Malam itu, Unit Nomor Empat tidak lagi terasa seperti sebuah hunian; ia telah berubah menjadi sebuah makam yang sunyi, pengap, dan menyesakkan. Maria duduk bersimpuh di lantai kayu yang dingin, membiarkan punggungnya bersandar pada pintu kamar yang tertutup rapat, seolah-olah kayu itu adalah satu-satunya penyangga yang tersisa agar dunianya tidak benar-benar runtuh. Telapak tangannya masih terasa nyeri—bekas panas dari tamparannya sendiri pada Michael tadi siang, yang masih menyisakan denyut halus. Namun rasa perih itu sama sekali tidak sebanding dengan luka yang menganga di dadanya. Hatinya jauh lebih hancur, hancur hingga ia merasa butiran-butiran jiwanya telah berserakan di lantai, tidak mungkin lagi dipungut. Maria menatap telapak tangannya sendiri dengan tatapan kosong. Bekas

