8|| Percobaan Mikroskop

1509 Words
    Jum'at siang. Shana dan Agatha sedang makan siang di kantin. Seperti biasa, mereka makan siang sambil mengobrol.     "Sha, seminggu ini lo beda dari lo yang biasanya." Ucapan Agatha itu terdengar cukup menohok bagi Shana.     Shana berhenti dari acara mengunyahnya. Ia memandang Agatha dengan tatapan menilai. Mungkin saja Agatha hanya asal bicara karena memang Agatha hampir tidak bisa bicara serius. Namun tidak untuk kali ini. Tatapan mata Agatha mampu membuat Shana paham jika gadis itu tak main-main.     "Maksudnya?" Shana mengangkat sebelah alis.     "Dari mulai lo yang jarang masuk kelas. Lo yang selalu punya agenda lain saat jam istirahat. Lo jadi super sibuk. Oh ya, lo jadi akrab tuh sama Arthur." Agatha menjelaskan.     "Ada," gumaman singkat Shana membuat Agatha mengerutkan dahi. "Gue belum bisa cerita sama lo, Tha. Kalau semua udah selesai, lo orang pertama yang gue ceritain."     "Btw, lo masih anggep gue sahabat kan?" Agatha bertanya memastikan.     "Pasti." Shana menjawab ringan. Namun itu membuat senyum di antara mereka berdua terkembang. Shana dan Agatha selalu bersama sejak kelas sepuluh dan itu membuat mereka terlihat seperti anak kembar. Mereka bisa memahami satu sama lain dengan baik. ***     Sekarang seluruh siswa kelas XI IPA 2 tengah menjalankan praktikum di salah satu laboratorium yang terdapat di sekolah mereka. Semua siswa diberi kuis sebelum dibolehkan masuk ke dalam laboratorium.     Shana menjadi orang yang terakhir masuk ke dalam laboratorium karena memang sedari tadi ia tidak menjawab satu pun kuis yang diberikan oleh Bu Tutik, guru biologinya. Bukan berarti Shana tak bisa menjawab. Hanya saja sebelum pergi ke laboratorium ini, teman-teman sekelasnya meminta agar Shana menjawab belakangan. Alias kuis dengan pertanyaan yang sulit dilimpahkan pada Shana. Tapi itu tak masalah, Shana akan merasa senang jika semua temannya dapat masuk ke dalam laboratorium dan mengikuti praktikum tanpa terkecuali.     Setelah semua masuk ke dalam laboratorium, Bu Tutik mulai membuka jam pelajaran siang menjelang sore ini. Seperti praktikum sebelumnya, siswa dibagi dalam beberapa kelompok untuk memudahkan pembelajaran.     Bu Tutik telah mengabsen satu per satu siswanya dan ada sebelas orang yang tidak ada di laboratorium saat ini. Mereka yang tidak hadir terdiri dari lima siswi dan enam siswa. Ke mana mereka pergi? Tentu saja jawabannya pulang dan tidak kembali ke sekolah.     Sekolah mereka memberikan waktu dari pukul 11.00 siang sampai pukul 13.30 untuk siswanya pulang ke rumah atau sekadar keluar sekolah sebagai jam istirahat dan bagi kaum adam untuk menjalankan ibadah. Namun banyak yang keluar dari sekolah dan tidak kembali lagi sampai pulang sekolah. Yah memang dasarnya suka membolos, jadi selalu ada kesempatan dalam kesempitan, kan.     Saat ini kelas XI IPA 2 hanya terisi dua pertiga dari jumlah murid seharusnya. Untuk beberapa hal itu memang menguntungkan karena mereka tak perlu bersempit-sempitan dan anggota kelompok yang sedikit memungkinkan setiap siswa yang hadir dapat mencoba apa yang dicontohkan Bu Tutik kala itu.     Shana dan Arthur menjadi satu kelompok dengan dua orang siswa wanita, Dhe dan Rhe. Mereka tidak kembar. Nama lengkapnya juga tidak mirip. Hanya panggilannya saja yang hampir sama.     Setelah Bu Tutik selesai mencontohkan beberapa proses dalam meneliti klorofil daun, siswa dipersilahkan untuk mencoba. Dhe dan Rhe memilih untuk mencoba duluan. Menyisakan Shana dan Arthur yang menunggu giliran mencoba. Arthur mengalihkan tatapannya dari mikroskop yang sedang dijadikan rebutan oleh Dhe dan Rhe ke Shana.     "Nanti pulang bareng." Arthur mengucapkan tiga kata itu dengan cepat di hadapan Shana. Seolah takut orang lain yang mendengar akan salah paham. Mungkin jika Arthur mengatakan hal itu pada gadis lain selain Shana, mereka pasti akan menunjukkan ekspresi wajah memerah malu-malu kucing. Tapi kan Shana sudah tahu maksudnya.     "Ada apa?" itulah kata yang terlontar dari Shana sedetik kemudian.     "Mau ketemu bokap lo." Arthur berujar lebih cepat dan volume suaranya lebih pelan. Jika saja yang diajak Arthur bicara adalah para gadis jomblo akut, pastilah reaksi mereka akan heboh. Secara Arthur terlihat sangat gentleman dengan berani menemui bokap dari cewek yang diantarnya pulang.     Well, masalah nya beda untuk Shana. Gadis itu malah mengerutkan kening seolah berpikir. Gadis itu kemudian bertanya, "Ada masalah ya? Kok nggak ketemu ayah di kantor?"     "Penyamaran." Satu kata yang terlontar dari mulut Arthur dapat langsung menutup segala pertanyaan di kepala Shana.     Dhe dan Rhe telah selesai dangan percobaannya. Sekarang giliran Shana dan Arthur. Shana segera melakukan step by step untuk meneliti klorofil dalam daun itu. Sedangkan Arthur hanya mengamati. Mata Arthur tak berkedip menonton Shana yang tengah fokus melakukan percobaan pada daun itu.     Arthur mengalihkan pandangannya sesaat ke segala arah secara acak. Ada perasaan aneh dan tidak terdefinisi di dadanya ketika terlalu lama memperhatikan gadis yang tengah sibuk bereksperimen itu. Sekelebat bayangan muncul di pikiran Arthur. Menggemakan kepedihan di relung hatinya.     Mama. Arthur tak mengingat wajahnya dengan baik. Papanya selalu marah saat Arthur bertanya di mana mamanya berada atau hanya sekedar bertanya lukis wajah mamanya. Papanya juga menutup segala macam kenangan mamanya di rumah mereka seperti dengan membakar foto-foto mamanya. Papanya juga membuang segala macam benda yang ada kaitannya dengan mamanya, termasuk mikroskop.     Mama yang Arthur ingat adalah ibu yang hangat dan penyayang. Mengurus segala macam keperluan rumah tangga dengan baik. Ia juga menjadi ibu yang mampu membuat Arthur mengerti banyak hal, sebelum usianya. Seperti mengajarkan cara menulis dan membaca kala anak seusianya hanya berpikiran untuk mengabiskan waktunya dengan bermain. Alhasil, Arthur sudah dapat membaca buku cerita di usia tiga tahun dan menulis saat ulang tahunnya yang ke empat.     Ia juga ingat bagaimana ibunya mengajarkannya menggunakan benda bernama mikroskop yang kala itu tak bisa Arthur ucapkan namanya karena begitu sulit dan membuat lidahnya kesleo. Mamanya dengan aura yang cantik walau Arthur tak dapat mengingat wajahnya membuat Arthur berpikir diri mamanya ada pada gadis di hadapannya. Gadis di hadapannya yang ia kenal dengan nama Shana itu juga terlihat sangat teliti dan lihai dalam menggunakan mikroskop itu sehingga memberi tahu bahwa ia mungkin terbiasa menyentuhnya.     Arthur menggelengkan kepala ke kanan dan ke kiri. Berharap kewarasannya kembali. Ia bukan cowok melankolis yang mampu menderai air mata mengenang kejadian lampau yang cukup menyakitkan. Sudah cukup ia terlarut dalam lamunannya. Sekarang Arthur bergerak untuk mengambil alih mikroskop yang sedang diotak-atik oleh Shana.     "Gantian gue yang coba." Arthur mendorong pelan Shana sehingga posisi gadis itu tergeser oleh Arthur.     Shana mendesis pelan namun cukup bagi Arthur untuk mendengarnya. Tapi Shana tidak mau berebut, ia memilih menggambarkan di kertas putih polos yang telah disediakan oleh Bu Tutik, apa yang tadi dilihatnya di lensa mikroskop.     Jam pelajaran akan berakhir beberapa menit lagi. Bu Tutik meminta muridnya segera mengumpulkan tugas mereka segera setelah selesai dikerjakan. Shana masih sibuk menghapus gambarnya yang berantakan. Ia mungkin pintar namun kepintarannya tak cukup baik untuk menggambarkan apa yang ada di otaknya ke dalam kertas putih itu.     "Ck, kadang otak encer lo nggak cukup berguna ya, hehe. Sini gue bantu gambarin." Itu ucapan Agatha yang telah berdiri di hadapan Shana sambil menengok pekerjaan temannya itu. Saat Shana mengangkat kepalanya, Agatha nampak menyengir lebar.     Bukannya marah Shana malah ikutan nyengir karena ia sadar seberapa memalukan gambaran karyanya itu. Jelas nampak sangat kontras dengan gambaran Agatha.     Agatha sudah mengambil alih kertas pekerjaan Shana. Ia menggambar cepat sebelum Bu Tutik menyadari kecurangan yang terjadi. Setelah selesai menggambar Agatha menyerahkan kembali kertas itu pada pemiliknya, Shana. Hanya dalam waktu kurang dari lima menit Agatha dapat menggambar sebagus itu. Shana jadi takut bila Bu Tutik tak percaya pada gambarannya lalu menyuruh Shana menggambar ulang di hadapannya, bisa mati Shana.     Bel tanda pulang pun berbunyi. Mereka akhirnya menutup pembelajaran ini sampai sekian. Semua anak berebut segera keluar dari laboratorium. Mereka juga berdesakan saat mengambil sepatu di rak sepatu yang ada di koridor ruang laboratorium tersebut.     Shana dan Agatha memilih keluar terakhir. Agatha memandang horor aksi saling dorong antar temannya yang tak sabaran itu. Shana menanggapinya dengan kekehan geli. ***     Shana dan Arthur berjalan ke parkiran untuk mengambil motor milik Arthur. Mereka sampai di parkiran saat parkiran sudah mulai sepi. Arthur segera menuju motornya yang diikuti oleh Shana. Shana jarang ke parkiran sekolah atau bahkan tidak pernah karena ia memang tidak membawa kendaraan sendiri.     Arthur menyodorkan helm ke arah Shana. Shana diam. Bukannya ia tidak paham maksudnya, namun lebih kepada dia tidak mendapati ada helm lain tercantel di motor Arthur.     "Lo gimana?" Shana bertanya.     "Pakai aja. Gue nggak pakai." Arthur menjawab santai.     "Lo b**o ya. Mana ada yang boncengin malah nggak pakai helm. Ditilang polisi gimana?" Shana naik pitam.     Arthur mengambil helm di tangan Shana. Jangan harap Shana akan mendapat perlakuan manis seperti di novel-novel yang apabila si cewek menolak untuk memakai helm sendiri maka si cowok akan memakaikan helm tersebut untuknya.     Setelah menggunakan helm, Arthur segera menyalakan mesin motornya dan menyuruh Shana segera naik ke motornya. Cewek itu duduk menyamping mengingat rok nya akan terangkat tinggi apabila ia duduk melangkah. Mereka meninggalkan parkiran setelahnya. ***     "Ar, gue kira lo naik motor sport gitu. Cocok sama image lo." Shana memecah keheningan.     "Lo pengen naik motor gituan? Biar apa? Biar bisa meluk yang boncengin." Arthur terkekeh. "Gue nggak minat naik motor gituan."     "Enggak ih. Gue aja nggak pegangan badan lo. Ya kali mau peluk-peluk. Kan tadi gue cuma bilang kalau cocok sama image lo." Shana mengelak. Shana memang tak berpegangan pada pinggang Arthur.     "Nggak mau tanya alasan gue suka motor matic kayak gini?" Arthur memancing Shana.     "Apa?" balas Shana.     "Karena cowok pakai motor matic itu ceweknya pasti cantik." Arthur mengatakannya seraya tertawa renyah. Shana ikut terkekeh. Ia jadi yakin kalau Arthur yang beberapa hari ini ia kenal di sekolah adalah upayanya untuk menutupi identitas yang sebenarnya.     Setelahnya mereka sama-sama diam karena jalanan yang mulai sepi membuat Arthur meningkatkan kecepatan motornya. Arthur berkonsentrasi pada jalan. Sedangkan Shana mempererat pegangannya di pegangan bagian belakang motor. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD