Malam itu, Unit Nomor Empat tidak lagi terasa seperti sebuah hunian; ia telah berubah menjadi sebuah makam yang sunyi, pengap, dan menyesakkan.
Maria duduk bersimpuh di lantai kayu yang dingin, membiarkan punggungnya bersandar pada pintu kamar yang tertutup rapat, seolah-olah kayu itu adalah satu-satunya penyangga yang tersisa agar dunianya tidak benar-benar runtuh.
Telapak tangannya masih terasa nyeri—bekas panas dari tamparannya sendiri pada Michael tadi siang, yang masih menyisakan denyut halus.
Namun rasa perih itu sama sekali tidak sebanding dengan luka yang menganga di dadanya.
Hatinya jauh lebih hancur, hancur hingga ia merasa butiran-butiran jiwanya telah berserakan di lantai, tidak mungkin lagi dipungut.
Maria menatap telapak tangannya sendiri dengan tatapan kosong. Bekas panas yang tadi membara di kulitnya kini telah hilang, berganti dengan rasa dingin yang membeku, menyebar perlahan ke seluruh pembuluh darahnya.
“Mempermainkanmu ternyata tidak semenyenangkan yang aku bayangkan... Aku sudah bosan.”
Kalimat itu terus berputar seperti kaset rusak, mencabik-cabik setiap kenangan manis yang mereka bangun selama setahun ini.
Setahun kebersamaan.
Setahun perlindungan.
Setahun di mana Michael seolah-olah menjadi udara yang Maria hirup untuk tetap bertahan hidup setelah kematian David.
Dan kini, pria itu dengan ringannya mengatakan bahwa semua itu hanyalah permainan? Bahwa dia hanya sedang bosan?!
Maria ingin membenci pria itu.
Ia sangat ingin mengutuk Michael Thorne.
Namun, setiap kali ia mencoba memanggil rasa benci, bayangan wajah Michael yang pucat pasi dan bayangan mata cekung di balik kacamata yang angkuh tadi sore, menghantuinya.
"Kau pembohong, Michael," bisik Maria pada kegelapan kamar yang sepi. Suaranya pecah, nyaris tak terdengar di antara isak tangis yang mulai mereda.
"Kau pembohong yang sangat buruk."
Tepat saat isak tangisnya mulai mereda, sebuah bunyi mengejutkannya.
PRANG!
Disusul dengan suara GEDEBUK yang berat.
Suara itu datang dari Unit Nomor Tiga. Begitu keras hingga getarannya seolah merambat melalui lantai koridor dan menembus pintu Maria.
Maria tersentak berdiri. Jantungnya berdegup gila.
Itu bukan suara Michael yang normal; itu adalah suara sesuatu—atau seseorang—yang jatuh dengan hebat.
Tanpa pikir panjang, tanpa memedulikan harga dirinya yang baru saja diinjak-injak, Maria berlari keluar apartemennya.
Koridor apartemen yang remang-remang itu terasa begitu panjang. Ia sampai di depan Unit Nomor Tiga dan mulai menggedor pintu jati itu dengan intensitas liar.
"Michael?! Michael, kau di dalam?! Buka pintunya!"
Hening.
Tidak ada sahutan. Hanya kesunyian yang mencekam dari balik pintu jati yang kaku itu.
Ia ingin masuk, Maria butuh masuk... Tetapi Michael telah memutus aksesnya. Michael telah menguncinya di luar.
"Sialan. Michael, jawab aku!" Maria mulai panik. Perasaan bahwa Michael sedang dalam bahaya jauh lebih besar, daripada memikirkan rasa sakit hatinya akibat ucapan jahat pria itu.
Maria menoleh ke ujung koridor.
Di sana ada sebuah jendela besar yang mengarah ke fire escape (tangga darurat) luar gedung.
Jendela itu biasanya terkunci, namun karena bangunan ini sudah tua, grendelnya sering kali longgar.
Maria berlari ke ujung lorong, mendorong jendela itu dengan seluruh kekuatannya. Angin malam London yang menggigit langsung menyerbu masuk, membawa rintik hujan yang dingin. Dari jendela itu, terlihat sebuah langkan (bibir bangunan) sempit yang terbuat dari beton, yang menghubungkan jendela koridor langsung ke pagar balkon Unit Nomor Tiga.
Jaraknya hanya sekitar dua meter, namun di bawahnya adalah ketinggian lantai dua yang bisa mematahkan tulang.
"Kau gila, Maria. Kau benar-benar gila," bisiknya pada diri sendiri.
Namun, bayangan Michael yang tergeletak sendirian di dalam sana membuatnya kehilangan akal sehat.
Maria memanjat ambang jendela. Kakinya yang hanya terbungkus kaus kaki tipis gemetar saat menyentuh beton langkan yang licin karena hujan. Ia mencengkeram tepian dinding batu, merayap perlahan seperti pengelana yang bertaruh nyawa.
Angin kencang menerpa tubuhnya, hampir saja membuatnya kehilangan keseimbangan.
Maria memejamkan mata, jantungnya seolah ingin melompat keluar dari rusuknya.
Dengan satu sentakan nekat, ia menjulurkan tangannya dan berhasil mencengkeram pagar besi balkon Michael!
Ia memanjat pagar itu, mendarat di lantai balkon Michael dengan napas yang terengah-engah.
Pintu kaca balkon itu tertutup, namun untungnya, Michael tidak menguncinya.
Maria segera menggeser pintu kaca itu, dan masuk ke dalam.
Apartemen Michael gelap gulita, lebih gelap dari biasanya. Bau alkohol, dan aroma tembakau yang samar memenuhi ruangan. Maria melangkah masuk, kakinya tidak sengaja menginjak sesuatu yang tajam.
Krak.
Maria melihat ke bawah. Pecahan gelas kaca berserakan di lantai dapur. Dan di tengah-tengah kekacauan itu, Michael Thorne tergeletak tidak berdaya. Ia pingsan di samping pecahan gelas kaca yang berserakan.
"Michael!" Maria menjerit tertahan. Ia segera berlutut, menepuk pipi Michael yang sepucat salju.
"Bangun! A-ambulans—" Maria merogoh saku mantelnya, namun...
"Tidak..." gumam Michael parau, matanya terbuka sedikit, namun pandangannya kosong. Ia mencengkeram lengan Maria dengan sisa tenaga yang payah.
"Jangan ambulans... Jangan panggil siapa pun... Aku hanya... butuh tidur."
Maria ingin membantah, namun sorot mata Michael yang memohon, membuatnya urung.
Dengan cekatan, Maria menyingkirkan pecahan kaca di sekitar Michael agar pria itu tidak terluka. Ia harus memindahkan Michael ke kamar.
Maria mengerahkan seluruh tenaganya, merangkul bahu Michael yang lebar dan menyeret tubuh pria itu perlahan menuju tempat tidur. Michael terasa sangat berat, napasnya yang panas menerpa leher Maria.
Begitu sampai di tepian kasur, Maria berusaha menyelimuti Michael.
Namun, tepat saat Maria hendak menegakkan tubuhnya, rasa nyeri yang tajam tiba-tiba menyerang telapak kakinya yang tidak terlindungi. Kaus kaki tipisnya rupanya tidak cukup kuat menahan goresan pecahan kaca di dapur tadi. Rasa perih yang tiba-tiba itu membuat keseimbangan Maria goyah.
Karena kakinya yang berdenyut sakit tiba-tiba, Maria kehilangan tumpuan. Tubuhnya terjatuh ke depan, mendarat tepat di atas tubuh Michael yang masih tergeletak setengah sadar.
Wajahnya jatuh tepat di hadapan wajah Michael yang terlihat memerah karena demam ringan.
Dan...
Dalam sepersekian detik yang seolah-olah ditarik paksa oleh takdir menjadi ribuan tahun, bibir Maria mendarat tepat di atas bibir Michael.
Maria membeku. Dunianya berhenti berputar.
Aroma cedarwood yang maskulin berpadu dengan wangi tembakau tipis yang familiar langsung menyerbu indra penciumannya dengan cara yang paling intim.
Ia bisa merasakan tekstur daging kenyal yang hangat di bawah bibirnya.
Untuk beberapa saat, dunia di sekitar mereka seolah berhenti berputar.
Hujan yang menghantam jendela, detak jam dinding, semuanya lenyap.
Hanya ada kehangatan yang asing dari sebongkah daging kenyal, dan getaran jantung yang berpacu gila di antara d**a mereka yang bersentuhan.
Maria bisa merasakan napas Michael yang pendek-pendek di permukaan kulitnya. Sentuhan itu memang tidak di sengaja, namun rasanya begitu dalam hingga ke sumsum tulang.
Maria mengerjap, merasakan setiap inci sentuhan itu sebelum akhirnya ia tersentak sadar. Dengan napas yang memburu, ia segera menarik dirinya menjauh dan merosot jatuh ke lantai di samping tempat tidur.
Maria mematung di posisinya yang sedang terduduk di lantai dingin, punggungnya bersandar pada pinggiran ranjang. Ia bahkan baru menyadari bahwa ia telah menahan napas selama seluruh kejadian gila tadi. Akhirnya, ia menarik napas sedalam-dalamnya, mencoba mengisi paru-parunya yang terasa kosong seolah oksigen di ruangan itu telah habis tersedot oleh ciuman curian tadi.
Matanya menatap tubuh Michael yang seolah terdampar di atas kasurnya sendiri.
Pria itu sudah kembali terpejam, napasnya berat namun kini ritmenya lebih teratur.
Perlahan, kedua tangan Maria naik menyentuh bibirnya sendiri.
Tepat di tempat yang tadi bersentuhan dengan bibir Michael. Ia mencoba merasakan kembali sisa-sisa kehangatan yang masih tertinggal di sana.
Maria mengerjap seolah baru terbangun dari sebuah mimpi panjang yang menyesakkan.
Saat itulah ia menyadari sesuatu. Sesuatu yang selama ini sudah tersembunyi rapi di dalam hatinya, terkubur di balik duka atas David, namun kali ini perasaan itu mencuat begitu kuat hingga tidak mungkin lagi untuk diabaikan.
"Astaga... aku benar-benar jatuh cinta padanya."
Kesadaran itu menghantamnya lebih keras daripada tamparannya pada Michael tadi siang.
Maria menatap Michael dengan pandangan pedih.
Ia jatuh cinta pada pria yang tadi sore, baru saja mengusirnya.
Ia jatuh cinta pada pria yang mengaku hanya mempermainkannya.
Namun, rasa hangat di bibirnya ini, tidak terasa seperti sebuah kebohongan.
Di tengah kegelapan apartemen Unit Nomor Tiga, Maria menyadari bahwa meskipun Michael Thorne berusaha sekuat tenaga untuk menjadi monster, pria itu tetaplah pelabuhan yang kini hatinya tuju—seberapa pun hancurnya pelabuhan itu nanti.
Maria menyembunyikan wajahnya di balik lutut, menangis dalam diam di samping ranjang pria yang telah menghancurkan harapannya, namun kini menjadi satu-satunya harapannya untuk dapat 'mencintai' kembali....
......................