BAB 12: Mata Monster yang Siap Menerkam

1368 Words
Beberapa hari telah berlalu sejak Michael Elias Thorne secara resmi "pindah" dengan membawa koper besarnya ke apartemen nomor empat. Namun bagi Maria Vance Christie, setiap detik yang ia lalui di bawah pengawasan pria itu terasa seperti ribuan tahun di dalam sel isolasi yang pengap. Michael tidak pernah benar-benar melepaskan pandangannya. Pria itu seolah menjadi penguasanya; sipir yang tidak pernah tidur, dan penguasa yang mendikte setiap embusan napas Maria selama 24 jam. Maria merasa jiwanya perlahan terkikis. Ia muak dengan sup bernutrisi yang dipaksakan Michael, muak dengan "Protokol Keselamatan" yang merampas setiap pisau dan benda tajam di rumahnya, dan yang paling utama—ia muak dengan cara Michael menatapnya. Tatapan itu tidak pernah sederhana; selalu ada percampuran antara keinginan untuk melindungi yang obsesif dan sesuatu yang jauh lebih gelap, sesuatu yang Maria asumsikan sebagai kegilaan pria asing yang merasa memiliki hak atas nyawa orang lain. Dasar pria gila! "Aku harus kembali bekerja, Michael. Aku tidak bisa hanya duduk di sini dan menjadi objek yang menyenangkan untuk kau amati," tegas Maria pada suatu pagi, menekankan sindirannya pada kata 'objek'. Suaranya parau, namun penuh dengan tekad yang tersisa. Perpustakaan kota London Maria yakini sebagai satu-satunya tempat di mana ia merasa masih menjadi manusia. Di antara ribuan buku tua dan kesunyian yang khusyuk, ia bisa melupakan sejenak bahwa dunianya telah hancur. Dan yang paling penting, ia berharap, dengan kembali ke perpustakaan, ia bisa sedikit melarikan diri dari cengkeraman Michael yang mencekik. Michael, yang saat itu tengah menyesap kopi hitam tanpa gula sambil menatap jadwal di ponselnya, hanya mendongak pelan. Mata cokelat gelapnya mengunci mata Maria, seolah sedang memindai kejujuran di sana. "Kau belum stabil, Maria. Fisikmu masih terlalu rapuh untuk beraktivitas sendirian," jawab Michael dengan nada datar yang mutlak. "Asal kau tahu, aku tidak minta izinmu! Aku memberitahumu!" bentak Maria, tangannya gemetar menahan amarah. Michael meletakkan cangkir kopinya dengan denting pelan yang entah mengapa terdengar seperti ancaman di telinga Maria. Ia berdiri, tinggi badannya yang jangkung segera mendominasi ruangan dapur yang sempit. Michael melangkah mendekat, mengikis jarak hingga Maria harus mendongak untuk menatap rahang tegasnya. "Baik," bisik Michael, suaranya rendah dan menggetarkan udara di antara mereka. "Kau boleh kembali ke perpustakaan. Namun, dengan satu syarat: aku akan berada di sana. Sepanjang waktu. Pilihannya hanya itu: kembali bekerja di bawah pengawasanku, atau tetap di sini terkunci bersamaku." Maria mengepalkan tinjunya. Ia membenci pilihan yang diberikan Michael, karena kedua-duanya berujung pada kekalahan baginya. Namun, perpustakaan tetap lebih baik daripada empat dinding apartemen yang terasa seperti makam sejak kehadiran Michael. "Baiklah, kau menang, Tuan Otoriter! Lakukan sesukamu!" Teriak Maria sebelum membanting kamar, meninggalkan Michael dengan d**a yang jauh lebih sesak dibanding sebelumnya. ................................ Perpustakaan kota hari itu tampak tenang, diselimuti oleh cahaya matahari tipis yang menembus jendela-jendela tinggi. Namun, bagi Maria, ketenangan itu terusik oleh sosok pria yang duduk di meja sudut paling belakang. Michael Elias Thorne duduk di sana seperti batu yang tidak bisa di geser. Ia memegang sebuah buku tebal tentang sejarah arsitektur, namun matanya yang tajam terus bergerak mengikuti setiap pergerakan Maria yang sedang menyusun buku di rak-rak, ia tidak pernah benar-benar membaca bukunya. Ia terlihat seperti predator yang sedang beristirahat, namun tetap waspada sepenuhnya terhadap mangsa yang ia jaga. Sepanjang hari Maria mencoba mengabaikannya. Ia memaksakan tubuhnya yang masih lemas untuk bekerja. Ia ingin membuktikan bahwa ia tidak butuh Michael. Ia ingin membuktikan bahwa ia bisa hidup, meski itu hanya untuk menjaga memori David seperti pesan Dokter Frans. Namun, depresi dan hari-hari tanpa asupan nutrisi yang layak sebelum Michael datang, mulai menagih harga pada tubuhnya. Saat Maria menaiki tangga kayu kecil untuk mengatur deretan buku di rak paling atas, dunianya tiba-tiba miring. Kilasan cahaya putih meledak di depan matanya. Serangan pusing hebat menghantam otaknya, membuat keseimbangannya lenyap dalam sekejap. Jantung Maria berdegup liar karena rasa takut saat ia merasakan gravitasi mulai menarik tubuhnya ke belakang. Ia menutup mata, bersiap menghadapi benturan keras lantai marmer yang dingin. Namun, benturan itu tidak pernah terjadi. Dengan kecepatan yang luar biasa, Michael sudah berada di sana. Sebelum Maria benar-benar jatuh, sepasang lengan yang kuat dan kokoh telah menyambar tubuhnya dari samping. Bruk!!! Maria jatuh tepat ke dalam dekapan Michael. Pria itu menangkapnya dengan posisi yang sangat intim, dimana d**a Maria seolah melekat erat pada d**a bidangnya. Michael mendekapnya begitu erat, seolah tubuhnya adalah satu-satunya sandaran bagi tubuh Maria yang lunglai. Di antara lorong-lorong buku yang sunyi dan berdebu, waktu seolah berhenti berputar di antara mereka. Aroma parfum maskulin Michael—perpaduan antara wangi hutan yang basah, cedarwood, dan sentuhan aroma tubuh pria yang kuat—menyergap indra penciuman Maria, bercampur dengan bau kertas tua dan debu perpustakaan. Atmosfer di antara mereka mendadak menjadi sangat menyesakkan. Jantung Maria berdebar tidak karuan, bukan lagi karena pusing, melainkan karena kedekatan fisik yang begitu mendalam ini. Setelah berlalu beberapa detik, Michael tidak juga melepaskannya. Sepasang matanya, menatap Maria dengan tatapan mengintimidasi yang sangat tajam. Ada kemarahan yang berkilat di mata cokelat gelap itu, seolah ia sedang menghukum Maria atas kecerobohannya. Namun, tangannya yang besar tetap memegang pinggang Maria dengan cengkeraman yang sangat posesif—sebuah klaim mutlak yang belum pernah Michael tunjukkan secara terang-terangan sebelumnya. "Sudah kubilang, tubuhmu itu belum kuat," bisik Michael, napas panasnya menerpa kulit wajah Maria. "Kenapa kau selalu mencoba melawanku, Maria? Kau ingin mati konyol di sini, di antara debu buku-buku ini?" Maria terengah, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kewarasannya. Dekapan Michael terasa begitu hangat dan anehnya memberinya rasa aman yang sangat ia benci. Ia membenci kenyataan bahwa dalam kondisi paling rapuh, pria inilah yang selalu ada! "Lepaskan aku, Michael!" Maria mencoba mendorong d**a Michael, namun pria itu tidak bergeming. "Jangan pernah menyentuhku lagi! Pergi jauh-jauh dariku!" Michael tidak peduli dengan penolakan Maria. Ia tetap menahan tubuh Maria agar bersandar pada dadanya selama beberapa detik lagi, memastikan pusing Maria benar-benar reda, sebelum perlahan melepaskan dekapannya dan membantunya berdiri tegak. Michael menatap Maria yang masih tampak goyah dengan tatapan yang seolah ingin menelan wanita itu hidup-hidup. "Sekarang sudah jam pulang kerja," ujar Michael dingin, suaranya kembali datar seolah kejadian tadi tidak berarti apa-apa. "Aku akan menunggumu di depan lobi. Cepat bereskan barangmu. Jangan membuatku harus masuk kembali dan menyeretmu keluar dengan cara yang akan membuat seluruh pengunjung di sini menoleh." Michael berbalik dan melangkah pergi tanpa menunggu jawaban, meninggalkan Maria yang masih gemetar di lorong buku yang sepi. Amarah Maria memuncak. Ia merasa martabatnya baru saja diinjak-injak di tempat yang ia cintai. Ia tidak sudi lagi mengikuti perintah Michael! Begitu selesai membereskan barangnya, Maria tidak menuju lobi utama tempat Michael menunggu. Ia menyelinap melalui pintu samping perpustakaan, menuju zona penyeberangan yang ramai dengan kendaraan yang melaju kencang. Maria berjalan dengan terburu-buru, napasnya tersengal oleh rasa panik dan amarah yang bercampur aduk. Ia ingin bebas. Ia ingin berada di tempat di mana Michael tidak bisa menemukannya. Namun, begitu ujung sepatunya menyentuh batas aspal, dunia sekitar di mata Maria mendadak miring dan pecah. Ckiiiiiiittttt! Suara raungan mesin mobil yang melaju kencang membelah udara... Suara ban yang bergesekan dengan aspal panas... Suara itu... Suara yang sangat mirip dengan malam di persimpangan itu! Seketika, dunia Maria runtuh dalam satu embusan napas yang tertahan. Bayangan tubuh David yang terlempar, suara hantaman logam pada tubuh yang rapuh, dan bunyi pecahnya kaca yang terdengar seperti tangis malaikat maut, seketika kembali hadir di retinanya dengan kejernihan yang mematikan. Maria membeku di tepi jalan, tubuhnya mematung, matanya terbelalak menatap lampu-lampu kendaraan yang tampak seperti mata monster yang siap menerkamnya. Ia tidak bisa bergerak. Ia tidak bisa bernapas. Ia merasa maut sedang menjemputnya sekali lagi di tempat yang sama. Lalu, di tengah kekacauan mental itu, sebuah kehangatan mendadak muncul. Satu pasang lengan yang sangat Maria kenali—lengan yang kuat, dominan, dan tidak bisa ditepis—tiba-tiba merengkuh tubuhnya yang mematung dari belakang. Michael menarik tubuh Maria menjauh dari tepi aspal, mendekapnya begitu erat hingga Maria bisa merasakan detak jantung Michael yang berdegup kencang di punggungnya. Maria tidak bisa meronta. Ia hanya bisa mengatur napasnya dalam diam, sementara tangan Michael mengunci tubuhnya dalam sebuah pelukan yang seolah ingin mengatakan bahwa di dunia ini, hanya Michael-lah satu-satunya tempat ia boleh bersandar. "Sudah kubilang, jangan pernah lepas dari jangkauanku, Maria..." Bisik Michael tepat di telinga Maria, suaranya terdengar seperti janji yang gelap dan abadi. "Kau tidak akan pernah bisa lari, dariku. Setidaknya tidak untuk sekarang... Belum. Terimalah kenyataannya." ................................
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD