Langkah Maria tidak lagi beraturan. Ia berlari menaiki tangga apartemen dengan napas yang memburu, mengabaikan rasa perih yang menusuk-nusuk telapak kakinya yang dibebat perban. Di kepalanya, hanya ada satu kata yang berdenyut menyakitkan, seirama dengan detak jantungnya yang menggila: Lomustin. Nama itu bukan sekadar rangkaian huruf; itu adalah lonceng kematian yang selama ini disembunyikan Michael di balik kemeja hitam dan tatapan angkuhnya. Maria sampai di depan pintu Unit Nomor Tiga. Napasnya tersengal, dadanya naik-turun dengan hebat. Ia menatap pintu jati yang kaku itu—pintu yang kemarin tertutup dengan dentuman yang seolah mengubur harapannya hidup-hidup. Maria mengepalkan tangan, lalu menghantam pintu itu dengan seluruh sisa tenaganya. TOK! TOK! TOK! "Michael! Buka pintu

