Beberapa hari berlalu dalam keheningan yang menyesakkan, sebuah jeda waktu yang seolah sengaja diciptakan oleh takdir untuk mengumpulkan badai yang lebih besar.
Malam itu, London kembali berselimut kabut tebal dan hawa dingin yang akrab. Langit kelabu tampak begitu rendah, seolah hendak menghimpit gedung-gedung tua di kota itu, menyerap setiap sisa kebahagiaan yang mungkin masih tersisa di antara celah trotoar yang basah.
Maria melangkah gontai menaiki tangga apartemennya. Setiap anak tangga kayu yang ia pijak mengeluarkan derit pelan, seolah ikut mengeluh memikul beban duka yang ia bawa di pundaknya. Jam kerja yang panjang di perpustakaan hari ini tidak mampu membunuh keriuhan di kepalanya. Alih-alih melupakan, sunyinya rak-rak buku justru membuat suara David di ingatannya terdengar semakin lantang. Tepat saat ia sampai di koridor lantai dua, gemericik hujan mulai menghantam atap gedung dengan rakus, menciptakan simfoni monoton yang menambah kesan sunyi.
Maria berhenti sejenak di depan pintu unitnya. Tangannya merogoh isi tas, mencari kunci dengan gerakan yang lamban dan tanpa semangat. Namun, tiba-tiba gerakan tangannya membeku. Udara di koridor yang semula dingin terasa semakin membeku. Sebuah perasaan aneh merayap di tengkuknya—sensasi tajam dan menusuk, seolah ada sepasang mata yang sedang menguliti setiap jengkal punggungnya, menembus mantel tipis yang ia kenakan.
Perlahan, dengan debar jantung yang tak beraturan, Maria berpaling.
Di sana, Michael Elias Thorne berdiri mematung di depan pintu unit nomor tiga. Pria itu tampak berantakan. Sekujur tubuhnya basah kuyup, air hujan menetes dari ujung rambut hitamnya yang legam, mengalir melewati rahangnya yang kokoh dan jatuh membasahi lantai kayu koridor. Mantelnya yang gelap menempel di tubuhnya, memperlihatkan betapa ia telah menantang badai di luar.
Namun, yang membuat napas Maria tertahan bukanlah keadaan fisik Michael, melainkan tatapannya. Matanya yang cokelat gelap—mata yang biasanya berkilat jenaka atau tajam karena amarah—kini menatap Maria dengan intensitas yang tak biasa. Bukan tatapan kurang ajar. Justru sebaliknya, sorot mata itu penuh dengan ketakutan yang murni, atau mungkin sebuah rasa bersalah yang teramat dalam hingga meluap ke permukaan. Michael menatap Maria seolah-olah ia baru saja menemukan hantu dari masa lalunya di tempat yang seharusnya menjadi tempat teramannya.
Mereka hanya saling menatap dalam keheningan yang mencekam, hanya dipisahkan oleh lorong sempit yang terasa seperti jurang tak berujung. Tak ada kata yang terucap. Tak ada senyum canggung sebagai sesama tetangga. Hanya suara hujan yang menghantam atap dan deru napas Michael yang berat menjadi latar belakang perjumpaan bisu itu.
Beberapa detik terasa seperti keabadian yang menyiksa. Sebelum Maria sempat membuka mulut untuk bertanya, Michael akhirnya menunduk. Bahunya yang tegap tampak sedikit meluruh. Ia menggumamkan sesuatu yang terlalu lirih untuk ditangkap indra pendengaran Maria—sebuah kata yang terdengar seperti sebuah doa yang putus asa. Lalu tanpa menoleh lagi, Michael melangkah masuk ke dalam unitnya dan menghilang di balik pintu kayu yang ditutup rapat, meninggalkan bunyi klik pengunci yang menggema dingin.
Maria masih berdiri di sana, mencengkeram gagang tasnya dengan napas yang tertahan di tenggorokan.
Hati kecilnya bertanya-tanya, mengapa pria yang biasanya begitu berisik dan menyebalkan itu tiba-tiba berubah menjadi sosok yang begitu kelam dan hancur?
Diantara kelelahannya, ia membiarkan dirinya terus memikirkan Michael. Memikirkan pekerjaannya siang tadi. Memikirkan bahan dapur yang habis dan harus dibeli di minimarket. Apa pun. Kalau tidak bisikan itu akan kembali datang. Bisikan jahat, yang anehnya, selalu menyergapnya dalam belitan kuat ketika ia sedang dalam kesendirian.
Baru saja Maria meletakkan tasnya dan hendak merosot ke sofa yang sudah kehilangan warnanya, denting bel pintu mengejutkannya. Dengan langkah malas yang menyeret, ia membuka pintu. Tak ada siapa pun. Hanya koridor kosong yang remang-remang. Namun, saat ia menunduk, ia menemukan sebuah paket kantong kertas merah muda tergeletak di lantai.
Maria membungkuk, memungut kantong itu dengan dahi berkerut. Sebuah kartu kecil tergantung di pegangan talinya. Sederet tulisan pendek tertulis di atasnya, namun cukup untuk membuat seluruh dunia Maria berhenti berputar saat itu juga.
Alamat rumah David.
Dengan jemari yang mulai gemetar hebat, Maria membawa paket itu masuk. Ia mengunci pintu seolah-olah sedang menghalangi kenyataan pahit agar tidak ikut masuk, namun terlambat. Kenyataan pahit itu sudah ada di tangannya. Ia meletakkan kantong itu di atas meja kayu yang penuh debu, lalu membuka pita merahnya dengan hati-hati, seakan sedang membuka luka lama yang belum mengering.
Di dalam ada sebuah kotak putih kecil dan secarik kertas ada di dalamnya. Maria mengambil kertas itu. Kalimat-kalimat di sana seolah berubah menjadi belati yang menusuk langsung ke ulu hatinya. Itu adalah tulisan tangan rapi milik ibu David.
“Maria, Sayang... Semoga kau sehat selalu. Benda ini ditemukan di tubuh David di hari kematiannya. Bibi memberikannya padamu sekarang, karena Bibi yakin dia sangat ingin kau memilikinya sejak awal. Maafkan Bibi yang baru sanggup mengirimkannya sekarang...”
Dunia Maria seakan runtuh untuk kedua kalinya dalam hidupnya. Seluruh kekuatan yang selama ini ia kumpulkan dengan susah payah menguap begitu saja. Tubuhnya terhuyung mundur, kehilangan keseimbangan, hingga punggungnya menghantam tembok dengan keras. Ia meluruh ke lantai yang dingin, tidak lagi peduli pada rasa sakit di kulitnya.
Isakan pilu yang selama ini ia tekan di dalam d**a pecah menjadi ratapan yang memilukan, memenuhi ruangan apartemen yang sepi. Maria memeluk kedua lututnya, menenggelamkan wajah di antaranya. Bayangan sekujur tubuh kaku bersimbah darah yang pernah ia dekap di tengah aspal dingin kembali menghantui penglihatannya. Bau aspal, aroma darah, dan sirine ambulans seolah kembali nyata di sekelilingnya.
Ketika tangisnya mulai mereda menjadi isak yang tersengal-sengal, Maria menatap kotak putih itu dengan mata yang bengkak dan pandangan yang kabur oleh air mata. Nyaris kehilangan seluruh tenaga, ia memegang dinding, tepi meja, dan benda apa pun yang bisa dijadikan pegangan untuk bangkit.
Terhuyung-huyung, Maria berjalan menuju meja dan meraih kotak itu dengan gerakan lemah. Begitu kotak itu teraih, Maria kembali jatuh terduduk.
Ia duduk bersimpuh, menyangga tubuhnya dengan satu tangan di lantai sementara tangan lainnya membuka tutup kotak itu.
Sebuah liontin berbentuk hati dari emas putih, berkilau pucat di bawah lampu apartemen.
Maria menahan napas. Inilah hadiah hari jadi mereka yang keempat. Hadiah yang David siapkan dengan penuh cinta, namun tak pernah sempat ia sematkan di leher Maria.
Disentuhnya liontin itu dengan gerakan yang benar-benar perlahan, seolah takut benda itu akan hancur jika disentuh, atau takut bahwa ini hanyalah khayalan kejam dari jiwanya yang lelah. Setiap detail liontin itu adalah sisa tawa yang terputus, rencana masa depan yang terbakar, dan bukti nyata dari janji yang dicuri paksa oleh maut.
“Kau jahat, David. Harusnya kau memberikannya langsung, sendiri...” bisiknya lirih, suaranya pecah berkeping-keping.
Entah berapa lama Maria menangis sambil mendekap liontin itu di dadanya, seolah dengan begitu ia bisa merasakan detak jantung David yang sudah lama berhenti. Namun, kenyataan tetaplah kenyataan. Kamar itu tetap dingin, dan ia tetap sendirian.
Lama terdiam dalam kehampaan, pandangan Maria yang kosong jatuh pada meja nakas di samping tempat tidur. Sebuah botol kaca kecil berwarna cokelat tua tergeletak di sana, seolah-olah sudah menunggu saat-saat ini, sejak lama. Botol kaca itu seolah berdenyut memanggilnya.
Di dalamnya ada puluhan pil tidur yang ia dapatkan dari dokter bulan lalu. Lebih dari cukup untuk menghentikan detak jantung yang terasa sangat berat ini.
Lakukan saja. Cepat... Kemudian kau bisa bertemu David, bisik sebuah suara di sudut gelap otaknya.
Maria tidak lagi berusaha mengabaikannya. Sudah hampir enam bulan ia mencoba memainkan peran sebagai ‘wanita kuat’. Ia tersenyum di depan rekan kerja, ia tertawa hambar di depan teman-temannya, ia mengangguk saat orang-orang bilang ‘waktu akan menyembuhkan’.
Tapi Maria tahu itu semua adalah kebohongan yang memuakkan. Waktu tidak menyembuhkan apa-apa. Waktu hanya membuat lubang di hatinya semakin lebar, semakin dingin, dan semakin gelap.
Rasa sakit ini bukan lagi luka; rasa sakit ini telah menjadi napasnya, identitas barunya. Dan dia sudah sangat lelah berpura-pura.
Lelah menghabiskan energi setiap pagi hanya untuk meyakinkan dirinya sendiri agar mau bangkit dari tempat tidur.
Tangan Maria terangkat, gemetar namun pasti. Jemarinya yang ramping menyentuh botol kaca dingin itu. Sensasi itu terasa begitu nyata, kontras dengan semua kepalsuan yang ia jalani sehari-hari.
Klek.
Ia memutar tutupnya. Bunyi derit pelan itu terdengar seperti sebuah ratapan terakhir.
Aroma pahit kimiawi dari pil-pil itu langsung menusuk hidungnya.
Sudah siap. Ia hanya perlu menuangnya, menelannya satu per satu, dan membiarkan kegelapan membawanya pulang.
“Aku lelah, David...” isaknya lagi, air mata yang ia tahan sekuat tenaga akhirnya tumpah membasahi botol itu. “Aku sangat lelah berusaha menjadi kuat... Aku hanya ingin pulang. Aku merindukanmu sampai rasanya aku mau gila.”
Sambil terus terisak, Maria memegang botol itu dengan tangan yang bergetar hebat. Ia tidak menelannya, tapi ia juga tidak menutupnya. Botol itu tetap terbuka di tengah telapak tangannya, berdetak seperti bom waktu yang siap meledak. Ia memejamkan mata, membiarkan air mata mengalir bebas, membasahi tangannya, membasahi botol pil itu. Aroma pahit pil bercampur dengan rasa asin air mata menciptakan sensasi aroma yang mengerikan.
Tiba-tiba, pegangannya melemas. Kekuatan seolah tersedot habis dari ujung jari-jarinya. Botol itu miring, dan dalam gerakan yang seolah berjalan lambat, puluhan pil putih di dalamnya tumpah berhamburan.
Pil-pil itu tidak jatuh ke lantai, melainkan jatuh di atas seprai gelap di ranjang di sampingnya—di tempat yang dulu selalu ditempati oleh David.
Puluhan pil putih itu berserakan di atas kain yang suram, tampak seperti bintang-bintang kecil yang jatuh dari langit malam.
Atau lebih tepatnya, bagi Maria, itu tampak seperti sebuah salju beracun. Sebuah pemandangan indah yang membawa maut.
Napas Maria memburu. Keputusasaannya telah mencapai titik nadir, melewati batas akal sehat yang selama ini menjaganya. Dengan satu tarikan napas kuat yang terasa seperti menelan duri, Maria mengambil satu butir pil dari atas kasur, lalu menelannya.
Satu lagi. Satu lagi. Satu lagi.
Ia menelannya seolah-olah itu adalah satu-satunya obat untuk rasa sakit yang membakar jiwanya.
Perlahan, dunianya mulai bergoyang. Segala sesuatu di sekelilingnya mulai kehilangan bentuk dan warnanya, perlahan berubah menjadi kelabu yang kabur. Pendengarannya mulai berdenging, dan matanya terasa sangat berat.
Duk! Duk! Duk!
Sebuah ketukan keras di pintu apartemennya terdengar. Suara itu terasa sangat jauh, seolah-olah berasal dari dasar laut.
Maria berjalan tertatih, kakinya terasa seperti kapas yang tidak memiliki tulang, dan pandangannya berputar seolah-olah gempa bumi dahsyat sedang melanda apartemennya. Dengan sisa kesadaran yang menipis, ia memutar kunci dan membuka pintu.
Saat pintu itu terbuka, Maria terpana. Cahaya dari koridor yang remang-remang membingkai sosok pria yang berdiri di sana.
Wajah itu. Mata cokelat itu. Binar hangat yang selalu menjadi tempatnya pulang.
"David!" Maria tersenyum lebar, senyuman paling tulus dan paling bahagia yang pernah ia miliki dalam berbulan-bulan terakhir. "Kau datang... akhirnya kau datang. Ternyata aku benar..."
Dalam khayalannya yang sudah diracuni oleh obat-obatan, Maria yakin sepenuhnya bahwa David telah kembali. Takdir akhirnya merasa kasihan padanya. Dengan penuh kegembiraan yang meluap, Maria menarik tangan pria di ambang pintu itu—yang ia yakini David—ke dalam apartemennya yang gelap. Ia tidak peduli pada air yang menetes dari mantel pria itu.
Maria berjinjit, melingkarkan tangannya di leher pria itu dengan erat, seolah-olah jika ia melepaskannya sedikit saja, sosok itu akan kembali menghilang.
Maria kemudian mencium pria itu dengan liar, sebuah ciuman yang dipenuhi kerinduan yang membuncah, duka yang meledak, dan harapan yang menyakitkan. Pria itu hanya diam. Namun perlahan mengikuti ritme ciumannya yang intens dan penuh gairah. Maria mengerang kecil sebelum menggigit bibir pria itu dengan segala emosi yang tersisa, tak membiarkan ada celah udara di antara mereka.
Namun, kegelapan mulai merayap dengan cepat di sudut penglihatan Maria. Dunia kelabu itu kini berubah menjadi hitam pekat.
Tubuh Maria melemas, keberanian dan kekuatannya habis seketika. Berat tubuhnya sepenuhnya menumpu pada tubuh atletis pria itu.
Sebelum kesadarannya benar-benar terputus dan ia jatuh ke dalam kegelapan abadi, ia membisikkan satu kalimat terakhir tepat di depan bibir pria itu.
"David... Aku sangat merindukanmu."
Maria jatuh pingsan di pelukan 'David', meninggalkan pria itu dalam keterkejutan yang membeku, berdiri di tengah ruang remang yang beraroma pahit kimiawi dan tangis yang belum kering.
..........................