping coklat dan keju juga sepiring martabak.     Mereka bertiga tidak membolos kelas karena memang jam olahraga adalah penutup untuk pelajaran hari ini. Jadi mereka sah-sah saja untuk nongkrong di kantin hingga bel pulang sekolah berbunyi.     Setelah menghabiskan jajanan yang mereka beli, mereka langsung kembali ke kelas untuk mengambil tas dan berniat pulang. Namun langkah Shana berhenti karena handphonenya tertinggal di kantin. Agatha hendak menemani Shana kembali ke kantin begitu pula Sena yang sudah memutar badan bersiap kembali. Namun jelas Shana tak ingin merepotkan dan menyuruh kedua temannya untuk kembali ke kelas. Akhirnya Shana berlari sendirian ke arah kantin. Ia berlari karena khawatir kalau handphonenya mungkin akan hilang atau disembunyikan orang iseng.     Sampai kantin ia segera menuju ke meja yang tadi ia tempati. Di sana terlihat segerombolan anak laki-laki tengah merokok. Maklum ini sudah jam pulang sekolah dan guru jarang yang mendatangi kantin pada jam-jam seperti ini. Mereka merasa tak perlu takut pada aturan yang melarang siswa merokok di sekolah. Shana memberanikan diri mendekat. Ia juga melihat handphonenya ada di atas meja.     "Misi kak mau ambil handphone," ujar Shana sopan karena mereka mayoritas anak kelas dua belas, setahun lebih tua dibanding Shana. Tangannya segera meraih handphone itu namun belum sampai, handphonenya sudah digeser menjauhi tangan Shana oleh laki-laki sangar dengan baju seragam yang atasannya sudah keluar seluruhnya.     "Kasih nomer lo dulu dong, ntar gue balikin," ocehan kakak kelasnya disambung dengan tawa teman-temannya.     "Lain kali ya kak, saya keburu," ujar Shana nampak gusar. Ia tidak mau membagikan nomor handphonenya pada orang-orang macam mereka.     "Id Line atau i********: lo apa?" celoteh yang lain menggoda Shana.     "Enggak punya kak," jawab Shana sekenanya. Mana mungkin ia bagi-bagi id Line ke orang yang tak dikenalnya. Bahaya.     "Jangan diganggu, dia anak baik-baik," ujar seseorang dari balik badan Shana. Orang itu juga mengambil handphone Shana dari genggaman kakak kelasnya yang jahil itu lalu memberikannya pada Shana. Laki-laki itu juga melanjutkan ucapannya namun sangat pelan dan mungkin tak bisa didengar siapa-siapa selain Shana, "cuma gue yang boleh ganggu dia." ***     Shana berjalan di belakang Arthur. Kaget sempat melandanya saat Arthur membantunya mengambil handphone dari kakak kelas berandalan itu.     "Makasih, Ar," ujar Shana dari balik punggung Arthur yang menjulang.     "Hmm," gumam Arthur.     Mereka sampai di kelas. Arthur segera beranjak pergi setelah memasukkan dengan asal semua barang-barangnya yang berserakan di meja. Sedangkan Shana memasukkan buku-bukunya dengan tertata rapi di dalam tas. Maklum cewek lebih ribet dari cowok. Setelah tasnya dirasa rapi, Shana juga pergi meninggalkan kelas yang telah kosong.  ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD