BAB 13: Sandiwara di Depan Pintu Nomor Empat

1384 Words
Gemuruh kota London seolah memudar, menyisakan suara detak jantung yang berpacu liar di balik dinding d**a. Maria masih terpaku, jiwanya seolah tertinggal di tengah aspal jalanan yang tadi nyaris menelannya kembali ke dalam memori berdarah. Namun, rasa dingin yang membekukan seluruh sarafnya perlahan terkikis oleh sebuah dekapan yang begitu posesif—begitu mutlak. Michael mendekap Maria dengan kekuatan yang sanggup meremukkan tulang, sekaligus memberikan perlindungan yang kokoh. Ia membiarkan kepala Maria bersandar sepenuhnya di d**a bidangnya, membiarkan wanita itu mendengarkan irama jantungnya sendiri sebagai jangkar untuk menstabilkan kewarasan Maria yang sempat melayang. Di tengah kebisingan lalu lintas yang kembali menderu, Maria mulai merasakan sesuatu yang ganjil. Getaran. Bukan hanya getaran ketakutan dari tubuhnya sendiri, melainkan getaran fisik yang kuat dari pria yang memposisikan diri sebagai 'sipir' pelindungnya. Lengan Michael yang melingkar di bahunya sedikit gemetar. Dada pria itu naik-turun dengan ritme yang lebih kacau daripada miliknya. Seharusnya aku yang gemetar sekarang, kenapa pria ini tampak lebih terguncang dariku? pikir Maria dalam kabut serangan paniknya yang perlahan menipis. Michael tidak bersuara, namun cengkeramannya pada bahu Maria seolah sedang mencoba menahan sesuatu yang lebih besar dari sekadar tubuh wanita itu—seolah ia sedang menahan jiwanya sendiri agar tidak ikut runtuh. "Sudah kubilang... jangan pernah lepas dari jangkauanku," bisik Michael lagi, suaranya kini terdengar serak, hampir menyerupai rintihan yang disamarkan oleh wibawa. Tanpa memberikan kesempatan bagi Maria untuk memprotes atau bahkan menapakkan kakinya kembali ke bumi, Michael tiba-tiba membungkuk. Dengan satu gerakan yang efisien dan mendominasi, ia mengangkat tubuh Maria ke dalam gendongannya. "Michael! Apa yang kau lakukan?! Sial! Turunkan aku! Kenapa kau terus menggendongku?!" Maria mulai tersadar, ia meronta, tangannya memukul-mukul bahu kokoh Michael yang terasa sekeras batu karang. Wajah Maria memanas karena malu. Mereka masih berada di area publik, tidak jauh dari perpustakaan tempatnya bekerja. Pikirannya langsung melayang pada kolega atau atasannya di perpustakaan yang mungkin saja melihat kegilaan ini. Bagaimana ia menjelaskan pada dunia bahwa pria asing yang mengaku tunangannya ini baru saja menggendongnya seperti tawanan di tengah jalan? "Diam, Maria. Atau aku akan menciummu di depan semua orang, agar mereka punya alasan yang lebih bagus untuk menatap kita," ancam Michael dengan nada dingin yang mematikan. Ancaman itu bekerja seperti sihir hitam. Maria membeku, napasnya tertahan di tenggorokan. Ia hanya bisa menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Michael, menghirup aroma cedarwood yang kini terasa seperti aroma penjara, sementara Michael membawanya menuju mobil dengan langkah tegap yang tak terusik oleh tatapan orang-orang di sekitar. Ketegangan itu terbawa hingga mereka sampai di koridor apartemen. Michael baru saja menurunkan Maria tepat di depan pintu unit nomor empat ketika sebuah suara ceria menghentikan gerak mereka. "Maria!" Langkah Maria terhenti. Jantungnya mencelos melihat sosok wanita berambut pirang yang berdiri di sana dengan senyum lebar. Itu Hannah. Satu-satunya sahabatnya. Hannah melangkah mendekat dengan tangan yang mengusap perutnya yang mulai membuncit—sebuah tanda kehidupan yang lima bulan lalu juga sempat Maria miliki, namun kini telah berubah menjadi nisan tak kasat mata di rahimnya. Kehadiran Hannah selalu menjadi pisau bermata dua. Maria merindukan keceriaan sahabatnya itu, namun setiap tawa Hannah, setiap perkembangan janin yang ia tunjukkan, adalah pengingat yang menyiksa tentang sore berdarah di mana Maria kehilangan segalanya. Kehilangan David, dan kehilangan bayi mereka. "Hannah... kau di sini?" suara Maria bergetar, mencoba menyembunyikan kekalutannya. Mata Hannah beralih dari Maria menuju sosok jangkung yang berdiri dengan aura dominan tepat di belakang Maria. Michael berdiri di sana, satu tangannya masih berada di pinggang Maria, sebuah pose tak disengaja yang kebetulan sangat intim, dan terlihat jelas menunjukkan kepemilikan. "Siapa pria tampan ini, Maria?" tanya Hannah, matanya berkilat penuh selidik sekaligus kekaguman. "Jangan bilang dia alasan kau sulit dihubungi beberapa hari ini?" Panik menyerbu Maria. Ia tidak bisa membiarkan Hannah tahu tentang percobaan bunuh dirinya. Ia tidak ingin Hannah yang tengah hamil muda harus memikul beban besar itu. Maria sangat tahu, bagaimana saat ini Hannah sedang berjuang dengan mual di pagi hari dan kecemasan ibu baru; berita tentang Maria yang nyaris mati karena pil tidur bisa menghancurkan kesehatan sahabatnya. Hannah pasti akan menyalahkan dirinya karena tidak bisa menemani Maria 24 jam, dan membiarkan Maria melalui neraka ini sendirian. Dalam kebingungan, Maria melirik Michael, memohon melalui tatapan matanya agar pria itu tidak mengatakan hal yang aneh. Namun, Michael lebih cepat dari dugaannya. Pria itu mengembangkan senyum tipis—sebuah senyum yang terlihat sangat luwes dan menawan, namun bagi Maria, itu adalah senyum iblis yang sedang menyiapkan perangkap. "Michael Elias Thorne," Michael mengulurkan tangan bebasnya kepada Hannah, sementara tangan satunya justru menarik pinggang Maria agar lebih merapat pada tubuhnya. "Aku sedang dalam proses... memenangkan hati Maria saat ini." Ia menutup kalimat itu dengan mengedipkan satu matanya dengan ekspresi lucu ke arah Hannah. Hannah membelalak, lalu tertawa kecil. Ia kemudian menyipitkan matanya pada Maria dengan wajah marah yang sengaja dibuat-buat. "Maria... Kau berutang penjelasan padaku!" Maria terpaksa mengikuti sandiwara itu. Ia memaksakan sebuah senyum kaku yang terlihat seperti seringai kesakitan. "Ehm.. Kau tahu aku sempat beberapa kali pergi ke psikiater, kan, beberapa bulan lalu. Dia.. dia hanya seseorang yang beberapa kali kutemui di sana, Hannah." Michael tidak membiarkan Maria lepas begitu saja. Ia merangkul pinggang Maria dengan lebih posesif, sentuhan telapak tangannya yang panas terasa membakar kulit di balik gaun tipis Maria. Michael merunduk, menempelkan bibirnya di kening Maria di depan Hannah—sebuah tindakan yang terasa seperti pengkhianatan paling nista bagi memori David yang masih segar di kepala Maria. Napas Michael menerpa telinga Maria saat ia berbisik dengan nada yang sangat manis namun penuh ancaman tersembunyi, "Ada apa denganmu, Maria. Jangan membuat sahabatmu curiga. Kita sudah cukup 'dekat', kan?" Sandiwara ini mulai menyiksa Maria. Kedekatan fisik yang dipaksakan ini, sentuhan tangan Michael yang seolah sedang mengklaim setiap inci tubuhnya, membuat jantung Maria berdebar dengan ritme yang menyakitkan. Ia membenci dirinya sendiri karena tidak bisa menepis tangan itu, ia membenci Michael karena menggunakan Hannah sebagai tameng untuk memuaskan obsesinya. Maria hanya dapat pura-pura menahan senyum malu, sambil menatap mata Hannah. Dalam hati ia sangat menyesal membohongi sahabatnya ini. Maaf, Hannah... Di tempatnya, Hannah menatap mereka dengan binar haru. Baginya, pemandangan ini adalah keajaiban. Ia melihat Maria yang beberapa bulan lalu hancur berantakan, kini dirangkul oleh pria yang tampak begitu memujanya. Hannah tidak peduli dengan moralitas atau seberapa cepat Maria 'pindah ke lain hati'. Baginya, yang mati sudah mati. David sudah tenang di sana, dan ia hanya ingin melihat Maria melanjutkan hidup. "Aku senang melihatmu begini, Maria. David pasti juga senang melihatmu bahagia," bisik Hannah sambil memeluk Maria. Ia berbasa-basi singkat, sebelum berpamitan karena merasa tidak enak mengganggu 'waktu kencan' mereka. Begitu sosok Hannah menghilang di balik lift, sisa-sisa keramahan palsu di wajah Michael menguap, berganti dengan tatapan sedingin es yang seolah mampu membekukan aliran darah Maria. Ia tidak melepaskan pinggang Maria; sebaliknya, Michael justru menariknya lebih rapat hingga d**a mereka kembali beradu, mengunci Maria dalam ruang sempit di antara tubuhnya dan pintu apartemen. "Hapus tatapan menghakimimu itu, Maria. Sekarang, tidak ada gunanya kau membantah," bisik Michael dengan suara rendah yang menggetarkan d**a. "Kau sudah tidak bisa memungkiri lagi bahwa hanya aku yang tersisa di sisimu." Maria mendengus, matanya berkilat penuh kebencian. "Delusimu sudah terlalu parah, Michael. Kau itu sakit jiwa!" "Berhenti memungkirinya, aku sudah melihatnya... Kau... tidak ingin sahabatmu tahu tentang percobaan bunuh dirimu, kan?" Tanya Michael telak. Maria tersentak, lalu mengigit bibirnya. Sadar kebenaran dari kalimat Michael, dan posisinya yang sedang kurang diuntungkan saat ini. "Sekarang, masuklah, Maria... Kita butuh kerja samamu agar sandiwara ini tetap terlihat nyata." Maria menyentak tubuhnya, membuka pintu apartemen dengan amarah yang meluap-luap. Begitu masuk, ia langsung membanting pintu tepat di depan wajah Michael, dan segera memutar kunci dari dalam. Ia ingin membalas Michael yang terus mengusik ruang pribadinya! Di balik pintu, perlahan Maria bersandar, napasnya memburu, merasa semua kejadian di sekitarnya terlalu absurd untuk ia cerna, akhir-akhir ini. Sedangkan di luar pintu, Michael hanya tersenyum tipis. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah benda logam kecil yang berkilau di bawah lampu koridor. Sebuah kunci cadangan yang sudah ia siapkan sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di sini. "Maria, Maria..." gumam Michael pelan sambil menatap pintu itu dengan pandangan penuh obsesi. "Kau benar-benar berpikir sebuah kunci bisa menahanku keluar dari hidupmu?" Michael memasukkan kembali kunci itu ke sakunya. Ia tidak akan masuk sekarang. Ia akan membiarkan Maria merasa menang untuk beberapa jam, sebelum ia kembali merampas kebebasan itu di pagi hari. Kau tidak akan bisa lepas dariku, Maria... Tidak sekarang. ............................
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD