BAB 30: Orang Asing yang Paling Kukenal

1633 Words
Langit di atas taman kecil di depan perpustakaan The Blackwood tampak seolah sedang menahan napas. Warna kelabu yang pekat menggantung rendah, menciptakan suasana pengap yang menyelimuti deretan bangku kayu tua yang lembap. Maria duduk di salah satu bangku itu, memanfaatkan waktu istirahatnya untuk sekadar menghirup udara luar. Namun, alih-alih merasa segar, jemarinya justru bergerak gelisah di atas pangkuan. Pikirannya tersangkut pada sebuah koridor apartemen yang kini terasa lebih luas dan hampa, dari biasanya—koridor yang memisahkan Unit Nomor Empat dan Unit Nomor Tiga. Hannah, yang sedang mengayun perlahan kereta bayinya di samping Maria, memperhatikan sahabatnya itu sejak mereka bertemu sepuluh menit lalu. Mata Hannah bisa melihat mendung yang lebih gelap di mata Maria daripada di langit London siang ini. “Kau menghela napas untuk yang ke-delapan belas kalinya sejak aku sampai di sini, Maria,” celetuk Hannah memecah keheningan. Ia memperbaiki letak selimut bayinya, lalu menoleh sepenuhnya ke arah Maria. “Katakan padaku, apa kau bertengkar dengan Michael?” Maria mengangkat wajahnya yang tampak lelah. Lingkaran hitam di bawah matanya tidak bisa berbohong. “Kami tidak bertengkar, tapi.. Dia... dia sekarang aneh, Hannah. Dia benar-benar berubah. Michael yang kukenal seolah menghilang ditelan bumi, dan yang tersisa hanyalah orang asing yang bahkan tak mau menatap mataku.” Hannah mengerutkan dahi, menatap Maria dengan rasa ingin tahu yang besar. “Mungkin... dia sedang ada masalah? Apa dia cerita sesuatu padamu?” Maria terdiam. Pertanyaan sederhana itu justru terasa seperti hantaman godam di dadanya. Ia menunduk, menatap ujung sepatunya. “Dia tidak memberitahuku,” jawab Maria lirih, hampir berupa bisikan yang tertelan angin. Di balik jawaban singkat itu, sebuah kenyataan pahit mulai mengkristal di dalam benak Maria, mencabik-cabik kesadarannya dengan cara yang paling sunyi. Maria menyadari sebuah ketimpangan yang mengerikan. Selama satu tahun ini, Michael telah menjadi arsitek yang membedah seluruh inci kehidupannya. Pria itu tahu persis frekuensi napas Maria saat ia merindukan David. Ia tahu makanan apa yang akan Maria makan, saat ia merasa kesepian. Michael bahkan tahu rahasia yang paling intim sekalipun—hal-hal memalukan seperti ukuran pakaian dalam yang Maria kenakan. Michael memiliki peta lengkap atas setiap luka, setiap ketakutan, dan setiap sudut rahasia di hati Maria. Sedangkan Maria? Ia hanyalah seorang pengelana yang tersesat di depan pintu apartemen Michael, yang sayangnya, pintu itu tak pernah benar-benar menampakkan apa isi di dalamnya. Pikiran Maria berputar hebat. Ia menyadari betapa miskinnya ia akan informasi tentang pria itu. Selain pekerjaannya sebagai fotografer, ia tidak tahu apa-apa. Ia tidak tahu siapa yang Michael panggil saat ia takut, ia tidak tahu lagu apa yang ia gumamkan saat sedih, ia bahkan tidak tahu apakah Michael punya seseorang untuk pulang! Selama ini, hubungan mereka adalah cermin satu arah. Michael bisa melihat segalanya, sementara Maria hanya bisa menatap pantulannya sendiri di wajah pria itu. Michael adalah sebuah buku tebal dengan sampul indah yang ia peluk setiap malam, namun tak satu halaman pun diizinkan untuk ia baca. Michael adalah ruang tertutup, yang kuncinya telah sengaja dibuang ke dasar laut, agar tidak pernah dibuka. “Maria? Kau melamun?” suara Hannah menariknya kembali ke realitas yang dingin. Maria menggeleng lemah, berusaha menahan genangan air mata di pelupisnya. “Aku hanya... aku hanya baru sadar kalau aku tidak tahu banyak hal tentang dia, Hannah." Hannah terdiam sejenak, menatap Maria dengan simpati yang mendalam. Ia menarik sebuah kursi dan duduk tepat di hadapan Maria. “Dengar, Maria. Jangan terus bertanya-tanya sendiri. Bukannya selama ini kalian dekat?... Kenapa tidak kau tanyakan langsung saja padanya? Lagipula aku yakin pria itu sangat menyukaimu, Maria. Dia bersungguh-sungguh. Aku berani bertaruh.” Maria menggeleng lemah. “Aku tidak sedang membahas tentang perasaan, Hannah. Untuk apa aku membahasnya sekarang, di saat setiap kali aku mendekat, dia seolah memasang kawat berduri di sekelilingnya. Aku rasa dia menyembunyikan sesuatu... sesuatu yang sangat besar. Dan aku merasa harus tahu itu apa...” Hannah menatap mata Maria dalam-dalam, mencari sisa keberanian di sana. “Memangnya jika kau tahu masalahnya, dan ternyata masalah itu jauh lebih berat dari yang bisa kau bayangkan... kau yakin, sanggup mengatasinya?” Pertanyaan itu menggantung di udara. Maria termenung. Bayangan wajah Michael yang mendingin, menghujam Maria tepat di ulu hati. Apakah ia akan sanggup? Ataukah ia hanya sedang menjatuhkan diri ke jurang yang sama untuk kedua kalinya? ...................... Perjalanan pulang kerja, terasa lebih panjang dari biasanya. Maria melangkah menaiki tangga apartemennya dengan hati yang berat. Begitu sampai di undakan tengah, sosok yang sejak tadi menghantui pikirannya muncul. Michael Elias Thorne Pria itu sedang berjalan menuruni tangga. Ia mengenakan turtleneck hitam yang kontras dengan kulitnya yang kini tampak sepucat mayat. Mantel panjang gelapnya berkibar pelan mengikuti langkahnya yang kaku. Yang paling menyakitkan bagi Maria adalah kacamata hitam besar yang bertengger di hidung pria itu, menyembunyikan sepasang mata cokelat yang biasanya menatapnya dengan binar posesif. "Michael?" panggil Maria lirih. Langkahnya tertahan di anak ta , tepat di di bawah pria itu. Michael tidak segera menjawab, kepalanya tetap tegak lurus ke depan. Setelah beberapa detik keheningan yang menyesakkan, ia mengangguk kecil—sebuah gerakan formal yang biasanya hanya diberikan kepada orang asing yang berpapasan di jalan. "Selamat sore, Maria," sahutnya datar. Suaranya tidak lagi memiliki nada sengau yang manja atau binar geli yang biasanya muncul saat ia menjahilinya. Michael yang berdiri di depannya sekarang terasa sangat asing. Ia terasa dingin, tak tersentuh, dan dikelilingi oleh atmosfer duka yang pekat. "Kau... mau pergi?" tanya Maria, berusaha mencari celah di dinding es yang Michael bangun. "Ada urusan," jawab Michael pendek, tanpa emosi. Ia kembali melangkah menuruni tangga, melewati Maria begitu saja seolah wanita itu hanyalah pajangan dinding. Rasa jengkel yang bercampur dengan pedih mendadak meledak di d**a Maria. Penolakan demi penolakan yang ia terima selama seminggu terakhir, telah mencapai batasnya! Tanpa sadar, Maria menyambar tas tangannya—tas ringan, hanya berisi dompet dan ponselnya—lalu melemparkannya dengan kekuatan penuh ke arah Michael yang sudah berada beberapa anak tangga di bawahnya. ​BUK! Tas itu menghantam tepat di tengkuk Michael. Pria itu tersentak, bahunya menegang seketika. Untuk beberapa detik, Michael mematung, kepalanya tertunduk seolah sedang menahan amarah yang luar biasa besar. Perlahan, ia memutar tubuhnya. ​Michael melepaskan kacamata hitamnya dengan gerakan lambat yang mengintimidasi. Ia melangkah naik dua anak tangga, berdiri tepat di hadapan Maria. Karena posisi Michael yang berada dua tangga di bawah, kini tinggi mereka sejajar. Mereka berdiri begitu dekat, hingga Maria bisa melihat pantulan wajahnya yang berantakan di bola mata Michael yang redup. ​"Apa masalahmu, Maria?" tanya Michael, suaranya kini merendah, sarat akan ancaman yang tenang. "Kamu, Michael! Masalahku adalah kamu!" Maria berteriak, suaranya bergema di lorong tangga yang sepi. "Sebenarnya ada apa, denganmu?! Kenapa kau terus memperlakukanku seperti orang asing? Kenapa kau mengganti kunci apartemenmu? Katakan padaku, Mike! Apa aku ada salah?!" Michael menatap Maria dengan pandangan yang kosong, seolah ia sedang menatap sebuah objek yang tidak lagi memiliki makna. Sebuah senyum miring—senyum paling sinis yang pernah Maria lihat—terukir di bibirnya yang pucat. ​"Bukannya... kita memang orang asing?" tanya Michael dengan nada yang begitu ringan, seolah ia sedang membicarakan cuaca. "Coba katakan padaku, Maria... memangnya kita ada hubungan apa? Apa aku berutang penjelasan padamu, hanya karena aku tetanggamu? Apa karena aku sempat memberimu kunci cadangan, kau pikir kau punya hak atas hidupku?" Air mata Maria mulai menggenang di pelupuknya. Rasanya seperti ditikam, tepat di jantung! "Kau kejam, Michael! Kalau kau memang ingin sedingin ini, kenapa awalnya kau harus baik padaku?! Kenapa kau harus merawatku, menjagaku, dan membuatku merasa nyaman selama ini? Kenapa setelah semua yang kita lalui bersama, kau tiba-tiba membuangku seperti ini?" Michael tertawa hambar, sebuah suara yang terdengar lebih menyakitkan daripada tamparan mana pun. "Saat aku sudah berusaha menunjukkannya dengan cara halus, seharusnya kau mengerti, Maria. Jika aku bisa menjauh dengan semudah ini, itu berarti kau memang bukan apa-apa bagiku." ​Michael memajukan wajahnya, hingga hidung mereka hampir bersentuhan. Napasnya terasa dingin di kulit Maria. ​"Aku sudah mulai muak bermain rumah-rumahan denganmu," bisik Michael tepat di depan bibir Maria. "Menjagamu, memperhatikanmu, dan mempermainkanmu ternyata tidak semenyenangkan yang aku bayangkan pada awalnya. Aku sudah bosan. Sa...ngat bosan!" ​PLAK! ​Suara tamparan keras bergema di koridor tangga yang sunyi. Tangan Maria beberapa detik lalu menampar Michael dengan seluruh rasa sakit hati yang ia miliki, terasa panas dan kebas. Pipi Michael terlempar ke samping, meninggalkan bekas kemerahan yang mencolok di kulitnya yang sepucat salju. ​Namun, Michael tidak membalas. Ia bahkan tidak berkedip. Ia hanya kembali memposisikan wajahnya menghadap Maria, menyeka sudut bibirnya yang sedikit berdarah dengan ibu jarinya, lalu kembali menyunggingkan senyum miring yang menghancurkan. ​"Sudah selesai?" tanya Michael dengan nada meremehkan. "Kalau sudah, pergilah, Maria. Jangan mengikutiku lagi. Kau merusak suasana hatiku." ​Michael kembali mengenakan kacamata hitamnya, lalu berbalik dan melanjutkan langkahnya menuruni tangga tanpa menoleh lagi. Suara langkah sepatunya yang beradu dengan lantai semen terdengar begitu tegas, tanpa keraguan, seolah sedang mengejek kerapuhan Maria. Maria merosot jatuh di anak tangga. Rasa sakitnya begitu nyata, seolah jantungnya baru saja dicabut paksa dari rongga d**a. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, membiarkan tangisannya pecah dan memenuhi koridor yang sepi. Ia menangisi Michael yang benar-benar berubah. Michael yang sama sekali tidak sama dengan Michael yang ia kenal. Pikiran Maria berputar hebat. Benarkah Michael membohonginya sejak awal? Ia tidak percaya. Ia tidak ingin percaya bahwa pria yang selama ini menjadi tempatnya bersandar, hanyalah seorang pemain watak handal. Michael yang ia kenal—Michael yang mengelus kepalanya di mobil—rasanya tidak mungkin bisa mengucapkan kata-kata sekejam itu... Namun, binar kebencian dan kebosanan di mata Michael tadi terasa begitu nyata... Di tengah isak tangisnya yang menyayat hati, Maria menyadari bahwa ia baru saja kehilangan tempatnya untuk pulang. Maria menangis di sana, sendirian di antara anak tangga yang membisu, tanpa menyadari bahwa Michael Thorne sedang mencengkeram besi tangga di lantai bawah dengan tangan yang gemetar hebat, berusaha menahan diri agar tidak kembali naik dan merengkuh wanita itu ke dalam pelukannya. ........................
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD