Perjalanan menuju klinik psikiater di pinggiran London itu terasa seperti ziarah panjang menuju pusat luka. Di dalam mobil, keheningan membeku, menciptakan medan pertempuran diam yang mencekik.
Michael mengemudikan mobil dengan punggung tegak dan rahang mengeras, memancarkan aura intimidasi yang membuat ruang kabin terasa sempit. Di sampingnya, Maria hanya menatap keluar jendela. Tatapannya kosong, membiarkan pantulan bangunan-bangunan tua London melewati kornea matanya tanpa benar-benar ia lihat. Bagi Maria, setiap jengkal jarak yang mereka tempuh adalah langkah paksa menuju sesuatu yang ia benci: kesembuhan. Suatu titik dimana mungkin ia akan dipaksa untuk melupakan David. Titik yang paling ia tidak ingin temui.
Ketika mereka tiba di klinik, Michael tidak memberikan ruang sedikit pun bagi Maria untuk menghirup udara kebebasan.
Ia turun, memutari mobil, dan membukakan pintu dengan gerakan protektif yang tidak bisa dibantah. Michael berjalan di belakang Maria, kehadirannya seperti bayangan besar yang menaungi. Di ruang tunggu, Michael duduk dengan kaki bersilang, auranya begitu dominan hingga pasien lain tanpa sadar mengalihkan pandangan dan menjaga jarak.
Tepat di depan pintu ruang praktik, Maria berhenti. Ia berbalik, menatap Michael dengan tatapan penuh kebencian yang tajam. Ia mendekat, lalu berbisik dengan nada mengancam yang bergetar.
"Jangan suruh aku melakukan apa pun di depan psikiater itu, Michael. Jangan mendikteku! Jika kau memerintahku untuk bicara, aku akan bungkam. Jika kau menyuruhku patuh, aku akan melakukan hal sebaliknya. Mengerti?"
Michael terdiam sejenak. Alih-alih marah karena ancaman itu, sebuah gurat lembut muncul di sudut bibirnya. Untuk pertama kalinya, Maria melihat Michael tersenyum—sebuah senyum tulus yang sangat tampan, namun menyimpan kesedihan yang tak terkatakan.
"Aku tidak akan mendiktemu apa pun, Maria," ujar Michael pelan, suaranya kini terdengar tenang dan dalam. "Masuklah. Ceritakan saja tentang David. Itu saja."
Nama itu disebut, dan Maria merasakan dadanya kembali sesak. Ia membuang muka, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan yang dingin itu, meninggalkan Michael yang kembali bertransformasi menjadi patung penjaga yang setia di luar sana.
Di dalam ruang praktik, Maria duduk di kursi yang empuk, namun ia merasa seperti sedang berada di kursi pesakitan. Dokter Frans, pria paruh baya dengan kacamata yang bertengger di ujung hidung, menatapnya dengan lembut.
"Ceritakan padaku tentangnya, Maria. Tentang David," pinta Dokter Frans pelan setelah berbasa-basi sebentar.
Mendengar nama itu, benteng pertahanan Maria runtuh. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini tumpah tanpa kendali. Isakannya terdengar pedih di tengah ruangan yang sunyi itu.
"Dia... dia selalu ada di sana, Dokter," bisik Maria di sela tangisnya. "Di setiap sudut gelap apartemenku, di setiap bayangan yang melintas. Sebelum aku menelan pil-pil itu, aku melihatnya. David berdiri di dekat jendela, mengulurkan tangannya, memanggil namaku dengan suara yang begitu lembut. Dia menungguku. Dia ingin aku menyusulnya, tapi... pria itu menggagalkannya. Michael selalu merampas David dariku!"
Maria bercerita dengan emosi yang meledak, tentang bagaimana bayang-bayang David menjadi satu-satunya alasannya untuk tetap ingin mati, sementara Dokter Frans mencatat setiap detail dari delusi duka yang dialami pasiennya.
Dokter Frans terdiam sejenak, membiarkan isak tangis Maria mereda sebelum ia memajukan tubuhnya, menatap Maria dengan binar mata yang penuh empati. Ia tidak menghakimi delusi itu, melainkan merangkulnya dengan kata-kata yang menenangkan.
"Maria, dengarkan saya," ujar Dokter Frans lembut, suaranya seperti usapan hangat di tengah dinginnya duka. "Jika David benar-benar mencintaimu seperti yang kau ceritakan, apakah menurutmu dia akan bahagia melihatmu menderita seperti ini? Apakah dia akan tersenyum melihat sosok yang ia cintai hancur dan mencoba menyerah pada nyawanya sendiri?"
Maria mendongak, matanya yang basah menatap Dokter Frans dengan ragu.
"Kau harus tetap hidup, Maria. Bukan hanya untuk dirimu sendiri, tapi untuk David," lanjut Dokter Frans dengan penekanan yang menyentuh d**a.
"Selama kau bernapas, memori tentang David akan tetap hidup di dunia ini. Jika kau pergi sekarang, maka bagian dari David yang ada di dalam ingatanmu juga akan ikut lenyap. Jadilah saksi hidup bagi cintanya. Tetaplah bertahan, agar dunia tidak melupakan bahwa David pernah ada dan pernah sangat mencintaimu."
Kalimat itu menghantam Maria lebih dalam daripada obat apa pun. Hidup untuk David. Sebuah perspektif baru yang terasa berat namun masuk akal di tengah kekacauan jiwanya. Maria tertunduk, meremas jemarinya sendiri sementara Dokter Frans mencatat perkembangan emosional yang mulai terlihat di wajah pasiennya.
Setelah sesi yang melelahkan itu berakhir, Maria keluar dengan mata merah dan wajah pucat. Dokter Frans kemudian meminta Michael untuk masuk. Di dalam ruangan, dokter itu menatap Michael dengan pandangan menyelidik.
"Siapa Anda sebenarnya bagi Maria?" tanya Dokter Frans langsung.
Michael terdiam sejenak. Ia tidak bisa mengaku sebagai tunangan di sini. Tidak di saat Maria baru saja menumpahkan air matanya untuk David. Kebohongan itu akan terdengar sangat nista di dalam ruang medis ini.
"Saya tetangganya. Tetangga yang sangat dekat dengannya," jawab Michael mantap.
Dokter Frans menutup berkas Maria dengan desahan berat. "Maria sama sekali tidak terbuka tentang apa pun selain mendiang kekasihnya. Dia berada dalam kondisi yang sangat rentan, Michael. Dia membutuhkan dukungan ekstensif yang tidak main-main. Karena dia menolak rawat inap, saya harus menjadwalkan sesi intensif; setidaknya tiga kali seminggu selama bulan pertama. Dia membutuhkan pengawasan konstan. Seseorang harus memastikan dia datang ke sini tepat waktu."
Michael menatap Dokter Frans dengan penuh harap. "Baik. Apakah ada hal lain yang perlu saya ketahui? Apa yang harus saya lakukan agar bisa berguna baginya?"
Dokter Frans melepaskan kacamatanya, menatap Michael dengan serius. "Anda tampaknya sangat berdedikasi. Apakah ada anggota keluarga lain, atau teman dekat yang bisa membantu Anda mengawasi Maria?"
"Tidak. Hanya saya," bohong Michael tanpa ragu. Ia tidak ingin Hannah atau siapa pun ikut campur dalam lingkaran obsesinya.
Dokter Frans mengangguk perlahan. "Baiklah, Michael… Anda adalah jaring pengaman tunggalnya sekarang. Anda harus sangat sabar. Pastikan dia tidak pernah sendirian. Jangan tinggalkan dia dalam waktu yang lama. Dorong dia untuk fokus pada masa depan, meskipun itu akan sangat menyakitkan baginya."
Dokter itu menjeda, lalu menambahkan dengan nada yang sangat vital, "Anda adalah wali sementaranya. Jadi jangan pernah, jangan pernah meremehkan betapa vitalnya kehadiran Anda saat ini untuk mencegahnya kembali ke ambang kematian."
Michael melangkah keluar dari ruang praktik dengan kaki yang terasa limbung. Beban yang baru saja diletakkan Dokter Frans di bahunya terasa lebih berat daripada rahasia dosa yang ia simpan.
Mulai saat ini tidak ada jalan memutar, atau kembali; ia tidak bisa lari.
Ia baru saja diwajibkan oleh seorang profesional untuk melakukan hal yang paling ia takuti sekaligus ia inginkan: jangan tinggalkan Maria.
Michael berdiri di lobi klinik, menatap Maria yang sedang duduk di bangku pojok, tampak begitu rapuh dan kecil. Michael tersadar, penjara yang ia bangun kini memiliki atap dan dinding yang permanen. Perintah dokter itu seolah menjadi segel resmi bagi obsesinya.
Wali sementara.
Jaring pengaman tunggal...
Michael mengepalkan tangannya di dalam saku jas. Ia tahu apa yang harus dilakukan. Ia tidak bisa lagi hanya mengawasi Maria dari balik kamera atau mengetuk pintunya setiap jam.
Ia harus berada di sana, resmi di dalam wilayah pribadi wanita itu.
Ia harus menjaga Maria dua puluh empat jam penuh.
Dan itu berarti, Michael harus mulai tinggal di apartemen Maria—menjadi napas yang mengawasi setiap detik sisa hidup wanita itu, tepat di jantung luka yang telah ia ciptakan sendiri.
...........................