BAB 7: "Dia Tunanganku!"

1712 Words
Michael memutar slot baja unit nomor tiga, dengan bunyi klik pelan, lalu mendorong pintu itu dengan sisa tenaga yang seolah terkuras habis. Michael masuk dan menutup pintu, meninggalkan Maria yang masih berdiri mematung di koridor luar. Di dalam, udara apartemen terasa begitu asing—dingin, berat, dan terlalu sunyi. Sebuah keheningan yang mematikan, seolah-olah ruangan itu sendiri sedang menahan napas, menunggu sebuah tragedi terjadi. Michael menyandarkan punggungnya di pintu kayu yang tertutup, membiarkan tubuhnya merosot pelan. Jas trench coat miliknya yang basah kuyup tersampir lemas di bahunya, sebelum akhirnya jatuh ke lantai dengan bunyi ceplak yang menyedihkan, meninggalkan genangan air yang suram. Michael terus berdiam di situ tanpa sedikit pun niat untuk menyalakan lampu. Baginya, kegelapan adalah teman yang paling jujur saat ini. Cahaya hanya akan mempertajam detail horor dari kenyataan pahit yang belum lama ia ketahui. Di luar jendela balkon, terlihat London yang sedang dicuci oleh derasnya hujan. Sayangnya, tidak ada badai yang mampu membersihkan kekacauan di hati Michael. Seminggu. Hanya seminggu sejak ia menginjakkan kaki di apartemen ini. Awalnya, saat Michael menemukan Maria—wanita yang wajahnya mutlak sama dengan sosok yang menghantui mimpi-mimpinya—ia merasa takdir sedang mempermainkannya. Ia bertanya-tanya, kenapa wanita itu nyata? Kenapa mereka harus dipertemukan di apartemen tua ini? Namun, rasa penasaran itu berubah menjadi racun yang mematikan begitu ia membaca e*mail dari Nathaniel yang berisi informasi tentang siapa Maria. E*mail itu datang seperti pukulan telak beruntun yang menghantamnya tepat di pusat kewarasannya. Seketika, Puzzle yang selama ini berserakan di kepalanya tersusun menjadi gambaran yang mengerikan. “Ini pasti hukuman…” Bisikan lirih itu keluar melewati kedua bibirnya yang pucat. Mungkin inilah cara semesta menunjukkan bahwa ia tak akan bisa lari dari kesalahan, seberapa pun jauh ia mencoba. Michael tahu ini pasti hukuman dari kesalahan yang pernah ia lakukan pada Maria. Kesalahan fatal yang mengakibatkan kehancuran total Maria, dan membuatnya kehilangan orang yang paling ia cintai. David, pria yang ia tabrak di persimpangan itu, lima bulan lalu. Sampai saat ini, Michael masih bisa mendengar suara rem yang berdecit keras, mencabik kesunyian sore itu, diikuti bau karet ban yang terbakar. Lalu, segalanya menjadi hening. Michael sendiri tidak ingat detail kejadian setelah benturan itu karena ia berakhir koma selama dua minggu akibat cedera kepala yang parah. Saat ia bangun dari koma, ia harus menjalani serangkaian investigasi polisi yang melelahkan. Ketika hasil investigasi polisi keluar, dirinya sempat sedikit lega. Michael dibebaskan sepenuhnya. David menyeberang saat lampu lalu lintas masih hijau untuk mobil. Entah David sedang terburu-buru, mungkin mabuk, atau mungkin ceroboh. Walau mobilnya melaju cukup kencang, ia masih mengemudi sesuai batas. Secara hukum ia tidak bersalah. Namun, kelegaan yang sempat ia rasakan saat itu kini terasa nista, saat ia melihat sendiri kehancuran Maria—wanita yang menjadi sebatang kara karena ulahnya. Jika saja malam itu ia tidak memacu mobilnya lebih cepat... Jika saja ia tidak memaksakan diri mengemudi saat lelah... Mungkin David masih hidup. Mungkin saat ini Maria masih bisa tertawa. “Mungkin ini cara untuk menebus dosaku…” bisik Michael lagi, teringat pada mimpinya semalam. Dalam mimpi itu, ia melihat Maria yang tersengal di atas ranjangnya, disusul dengan wajah yang memucat dan napas yang terhenti. Potongan mimpi menyesakkan ini terus berputar di kepalanya. Setelah mimpinya yang menjadi nyata di atap gedung, Michael tahu, mimpi ini bukan sekadar bunga tidur. Itu adalah peringatan. Kini, Michael tidak bisa mengembalikan David. Ia tidak bisa mengakui kesalahannya di saat Maria terlihat begitu rapuh, dan perlu dilindungi. Satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah menjadi pelindung. Menjadi jembatan rapuh yang mencegah wanita itu jatuh ke jurang terdalam bernama 'bunuh diri'. Lama, ia terdiam sambil mendengarkan suara tangisan Maria yang melompati koridor dan menembus pintu apartemennya. Perlahan Michael merebahkan tubuhnya yang remuk di lantai yang dingin dan keras, mengabaikan kasur empuknya di kamar. Ia merasa tidak pantas untuk mendapatkan kenyamanan sedikit pun. Kini, seperti yang sudah beberapa malam ia lakukan, ia hanya harus mendengarkan tangisan Maria sepanjang malam. Ia hanya pantas menjadi penjaga sunyi yang dipenuhi dosa. Namun, kelelahan yang panjang dan beban pikiran yang menuntut indranya terus sensitif, akhirnya menyeret Michael ke dalam ketidaksadaran. Michael jatuh tertidur, walau tidur itu tidaklah memberi ketenangan. Dalam tidur itu, Michael kembali bermimpi. Dalam mimpinya, wajah Maria tampak seputih porselen. Matanya yang biasanya sendu kini kosong, terpejam dalam penderitaan tak terucapkan. Ia duduk di ranjang apartemennya dengan cahaya remang-remang, menggenggam botol kaca kecil berwarna cokelat. Pil-pil putih berkilauan seperti salju maut di atas kasur. Maria mulai mengambil pil itu, gerakannya lambat seperti film bisu. Michael mencoba berteriak, mengulurkan tangan untuk mencegahnya, namun suaranya seolah terperangkap di tenggorokan yang tercekik. "HAH!" Michael tersentak bangun. Napasnya memburu, peluh dingin membasahi keningnya. Ia meremas rambutnya dengan gelisah sambil melirik jam dinding yang berdetak nyaring. Jam sebelas malam. Sial, ia tidak sengaja tertidur. Michael bangkit, matanya terpaku pada pintu unitnya. Keheningan di koridor luar terasa seperti teror baru. Tadinya, ia sempat mendengar isakan lirih Maria yang menembus dinding—suara tangis yang menyayat hati. Namun sekarang, suasana benar-benar sunyi. Kesunyian itu lebih menakutkan daripada teriakan mana pun. Michael mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih. Tubuhnya bergetar hebat karena ketakutan yang mencekik. Ia tidak peduli jika tindakannya dianggap gila. Ia harus memeriksanya sekarang. Dengan satu sentakan cepat, Michael membuka pintu dan melangkah tergesa keluar dari apartemennya, lalu berdiri di depan pintu bernomor empat. Michael menempelkan telinganya pada kayu pintu Maria. Sunyi. Terlalu sunyi. Ketakutan itu kini memiliki bentuk yang konkret di dalam kepala Michael. Ia membayangkan Maria sedang menatap botol kaca itu. Botol yang seperti berisi pil kimia yang menakutkan. Detik demi detik berlalu, keputusannya datang tiba-tiba, dingin, dan pasti. Ia tidak bisa menunggu sampai pagi. Michael mengangkat tangannya yang gemetar, lalu mengetuk pintu itu. Tok. Tok. Tok. “Maria? Apa kau tidur?” Michael mencari alasan paling konyol agar kehadirannya tengah malam ini, tidak dicurigai. "Aku ada GERD. Aku ingin meminta obat maag kalau kau punya." Michael menunggu, namun tak ada respons. Lima detik terasa seperti lima tahun. Ia mengetuk lagi, kali ini lebih keras, lebih menuntut. Keputusasaan mulai membanjirinya. Bagaimana jika ia sudah terlambat? Bagaimana jika "salju" itu sudah meracuni napas Maria? Baru saja pikiran gila untuk mendobrak pintu menguasai kepala Michael, tiba-tiba terdengar bunyi kunci yang diputar. Pintu terbuka sedikit, memperlihatkan Maria yang berdiri dengan pandangan kosong. Wajahnya pucat pasi, dan aroma pahit samar tercium dari arahnya. Maria sempoyongan, tidak terlihat sadar sepenuhnya. Begitu melihat Michael di depannya, wanita itu tiba-tiba menarik kerah baju Michael dengan kekuatan yang tak terduga. Belum sempat Michael menarik napas untuk bicara, Maria menjinjitkan kakinya dan membungkam mulut Michael dengan ciuman yang penuh gairah brutal, seolah-olah pria itu adalah satu-satunya dahan tempatnya bergantung di tengah badai. Seluruh tubuh Michael menegang karena intensitas ciuman itu—ciuman yang dipenuhi rasa lapar akan kasih sayang dan duka yang meledak. Bibir Maria yang terasa seperti bara api, memberi kontras yang memabukkan saat bertemu dengan bibir Michael yang sedingin es akibat guyuran hujan London tadi. Sekejap, ia seolah melupakan tujuannya berada di sana, dan terhanyut dalam ciuman itu.. Ia hanya pasrah merasakan tangan Maria yang gemetar merengkuh lehernya, menariknya masuk ke dalam pusaran keputusasaan yang panas itu. Lalu, sebuah bisikan lirih muncul di sela pagutan itu. “David... aku merindukanmu...” Michael tersentak hebat, seolah baru saja disiram air es. Bersamaan dengan itu, ia merasakan bau pahit obat-obatan yang tajam dari mulut Maria. Kesadarannya kembali dengan hantaman yang menyakitkan. Ia melepaskan pagutan itu tepat saat beban tubuh Maria jatuh sepenuhnya ke dadanya. Wanita itu pingsan. Michael menoleh ke arah ranjang di dalam kamar yang pintunya terbuka, dan di sana ia melihatnya—puluhan butiran putih kecil tercecer di atas seprai gelap. Persis seperti mimpinya. Seketika tubuh Michael menggigil. “Maria! Bangun!” Michael menepuk pipi Maria, namun tak ada reaksi. Tanpa membuang waktu, Michael menyambar tubuh Maria dalam dekapan bridal style. Ia berlari menuruni tangga apartemen secepat kilat, tidak memedulikan napasnya yang mulai sesak. Di luar, hujan masih mengguyur London. Michael berdiri di pinggir jalan, berteriak memanggil taksi yang kebetulan lewat. “Ke rumah sakit! Cepat!” perintahnya pada sopir taksi saat ia berhasil masuk ke kursi penumpang dengan Maria yang terkulai lemas di pelukannya. .......................... Michael berlari masuk ke lobi rumah sakit sambil menggendong Maria, suaranya menggelegar memanggil bantuan. Tim medis segera datang membawa brankar. Saat mereka hendak mendorong Maria ke ruang tindakan, seorang perawat senior mencegat Michael. “Tunggu, Tuan! Apa hubungan Anda dengan pasien?” tanya perawat itu dengan nada curiga. “Ini sepertinya kasus overdosis. Kami harus melaporkannya ke pihak kepolisian sesuai prosedur.” Darah Michael seolah berhenti mengalir. Polisi? Jika polisi datang dan mulai menyelidiki identitasnya, semuanya akan terbongkar. Maria akan tahu siapa dia sebenarnya sebelum Michael sempat menebus dosanya. Maria yang rapuh, akan hancur untuk kedua kalinya jika tahu pria yang menyelamatkannya adalah pria yang sama yang merampas nyawa kekasihnya. Ketakutan itu membuat Michael mengambil keputusan yang nekat. Selama Maria masih rapuh, ia harus berperan sebagai penjaga di sisinya! “Dia tunanganku!” teriak Michael, suaranya bergetar antara kebohongan dan proteksi yang mendalam. “Dia... Sepertinya salah meminum dosis obat tidurnya. Tolong, saat ini, selamatkan dia dulu! Aku mohon!” Perawat itu terdiam sejenak, meneliti raut wajah Michael yang tampak hancur dan basah kuyup, seolah-olah dunianyalah yang sedang sekarat di atas brankar itu. “Baiklah, Tuan. Tunggu di sini,” ujar perawat itu akhirnya sebelum mendorong Maria masuk ke ruang gawat darurat. Michael berdiri mematung di koridor yang terang benderang itu, menatap pintu yang tertutup rapat. Tangannya masih gemetar, dan rasa bibir Maria masih tertinggal di bibirnya—sebuah ciuman yang bukan miliknya, sebuah ciuman untuk orang mati. Menatap lampu IGD yang berpendar redup, Michael mengingat kembali kebohongan egoisnya pada perawat tadi. Tunanganku. Sebuah kalimat yang akan menjadi belenggu sekaligus pelindung bagi mereka berdua. Lama, Michael menyandarkan kepalanya di dinding rumah sakit yang dingin, memejamkan mata dengan rapat. Membiarkan kebohongan yang telah terucap itu meresap ke jiwanya. Ia tahu, sejak detik ini, ia telah memainkan peran, yang terlalu berbahaya untuk ia mainkan. Michael menyadari dengan kesadaran penuh, bahwa Maria kini hidup, dan pasti membenci Michael yang telah menguncinya kembali ke sangkar penderitaan. Namun ia harus tetap di sini, menebalkan muka, dan berpura-pura sebagai tetangga yang suka ikut campur, sampai ia yakin Maria aman. "Maaf..." bisiknya pilu di tengah kesunyian rumah sakit. "Aku akan menjadi penjara yang memastikanmu tetap hidup, Maria. Meski kau harus bangun setiap hari hanya untuk mengutuk namaku." ..........................
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD