BAB 37: Harapan yang Patah

1529 Words
Dinginnya koridor apartemen malam itu seolah meresap hingga ke sumsum tulang, menembus lapisan mantel dan kulit, namun Maria tidak beranjak barang satu inci pun. Ia masih berdiri mematung di depan pintu Unit Nomor Tiga yang baru saja dibanting Michael dengan kekuatan yang sanggup meruntuhkan setiap keping harga diri yang tersisa di d**a Maria. Bibir Maria masih terasa panas, sedikit bengkak, dan berdenyut—sebuah sisa dari cumbuan brutal yang baru saja mereka bagi di atas sofa tadi. Rasa cedarwood yang maskulin, pahit tembakau dari napas Michael, dan aroma duka yang pekat masih melekat di lidahnya, terasa seperti sebuah janji yang baru separuh diucapkan namun sudah diputus paksa oleh kenyataan. Maria menunduk, menatap perban di kakinya yang kini sedikit kotor karena gesekan di lantai koridor yang berdebu. Ia tidak menangis. Rasa sakit di hatinya telah mencapai titik didih di mana air mata terasa terlalu murah dan tidak cukup untuk mewakili kehancuran jiwanya. Ia perlahan merosot, membiarkan tubuhnya meluncur jatuh ke lantai semen yang beku, menyandarkan punggungnya tepat di pintu Michael. Seolah-olah kayu jati itu adalah penyangga terakhir agar tulang belakangnya tidak hancur. Maria tahu Michael sedang berdiri di balik pintu itu. Ia bisa merasakan hawa kehadiran pria itu melalui pori-pori kayu yang dingin. Ia bisa membayangkan napas Michael yang tersengal, dan mungkin... detak jantungnya yang sama liarnya dengan miliknya. "Aku tidak akan pergi, Michael," bisik Maria. Suaranya tidak keras, namun di dalam koridor yang sunyi senyap, suaranya merambat melalui celah bawah pintu seperti hantu yang menolak untuk diusir. "Kau bisa mengunci pintu ini, kau bisa memasang seribu gembok di jendela itu. Tapi aku tak akan menyerah. Aku akan menjadi bayangan yang tidak bisa kau usir." Di dalam apartemen, Michael memang sedang bersandar pada sisi lain pintu yang sama. Ia memejamkan mata rapat-rapat, menekankan kepalanya ke kayu jati yang keras hingga saraf di pelipisnya berdenyut sakit. Tangannya masih gemetar—sisa dari gairah yang hampir saja meledak dan ketakutan yang mendadak menyerang seperti badai. Mendengar suara Maria yang begitu tenang namun penuh tekad di balik pintu, Michael merasa seolah dadanya sedang diperas oleh tangan raksasa. "Pergilah, Maria... kumohon," bisik Michael parau. Suaranya nyaris tak terdengar, namun Maria seolah memiliki radar yang sanggup menangkap setiap frekuensi penderitaan pria itu. "Baiklah. Malam ini aku akan pergi, Michael," ujar Maria tiba-tiba, suaranya menguat. "Tapi besok, aku akan kembali. Dan lusa pun begitu. Seterusnya begitu. Lihat saja." Maria membuktikan ucapannya. Keesokan harinya, setelah pulang dari perpustakaan dengan wajah yang kian kuyu, ia tidak langsung masuk ke Unit Nomor Empat. Ia duduk di lantai koridor, tepat di samping pintu Michael, membaca buku di bawah lampu remang yang berkedip. Michael sempat keluar untuk membeli sesuatu, namun pria itu bersikap seolah Maria adalah tumpukan sampah yang tak kasat mata. Ia melangkah melewati Maria tanpa menoleh, masuk kembali ke apartemennya, dan memutar kunci dengan suara yang sengaja dikeraskan. Malam kedua, Maria masih di sana. Ia membawa bantal kecil dan duduk memeluk lututnya hingga larut malam. Michael tetap dingin, tetap membisu, membiarkan Maria kedinginan di luar sementara ia berperang dengan rasa sakit di kepalanya sendiri di dalam. Malam ketiga, rintik hujan London turun dengan deras, membawa suhu udara ke titik yang menusuk tulang. Michael baru saja kembali dari studio fotonya saat ia melihat pemandangan itu. Maria telah tertidur, kepalanya bersandar pada dinding koridor yang kasar, tubuhnya meringkuk kecil karena kedinginan. Michael berdiri mematung. Niat awalnya adalah melangkahi wanita itu dan menutup pintu secepatnya. Namun, ia mengembuskan napas panjang yang sarat akan rasa frustrasi dan pedih. Ia berlutut di samping Maria, melihat wajah wanita itu yang tampak begitu rapuh. Secara tidak sengaja, tangan Michael menyentuh saku jaket Maria dan merasakan logam dingin di sana. Kunci Unit Nomor Empat. Michael mengambil kunci itu, lalu dengan gerakan perlahan, ia menyelipkan lengannya di bawah lutut dan punggung Maria. Ia mengangkatnya dalam posisi bridal style. Tubuh Maria terasa begitu ringan, seolah-olah duka telah menggerogoti berat badannya. Michael membuka pintu Unit Nomor Empat, melangkah masuk ke dalam kehangatan vanila yang familiar, dan meletakkan Maria dengan sangat hati-hati di atas sofa. Saat Michael hendak menarik tubuhnya untuk pergi, tiba-tiba sebuah gerakan cepat mengejutkannya. Jemari Maria yang dingin melingkar kuat di leher Michael, menariknya turun. Michael kehilangan keseimbangan, wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti dari wajah Maria yang ternyata sudah terjaga. Pandangan Maria berkilat penuh tekad, sebuah kilatan yang seolah menenggelamkan segala fokus Michael selama beberapa detik. Dunia Michael mendadak berhenti berputar saat Maria menarik tengkuknya lebih dekat. Cup. Bibir kenyal Maria menubruk bibirnya dalam sebuah kecupan singkat namun bertenaga. Napas Michael seketika memburu, detak jantungnya seolah ingin melompat keluar. Ia segera menarik tubuhnya menjauh dengan napas tersengal, berdiri tegak seolah-olah ia baru saja tersengat listrik. "Jangan lakukan itu lagi, Maria," desis Michael, suaranya serak dan sarat akan peringatan. "Suka-suka hatiku, Mike. Ini apartemenku," sahut Maria tanpa rasa takut, meski matanya masih tampak sayu akibat kantuk dan lelah. Michael hendak melangkah pergi, namun Maria dengan cepat menangkap tangannya. Ia tidak menariknya dengan kasar; ia hanya mengusap punggung tangan Michael dengan ibu jarinya, sebuah gerakan yang begitu lembut hingga Michael merasa seluruh dadanya berdenyut perih. "Aku mohon berhenti keras kepala, Mike... Aku hanya ingin bersamamu. Itu saja," bisik Maria. Michael mengembuskan napas, sebuah suara yang terdengar seperti keputusasaan yang telah mencapai puncaknya. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mendudukkan Maria di sofa. Dengan gerakan yang penuh martabat namun menyedihkan, Michael berlutut di atas karpet tepat di hadapan Maria. Posisi itu membuat tinggi mereka sejajar, namun Michael sengaja menatap Maria dengan pandangan yang paling pahit yang ia miliki. "Maria. Dengarkan aku baik-baik," ujar Michael, suaranya merendah, sarat akan otoritas yang dingin. "Mungkin sekarang kau sedang bingung membedakan antara rasa suka dan rasa kasihan. Tapi penyakitku bukan main-main. Lomustin itu bukan vitamin. Gejalaku akan semakin memburuk seiring waktu. Rambutku akan rontok, aku mungkin akan kehilangan kendali atas tubuhku, aku akan muntah setiap jam, dan aku jamin kau tidak akan sanggup melihatnya." "Aku bisa. Aku sanggup," potong Maria cepat. "Jangan berbohong di depan wajahku, Maria!" bentak Michael, matanya berkilat marah. "Kau pikir kau sekuat itu?!" Michael menjeda sejenak, membiarkan sunyi merayap sebelum ia menjatuhkan bom atom yang selama ini ia simpan di palung terdalam jiwanya. "David..." Nama itu seolah-olah membekukan udara di dalam ruangan. Maria tersentak, dadanya berdenyut sakit mendengar nama itu keluar dari bibir Michael. "David... aku melihat dengan mata kepalaku sendiri betapa hancurnya kau setelah David pergi. Kau menyerupai mayat berjalan selama berbulan-bulan. Dan nanti jika aku pergi, tidak ada orang yang akan membantumu bangkit seperti dulu. Karena orang yang membantumu bangkit saat ini adalah orang yang akan pergi itu sendiri." Michael tertawa miris, sebuah suara yang begitu sarkas hingga menyayat telinga. "Sejak awal kata 'kita' tidak masuk akal, Maria. Jangan menguji kesabaranku dengan kepahlawananmu yang naif. Enyahlah dari hidupku sebelum aku benar-benar menjadi beban yang akan menghantui sisa hidupmu." "Tapi aku bisa, Michael! Aku akan berusaha!" "Berhenti di sini, Maria!" Michael berdiri, menatap Maria dengan pandangan meremehkan yang sangat menyakitkan. "Jika kau melakukan semua ini hanya karena mengasihaniku, aku tidak mau nanti kau tiba-tiba lari ketakutan saat melihatku kejang atau kehilangan kesadaran. Aku tidak mau kau meninggalkanku di saat kita sudah terlibat terlalu jauh hanya karena kau mendadak sadar bahwa kau 'tak sanggup'. Pergilah sekarang, sebelum kau menjadi orang b******k yang meninggalkanku, di titik terlemahku." Michael berbalik, melangkah keluar dari apartemen Maria tanpa menoleh lagi. Pintu tertutup dengan suara pelan yang justru terasa lebih menyakitkan daripada sebuah bantingan. Begitu sosok Michael menghilang, Maria terisak. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, membiarkan tubuhnya terguncang oleh tangisan yang sangat menyakitkan. Dadanya terasa sesak, memikirkan kebenaran dari kata-kata Michael yang menghunjam seperti sembilu. Michael benar. Michael sangat benar hingga rasanya Maria ingin mati saat itu juga. Maria merasa seperti orang jahat. Ia menyadari bahwa ia telah membohongi Michael—dan dirinya sendiri—dengan mengatakan bahwa ia baik-baik saja dengan kondisi Michael. Di balik segala tekadnya, Maria masih merasakan ketakutan yang luar biasa. Ia masih merinding membayangkan Michael yang perlahan-lahan akan menghilang. Ia menyadari bahwa ia masih terlalu rapuh, masih terlalu takut untuk 'ditinggalkan' lagi setelah trauma ditinggalkan David yang mungkin belum sepenuhnya mengering. Isakan Maria semakin keras, memenuhi ruangan Unit Nomor Empat yang kini terasa sangat luas dan kosong. Ia menangisi kelemahannya sendiri. Ia menangisi betapa ia ingin menjadi pahlawan bagi Michael, namun ternyata ia hanyalah seorang penakut yang sedang bersembunyi di balik kata-kata berani. Di luar pintu, di koridor yang gelap, Michael tidak langsung pergi. Ia berdiri di sana, menyandarkan kepalanya pada tembok, mendengar setiap isakan Maria yang menyayat hati dari balik pintu yang tertutup. Michael tersenyum miris, sebuah senyuman yang penuh dengan kehancuran. Air mata mengalir di sudut matanya yang memandang dinding kosong dengan tatapan nanar. Ia tahu ini akan terjadi. Ia tahu Maria tidak akan sanggup. Dari awal, logikanya sudah memperingatkannya, namun bagian terkecil di hatinya yang paling egois sempat menolak untuk menerima kenyataan itu. Setengah mati, Michael sempat berharap bahwa Maria adalah orang yang akan menyelamatkannya, orang yang akan menariknya dari liang lahat sebelum waktunya tiba. Namun mendengar tangisan ketakutan Maria, Michael menyadari bahwa harapannya hanyalah sebuah delusi. Tidak ada satu pun yang bisa menyelamatkannya. Tidak juga Maria. Michael Elias Thorne benar-benar sendirian di ambang kegelapan, dan kali ini, ia memastikan bahwa ia tidak akan membiarkan siapa pun ikut jatuh bersamanya. ......................
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD