7|| Korban Kedua dan Surat Ketiga

1533 Words
    Nizar dan Akbar berdiri membatu di sebuah ruang yang diketahui adalah ruang kepala sekolah. Mereka berdua tak dapat menemukan keberadaan sang kepala sekolah itu.     Bukannya bertemu sang kepsek, Nizar dan Akbar malah dikejutkan dengan seorang siswi yang berlumuran darah di lantai bersandar pada lemari. Tubuh kaku dan matanya yang terpejam itu mampu memberikan informasi bahwa ia telah meninggal.     Nizar mengambil handphonenya dan menuliskan pesan di grup chat penyelidikan mereka.     Nizar.Aby : Ruang kepsek sekarang!     Aka_Verrel : Otw. ***     Mereka berenam berdiri menatap horor pada mayat berlumuran darah itu. Nizar bahkan di awal sempat tak mengenali wajahnya karena tertutup rambut panjang dan darah yang mulai mengering.     Ya, mayat itu adalah Caca. Gadis itu nampak mengerikan sekarang. Penampilan yang acak-acakan. Kulit putih susunya sekarang sudah berubah menjadi pucat. Bibirnya yang biasa dipoles lipstik pink terlihat membiru. Riasannya yang bisa dikatakan menor untuk usia anak SMA nampak luntur.     Arthur bergerak maju mendekati mayat Caca. Ia tak menyentuhnya dan hanya meneliti titik luka pada mayat itu. Jelas ini pembunuhan. Mereka kalah cepat dengan si pembunuh itu.     "Gue ada petunjuk baru. Habis ini kita bahas." Nizar berujar sambil mendekati Arthur. Ia juga mengeluarkan sebuah amplop yang terkena noda darah dan sudah mengering.     "Simpan dulu. Jangan ada yang tau," bisik Arthur.     Tak lama setelahnya, beberapa polisi datang dan mensterilkan TKP. Tim medis juga datang untuk membawa mayat tersebut agar segera dioutopsi. Sirine ambulan dan polisi memang tidak dinyalakan karena saat ini masih berlangsung proses belajar mengajar. Namun beberapa anak yang entah bagaimana caranya bisa keluar dari kelas mulai berkerumun penasaran. Beberapa guru juga ada yang mendekat ke TKP. Termasuk guru piket yang tadi menghubungi polisi untuk datang.     Mereka berenam telah membebaskan diri dari kerumunan yang saling berdesakan itu. Mereka bertemu dua orang polisi yang masih berbincang dengan satpam di dekat mobil polisi.     Melihat Arthur mendekat, dua orang polisi itu seperti tahu apa yang harus mereka lakukan. Mereka memang tidak saling bicara mengingat identitas Arthur yang sedang menyamar. Kedua polisi itu hanya memberikan senyum kaku pada mereka berenam saat saling berpapasan.     Mereka berenam masuk kembali ke ruang OSIS. Setelah mengunci pintu dan memastikan tidak ada yang mengikuti mereka, mereka kemudian duduk melingkar.     "Barcode," Arthur menggumamkan kata.     "Maksudnya?" tanya Shana.     "Ada barcode berupa sayatan di lehernya," jawab Arthur.     "Maksud lo mayat nya Caca? Kok lo bisa tau itu barcode? Bisa aja kan emang si pembunuhnya ngebuat beberapa sayatan biar si Caca habis darah." Verrel membantah.     "Gue yakin itu barcode. Di mayat Adiwangsa juga ada sayatan barcode di lengan atasnya." Arthur meyakinkan mereka.     "Tau dari mana kalau di mayat Adiwangsa juga ada barcodenya? Lo bahkan tau letaknya secara pasti." Kara memicingkan matanya. Ia menatap curiga pada Arthur.     "Itu nggak penting. Sekarang kita buka surat yang ditinggalin pembunuh. Siapa tahu aja pembunuh itu akan beraksi lagi kalau kita terlambat menyadari." Shana mengalihkan pembicaraan. Entah mengapa ia hanya tak ingin membuat posisi Arthur makin sulit.     "Lo utang penjelasan ke kita semua." Akbar memberikan tatapan menusuk pada Arthur. Ia mulai ragu tentang siapa sebenarnya Arthur ini.     Nizar mengeluarkan surat yang dilipat rapi dan sepotong bagian foto. Mereka membaca surat itu dalam diam. ~~ Dor, kalian kalah cepat denganku. Itu bukan akhir jadi jangan bersedih atau merasa kalah. Seharusnya memang tidak kuajak kalian dalam hal ini karena kalian terlalu lemah. Sekarang, kalian bisa mempercepat atau memperlambat pergerakanku. Akan kubuat kalian berpikir lagi. Lukisan hanyalah penggambaran. Untuk itu, mereka terkadang hanya melihat apa yang ingin mereka lukiskan. Itu menjadikan mereka tidak peduli apa akibatnya. Gayanya menantangku. Itu membuatku tak akan bermain-main lagi.  ~~     Kara menghembuskan napas kasar. Sepertinya waktunya akan habis untuk memikirkan si pembunuh sinting itu. Kenapa juga mereka harus berpikir maksud dari si pembunuh yang labil itu. Tidak punya otak.     "Satu hal yang bisa kita simpulkan. Yang nulis surat ini adalah pembunuh itu sendiri." Shana dengan mantap mengutarakan pikirannya. "Kita nggak bisa hanya percaya sama surat ini atau selamanya kita akan kalah cepat." ***     "Kalian ini bisa-bisanya bersembunyi di ruang OSIS. Mau jadi pembolos?" Bu Inez, guru BK SMA Argosaka yang legendaris itu menatap marah enam murid di hadapannya.     Mereka berenam tak lain adalah Nizar, Kara, Verrel, Akbar, Arthur, dan Shana. Mereka terciduk guru bk yang entah bagaimana bisa menemukan mereka di dalam ruang OSIS. Bu Inez mungkin punya indra ke enam sehingga saat melewati ruang OSIS yang terkunci rapat, ia justru curiga. Bu Inez bahkan memanggil pembina OSIS yang membawa kunci cadangan ruangan OSIS tersebut.     "Kami ditugasi untuk mempersiapkan keperluan lustrum besok bu. Acaranya sudah dekat dan persiapan kita belum selesai seluruhnya." Verrel berargumen. Ia mengatakannya dengan mantap seolah tidak sedang berbohong. Aktingnya luar biasa bagus.     "Lalu kenapa ada anak kelas 12 juga? Kalian itu sudah purna dari kepengurusan. Seharusnya yang kalian pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya mendapatkan nilai bagus untuk ujian kalian dan juga mempersiapkan diri masuk ke universitas." Bu Inez tetap bersikeras bahwa mereka berenam itu berbuat salah. "Apa untungnya buat kalian yang sudah kelas 12 untuk ikut acara seperti ini? Tidak ada kan. Harusnya kalian juga yang kelas 11 tidak perlu meninggalkan kelas dengan alasan mempersiapkan acara lustrum ini. Kalian kan bisa mempersiapkannya saat jam istirahat atau pulang sekolah. Bukan saat jam pelajaran begini."     "Maaf bu. Tapi saya sebagai mantan ketua OSIS merasa perlu untuk memberi arahan adik-adik saya. Saya tidak bisa lepas tanggung jawab begitu saja." Nizar angkat bicara. Raut wajahnya menunjukkan ia terlihat merasa bersalah karena telah berbohong. Namun hal itu berusaha ditutupi oleh kewibawaannya. Nizar memang orang alim, wajarlah jika ia akan meletakkan opsi berbohong di paling akhir. Untuk saat ini berbohong dapat menyelamatkan beberapa orang.     "Ck, kalian ini. Pintar sekali membantah. Sekarang kalian pergi dan bersihkan masjid sekolah. Anggap saja itu hukuman buat kalian sekaligus kalian cari pahala bukannya dosa karena membuat guru marah. Dah sana kalian boleh pergi." Bu Inez akhirnya manjatuhkan hukuman bagi mereka.     Andai saja mereka tidak diciduk guru BK, mungkin sekarang mereka sudah bergerak lebih jauh untuk menyelidiki kasus ini. Akbar dan Verrel yang masih menjadi pengurus OSIS tahun ini mulai beberapa hari ke depan akan disibukkan dengan persiapan lustrum sekolah mereka. Mereka akan terkendala waktu untuk membantu mengungkapkan pembunuhan ini.     Sekarang mereka hanya bisa menjalani hukuman dari bu Inez hingga beres dan kembali ke kelas jika tidak ingin digiring lagi ke ruang BK. ***     Arthur dan Shana berjalan beriringan kembali ke kelas. Mereka telah menyelesaikan hukuman pemberian bu Inez. Wajah Shana terlihat lesu.     "Ar, sekolah meminta polisi menutup kasus Adiwangsa dan menyatakannya sebagai bunuh diri. Ayah ngasih tau gue gitu." Shana angkat bicara.     "Gue tau." Arthur tersenyum getir. Sulit memang jika salah satu pihak meminta menghentikan penyelidikan sedangkan pihak lain tidak bisa memaksakan kehendak untuk melanjutkan penyelidikan. Sekolah mereka ini sangat mengkhawatirkan kualitasnya turun karena masalah ini.     "Sekolah nggak mendukung polisi. Sejak awal mereka sudah menyuruh untuk menutup kasus ini. Tapi kami tetap melakukan outopsi dan juga penyelidikan." Arthur memperlambat jalannya agar sejajar dengan Shana dan melanjutkan perkataannya. "Kita nggak bisa berbuat banyak. Makanya jalan satu-satunya ya gue harus gabung ke tim penyelidikan kalian yang abal-abal itu."     "Jangan ngremehin kita kalau lo jalan sendiri aja nggak bisa." Shana berujar kesal.     "Well, lo benar." Arthur manggut-manggut.     Mereka memilih untuk tidak saling berbicara hingga sampai di depan kelas mereka, XI IPA 2. Mereka menghentikan langkah sebentar. Keduanya sama-sama bicara di waktu bersamaan.     "Ar—" panggil Shana.     "Sha—" panggil Arthur bersamaan.     "Gue dulu." Shana memutuskan, kemudian lanjut bicara. "Mungkin akan sulit buat lo jaga identitas lo karena Kak Kara sama Kak Nizar sudah curiga. Jadi jangan sampai keceplosan kayak tadi, oke! Akting lo lumayan bagus kok."     "Lo jangan percaya siapa pun. Termasuk gue atau mereka berempat atau orang di sekitar lo. Kalau lo rasa gue atau mereka mulai meragukan, lo jalan sendiri sesuai kata hati lo." Kini Arthur yang berkata dengan membisikkannya di telinga Shana.     "Lo juga bisa nggak sih, kalau ngomong nggak bisik-bisik di kuping gue. Geli ih!" Shana melotot pada Arthur, namun tak mendapat tanggapan berarti dari laki-laki itu. Arthur bahkan sudah berjalan masuk ke dalam kelas. ***     Arthur sudah duduk di kasurnya. Ia belum mengganti seragam sekolahnya dengan baju rumah, namun ia malah merebahkan diri di kasur. Otak dan badannya butuh istirahat. Ia sedang menunggu email masuk dari rekan detektifnya. Ia sudah meminta rekan detektifnya itu untuk mengecek rekaman CCTV sekolah di sekitar ruang kepala sekolah dan juga mengirim salinan rekaman CCTV padanya.     Ini bukan kasus sepele. Ada dasar tertentu untuk pembunuh membunuh siswa-siswi di SMA barunya itu. Arthur mencoba merangkai kemungkinan hubungan korban dengan pembunuh. Dendamkah? Tapi dendam apa. Mereka masihlah anak SMA yang kehidupannya berkutat pada belajar.     Arthur membuka buku catatannya tentang kasus ini. Membaca kembali dengan teliti data data mengenai korban pertama, Adiwangsa. {Catatan 1} Korban : Adiwangsa Ananda Risky.  Terduga pembunuh : ? Data korban :  1. Murid SMA Argosaka  2. Kelas XI IPA 2 3. Tewas diperkirakan pukul 5.15 a.m 4. Saksi : Tryshana Maurelia Primrose. 5. Luka: beberapa sayatan di lengan atas kanan, luka lebam di wajah dan tengkuk. Luka membentuk barcode (dugaan).  6. Penyebab kematian : pendarahan di kepala, habis darah.  7. Catatan tambahan : aktivis ekstrakurikuler panahan, perwakilan kelas. 8. Kepribadian menurut teman : ramah, bertanggung jawab.  9. Orang tua : bapak Tri Handoko, ibu Melliani.  ~~~     Kasus ini tidak bisa ditutup begitu saja. Namun anehnya pihak sekolah bersikeras menutupnya. Apakah sekolah terlibat dalam pembunuhan ini? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD