Udara di koridor klinik psikiater itu terasa mendingin, seolah-olah oksigen di sana telah habis terserap oleh ketegangan yang memancar dari dua orang yang berdiri mematung di tengah lorong. Michael Elias Thorne melangkah keluar dari ruang praktik Dokter Frans dengan bahu yang tampak kaku, seakan ada beban berton-ton yang baru saja diikatkan secara paksa di pundaknya. Setiap langkah sepatunya yang beradu dengan lantai marmer menimbulkan gema yang terdengar seperti ketukan palu hakim di ruang sidang.
Di sana, di salah satu kursi tunggu yang dingin dan keras, Maria Vance Christie telah menantinya. Tubuh wanita itu tampak tenggelam di balik kursi plastik, bersandar dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. Wajahnya yang pucat pasi memancarkan aura kelelahan yang akut, namun sepasang matanya yang sembab menyimpan kilat ejekan yang tajam. Ia tampak seperti reruntuhan sebuah mahakarya yang telah hancur, namun tetap menolak untuk benar-benar rubuh.
Michael berhenti tepat di depan Maria. Ia tidak langsung menatapnya. Pandangannya jatuh pada ujung sepatunya sendiri, sementara suaranya keluar dalam gumaman rendah yang nyaris tertelan keheningan. "Dokter Frans memberikan mandat penuh padaku. Mulai detik ini, aku harus mengawasimu dua puluh empat jam penuh. Tanpa jeda. Tanpa meninggalkanmu sendirian meski hanya semenit."
Sebuah tawa sinis, pendek dan menyakitkan, lolos dari bibir Maria yang pecah-pecah. "Selamat, Michael," ucapnya, nadanya setajam sembilu yang menyayat kulit. "Berkat naluri kepahlawananmu yang memuakkan itu, sekarang kau terjebak. Kau baru saja mengangkat dirimu sendiri menjadi wali resmiku. Dan sekarang, kau tidak bisa lari lagi. Bagaimana rasanya? Sudah puas?!"
Michael tetap bergeming. Lidahnya terasa kelu, seolah-olah setiap kata yang ingin ia ucapkan telah berubah menjadi duri di pangkal tenggorokan. Ia merasa seperti seorang munafik kelas atas yang sedang mengenakan jubah kemuliaan.
Di mata dunia, ia mungkin terlihat seperti pria asing yang luar biasa baik hati, namun jauh di lubuk hatinya yang paling gelap, Michael tahu ia hanyalah seorang pendosa yang sedang mencoba membasuh noda darah David dari tangannya dengan cara yang paling egois.
Melihat kebencian yang berkobar di mata Maria ternyata memberikan rasa sakit yang lebih hebat daripada rasa sakit fisik mana pun yang pernah ia rasakan.
"Tidak perlu memaksakan diri menjadi malaikat, Michael," Maria menyambung kembali, kali ini suaranya lebih ketus, seolah-olah ia bisa mencium bau busuk dari rahasia yang Michael sembunyikan. "Lebih baik kau pergi sekarang. Lepaskan tanggung jawab konyol ini sebelum kau lebih terikat lagi dengan wanita pembawa sial sepertiku. Pergilah sebelum kau menyesal."
"Aku melakukannya bukan karena terpaksa. Aku melakukannya karena aku mau. Jangan banyak tanya dan ikuti saja," sahut Michael datar. Suaranya berat, berusaha keras menekan badai emosi yang bergolak di dadanya.
Maria mendengus, membuang muka ke arah dinding yang kosong. Keheningan yang aneh dan menyesakkan seolah-olah menyelimuti mereka berdua, menciptakan gelembung udara yang hampa di tengah keramaian klinik. Atmosfer itu bertahan cukup lama, hingga akhirnya Maria kembali bersuara, kali ini dengan nada yang sedikit melunak meski masih dibayangi oleh kekalutan yang mendalam.
"Apa lagi yang pria tua di dalam sana katakan padamu?"
Michael menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara dingin yang terasa menyesakkan. Ia membungkukkan tubuhnya, menundukkan wajah agar sejajar dengan Maria, memaksanya untuk melihat intensitas di matanya. "Dia bilang... kau harus tetap hidup."
"Dia bilang aku harus hidup untuk David," Maria mengoreksi dengan suara yang nyaris tak terdengar, seolah nama itu adalah doa yang terlarang. Matanya menerawang, menembus bayangan Michael menuju kekosongan yang tak berujung.
"Dia bilang jika aku membiarkan diriku mati, maka aku juga akan menghancurkan satu-satunya tempat di mana David masih 'ada'—di dalam ingatanku. Itu... ancaman itu jauh lebih kejam dan lebih berat daripada ancaman kurungan rumah sakit jiwamu, Michael."
Michael mengangguk perlahan, mengakui kebenaran pahit itu. "Kalau begitu, mari kita jalani tugas ini bersama. Jadilah wadah bagi kenangan itu, dan biarkan aku yang menjaga wadahnya agar tidak pecah. Mari kita mulai, Maria."
Tanpa meminta izin, Michael meraih tangan Maria. Genggamannya tegas, mutlak, dan protektif.
Ia menuntun Maria keluar dari klinik, melewati kerumunan orang yang menatap mereka dengan penuh simpati—mengira mereka adalah sepasang kekasih yang sedang berjuang melawan badai.
Michael tahu ia berhasil mengubur rahasianya lebih dalam, namun kini ia memikul beban baru: menjadi penjaga bagi wanita yang jiwanya telah ia hancurkan sendiri, dengan tangannya.
.............................
Beberapa jam setelah pulang dari klinik, suasana di apartemen nomor empat berubah secara drastis. Maria yang baru saja keluar dari kamarnya, mendapati Michael menyeret sebuah koper besar ke tengah ruang tamu.
Maria menatap Michael dengan napas yang memburu, saat ia menyadari apa arti keberadaan koper itu.
"Aku pikir aku sudah mencapai batas untuk merasa terkejut hari ini... Jadi kau benar-benar akan menempel padaku seperti parasit selama 24 jam?! Kau bahkan menyeret barang-barangmu ke sini? Apa kau tidak punya pekerjaan, Michael?! Kenapa kau selalu mencampuri hidupku!" Maria bertanya dengan nada jengkel yang memuncak.
"Memangnya di mana kau akan tidur, Tuan Otoriter? Apa kau juga berencana mengawasiku sampai ke dalam mimpi? Apa kau akan berdiri di samping ranjangku sepanjang malam?"
Michael mengabaikan sindiran itu seolah-olah itu hanya desisan angin yang tak berarti. Ia tidak memberikan jawaban verbal. Tatapannya yang sedingin es hanya menyapu wajah Maria, seolah memberikan pernyataan tanpa kata bahwa privasi adalah sebuah kemewahan yang telah Maria buang saat ia memutuskan untuk menelan pil-pil tidur itu.
Michael kemudian melangkah menuju dapur kecil yang sempit. Ia mengamati gerakan Maria yang lamban, menyadari betapa rapuhnya kondisi fisik wanita itu.
Tulang selangkanya menonjol dengan cara yang menyakitkan untuk dilihat, dan pipinya yang biasanya tirus kini tampak kuyu tak bertenaga. Tanpa sepatah kata pun, Michael mengambil alih wilayah dapur.
Bunyi pisau yang beradu dengan talenan dan gemericik air mulai memenuhi ruangan. Michael bergerak dengan efisiensi yang mematikan, menyiapkan makanan bernutrisi tinggi yang seharusnya dikonsumsi oleh seseorang yang baru saja kembali dari ambang maut. Tak butuh waktu lama hingga aroma sup hangat menyebar, mengisi sudut-sudut ruangan yang lembap.
Namun bagi Maria, aroma itu bukanlah sesuatu yang membangkitkan selera; itu adalah aroma penaklukan.
Ketika makanan telah tersaji di meja kayu kecil, Michael menarik kursi dan memberi isyarat agar Maria duduk. Maria hanya diam mematung, menatap piring di hadapannya dengan pandangan apatis.
Ia menolak untuk menyentuh sendoknya, seolah-olah benda logam itu adalah kaitan pancing yang akan menyeretnya kembali ke dunia yang ia benci.
Melihat Maria yang bersikeras, Michael merasakan ketegangannya memuncak. Ia tidak akan membiarkan Maria mati karena kelaparan di bawah pengawasannya!
Michael melangkah mendekat, lalu dengan satu gerakan yang tak terduga, ia duduk di kursi meja makan sebelah Maria, lalu menarik kursi Maria agar berputar menghadapnya, dan mengunci lutut Maria, sehingga lutut mereka berbenturan erat di bawah meja. Jarak di antara mereka mendadak lenyap, menyisakan ruang sempit yang dipenuhi oleh panas tubuh Michael yang mengintimidasi.
"Makan, Maria," perintah Michael, suaranya rendah, bergetar dengan otoritas yang tidak menerima penolakan.
"Aku tidak lapar," tantang Maria, mencoba menarik diri namun Michael mengunci posisinya.
Tanpa membuang waktu untuk berdebat, Michael menyambar sendok di atas meja. Ia menyendok sup tersebut, meniupnya perlahan, lalu mengarahkannya tepat ke depan bibir Maria.
Ia tidak membujuk; ia sedang memerintah.
"Aku tidak sedang menawarkan pilihan. Buka mulutmu, atau aku akan menggunakan cara yang jauh lebih kasar untuk memastikan makanan ini masuk ke perutmu."
Suasana tiba-tiba berubah menjadi begitu intim sekaligus mencekik. Maria bisa merasakan napas Michael di wajahnya.
Dalam ketidakhadirannya akan kekuatan, Maria akhirnya mengalah. Ia membuka mulutnya, membiarkan sendok itu masuk, menelan setiap suapan yang Michael berikan dengan paksa.
Michael menyuapi Maria dengan ketelitian yang menakutkan, matanya terus mengunci mata Maria, memastikan setiap tetes nutrisi itu diterima oleh tubuh Maria.
Setiap kali Maria mencoba memalingkan wajah, Michael akan menahan rahangnya dengan lembut namun tidak bisa dibantah, memaksa Maria untuk terus menatap ke dalam mata cokelat gelapnya yang dalam.
Michael berbisik dengan suara rendah yang menggetarkan udara, sebuah bisikan yang hanya ditujukan untuk telinga Maria.
"Kau tidak boleh mati sebelum aku memberikan izin. Kau mengerti?"
Maria menatap Michael dengan kebencian yang berkobar di matanya yang basah. "Kau pikir kau siapa?! Aku muak, Michael! Kau tidak berhak mengatur hidupku!"
"Suka atau tidak, aku adalah walimu. Aku adalah orang yang akan memastikan kau tetap bernapas, bahkan jika kau harus membenciku setiap detiknya," balas Michael telak.
Di bawah meja, lutut mereka yang bersentuhan menjadi saksi bisu atas pertarungan ego dan obsesi.
Di dalam ruangan yang sempit itu, ketegangan antara keduanya memuncak. Michael terus menyuapi Maria, sedang Maria hanya bisa menerima, menelan setiap suapan bersamaan dengan rasa amarah yang mulai mengakar secara paksa.
Saat jari Michael tidak sengaja mengusap sudut bibir Maria untuk membersihkan noda sup yang tertinggal, sebuah desiran aneh—panas, liar, dan mengganggu—menjalar di sepanjang tulang belakang Maria.
Kontak fisik yang singkat itu terasa seperti sengatan listrik.
Maria mendongak, sepasang mata Michael yang ia benci, kini sedang menatapnya dengan intensitas yang sulit dibaca.
Maria merasa sesak karena tatapan penuh d******i Michael. Tatapan itu... seolah sedang menguliti harga dirinya selapis, demi, selapis.
Namun, Maria sama sekali tidak tahu, bahwa tatapan itu adalah percampuran antara rasa bersalah yang dalam sebagai pria yang telah menghancurkan hidup Maria, dan keinginan mutlak untuk memiliki kendali penuh atas kelangsungan hidup wanita itu.
Michael tahu, ia sedang memainkan peran yang berbahaya. Semakin ia mengikat Maria, semakin ia menjerat dirinya sendiri dalam jaring-jaring kebohongan.
Namun, saat melihat Maria akhirnya menelan makanannya, ada kepuasan gelap di dalam hati Michael.
Aku akan mempertaruhkan hidupku untuk menjaga wanita ini!
Ia akan memastikan Maria hidup, meski itu artinya ia harus menjadi monster yang Maria benci seumur hidupnya.
Sebab, di balik tatapan intimidasi itu, Michael sedang berteriak dalam diam, memohon agar Maria tetap hidup sehingga ia tidak akan benar-benar hancur oleh rasa bersalahnya sendiri.
.............................