Maria Vance Christie menyandarkan kepalanya yang terasa seberat timah pada bantal rumah sakit yang kaku. Matanya yang sembab menatap nanar ke arah pintu ruang rawat. Di luar sana, ia bisa mendengar bisik-bisik genit para perawat muda yang lewat, suara mereka melengking pelan penuh kekaguman yang memuakkan.
"Lihat pria di ruangan itu? Itu Tuan Thorne. Tampan sekali, ya? Auranya seperti model papan atas, tapi matanya sangat dingin," bisik salah satu dari mereka.
"Dan kau tahu? Dia tidak beranjak satu inci pun dari sini sejak semalam! Beruntung sekali wanita di dalam sana punya tunangan seperti dia."
Maria mendengus sinis, sebuah tawa kering yang terasa menyakitkan di tenggorokannya yang luka. Ia beralih menatap Michael Elias Thorne yang berdiri diam di sudut ruangan. Pria itu tampak sangat tenang, seolah hiruk-pikuk kekaguman di luar sana hanyalah gangguan angin lalu.
"Kau dengar itu, Michael?" suara Maria terdengar parau, penuh racun. "Mereka benar-benar terpesona olehmu. Bahkan di rumah sakit seperti ini, kau bisa mengumpulkan penggemar sebanyak itu. Mungkin kau harus keluar dan memberikan tanda tangan, daripada terus berdiri di sini seperti patung penjaga kuburan."
Michael menatap Maria dengan tatapan tajam yang sulit diartikan—campuran antara otoritas yang tak terbantahkan dan penyesalan yang ia tekan dalam-dalam. Tangannya masih memegang map berisi dokumen pemulangan yang baru saja ia selesaikan.
"Aku tidak di sini untuk dipuji, Maria," jawab Michael datar. Suaranya rendah, bergetar dengan nada yang membuat bulu kuduk berdiri.
"Oh, benarkah? Lalu untuk apa? Menunjukkan pada dunia betapa setianya kau pada 'calon pengantinmu' yang malang ini?" Maria mencibir, sudut bibirnya terangkat dengan getir. "Hentikan sandiwara ini, Michael. Pergilah. Jangan bersikap seperti pahlawan yang tidak pernah kuinginkan. Aku tidak butuh diselamatkan oleh pria asing sepertimu."
Michael melangkah mendekat, auranya mendadak terasa mencekik. "Aku tidak sedang mencoba menjadi pahlawan. Aku hanya memastikan kau tidak melakukan kebodohan lagi."
Tepat saat ketegangan di antara mereka nyaris meledak, pintu bilik terbuka pelan. Salah satu dari perawat yang tadi berbisik di luar, masuk dengan nampan kecil dan senyum yang dibuat semanis mungkin.
"Selamat siang. Nyonya Maria,
Anda sudah diperbolehkan pulang. Berkas pemulangannya sudah lengkap ditandatangani oleh Tuan Thorne," lapor perawat itu dengan nada ceria yang terasa kontras dengan suasana kelam di ruangan itu. "Perlu saya bantu untuk mengganti baju pasien Anda, Nyonya Maria?"
"Tidak usah," jawab Maria cepat, nada suaranya ketus. "Aku bisa sendiri."
Perawat itu mengulum senyum, matanya beralih ke arah Michael dengan binar haru. "Baiklah kalau begitu. Toh, Anda punya tunangan sigap yang bisa membantu Anda mengganti pakaian. Jarang sekali ada pria yang begitu telaten. Dia bahkan setia menunggu sepanjang malam di koridor."
Michael dan Maria tersentak bersamaan. Kata 'tunangan' dan kalimat yang menyuruh Michael untuk mengganti baju Maria itu, berdentum di udara seperti lonceng kematian.
"Ganti baju dibantu siapa?!" Maria berteriak kaget.
Michael hendak membuka mulut untuk membantah, namun melihat kerutan di dahi perawat itu—sebuah tanda kecurigaan yang bisa berujung pada laporan polisi jika mereka terlihat tidak konsisten, Michael segera mengiyakan.
"Benar," sela Michael cepat, suaranya berat dan otoriter. "Biar aku yang membantunya, Suster. Terimakasih."
Begitu perawat itu mengangguk, Michael segera menarik tirai kain yang mengelilingi ranjang Maria. Bunyi derit ring tirai yang bergeser terasa seperti suara jeruji penjara yang ditutup.
Kini, mereka hanya berdua di dalam ruang sempit yang pengap oleh aroma antiseptik.
Jantung Michael berdegup kencang. Ia menatap Maria yang kini menatapnya dengan api kemarahan di matanya. Michael melirik ke celah bawah tirai, bayangan kaki perawat itu masih ada di sana, seolah sedang menunggu sesuatu.
"Apa yang kau lakukan?!" bisik Maria tajam.
"Suster itu masih di sana. Diamlah jika kau tidak ingin berakhir di rumah sakit jiwa," perintah Michael dingin.
Tanpa menunggu persetujuan, Michael melangkah mendekat. Tangannya yang besar namun gemetar menjangkau kancing teratas baju pasien Maria. Maria mematung, tubuhnya mendadak kaku seperti batu.
Satu demi satu, kancing itu terbuka di bawah jemari Michael yang gesit.
Udara dingin rumah sakit menyentuh kulit pucat Maria. Tepat saat kancing ketiga terbuka dan belahan d**a Maria mulai terekspos, Michael mendadak membuang wajahnya.
Ia menatap langit-langit ruangan yang putih bersih, jakunnya naik-turun saat ia menelan ludah dengan susah payah. Ia berdeham, mencoba mengusir rasa sesak yang tiba-tiba menyerang pangkal tenggorokannya.
"Kau... lanjutkan sisanya. Sepertinya perawat sudah pergi," ujar Michael dengan suara serak yang tertahan. "Panggil aku kalau sudah selesai."
Michael berbalik memunggungi Maria, tangannya mencengkeram erat pinggiran ranjang besi hingga buku-buku jarinya memutih.
Di balik tirai itu, ia bisa mendengar gesekan kain dan napas Maria yang tersengal. Michael memejamkan mata, merutuki detak jantungnya sendiri yang berkhianat. Ia adalah seorang pendosa yang baru saja menyentuh kulit korbannya, dan sensasi itu terasa seperti racun yang manis.
..................................
Kepulangan dari rumah sakit seharusnya membawa kelegaan, namun bagi Maria Vance Christie, setiap putaran roda taksi yang membawanya kembali ke apartemen tua di sudut London itu terasa seperti iringan jenazah.
Di sampingnya, Michael Elias Thorne duduk tegak. Pria itu tidak lagi berbicara banyak, namun kehadirannya memenuhi kabin mobil dengan aura otoriter yang menyesakkan.
Dalam hitungan semalam, Michael bukan lagi sekadar tetangga yang asing; dia adalah sipir penjara yang baru saja mengunci jeruji sel Maria.
Begitu mereka sampai di depan pintu unit nomor empat, Michael menahan lengan Maria. Gerakannya tidak kasar, namun kekuatannya tidak bisa dibantah.
"Siapa yang bisa menjagamu, Maria? Orang tua? Saudara? Sahabat?" tanya Michael dengan nada datar, seolah sedang melakukan interogasi resmi.
Maria memalingkan wajah, menatap lantai koridor yang kusam. "Aku tidak punya siapa-siapa lagi. Aku sebatang kara."
"Ayolah Maria," potong Michael tajam. "Pasti ada seseorang. Aku tidak bisa membiarkanmu sendirian dengan pikiran beracunmu itu."
Bayangan Hannah, satu-satunya sahabatnya, melintas di benak Maria. Hannah yang selalu ceria, Hannah yang kini tengah mengandung anak pertamanya. Maria membayangkan wajah Hannah yang penuh binar kebahagiaan itu harus redup jika mendengar berita bahwa sahabatnya baru saja mencoba mengakhiri hidup.
Tidak!
Maria tidak ingin menjadi parasit bagi kebahagiaan orang lain. Ia tidak ingin Hannah yang sedang hamil muda harus memikul beban mental karena kegilaannya.
"Tidak ada, Michael. Tidak usah ikut campur, dan tinggalkan saja, aku sendiri," bisik Maria parau.
"Baiklah kalau begitu," Michael menarik napas panjang, tatapannya mengunci mata Maria yang nanar. "Karena mulai detik ini, kau adalah tanggung jawabku. Kau tidak boleh sendirian, sedetik pun. Aku yang akan menjagamu. Ini harga mati."
Maria ternganga, namun Michael tidak memberinya kesempatan untuk protes. Michael menyambar kunci dari tangan Maria yang gemetar, lalu menunjuk ke arah pintu unit nomor tiga—miliknya sendiri.
"Masuk ke apartemenku. Tunggu di sana sebentar. Aku akan membersihkan tempatmu."
Michael melangkah masuk ke dalam apartemen Maria dengan perasaan yang berkecamuk. Begitu pintu tertutup, keheningan menyambutnya. Udara di dalam sana terasa dingin, seolah maut masih enggan beranjak dari ruangan itu. Michael menyalakan lampu, dan pemandangan di depannya membuat dada
anya berdenyut perih.
Di atas ranjang, ia melihatnya. Puluhan pil tidur berserakan di atas seprai gelap, tampak seperti salju beracun yang menanti untuk merenggut nyawa. Michael mendekat, menyentuh salah satu butiran putih itu dengan ujung jarinya.
Ia membayangkan Maria berada di sini semalam, menangis dalam keputusasaan yang ia ciptakan sendiri. Rasa bersalah menghantam Michael seperti godam, membuatnya nyaris terjatuh.
Selama satu jam berikutnya, Michael melakukan pembersihan yang dingin dan tanpa emosi. Ia mengumpulkan setiap pil, membuang botol-botol kimia ke tempat sampah, dan menyita benda-benda tajam. Ia memeriksa setiap sudut, setiap laci, mencari apa pun yang bisa memicu Maria untuk kembali mencoba "perjalanan" itu.
Namun, di sela-sela pembersihannya, Michael menemukan sesuatu yang membuat lututnya lemas. Sebuah kalender di atas meja kecil, di mana tanggal kecelakaan David dilingkari dengan tinta merah yang tebal. Michael memasukkan kalender itu ke tas kantong kain dengan tangan gemetar.
Lalu, matanya tertuju pada sebuah rak gantung. Di sana, terselip sebuah map resmi dari kepolisian. Michael membukanya dengan napas tertahan. Itu adalah dokumen kasus tabrakan David Sterling. Jantungnya berdegup kencang saat melihat namanya sendiri—Michael Elias Thorne—tertera jelas di sana sebagai pengemudi mobil.
Darah Michael seolah berhenti mengalir. Jika Maria membaca ini, semuanya berakhir.
Namun, ia melihat segel map itu masih rapat, seolah Maria tidak pernah memiliki kekuatan untuk membukanya sejak dokumen itu dikirim.
Michael menghirup napas lega yang panjang, sebuah kelegaan yang penuh dosa. Cepat-cepat ia merobek dokumen itu menjadi potongan-potongan kecil, menghancurkan bukti masa lalu yang bisa menghancurkannya.
Ia tidak hanya sedang membersihkan apartemen; ia sedang membersihkan dosanya sendiri. Ia telah menghapus jejak monster yang telah membunuh kekasih wanita, yang kini ia kurung di seberang lorong.
Sebelum keluar, Michael melirik ke arah rak. Foto David yang sedang tersenyum lebar menatapnya. Michael memalingkan wajah. Senyum itu terasa seperti kutukan, di matanya.
.................................
Hari berikutnya menjadi neraka baru bagi Maria. Michael tidak hanya membawanya pulang, ia merombak seluruh ritme hidup Maria. Apartemen Maria yang dulu merupakan suaka bagi duka, kini terasa asing. Michael menetapkan "Protokol Keselamatan" yang sangat ketat.
"Tidak ada privasi untuk seseorang yang tidak bisa dipercaya dengan nyawanya sendiri," ujar Michael dingin, saat Maria memprotes pemasangan kamera pengawas di ruang tamu.
Michael menyita semua pisau dapur, mengatur suhu ruangan agar Maria selalu hangat, dan menyusun jadwal yang sangat kaku. Maria merasa seperti robot. Ia harus bangun, mandi, makan, dan berganti pakaian sesuai perintah Michael.
Michael menunjukkan sisi "Iblis Pelindung"—ia sangat perhatian, menyiapkan makanan bernutrisi dan memastikan Maria cukup tidur, namun perhatian itu terasa seperti jeratan kawat berduri yang menyesakkan.
Ketegangan mencapai puncaknya pada keesokan harinya, hari ketiga sejak Maria mencoba mengakhiri hidupnya dengan pil tidur.
Maria yang merasa muak dengan kendali Michael, mengunci diri di kamar mandi, menolak untuk keluar.
"Maria, buka pintunya," suara Michael terdengar rendah dan mengancam dari balik pintu.
"Pergi, Michael! Aku benci kau! Kau bukan suamiku, kau bukan siapa-siapa bagiku! Berhenti ikut campur!" teriak Maria dari dalam, suaranya parau karena isakan.
"Jika kau tidak keluar dalam hitungan ketiga, aku akan menelepon rumah sakit jiwa. Aku akan memastikan kau menjalani rawat inap paksa permanen. Kau akan dikunci di sana selamanya, Maria. Tanpa kenangan David, tanpa kebebasan. Pilihannya ada padamu," ancam Michael dengan nada yang sangat tenang namun mematikan.
Ketakutan seketika menyergap Maria.
Ia tahu Michael tidak sedang menggertak. Dengan tangan gemetar, ia memutar kunci.
Begitu pintu terbuka sedikit, Michael langsung merangsek masuk. Michael mencengkeram pelan bahu Maria, mendorongnya perlahan hingga punggung Maria menghantam bilik kaca shower. Michael mengurung tubuh Maria di antara kedua lengannya yang kekar, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Maria.
"Jangan mencoba menentangku lagi," bisik Michael, matanya yang cokelat gelap berkilat dengan obsesi yang mengerikan. "Kau hidup karena aku yang menginginkannya. Jadi, patuhi aturanku."
Michael terdiam sejenak. Ia melihat bibir Maria yang pucat bergetar hebat, mungkin karena kedinginan atau ketakutan. Rasa iba menyelinap di sela-sela obsesinya. Michael mengambil sebuah handuk bersih yang tergantung di dekatnya, lalu menyelimuti bahu Maria dengan gerakan yang tiba-tiba sangat lembut.
"Mandilah dengan air hangat jika kau kedinginan. Setelah itu, bersiaplah. Kita akan menemui psikiater."
Misi hari ini sederhana : Mengantar Maria untuk periksa ke psikiater. Michael tidak akan membiarkan Maria pergi sendirian. Ia secara sukarela, tanpa meminta izin, memilih menjadi "sopir" yang mengantar jemput Maria ke salah satu psikiater terbaik di London. Ia takut jika Maria dibiarkan sendiri, wanita itu akan melompat ke bawah kereta api atau mencari cara lain untuk lenyap.
Di depan gedung apartemen, Maria menolak masuk ke mobil. Ia berdiri mematung, menatap jalanan dengan pandangan kosong. "Aku tidak butuh dokter jiwa. Aku hanya ingin mati!" tegas Maria.
Tanpa berkata-kata, Michael mendekat. Ia tidak membujuk. Ia langsung membungkuk dan mengangkat tubuh Maria dalam dekapan bridal style. Maria meronta, memukul d**a Michael dengan tangan kecilnya, namun Michael seperti batu karang yang tak tergoyahkan.
"Lepaskan aku! Kau gila, Michael! Lepaskan!"
Michael terus berjalan dengan langkah tegap, memasukkan Maria ke dalam kursi penumpang dan mengunci pintunya secara otomatis.
Ia menatap Maria melalui kaca spion dengan pandangan yang dingin namun penuh janji yang gelap.
"Kau boleh meronta sepuasmu, Maria. Tapi kau akan tetap hidup, meski kau harus membenciku sampai napas terakhirmu."
Michael menginjak pedal gas, membawa Maria menuju sebuah gedung tua di pinggiran kota London. Tempat yang ia harapkan di mana jiwa wanita itu bisa diperbaiki, sekali lagi, tanpa memikirkan bahwa ia sudah terlalu ikut campur dalam kehidupannya korbannya.
.........................