BAB 1 - Kado Yang Terasa Seperti Hukuman
Deru napas Maria Vance Christie terdengar lebih gaduh daripada kipas ventilasi di toilet Perpustakaan Umum London. Jantungnya berdebar, bukan karena lari, melainkan karena benda kecil di tangannya: sebuah testpack berwarna putih. Ia membiarkan matanya terpaku pada jendela kecil, pada hasil yang perlahan, tak terbantahkan, tercetak di sana.
Dua garis positif.
“Ya Tuhan,” bisiknya, suaranya tercekat antara terkejut dan bahagia. Ini gila. Ini tak terduga. Ia menyentuh perutnya, kemudian buru-buru membungkus testpack itu—kini kado paling berharga di dunia—ke dalam plastik kecil, lalu menyembunyikannya di dalam saku jaketnya.
Ia segera merapikan poni rambutnya yang mulai berantakan dan mengunci jaket tebalnya untuk melawan dingin yang menusuk.
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Ia seharusnya sudah lama meninggalkan Perpustakaan, namun penemuan ini mengubah semua rencana. Hari ini, tepat empat tahun mereka bersama. Maria belum sempat membeli hadiah karena banyaknya pekerjaan ditambah badannya yang tidak fit. Ia hanya melakukan reservasi di restoran fine dining tak jauh dari sini. Tapi ternyata, Tuhan sudah menyiapkan hadiah yang jauh lebih indah, untuk mereka.
Dengan senyum yang tak bisa disembunyikan, Maria hampir berlari keluar dari gedung, menuju tujuan yang sama setiap akhir jam kerjanya: gedung asuransi besar di seberang jalan, tempat David Sterling—kekasihnya—bekerja. Perusahaan David memang hanya terpisah satu blok dari tempatnya bekerja.
Sambil melangkah cepat, ia mengeluarkan ponsel. Sepanjang hari, nomor David terus tidak aktif dan jawaban yang sama terus terdengar.
Nomor yang Anda hubungi, sedang tidak aktif.
Lagi dan lagi. Maria mendesah, tapi kegembiraan barunya membuat rasa kesal itu mudah diabaikan. Mungkin David sengaja mematikan ponsel untuk memberinya kejutan. Pasti.. begitu, kan?
Maria akhirnya tiba di trotoar seberang, tepat di depan gedung David. Matanya menyipit melewati jalan raya besar yang terbentang, dan menyapu lobi gedung asuransi David, yang mulai lengang. Namun David tak terlihat dimana pun. Ia memutuskan untuk mencoba menelepon sekali lagi.
Bip. Panggilan itu terhubung. Detak jantung Maria melonjak.
Bip. Panggilan itu terputus. Operator kembali menjawabnya dengan suara dingin.
Maria menyerah, pandangannya tertuju pada lalu lalang ramai di trotoar seberang. Saat itulah, sebuah keajaiban muncul. Tubuh semampai seorang laki-laki terlihat berlari keluar dari lobi, tampak terburu-buru, tetapi wajahnya berseri-seri. Di tangannya, sebuket mawar merah—besar, mewah, dan berlebihan—dibawanya dengan kesulitan. Maria tertawa, hatinya dipenuhi kelegaan yang manis. David!
Mereka hanya dipisahkan oleh jalan raya dan Maria hanya dapat mengutuk waktu yang seakan berjalan lambat di traffic light.
37. 36. 35. 34.
Maria menatap David dengan perasaan berbunga. Senyum tak pernah hilang dari bibirnya. Ia sudah tak sabar untuk menyeberang, memeluk, mengecup, dan mengucapkan selamat hari jadi mereka, pada laki-laki yang paling ia cintai itu. Ia juga tak sabar melihat ekspresi David saat melihat testpack itu.
31. 30.
Tepat tiga puluh detik sebelum lampu penyeberangan berubah hijau, David bisa melihat tawa bahagia di wajah Maria. Ia melambaikan buket bunga mawar di tangannya dengan semangat. Dalam saku jasnya, liontin berbentuk hati yang ia beli di jam makan siang sudah siap untuk melengkapi momen mereka setelah ini. Ia akan melamar Maria dengan liontin itu, malam ini! Ia akan menjadikan malam ini adalah malam yang paling berkesan dalam hidup gadisnya!
Tidak akan lama lagi...
Semua rasa bahagia yang telah mengepungnya seharian ini, telah menghilangkan konsentrasi dan kewaspadaan David terhadap apa pun di sekelilingnya. Ia tidak lagi memperhatikan hitungan mundur lampu lalu pintas. Matanya terpaku pada Maria. Hanya Maria. Tidak dipedulikannya hal lain.
David mulai menyeberang. Tidak dirasakannya sesuatu datang. Tidak juga Maria yang masih menatap David dengan tawa bahagianya. Tidak dirasakannya sesuatu bergerak semakin dekat...
Sebuah mobil, yang sedang melaju, memanfaatkan kelengangan jalan dengan langsung menambah kecepatan. Sang pengemudi, sama sekali tidak menduga, bahwa seseorang, dengan buket besar di tangannya akan muncul begitu saja dari deretan mobil–mobil yang terparkir di pinggir jalan tanpa menoleh ke kiri-kanan. Terlebih ia menyeberang sebelum lampu hijau menyala, yang tinggal beberapa detik lagi akan berganti.
BRUK!!
Tiba-tiba raungan rem mobil berdecit keras! Meninggalkan aroma tajam karet ban yang terbakar dan menguap memenuhi udara malam. Kemudian, bunyi hantaman yang mengerikan terdengar: benturan logam seberat ratusan kilogram melawan kerapuhan daging dan tulang!
Hanya beberapa detik. Kerumunan di trotoar tersentak, membeku, mata mereka terbelalak menyaksikan kengerian tubuh yang terempas tak berdaya, terlempar sejauh beberapa meter seolah tanpa bobot, tanpa sempat sedikit pun mengeluarkan rintihan.
Ketika akhirnya tubuh itu rebah, darah mulai mengalir. Menodai aspal dengan warna kontras. Buket bunga itu, saksi bisu niat tulus David, terlempar begitu saja dari tangannya. Menghantam aspal jalan dengan keras. Rebah, dan patah!
Sepasang mata Maria yang menatap David lurus-lurus tiba-tiba diliputi kengerian terbesar dalam hidupnya. Seketika, fakta yang tercetak buram dalam visual kepalanya menjadi jelas. Sontak dia berlari seperti kesetanan ke arah tubuh yang terlempar itu. Berharap dapat menangkap tubuh itu sebelum menghantam kerasnya aspal jalan.
Namun apa daya... Saat Maria sampai, tubuh itu telah terhempas ke kerasnya aspal tanpa ampun. Dipeluknya kuat-kuat tubuh bersimbah darah, yang kini terasa dingin dan asing. Rintihan pilu yang keluar dari dadanya perlahan berubah menjadi ratapan.
Namun, sekuat apa pun pelukan itu, tubuh yang mulai mengaku itu tak mungkin lagi bergerak. Sekuat apa pun pelukan itu, takkan bisa menghalangi kematian. Sepasang mata yang beberapa saat lalu berbinar bahagia menatapnya, kini telah tertutup. Tubuh yang beberapa detik lalu bernapas dan hidup, kini teronggok seperti boneka kayu.
Maria mulai menjerit histeris. Berharap ini semua hanya mimpi. Air mata yang tumpah dari matanya terasa seperti sungai asam yang membakar kulitnya, mengalir bersama seluruh masa depan yang baru saja dicuri secara paksa. Dia membenamkan wajah di d**a David, meraung di atas detak jantung yang tak akan pernah berbunyi lagi. Setiap tarikan napasnya adalah usaha sia-sia untuk menarik kembali roh David yang sudah jauh.
Kini, kado Tuhan berupa dua garis itu, seketika terasa seperti hukuman untuknya. Kado terindah yang tak sempat, dan tak akan bisa ia ucapkan.
...............................