Bau karbol yang tajam dan dingin menyergap indra penciuman Michael, seolah-olah bau itu mencoba mengikis sisa aroma Maria—aroma air mata dan obat-obatan—yang masih menempel di pakaiannya. Ia duduk di kursi besi di samping ranjang rawat, tubuhnya condong ke depan dengan jemari yang saling bertaut erat. Cahaya lampu neon di atas kepala mereka berpendar pucat, menciptakan bayangan panjang yang tampak seperti jeruji penjara di lantai marmer.
Di atas ranjang, Maria terbaring kaku. Wajahnya yang biasanya muram kini tampak seputih porselen yang nyaris transparan. Selang oksigen melingkar di hidungnya, dan bunyi bip teratur dari mesin monitor detak jantung menjadi satu-satunya melodi yang memecah kesunyian malam di ruang UGD yang privat itu.
Michael menatap tangan Maria yang tertancap jarum infus. Tangan itu begitu kurus, tulang-tulangnya menonjol, seolah-olah kehidupan di dalamnya sudah lama surut sebelum ia mencoba menelan pil-pil itu.
"Kenapa harus kau, Maria?" bisik Michael, di tengah kesunyian kamar rawat.
"Dari jutaan orang di London, kenapa takdir membawaku tepat ke depan pintu apartemenmu?"
Suaranya serak, pecah oleh kenyataan dan beban moral yang hanya diketahui olehnya seorang.
Kenyataan yang terasa seperti sebuah belati menikam punggungnya, setiap kali ia bernapas.
Kenyataan bahwa ia baru saja menyelamatkan Maria, sedangkan di saat yang sama, ia adalah alasan mengapa wanita ini ingin mati.
Dari atas nakas, Michael meraih benda yang ditemukan perawat di saku mantel Maria, saat sedang mengganti pakaiannya dengan pakaian rumah sakit: sebuah liontin berbentuk hati.
Dan ia tidak perlu bertanya untuk mengetahui apa arti liontin ini bagi Maria, di saat Maria menggenggamnya erat di puncak kehancurannya.
Tangan Michael gemetar pelan, menyentuh permukaan logam dingin itu. Benda ini mungkin adalah saksi bisu dari cinta yang ia hancurkan.
Menyadari hal itu, setiap detik detak jantung Maria yang tertangkap oleh mesin monitor di sampingnya terasa seperti vonis mati bagi Michael.
Ia benar-benar merasa seperti seorang monster penghancur yang munafik. Berusaha menyelamatkan seseorang, di saat seseorang itu adalah korban yang ia hancurkan sendiri.
Saat Michael sedang tenggelam dalam lamunannya, tiba-tiba, pintu kamar terbuka pelan. Seorang perawat masuk untuk mengganti kantong infus. Ia tersenyum simpati melihat Michael yang masih terlihat jejak air, belum kering sepenuhnya.
"Tuan Thorne, Anda harus beristirahat. Anda sudah menjaganya sejak tadi," ujar perawat itu lembut. "Tunangan Anda sudah melewati masa kritis. Beruntung Anda membawanya tepat waktu. Jika terlambat sepuluh menit saja, pil itu akan merusak saraf pusatnya secara permanen."
Tunangan.
Kata itu menghantam d**a Michael seperti godam berat.
"Terima kasih, Suster. Aku... Aku ingin menunggu sampai di bangun," jawab Michael parau.
Bohong.
Michael tahu, hal paling benar yang harus ia lakukan sekarang adalah pergi. Ia harus mengemasi tasnya, meninggalkan London, dan melupakan Maria.
Melupakan David. Melupakan dosa tersembunyi ini, yang sebentar lagi, bisa jadi akan terkuak.
Namun entah mengapa hatinya diliputi keraguan hebat.
Jika ia pergi sekarang sebagai seorang pengecut, ia akan meninggalkan Maria dalam keadaan rentan.
Di dalam diri Michael, di bawah rasa bersalah yang tebal, ada kebutuhan baru yang mendesak: ia harus memastikan Maria pulih, bukan hanya secara fisik, tetapi juga jiwanya.
Ia tidak akan membiarkan Maria kembali melakukan percobaan bunuh diri. Lagi.
Tidak setelah semua upaya ini.
Ini adalah beban barunya.
Hukuman barunya…
Setelah perawat itu pergi, Michael menggenggam tangan Maria yang dingin. Ia tahu, saat Maria membuka mata nanti, surga yang ia janjikan sebagai "tunangan palsu" akan berubah menjadi neraka. Ada kemungkinan Maria mencurigainya: orang asing yang begitu terobsesi menyelamatkannya.
Namun, Michael tak peduli. Ia sudah memutuskan. Jika Maria ingin mati untuk David, maka Michael akan menjadi penjara yang memaksanya untuk tetap hidup.
Michael mendekatkan wajahnya ke telinga Maria, membisikkan janji yang gelap dan penuh obsesi. "Jangan pernah berpikir untuk pergi lagi, Maria. Karena jika kau mati, aku akan mengejarmu bahkan sampai ke neraka sekalipun."
.............................
Bau khas rumah sakit yang tajam adalah hal pertama yang menyambut kesadaran Maria. Kepalanya terasa seberat beton, dan tenggorokannya terbakar hebat, seolah ia baru saja menelan bara api. Perlahan, ia membuka kelopak matanya yang terasa lengket.
Langit-langit putih. Lampu berpendar menyilaukan.
Aku belum mati?
Rasa kecewa yang luar biasa menghantam d**a Maria saat menyadari ia masih bernapas. Rencana pelariannya gagal. Ia masih terjebak di dunia yang kelabu ini.
Maria mencoba menggerakkan tangannya, namun terasa berat. Saat itulah ia menyadari seseorang sedang menggenggam jemarinya. Maria menoleh perlahan. Dunianya yang miring dan pening seolah dipaksa berhenti saat ia melihat sosok pria di sampingnya.
Michael Elias Thorne.
Pria itu tertidur dengan posisi duduk di samping ranjangnya, kepalanya bersandar di tepi tempat tidur. Wajah pria itu terlihat kuyu, dengan bayangan hitam di bawah matanya dan rahang yang ditumbuhi cambang tipis. Pakaiannya tampak kusut dan berantakan.
Perlahan, memori tadi malam mulai menghujam otak Maria. Paket dari Ibu David... Liontin itu... Keputusasaannya yang memuncak... Dan pil-pil tidur yang ia telan satu per satu.
Lalu, David muncul! David muncul di pintunya. Ia ingat telah memeluk David, menciumnya dengan gairah yang menyakitkan, memohon agar pria itu tidak pergi lagi.
Tapi, kini Maria sadar pria itu bukan David.
Kesadaran itu membuat Maria tersentak, menarik tangannya dengan kasar dari genggaman Michael. Gerakan mendadak itu seketika membuat Michael terbangun. Matanya yang cokelat gelap langsung menatap Maria dengan kilatan yang sulit diartikan—campuran antara kelegaan dan kemarahan yang tertahan.
"Kau sudah sadar?" suara Michael terdengar serak.
Maria mencoba berbicara, namun hanya suara parau yang keluar. "Kenapa... kau di sini?"
"Kau tidak beruntung, Maria," ujar Michael dingin, namun tangannya bergetar saat menyentuh dahi Maria. "Lagi-lagi aku menemukanmu."
"Kenapa..." Maria mencoba bersuara, namun tenggorokannya begitu sakit hingga ia tersedak.
Michael dengan sigap mengambil segelas air dengan sedotan, membantunya minum dengan gerakan yang sangat lembut, mengabaikan penolakan Maria.
Ia menekan bahu Maria agar tetap berbaring saat gadis itu mencoba memberontak.
"Jangan banyak bergerak. Kau baru saja kembali dari ambang kematian, Maria," ujar Michael. Suaranya rendah, penuh otoritas.
Maria menatap Michael dengan kebencian yang mulai menyala di matanya. "Kenapa kau membawaku ke sini?! Seharusnya kau biarkan saja, aku! Kenapa kau selalu ikut campur?!"
Maria menyelesaikan kalimatnya dengan napas memburu. Ditatapnya Michael dengan mata yang dipenuhi kabut bening. Bara kebencian menembus kabut bening itu, membuat Michael merasa sebagian hatinya mulai dipaksa untuk mati.
“Kau membuatku gagal… Kau membuatku gagal lagi, untuk menyusulnya.” Tambah Maria lagi. Suara lirihnya berucap parau. Teramat berat dan seperti datang dari tempat yang sangat jauh.
Michael tertegun. Kedua matanya meminta maaf dalam redup penyesalan. Michael merasakan dirinya tanpa sadar ikut luruh dalam kehancuran itu, hampir tidak bisa menguasai dirinya sendiri.
Namun ia harus sadar! Setidaknya ia harus mengubah rasa bersalahnya menjadi obsesi untuk memastikan kelangsungan hidup Maria.
Ketika Michael berhasil membulatkan tekadnya yang seolah sempat menghilang, Michael membuka mulutnya.
“Kau memang berhak marah padaku. Tapi aku hanya melakukan hal yang benar untuk dilakukan.” Michael ludah dengan susah payah karena terasa sangat menyakitkan.
“Lagipula sebenarnya siapa yang begitu ingin kau susul? Apa kau pikir kau sedang melakukan hal yang benar?! Apa orang yang ingin kau temui itu, juga menginginkanmu melakukan ‘itu’?!”
“David tidak ada di sini untuk menginginkan apapun!” Maria berteriak, air matanya akhirnya tumpah, membuat suaranya menjadi isakan putus asa. “Dia tidak ada di sini…”
David… Nama itu menusuk Michael tepat di pusat emosinya. Ia meletakkan gelas di tangannya dengan sentakan kasar di atas meja, lalu condong ke arah Maria hingga wajah mereka hanya terpaut beberapa inci. Aroma tubuh Michael—campuran antara aroma parfum maskulin dan hujan—mengepung indra Maria.
“Sadarlah, Maria. Nyatanya kau sekarang masih hidup! Dan aku akan terus memastikan begitu!”
Maria menatapnya, terkejut oleh intensitas Michael, pria yang pernah menyelamatkannya di atap gedung, kemudian semalam menyelamatkannya lagi dari kematian, dan kini terlihat begitu bertekad untuk menyelamatkannya.
“Kenapa kau begitu ingin aku hidup Michael?! Kau itu tidak tahu apa-apa! Kau hanya orang asing! Kau tidak punya hak untuk mencampuri hidupku!" Maria berteriak parau, air matanya tumpah semakin deras.
"Aku punya hak," potong Michael tajam. Ia menatap Maria tepat di matanya, sebuah tatapan yang membuat Maria merasa terlanjang. "Dengar baik-baik, Maria. Sejak kau pingsan di pelukanku, kau bukan lagi urusan dirimu sendiri. Di rumah sakit ini, semua perawat tahu kau adalah tunanganku."
Mata Maria membelalak lebar. "Apa?! Kau gila! Aku bukan—"
"Dengar!" Michael memotong dengan nada otoriter.
“Saat ini kurasa kau tidak punya siapa-siapa di London, dan kau baru saja mencoba bunuh diri, bahkan kedua kalinya..” Michael membungkuk, merendakan suaranya hingga menjadi bisikan mengancam yang hanya bisa didengar Maria.
“Jika aku tidak mengaku sebagai tunanganmu, polisi pasti akan datang. Mereka pasti tidak akan membiarkanmu pergi. Mereka akan menahanmu di rumah sakit jiwa!”
Michael menjeda, membiarkan ancamannya meresap. Berusaha menatap dalam ke sepasang mata yang menatapnya nanar.
“Kau akan dikunci di balik dinding putih, di mana kau tidak bisa melihat matahari atau mengenang David!”
Ancaman Michael menyalakan lagi pijar kebencian di kedua bola mata Maria. Namun kali ini pijar kebencian itu diikuti oleh pijar ketakutan. Michael tahu ia telah menyentuh rasa takut Maria yang paling besar: kehilangan kebebasan dan kenangan David.
“Tapi,” lanjut Michael, mengubah nada suaranya menjadi sedikit lebih lembut, “Jika kau mengatakan aku adalah tunanganmu, yang kebetulan menemukanmu dalam kondisi salah minum obat, mereka akan membiarkanmu keluar.”
Maria gemetar hebat. Ia menatap Michael dengan pandangan ngeri sekaligus jijik.
Pria ini bukan lagi tetangga yang menyebalkan. Ia adalah penjaga yang dikirim neraka untuk membelenggunya di dunia ini.
"Kau iblis..." bisik Maria pelan.
Michael tidak membantah. Ia justru mendekatkan bibirnya ke telinga Maria, membisikkan kalimat yang membuat seluruh tubuh Maria bergetar hebat.
"Mungkin. Tapi aku adalah satu-satunya iblis yang akan memastikan kau tetap hidup untuk membenciku setiap hari. Selamat datang kembali di dunia, Maria."
Tepat saat Maria hendak memaki, seorang perawat masuk membawa nampan obat.
"Selamat pagi, Nona Maria. Syukurlah Anda sudah sadar. Tunangan Anda, Tuan Thorne, benar-benar sangat mengkhawatirkan Anda semalam. Dia tidak beranjak satu inci pun."
Maria membeku. Ia menatap Michael yang kini tersenyum tipis—sebuah senyum kemenangan yang keji. Maria menyadari satu hal yang mengerikan: ia tidak hanya gagal menyusul David, tapi ia kini terjebak dalam cengkeraman pria yang memiliki mata yang sama dengan kekasihnya, namun dengan jiwa yang jauh lebih gelap.
"Istirahatlah, Sayang," bisik Michael. Suaranya terdengar begitu merdu dan penuh kasih di telinga perawat, namun bagi Maria, setiap suku kata itu adalah jeruji besi yang baru saja dikunci. Michael membungkuk, mengecup dahi Maria dengan gerakan yang teramat perlahan.
Sentuhan bibir pria itu terasa dingin sekaligus membakar, seolah ia baru saja membubuhkan segel kutukan yang mengikat jiwa Maria agar tetap tertahan di dunia yang menyakitkan ini.
"Aku tidak akan membiarkanmu sendirian lagi. Tidak akan pernah," lanjut Michael, memberikan penekanan yang hanya dipahami oleh mereka berdua—sebuah janji sekaligus ancaman yang mutlak.
Perawat yang berdiri itu, menatap pemandangan penuh kasih ini dengan binar mata haru, mengira ia sedang menyaksikan puncak dari sebuah kesetiaan yang luar biasa.
Di mata orang asing itu, Michael adalah pahlawan yang nyaris kehilangan dunianya.
Namun, di balik selimut rumah sakit yang kaku, tubuh Maria bergidik ngeri. Ia merasa oksigen di ruangan itu mendadak habis, tercekik oleh kehadiran Michael yang kini berdiri tegak sebagai sipir penjaranya.
Maria menyadari dengan seluruh kesadarannya, atas dasar cintanya pada David, ia kini terjebak dalam penjara penuh pengawasan ketat Michael.
Maria kini sadar, bahwa ia tidak lagi memiliki kuasa atas hidupnya sendiri; ia telah jatuh ke dalam cengkeraman seorang iblis yang menggunakan topeng malaikat pelindung.
..............................